تسجيل الدخولBadru mencengkeram rambut Laras, menariknya ke belakang hingga leher wanita itu menegang. Di bawah, liang Laras yang merah muda, bengkak, dan basah kuyup oleh cairan gairah terlihat sangat kontras dengan kulit kuning langsatnya yang kini memerah karena pelampiasan.Brak!Badru menghujamkan si Jono jauh ke dalam rahim Laras. Wanita itu melenguh keras, tubuhnya terpental ke atas."Nghhh... Ahhh! Dru... hajar lagi!" Laras mengerang, pinggulnya bergerak liar mencari gesekan lebih dalam.Badru berhenti sejenak. Ia menarik diri hingga menyisakan ujung, lalu menatap tajam wajah Laras yang kacau."Minta," desis Badru dingin. "Minta sama saya."Laras terengah-engah, dadanya yang penuh air susu naik turun dengan liar. "M-minta apa, Dru?""Mohon. Bilang kamu butuh 'tukang angon' ini buat puasin kamu," perintah Badru, suaranya sarat akan ejekan.Laras menggigit bibir bawahnya, matanya sayu namun penuh tuntutan. "Tolong, Dru... aku mohon... butuh kamu... hancurin aku sekarang juga!"Badru menyerin
Badru bangkit dari rebahan, duduk tegak di tepi ranjang. Ia mencengkeram tengkuk Laras, memandu kepala wanita itu dengan ritme yang lebih mendesak.Plak!Telapak tangan Badru mendarat telak di pantat Laras yang montok dan menukik tinggi. Kulit putih mulus itu bergetar, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras."Ahh! Dru... hajar, terusin!" Laras melenguh, suaranya parau. Ia makin agresif mengulum, membiarkan bibirnya yang basah bekerja lebih liar.Badru menatap pemandangan di bawahnya dengan mata nyalang.Deg!Jantungnya seolah mau copot. Sela paha Laras yang terbuka lebar menyingkap intisari kewanitaannya yang mungil, memerah muda bak kelopak mawar yang merekah, basah berlendir oleh cairan gairah yang bening. Pemandangan itu memicu adrenalin Badru hingga meledak.Tangan kiri Badru merayap ke belakang, menyusuri lekuk paha hingga jemarinya menelusup ke liang yang hangat dan becek. Sementara tangan kanannya meremas gundukan dada Laras yang padat, memilin puting kemerahan itu hingga L
Setelah badai pertama tadi mereda, Laras mengusap sisa peluh di dahinya sambil tersenyum manja. Napasnya masih menderu, beradu dengan sunyinya siang itu."Sini, Dru... Jangan berdiri terus di situ, lemes kan kaki kamu? Kita pindah ke ranjang," bisik Laras, suaranya serak-serak basah, menggoda iman yang nyaris tumpas.Badru hanya mengangguk patuh. Pikirannya masih melayang. Dengan sisa tenaga, ia melangkah kikuk lalu menjatuhkan punggung lebarnya ke atas kasur kapuk.Laras ikut merangkak ke atas ranjang. Namun, begitu matanya melirik ke arah tengah paha Badru, wanita itu tertegun. Di sana, si Jono sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mau pensiun dini. Pusaka itu justru berdiri tegak lurus, tegang maksimal menantang langit-langit kamar.'Gusti... ini bencana,' batin Badru panik. Wajah sawo matangnya seketika merah padam. 'Apa yang dia pikirkan? Apa dia merasa aku ini lelaki kurang ajar?' Ia merasa seperti maling yang tertangkap basah. "M-maaf, Teh! Sumpah, si Jono emang kurang ajar
Badru tidak lagi mendengar ucapan Laras. Seluruh akal sehatnya sudah lebur, terbakar oleh hawa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya. Bau wangi madu yang pekat mengepul semakin tebal dari balik kerah bajunya, memenuhi ruangan kamar yang mendadak terasa begitu sempit dan gerah.Tangan kekar Badru yang kasar dan kapalan mencengkeram erat pinggul berisi Laras, menekannya kuat-kulit ke pintu lemari kayu yang berderit pasrah."Nnghh... Druh... keras pisan..." rintih Laras, matanya terpejam rapat dengan bibir tergigit saat merasakan tekanan tubuh kekar Badru yang begitu padat menghimpitnya.Tanpa basa-basi lagi, Badru langsung menyergap bibir tipis Laras yang sudah basah oleh napas gairah. Ia melumatnya dengan kasar dan penuh desakan, menyalurkan seluruh rasa sesak yang sejak pagi tadi ia tahan di ladang. Laras membalas lumatan itu dengan tidak kalah liar, kedua lengannya melingkar erat di leher kokoh Badru, menarik tubuh pemuda itu agar semakin menempel tanpa celah."Euhm... Mmpfh..."S
Glek. Tenggorokan Badru tercekat. Perintah Laras barusan seperti petir yang langsung menyambar seluruh akal sehatnya hingga hangus tak bersisa. Pandangannya terkunci pada dua gundukan besar di depan dadanya yang kini basah dan berkilau oleh cairan putih pekat. "T-Teh... tapi saya—" "Cepetan, Dru... Sakit pisan ini..." Laras merintih. Tangannya bergerak cepat mencengkeram tengkuk Badru, menarik kepala pemuda itu ke bawah, mengarahkannya langsung ke dadanya yang ranum. Aroma manis air susu bercampur kehangatan tubuh wanita langsung menyerbu indra penciuman Badru. Jono di balik celana kolornya sudah menegang maksimal, berneuro-neuro kencang seolah ikut mendesak untuk segera dituntaskan. Persetan! Pertahanan Badru runtuh sepenuhnya. Dengan napas memburu, Badru langsung menyergap salah satu gundukan padat itu. Mulutnya mengulum puting besar Laras yang kencang, lalu mulai menghisapnya dengan kuat. 'Gusti... Ternyata rasanya seenak ini. Kenyal dan hangat banget,' batin Badru takjub. S
Badru menelan ludah yang terasa menyangkut di tenggorokan. Tawaran disiapkan makanan setelah memeras daster merah marun itu membuat otaknya semakin tidak keruan. 'Makan sepuasnya? Disiapin? Gusti... ini maksudnya makan nasi apa malah makan yang lain?' batin Badru, matanya melirik liar ke arah celah daster Laras yang semakin menganga. "T-Teh, tapi saya..." "Udah, gak ada tapi-tapi, Dru. Sini," potong Laras. Laras langsung berbalik membelakangi Badru dan duduk di pinggir ranjang. Daster merah marunnya ditarik ke bawah dari arah pundak, menyingkap seluruh punggung mulusnya yang putih bersih tanpa sehelai benang pun. Srett! Kedua tangan Laras bergerak ke depan, membuka penuh kancing dasternya hingga kain itu melorot, menampakkan sisi samping dua gundukan dagingnya yang ranum dan sangat padat dari arah belakang. "Ayo, Dru. Pegang dari belakang sini, terus remas pelan-pelan sampai airnya keluar. Jangan kencang-kencang, sakit," bisik Laras setengah mendesah, kepalanya mendongak pasrah.







