LOGIN
"Kita udahan aja ya, Kang. Lilis udah nggak bisa kalau harus lanjutin hubungan ini."
Badru terdiam, masih berusaha mencerna ucapan Lilis, gadis pujaan hati yang selalu ia bayangkan akan menjadi istrinya. "Kenapa emangnya, Lis?" tanya Badru. Suaranya terdengar serak dan berat, berusaha keras meredam gejolak di dadanya. Jantungnya berdetak kacau, seolah siap meledak kapan saja. "Aku malu, Kang! Malu banget punya pacar yang kerjanya cuma angon sapi!" teriak Lilis, wajahnya memerah penuh penolakan. Deg! Dada Badru seakan dihantam palu godam. Pria itu menunduk perlahan. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih, menahan sesuatu yang lebih menyakitkan dari sekadar luka fisik. 'Jadi, selama ini dia malu bersamaku?' batin Badru, harga dirinya seakan baru saja diinjak-injak ke tanah. Rahang pria bertubuh besar itu mengeras. Tatapannya perlahan berubah menjadi tajam sekaligus kosong. Ia menelan kepahitan itu dalam-dalam, menolak membiarkan setetes pun air mata jatuh di hadapan wanita yang baru saja merendahkannya. "Lis ..." "Apa? Orang sekampung pada ngeledekin aku gara-gara punya pacar badannya segede banteng terus bau! Abah juga nggak bakalan mungkin kasih restu buat kita. Kita itu beda level, Kang. Tolonglah ... ngertiin aku dan harusnya Akang tahu diri." Suara Lilis mulai lirih, memohon seolah ia adalah korban yang ingin dibebaskan dari tawanannya. Badru tersenyum getir. Kenapa Lilis memohon seolah dirinya adalah penjahat yang kejam? Sebuah kesadaran yang menyakitkan tiba-tiba menghantam benaknya. Inikah alasannya? Alasan mengapa selama ini Lilis selalu menjaga jarak, bahkan menolak meski hanya sekadar diajak berpegangan tangan. Badru menarik napas dalam, membiarkan aroma tanah dan keringat ternak memenuhi paru-parunya untuk terakhir kali sebagai pria yang memuja Lilis. Saat ia mengangkat wajah, segalanya telah berubah. Lilis tersentak. Kelembutan yang biasanya menghuni mata pria itu telah lenyap, digantikan tatapan kosong yang terasa dingin. Tajam dan sangat berjarak. "Makasih ya, Lis," ujar Badru. Suaranya berat dan sangat tenang, yang justru membuat nyali Lilis menciut tanpa alasan. "Makasih karena hari ini kamu udah ngebebasin akang." Badru melangkah maju. Satu langkah maju dari Badru cukup untuk membuat Lilis refleks mundur. "Tadinya akang sempat merasa bersalah karena mau ngajak kamu berjuang dari bawah. Tapi sekarang akang sadar, tempat kamu emang bukan di sana." Badru menghela napas panjang, seolah baru saja menanggalkan beban di pundaknya. Tanpa menunggu jawaban, Badru berbalik dan meninggalkan Lilis. Lilis terpaku. Bibir merah mudanya menganga, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dalam benaknya, Badru seharusnya berlutut, bersujud di kakinya, dan memohon agar tidak ditinggalkan. Namun kenyataannya lain, laki-laki itu terus berjalan tanpa sekali pun menoleh. "Baguslah kalau akang sadar diri!" teriak Lilis, suaranya melengking, menahan kesal. "Tapi jangan lupa, kang! Setelah ini gak akan ada perempuan yang mau nerima tukang angon kayak akang!" Teriaknya lagi, berharap Badru akan berbalik untuk memohon di kakinya. Tapi nihil, Badru tetap pergi tanpa menanggapi dirinya. Badru berjalan gontai menuju kandang besar milik Haji Sodiq. Ayah Lilis. Sungguh ironi yang menyakitkan. Di sana, ia melihat Mang Jaka sedang asyik melinting tembakau. "Kenapa muka kamu, Dru? Kusut amat kayak cucian belum disetrika," tegur Mang Jaka tanpa menoleh. Mang Jaka adalah tetangga yang sama-sama bekerja di kandang haji Sodiq. Pria jangkung itu sudah seperti kakak baginya. Badru duduk di bangku kayu, lalu mengendus bahunya sendiri. "Bau banget ya, Mang? Sampai Lilis malu punya pacar kayak saya." Mang Jaka mengembuskan asap rokoknya pelan, lalu menatap Badru tajam. "Ya jelas malu. Dru, dengerin Mamang. Perempuan itu butuh kebanggaan, bukan cuma sekadar cinta. Kalau penampilanmu begini terus, bau sapi, baju dekil, dompet tipis, sampai kiamat pun kamu cuma bakal jadi bahan injakan." Badru terdiam, kalimat itu terasa lebih perih dibanding ucapan Lilis. "Jangan cuma jago angon sapi. Angon nasibmu juga! Perhatikan penampilanmu, pake parfum kek, apa kek, biar enak dicium, enak dipandang, Dru. Kalau kamu nggak berubah sekarang, selamanya kamu cuma dianggap kuli yang nggak punya harga diri. Paham?" Badru mengangguk pelan. Dadanya terasa sesak, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa panas yang menuntut pembuktian. "Berubah ya?" Gumam Badru sambil tersenyum kecut. Tatapan matanya kosong menatap langit. Kemudian, ia mengendus kedua keteknya bergantian. Whuuss... Sial! Bau. Pantas saja Lilis selalu menjaga jarak dengannya. Badru melirik jam butut di tangannya, sudah waktunya pulang. Ia berdiri, lalu menepuk celana bagian bokongnya yang kotor. Namun, ketika ia hendak pergi— "Badru! Sini kamu!" Teriak Laras. Kakaknya Lilis. Wanita yang dianggap nasibnya lebih beruntung, karena menikah dengan saudagar tua dari desa sebelah. Mendengar panggilan itu, Badru berjalan tergopoh-gopoh, menghampiri Laras. Namun, langkahnya mendadak berat, saat melihat wanita dengan dua pepaya besar itu berdiri di daun pintu dengan daster ketat, dengan belahan rendah, sambil menatap jijik ke arah Badru. Glek! 'Itu dada apa buah kelapa? Gede banget,' batin Badru tanpa sadar. Matanya seolah punya nyawa sendiri, sulit dialihkan dari pemandangan di depannya.Srenggg...!Minyak panas mendesis saat irisan pisang dimasukkan ke dalam wajan. Gerakan tangan Binar yang membolak-balik pisang membuat tubuh bagian belakangnya bergerak lentur. Pinggulnya yang sintal dan padat berayun tipis di balik sarung yang melilit ketat di pinggangnya, memperlihatkan lekuk bokongnya yang montok berisi."Kopinya pahit kayak biasa kan, Mas?" tanya Binar menoleh sekilas, bulu mata lentiknya berkedip lembut."Iya, pahit aja. Gak usah pakai gula," sahut Badru."Siap, Mas Badru..." canda Binar pelan seraya meniriskan pisang goreng yang sudah kuning kecokelatan ke atas piring kaleng.Dengan cekatan, wanita itu menyeduh bubuk kopi hitam di cangkir seng dengan air mendidih dari cerek, lalu mengaduknya hingga uap panas mengepul harum.Srek...Binar melangkah membawa cangkir kopi dan sepiring pisang goreng panas, lalu meletakkannya di atas meja kayu di depan Badru."Nih, Mas Badru... Kopi pahit sama pisang goreng hangatnya," kata Binar.Bukannya duduk di kursi seberang, Bi
Cklek!Suara palang kayu di pintu bilik belakang mengunci rapat.Badru membuang napas panjang. Udara gubuk masih sarat aroma sabun mandi dan semerbak manis tubuh Binar yang memabukkan. Jakun Badru naik turun kaku. Ia merebahkan badannya di dipan bambu depan, menyelipkan sabit berkarat di samping pinggang, lalu memejamkan mata sambil menajamkan telinga mengawasi pekarangan.Malam merayap lambat diiringi desau angin kebun pisang.Kukuruyuuuk...!Kokok ayam jantan pertama memecah keheningan fajar. Cahaya biru kelabu mulai menerobos celah anyaman bambu, menandakan pagi telah tiba.Badru membuka mata. Pria itu langsung bangkit duduk, merapikan sarung, lalu melangkah ke depan pintu bilik belakang.Tok! Tok!"Teh Binar. Udah pagi," panggil Badru rendah.Srek... Cklek!Palang kayu ditarik dari dalam. Daun pintu terbuka separuh.Sosok Binar menyembul dari balik pintu. Pemandangan di hadapan Badru seketika membuat matanya terpaku. Sarung yang semalam tersampir di pundak Binar kini melorot ke pi
Glek!Jakun Badru naik turun kaku saat ujung hidung mancung Binar menyentuh kulit lehernya yang hangat. Napas wanita itu tersengal halus, mengembuskan uap panas yang langsung menggelitik bulu kuduk Badru.Srekk...Jemari lentik Binar tak sekadar bertaut di sela jemari kasar Badru, tapi perlahan merambat naik, meremas otot bisep di lengan pria tegap itu. Wangi pelet Kencana Wilis yang menguar makin pekat seakan membakar sisa-sisa kewarasan di kepala Binar."Mas Badru..." bisik Binar lirih, suaranya terdengar begitu rapuh bercampur gelora yang tertahan. "Jangan suruh saya menjauh... Saya gak kuat kalau harus nahan dingin sendirian di kamar belakang..."Badru memejamkan mata sesaat. Otot-otot rahangnya mengeras kaku, menahan darah mudanya yang mendidih deras ke seluruh tubuh."Teh Binar, sadar," tegur Badru dengan suara ditekan rendah, mencoba menarik tangannya perlahan. "Ini bukan rasa kedinginan biasa. Pikiran Teteh lagi kacau kena pengaruh hawa malam.""Bukan, Mas..." bantah Binar cep
Srek...Pintu kamar belakang berderit pelan. Binar merangkak keluar dari bawah kolong ranjang kayu. Seluruh badannya masih gemetar hebat, wajah cantiknya pucat pasi tanpa rona sedikit pun.Melihat Badru berdiri tegap di ambang pintu tengah, pertahanan Binar seketika runtuh. Langkah kakinya yang goyah bergegas mendekat, lalu tanpa aba-aba, kedua tangannya melingkar erat memeluk pinggang liat Badru dari depan.Gruk!Wajah Binar terbenam di dada bidang Badru yang hangat. Isak tangisnya pecah tertahan, membasahi kulit telanjang pria itu dengan air mata yang hangat."Mas Badru... hiks... saya takut banget..." bisik Binar tersengal-sengal, cengkeraman jemarinya meremas kain sarung di punggung Badru kian kencang. "Kalau dia bawa saya balik... hidup saya pasti abis disiksa lagi..."Glek!Jakun Badru naik turun kaku. Kehangatan tubuh Binar yang hanya terbalut kaos tipis menempel lekat di badannya, membuat detak jantung Badru ikut terpacu. Namun, melihat kepanikan murni di mata wanita itu, Badr
Brak! Brak! Brak!Gedoran di pintu kayu rumah panggung tua milik Badru berdentum keras membelah sunyi malam, merontokkan debu-debu halus dari kusen kayu. Hawa merah yang semula Badru kira jelmaan Bantara buyar seketika, berganti dengan suara bentakan kasar seorang laki-laki dari luar teras."Woi! Buka pintunya! Jangan pura-pura tidur lu di dalam!"Deg!Wajah Binar seketika pias seperti mayat. Begitu mendengar lengkingan suara berat dan serak itu, kedua matanya membelalak dipenuhi teror yang luar biasa. Tubuhnya gemetar hebat sampai bibirnya bergetar kencang, jemarinya refleks membekap mulut sendiri agar tak menjerit."I-Itu suara Mas Joko... suami saya..." bisik Binar tercekat, air matanya luruh membasahi pipi. Jemarinya mencengkeram lengan Badru dengan kuku-kuku yang menancap panik. "Dia beneran nyari saya sampai ke kampung ini, Mas..."Badru menatap sorot mata Binar yang kalut setengah mati. Tanpa banyak bicara, Badru menepuk punggung tangan wanita itu seraya memberi isyarat ke arah
Malam makin larut. Hawa dingin kebun pisang menyusup lewat celah dinding bambu.Di lantai beralas sarung, Badru tidur dengan kening berkerut dalam. Napasnya memberat saat dadanya mendadak terasa tertindih beban tak kasat mata.Whuushh...Udara di sekitarnya mendadak panas. Bau belerang dan anyir darah menyengat indra penciumannya.Di alam bawah sadarnya, kabut merah berputar pekat. Sosok Bantara muncul dengan mata menyala dan seringai bertaring."Badru..." dengus suara berat itu tepat di telinganya. Cengkeraman kuku hitamnya terasa membakar bahu Badru. "Wanita-wanita itu sudah basah oleh aromamu... Semakin liar mereka, semakin dekat purnama tiba. Siapkan ragamu untuk melayaniku!"'Pergi, iblis laknat!' tolak Badru menggeram kuat dalam tidurnya."Hahaha! Kau tak bisa lari, Badru!" tawa Bantara menggelegar buas.Bruk!"Hah... hah... hah!"Badru tersentak bangun. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi kening dan kaos kusamnya. Tangannya refleks meraba saku sarung, memastikan botol M
Badru bergegas duduk di tepi ranjang kapuk. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha mengusir rasa pusing yang masih tersisa. Namun, begitu matanya terbuka lebar, rasa pusing itu langsung hilang dalam sekejap.Deg.Jantung Badru hampir copot saat melihat pemandangan di depannya.Lara
Karena pintu tidak tertutup, jadi Badru mengira ia bisa masuk tanpa mengetuk pintu. "Teh Laras... ini pompa ASI-nya sudah saya beli," kata Badru. Suaranya pecah di ujung kalimat karena gugup.Laras kaget, kepalanya menoleh cepat. Gerakan mendadak itu membuat daster batiknya melorot, memperlihatkan
Narti menyandarkan pinggulnya yang padat ke tepi etalase kaca. Kaos marun ketat yang membungkus tubuh atasnya tampak begitu sesak, memperlihatkan lengkungan dada yang penuh dan menonjol tegak. Bibirnya yang basah oleh lipstik merah merekah melengkung tipis, menatap Badru yang sedari tadi gelisah m
"Ada apa, Teh?" Tanya Badru yang cepat-cepat menunduk. Melihat pemandangan di depan matanya, ia menelan ludah berkali-kali, seolah tenggorokannya terasa kering Ia bisa melihat pepaya besar, halus nan padat itu menyembul dari balik penyangga merahnya, yang tidak sanggup menampung seluruh daging ke







