Share

Bab 2 Godaan baru

Penulis: Arandiah
last update Tanggal publikasi: 2026-05-29 21:59:31

"Ada apa, Teh?" Tanya Badru yang cepat-cepat menunduk. Melihat pemandangan di depan matanya, ia menelan ludah berkali-kali, seolah tenggorokannya terasa kering

Ia bisa melihat pepaya besar, halus nan padat itu menyembul dari balik penyangga merahnya, yang tidak sanggup menampung seluruh daging kenyal itu. 

"Ishh ... Jangan deket-deket! Coba mundur dikit." Sentak Laras sambil menatap jijik ke arah Badru yang tampak gemetaran.

"Iya teh, maaf."

Badru dengan refleks melangkah mundur. Kini, matanya hanya bisa melihat betis Laras yang tampak halus dan putih bersih.

"Beliin pompa ASI di minimarket depan bengkel kang Jajat itu ya. Kang Yanto lagi gilir sama istri tuanya," ucap Laras dengan nada ketus.

Jantung Badru hampir copot, ketika melihat Laras memasukkan tangan halusnya ke sela dadanya yang sesak, mengambil beberapa lembar uang yang ia simpan di dalam bra-nya. Pikiran-pikiran liar seketika muncul di otak Badru.

"Mentang-mentang aku nggak bisa kasih 'jatah', dia langsung aja balik ke rumah istri tuanya. Tau sendiri anaknya baru brojol, gak bisa anteng." Laras menggerutu, meluapkan kekesalan terhadap suaminya.

Badru hanya diam, tak berani menanggapi satu kata pun. Fokusnya pecah. Ia sedang berusaha mati-matian menahan diri agar Jono, nama barang kebanggaannya, tidak terbangun di saat yang tidak tepat.

"Nih, uangnya. Jangan pake lama!" Laras memberikan beberapa lembar uang warna merah itu pada Badru.

Saat jemari Badru bersentuhan dengan uang tersebut, ada sensasi hangat yang merambat. Uang itu terasa lembap dan hangat karena bekas menempel di kulit Laras.

'Sial, sial, sial! Jono, tahan dikit lagi! Jangan sampai kamu bikin aku dikira orang mesum!' Badru memaki dalam hati.

"Badru? Kenapa diem aja? Kamu sakit?" Tanya Laras, dahinya mengernyit heran.

"Eh, n-nggak, Teh. Nggak sakit," sahut Badru gelagapan. Ia buru-buru mengambil uang merah itu dari tangan Laras.

Entah kenapa, indra penciumannya terasa sangat tajam hingga ia mencium sesuatu yang membangkitkan gairah si Jono. Ada wangi bedak bayi yang bercampur dengan aroma tubuh perempuan dewasa. Wangi yang justru membuat akal sehat Badru perlahan terbang entah ke mana.

'Wah, jadi gini tah bau susu wanita? Biasanya kan aku cuma pegang susu sapi,' batin Badru sambil menelan ludahnya berkali-kali.

Perasaan sedihnya karena diputuskan Lilis mendadak menguap begitu saja, digantikan oleh debaran jantung yang makin tidak karuan.

"Ck. Yakin kamu nggak sakit? Kok tegang sampai keringetan begitu?" Tanya Laras berdecak sebal, melihat kelakuan Badru yang aneh di matanya.

Badru tersentak kaget ketika Laras menatapnya dengan penuh curiga.

"E-enggak Teh, serius. S-saya cuma kepanasan, soalnya kan baru pulang angon sapi," jawab Badru gelagapan.

Matanya bergerak liar ke sana kemari agar tak ketahuan, karena sudah melihat dada besar wanita di depannya.

"Dasar aneh." Laras bertolak pinggang.

Gerakan sederhana itu justru membuat daster ketat bermotif bunga yang ia pakai tertarik ke atas. Bentuk pinggulnya yang lebar dan paha putihnya yang berisi tercetak sangat jelas.

Badru menelan ludah lagi.

Glek.

Berbeda jauh dengan Lilis yang kurus, tubuh Laras ini ibarat mangga madu yang matang sempurna di pohon. Sangat menggiurkan.

Apalagi Laras sedang dalam masa menyusui. Bagian dadanya terlihat membengkak penuh.

Kain dasternya seakan mau robek karena terlalu ketat. Bra merah yang mengintip dari balik daster itu seperti sudah menyerah menahan beban dua gundukan daging putih nan kenyal yang menyembul menantang.

"Ya udah sana buruan! Ini dadaku udah kenceng pisan, ngilu kalau nggak cepat dipompa," keluh Laras tanpa sungkan. Suaranya terdengar sangat jengkel.

Tangan kanan Laras tiba-tiba terangkat. Ia memijat pelan bagian atas dadanya yang membelah rendah di kerah daster.

Wanita itu sedikit menunduk untuk mengurangi rasa sesak yang menyiksa. Pemandangan itu membuat belahan dadanya terpampang semakin jelas dan dalam di depan mata Badru.

'Sial. Mataku nggak bisa lepas dari sana.' Mata Badru nyaris copot keluar.

Melihat tangan berkulit mulus itu meremas pelan gundukan padat di depannya, pertahanan Badru langsung hancur lebur.

'Apa emang punya teh Laras segede ini ya? Kok aku baru nyadar? Perasaan punya Lilis nggak gede-gede banget,' pikir Badru sedikit membandingkan.

Lebih sialnya lagi, Jono, pusaka kebanggaan Badru yang sejak tadi disuruh tidur, kini malah bangun sepenuhnya.

Jono berdiri tegak menantang langit dari balik celana kain Badru yang lusuh. Badru makin panik bercucuran keringat dingin.

"B-baik, Teh. Badru berangkat sekarang!" seru Badru panik. Wajahnya pucat pasi namun telinganya memerah.

Pria berbadan tegap itu langsung memutar tubuhnya. Ia berjalan sangat cepat, tapi posisinya membungkuk ke depan seperti udang rebus.

Tangan kirinya masuk ke dalam saku celana, menekan paksa Jono yang sedang berontak liar minta dilepaskan. Kakinya melangkah mengangkang tidak karuan karena menahan sesuatu di selangkangannya.

"Dasar cowok aneh. Udah bau sapi, kelakuannya juga ganjil," sungut Laras sambil menggelengkan kepala melihat tingkah laku Badru.

Badru berjalan terpontang-panting menyusuri jalan setapak desa itu. Tubuhnya terasa panas hingga keringat mengucur deras.

Howekk...

Badru mencium bau badannya sendiri, karena merasa tak nyaman dengan keringat sebanyak itu.

'Ukh... Semoga gak ada yang liat celana ku. Tambah lagi keringet bikin badan makin bau,' batin Badru berharap tak ada orang di sekitarnya.

Setiap kali ia melangkah, rasa "sesak" di celananya membuat ia harus berjalan mengangkang, persis seperti orang yang baru selesai disunat.

Badru berusaha membuang bayangan daster bunga-bunga yang ketat itu dari kepalanya, tapi gagal total.

'Ini Jono kenapa susah tidurnya sih? Bisa malu aku, kalau ada yang liat,' batin Badru, masih menutupi bagian depan celananya.

Badru sempat terpikir untuk mengendus tangannya sendiri, tapi ia buru-buru sadar.

Kalau ada warga yang lewat dan melihatnya sedang mencium tangan sendiri sambil jalan membungkuk, tamatlah riwayatnya sebagai pemuda baik-baik di desa ini.

"Eh, Badru! Mau ke mana, Dru? Kok jalannya kayak kepiting gitu?" sapa Mang Dadang yang sedang duduk di pos ronda.

Badru tersentak, hampir saja ia melompat karena kaget.

"Eh, Mang... Ini, anu... kaki saya kram habis ngejar sapi tadi!" jawabnya asal-asalan sambil mempercepat langkah, mengabaikan tawa renyah Mang Dadang di belakangnya.

Setelah lima menit yang terasa seperti satu jam, akhirnya Badru sampai di depan minimarket yang letaknya tepat di seberang bengkel Kang Jajat.

"Huh, akhirnya sampai juga, tapi Jono masih bandel. Gimana ini," gumam Badru merasa bingung bercampur malu.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan "si Jono" yang masih keras kepala ingin tegak berdiri.

Dengan wajah yang diatur senetral mungkin, meski keringat sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya, Badru masuk ke dalam ruangan ber-AC itu.

Wushh...

Dinginnya udara toko sedikit membantunya untuk kembali berpikir jernih.

Ia langsung menuju rak perlengkapan bayi. Matanya menyisir deretan botol susu, bedak, dan popok.

"Mana sih barangnya? Kok nggak ada?" gumamnya panik.

"Cari apa, Mas Badru?"

Badru menoleh dan mendapati Narti si bohay, kasir muda yang baru lulus SMA, sudah berdiri di sampingnya dengan senyum ramah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Risa Ristiani
ngakak pisan si jono eh si badru...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 129

    Glek!Jakun Badru naik turun kaku saat ujung hidung mancung Binar menyentuh kulit lehernya yang hangat. Napas wanita itu tersengal halus, mengembuskan uap panas yang langsung menggelitik bulu kuduk Badru.Srekk...Jemari lentik Binar tak sekadar bertaut di sela jemari kasar Badru, tapi perlahan merambat naik, meremas otot bisep di lengan pria tegap itu. Wangi pelet Kencana Wilis yang menguar makin pekat seakan membakar sisa-sisa kewarasan di kepala Binar."Mas Badru..." bisik Binar lirih, suaranya terdengar begitu rapuh bercampur gelora yang tertahan. "Jangan suruh saya menjauh... Saya gak kuat kalau harus nahan dingin sendirian di kamar belakang..."Badru memejamkan mata sesaat. Otot-otot rahangnya mengeras kaku, menahan darah mudanya yang mendidih deras ke seluruh tubuh."Teh Binar, sadar," tegur Badru dengan suara ditekan rendah, mencoba menarik tangannya perlahan. "Ini bukan rasa kedinginan biasa. Pikiran Teteh lagi kacau kena pengaruh hawa malam.""Bukan, Mas..." bantah Binar cep

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 128

    Srek...Pintu kamar belakang berderit pelan. Binar merangkak keluar dari bawah kolong ranjang kayu. Seluruh badannya masih gemetar hebat, wajah cantiknya pucat pasi tanpa rona sedikit pun.Melihat Badru berdiri tegap di ambang pintu tengah, pertahanan Binar seketika runtuh. Langkah kakinya yang goyah bergegas mendekat, lalu tanpa aba-aba, kedua tangannya melingkar erat memeluk pinggang liat Badru dari depan.Gruk!Wajah Binar terbenam di dada bidang Badru yang hangat. Isak tangisnya pecah tertahan, membasahi kulit telanjang pria itu dengan air mata yang hangat."Mas Badru... hiks... saya takut banget..." bisik Binar tersengal-sengal, cengkeraman jemarinya meremas kain sarung di punggung Badru kian kencang. "Kalau dia bawa saya balik... hidup saya pasti abis disiksa lagi..."Glek!Jakun Badru naik turun kaku. Kehangatan tubuh Binar yang hanya terbalut kaos tipis menempel lekat di badannya, membuat detak jantung Badru ikut terpacu. Namun, melihat kepanikan murni di mata wanita itu, Badr

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 127

    Brak! Brak! Brak!Gedoran di pintu kayu rumah panggung tua milik Badru berdentum keras membelah sunyi malam, merontokkan debu-debu halus dari kusen kayu. Hawa merah yang semula Badru kira jelmaan Bantara buyar seketika, berganti dengan suara bentakan kasar seorang laki-laki dari luar teras."Woi! Buka pintunya! Jangan pura-pura tidur lu di dalam!"Deg!Wajah Binar seketika pias seperti mayat. Begitu mendengar lengkingan suara berat dan serak itu, kedua matanya membelalak dipenuhi teror yang luar biasa. Tubuhnya gemetar hebat sampai bibirnya bergetar kencang, jemarinya refleks membekap mulut sendiri agar tak menjerit."I-Itu suara Mas Joko... suami saya..." bisik Binar tercekat, air matanya luruh membasahi pipi. Jemarinya mencengkeram lengan Badru dengan kuku-kuku yang menancap panik. "Dia beneran nyari saya sampai ke kampung ini, Mas..."Badru menatap sorot mata Binar yang kalut setengah mati. Tanpa banyak bicara, Badru menepuk punggung tangan wanita itu seraya memberi isyarat ke arah

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 126

    Malam makin larut. Hawa dingin kebun pisang menyusup lewat celah dinding bambu.Di lantai beralas sarung, Badru tidur dengan kening berkerut dalam. Napasnya memberat saat dadanya mendadak terasa tertindih beban tak kasat mata.Whuushh...Udara di sekitarnya mendadak panas. Bau belerang dan anyir darah menyengat indra penciumannya.Di alam bawah sadarnya, kabut merah berputar pekat. Sosok Bantara muncul dengan mata menyala dan seringai bertaring."Badru..." dengus suara berat itu tepat di telinganya. Cengkeraman kuku hitamnya terasa membakar bahu Badru. "Wanita-wanita itu sudah basah oleh aromamu... Semakin liar mereka, semakin dekat purnama tiba. Siapkan ragamu untuk melayaniku!"'Pergi, iblis laknat!' tolak Badru menggeram kuat dalam tidurnya."Hahaha! Kau tak bisa lari, Badru!" tawa Bantara menggelegar buas.Bruk!"Hah... hah... hah!"Badru tersentak bangun. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi kening dan kaos kusamnya. Tangannya refleks meraba saku sarung, memastikan botol M

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 125

    Glek!Jakun Badru naik turun kaku. Punggungnya yang bersandar di dingklik kayu mendadak menegak tegang. Peringatan Aki Warsa soal hawa panas dan candu minyak gaib itu beradu dengan bayangan sosok gaib Bantara yang terus meneror alam mimpinya, menuntut bayaran pelayanan tiap malam bulan purnama.'Sialan... Baru aja dibilangin Aki Warsa, ini wangi malah nyengat lagi pas kena angin malam,' batin Badru menggeram cemas, jemarinya mengepal di atas lutut. 'Kalau Binar makin terjerat, hawa nafsu di gubuk ini bakal ngundang si iblis Bantara datang lebih cepat sebelum purnama.'Binar yang bersimpuh di lantai pandan tampak makin gelisah. Dadanya yang padat tanpa balutan bra naik turun kencang di balik kaos kusam Badru. Kedua matanya yang sayu mulai berair, menatap leher tegap Badru seolah melihat sesuatu yang paling manis di dunia."Mas..." bisik Binar makin parau, tangannya yang lembut bergerak ragu ke atas, lalu mendarat di atas lutut kekar Badru. "Mas Badru beneran gak pakai minyak apa-apa? W

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 124

    Tak butuh waktu lama, atap gubuk bambunya yang kusam mulai tampak di balik rimbunnya rumpun pisang ambon. Di dalam gubuk, pendar cahaya lampu tempel minyak tanah terlihat samar-samar menerobos celah anyaman dinding bambu.Suara sayup-sayup azan magrib mulai berkumandang dari musala kampung yang letaknya cukup jauh di seberang sungai.Allahu Akbar... Allahu Akbar...Badru memantau situasi sekitar gubuk sejenak. Gelap dan sepi. Hanya ada suara jangkrik malam yang mulai bersahutan di balik semak belukar.Badru melangkah mendekati pintu depan, lalu mengetuknya pelan tiga kali sesuai sandi rahasia mereka.Tok! Tok! Tok!"Teh Binar, ini saya, Badru," bisik Badru rendah di depan celah pintu.Srek...Terdengar langkah kaki bergegas dari dalam gubuk. Suara selot bambu ditarik perlahan, dan daun pintu langsung terbuka menganga sedikit.Wajah cantik Binar menyembul dari balik pintu. Begitu melihat sosok jangkung Badru berdiri di hadapannya, senyum manis dan raut lega seketika merekah di wajahnya

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 5 Godaan dan gangguan

    Badru bergegas duduk di tepi ranjang kapuk. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha mengusir rasa pusing yang masih tersisa. Namun, begitu matanya terbuka lebar, rasa pusing itu langsung hilang dalam sekejap.Deg.Jantung Badru hampir copot saat melihat pemandangan di depannya.Lara

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 4 kehidupan kedua

    Karena pintu tidak tertutup, jadi Badru mengira ia bisa masuk tanpa mengetuk pintu. "Teh Laras... ini pompa ASI-nya sudah saya beli," kata Badru. Suaranya pecah di ujung kalimat karena gugup.Laras kaget, kepalanya menoleh cepat. Gerakan mendadak itu membuat daster batiknya melorot, memperlihatkan

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 3 Parfum aneh

    Narti menyandarkan pinggulnya yang padat ke tepi etalase kaca. Kaos marun ketat yang membungkus tubuh atasnya tampak begitu sesak, memperlihatkan lengkungan dada yang penuh dan menonjol tegak. Bibirnya yang basah oleh lipstik merah merekah melengkung tipis, menatap Badru yang sedari tadi gelisah m

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 1 Badru si 'banteng bau'

    "Kita udahan aja ya, Kang. Lilis udah nggak bisa kalau harus lanjutin hubungan ini." Badru terdiam, masih berusaha mencerna ucapan Lilis, gadis pujaan hati yang selalu ia bayangkan akan menjadi istrinya. "Kenapa emangnya, Lis?" tanya Badru. Suaranya terdengar serak dan berat, berusaha keras mered

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status