MasukLilis mematung di ambang pintu. Matanya melotot lebar, menatap bergantian ke arah Laras yang hanya memakai daster tipis dan Badru yang berdiri membungkuk kaku menahan selangkangannya."Teh Laras! Kang Badru! Lagi ngapain kalian di kamar?!" pekik Lilis, suaranya melengking tinggi membuat telinga Badru berdengung.Sruk.Laras seketika loncat dari kasur kapuk. Wajahnya yang tadi kemerahan menahan gairah, mendadak berubah pucat. Dengan gerakan secepat kilat, tangan kirinya menarik daster satin hitamnya yang sempat tersingkap di atas paha, sementara tangan kanannya berpura-pura merapikan bantal."Eh, Lilis! Kamu jangan salah paham dulu!" seru Laras dengan nada tinggi demi menutupi rasa gugupnya."Salah paham gimana, Teh?! Itu daster Teteh sudah ketat begitu, terus posisinya kenapa dekat banget sama Kang Badru?!" Lilis menunjuk-nunjuk kasur dengan jari yang gemetaran karena emosi.Laras langsung membusungkan dadanya yang besar, mencoba pasang badan. Kain satin hitam yang super ketat itu mak
Badru bergegas duduk di tepi ranjang kapuk. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha mengusir rasa pusing yang masih tersisa. Namun, begitu matanya terbuka lebar, rasa pusing itu langsung hilang dalam sekejap.Deg.Jantung Badru hampir copot saat melihat pemandangan di depannya.Laras berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang sudah berubah total. Laras tampaknya baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah dan dililit handuk di atas kepala. Sial bagi Badru, Laras hanya mengenakan daster satin hitam yang sangat tipis dan ketat, dengan potongan yang sangat rendah di bagian dada."T-Teh Laras ..." ujar Badru lirih, lidahnya benar-benar kelu melihat pemandangan seperti ini. Bahkan, jakunnya terus naik turun.Tubuh Laras benar-benar membuat mata Badru seakan terpaku. Ia baru pertama kali melihat tubuh wanita hampir telanjang begini. Bentuk tubuhnya yang berisi, mulai dari pinggul sampai paha putihnya yang padat, terlihat sangat jelas di balik kain tipis itu.Tangan B
Karena pintu tidak tertutup, jadi Badru mengira ia bisa masuk tanpa mengetuk pintu. "Teh Laras... ini pompa ASI-nya sudah saya beli," kata Badru. Suaranya pecah di ujung kalimat karena gugup.Laras kaget, kepalanya menoleh cepat. Gerakan mendadak itu membuat daster batiknya melorot, memperlihatkan separuh bulatan putih besar yang menyembul padat."Eh! Badru! Ketuk pintu dulu kenapa sih?!" bentak Laras dengan muka merah padam. Sret sret.Tangan kirinya sibuk membenarkan kerah daster, tapi tangan kanannya masih memegang dadanya yang bengkak. Pemandangan itu malah makin kelihatan jelas.Badru mematung di ambang pintu. Kakinya kaku. Bau ranum Laras bercampur parfum loakan di lehernya membuat otak Badru mendadak nge-blank.Glek.Badrul menelan ludah kasar, karena kerongkongannya terasa sangat kering."Ma-maaf, Teh. Pintunya mangap," jawab Badru. Dia merunduk, tapi matanya sempat melirik ke bawah sebelum membuang muka.'Aku bakal dimarahin lagi nih,' batin Badru merasa takut.Laras menden
Narti menyandarkan pinggulnya yang padat ke tepi etalase kaca. Kaos marun ketat yang membungkus tubuh atasnya tampak begitu sesak, memperlihatkan lengkungan dada yang penuh dan menonjol tegak. Bibirnya yang basah oleh lipstik merah merekah melengkung tipis, menatap Badru yang sedari tadi gelisah menundukkan kepala."Cari apa, Mas Badru?" suara Narti terdengar serak, sengaja mengulur kata."Anu... itu, Nar. Ada pompa... buat susu?" Badru menyahut patah-patah, jemarinya sibuk meremas ujung kausnya yang mulai basah oleh keringat dingin.Narti terkekeh pelan, sepasang gundukannya bergoyang halus saat ia berbalik. Wanita itu berjinjit, mengulurkan tangan ke rak atas hingga kaus ketatnya terangkat dan mengekspos sejumput kulit perutnya yang putih mulus. Ia menurunkan sebuah kotak karton lalu menggesernya ke depan dada Badru.Pandangan Badru langsung terpaku pada gambar di kemasan itu. Di sana terpampang foto seorang wanita bule dengan belahan dada terbuka lebar, sedang menempelkan corong k
"Ada apa, Teh?" Tanya Badru yang cepat-cepat menunduk. Melihat pemandangan di depan matanya, ia menelan ludah berkali-kali, seolah tenggorokannya terasa kering Ia bisa melihat pepaya besar, halus nan padat itu menyembul dari balik penyangga merahnya, yang tidak sanggup menampung seluruh daging kenyal itu. "Ishh ... Jangan deket-deket! Coba mundur dikit." Sentak Laras sambil menatap jijik ke arah Badru yang tampak gemetaran. "Iya teh, maaf." Badru dengan refleks melangkah mundur. Kini, matanya hanya bisa melihat betis Laras yang tampak halus dan putih bersih. "Beliin pompa ASI di minimarket depan bengkel kang Jajat itu ya. Kang Yanto lagi gilir sama istri tuanya," ucap Laras dengan nada ketus. Jantung Badru hampir copot, ketika melihat Laras memasukkan tangan halusnya ke sela dadanya yang sesak, mengambil beberapa lembar uang yang ia simpan di dalam bra-nya. Pikiran-pikiran liar seketika muncul di otak Badru. "Mentang-mentang aku nggak bisa kasih 'jatah', dia langsung aja ba
"Kita udahan aja ya, Kang. Lilis udah nggak bisa kalau harus lanjutin hubungan ini." Badru terdiam, masih berusaha mencerna ucapan Lilis, gadis pujaan hati yang selalu ia bayangkan akan menjadi istrinya. "Kenapa emangnya, Lis?" tanya Badru. Suaranya terdengar serak dan berat, berusaha keras meredam gejolak di dadanya. Jantungnya berdetak kacau, seolah siap meledak kapan saja. "Aku malu, Kang! Malu banget punya pacar yang kerjanya cuma angon sapi!" teriak Lilis, wajahnya memerah penuh penolakan. Deg! Dada Badru seakan dihantam palu godam. Pria itu menunduk perlahan. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih, menahan sesuatu yang lebih menyakitkan dari sekadar luka fisik. 'Jadi, selama ini dia malu bersamaku?' batin Badru, harga dirinya seakan baru saja diinjak-injak ke tanah. Rahang pria bertubuh besar itu mengeras. Tatapannya perlahan berubah menjadi tajam sekaligus kosong. Ia menelan kepahitan itu dalam-dalam, menolak membiarkan setetes pun a