Share

Bab 3 Parfum aneh

Penulis: Arandiah
last update Tanggal publikasi: 2026-05-29 22:00:28

Narti menyandarkan pinggulnya yang padat ke tepi etalase kaca. Kaos marun ketat yang membungkus tubuh atasnya tampak begitu sesak, memperlihatkan lengkungan dada yang penuh dan menonjol tegak.

Bibirnya yang basah oleh lipstik merah merekah melengkung tipis, menatap Badru yang sedari tadi gelisah menundukkan kepala.

"Cari apa, Mas Badru?" suara Narti terdengar serak, sengaja mengulur kata.

"Anu... itu, Nar. Ada pompa... buat susu?" Badru menyahut patah-patah, jemarinya sibuk meremas ujung kausnya yang mulai basah oleh keringat dingin.

Narti terkekeh pelan, sepasang gundukannya bergoyang halus saat ia berbalik. Wanita itu berjinjit, mengulurkan tangan ke rak atas hingga kaus ketatnya terangkat dan mengekspos sejumput kulit perutnya yang putih mulus. Ia menurunkan sebuah kotak karton lalu menggesernya ke depan dada Badru.

Pandangan Badru langsung terpaku pada gambar di kemasan itu. Di sana terpampang foto seorang wanita bule dengan belahan dada terbuka lebar, sedang menempelkan corong kaca ke putingnya yang ranum.

Jakun Badru naik turun, wajahnya seketika terasa terbakar.

"Maksudnya pompa ASI? Ini Mas, ada yang manual, ada yang elektrik. Mau yang mana?"

Narti mencondongkan tubuhnya di atas etalase. Kerah bajunya yang agak longgar melorot ke bawah, menyisakan pemandangan belahan dada yang putih bersih dan dalam tepat di depan mata Badru.

"Yang... yang paling bagus saja, yang harganya pas sama uang ini," jawab Badru buru-buru memalingkan muka. Ia menyodorkan selembar uang merah seratus ribuan milik Laras.

Narti menerima lembaran itu. Ujung jari lentiknya yang berhias kuteks merah sempat bergesekan dengan kulit tangan Badru, mengirimkan sengatan halus. Namun, dahi Narti tiba-tiba berkerut rapat.

"Kok uangnya lembap banget, Mas? Habis kena air?" Narti menggoyang-goyangkan uang itu, lalu mengelapkan jemarinya yang ikut basah ke paha celana jeans ketatnya yang membungkus panggul sintalnya.

Badru rasanya ingin amblas ke dalam tanah. "Tadi... jatuh ke rumput basah waktu aku lagi angon sapi, Nar!"

Begitu Narti menyerahkan kantong plastik hitam berisi pompa beserta seluruh uang kembaliannya, Badru langsung menyambarnya.

Ia memasukkan uang kembalian itu ke kantong kanan celananya dengan hati-hati.

Itu uang Laras, sepeser pun tidak boleh berkurang. Badru lalu melangkah seribu keluar dari toko, seolah-olah baru saja mengutil barang.

Langkah kai badannya baru melambat saat ia melintasi sebuah lapak loakan di bawah pohon waru.

'Huft... Kok aku malu ya, beli barang beginian,' batin Badru seraya mereka kantong plastik belanjaannya.

"Dibeli... Dibeli ...! Parfum murah tapi wanginya gak murahan! Cewek cantik, cewek bahenol, langsung nemplok. Parfum ajaib penakluk hati! Sekali semprot, wangi surga langsung nempel!" seru si penjual parfum, suaranya melengking di antara riuh pasar.

Tiba-tiba saja Badru menoleh ke sebuah toko loakan di samping supermarket.

Penjual itu mengibas-ngibaskan botol kaca berbentuk aneh itu di udara. "Murah meriah, Bang! Dijamin, bau badan hilang seketika!"

Deg.

Mendengar teriakan itu, Badru tertegun. Kata-kata penjual parfum itu seakan memutar kembali memori menyakitkan dalam benaknya. Ingatan tentang Lilis, gadis pujaan hatinya, yang meninggalkannya begitu saja karena alasan yang sama.

Di sana ada cermin pecah di tumpukan barang loak memantulkan seraut wajahnya yang dekil.

Gadis cantik yang baru memutuskannya itu seolah berdiri di depannya, mengibas-ngibaskan jemari lentiknya ke dekat hidung yang mancung dengan guratan jijik yang amat nyata.

'Pantesan Lilis minta putus, ternyata aku emang sedekil itu. Tapi apa Lilis boleh menghinaku sampai segitunya?'

Harga diri Badru sebagai lelaki seperti diinjak-injak sampai lumat. Ia mengangkat kerah bajunya sendiri lalu mengendus kasar. Bau apek keringat bercampur aroma tanah kering langsung menyengat hidungnya.

'Bajingan,' batinnya memaki diri sendiri.

Matanya kemudian tertuju pada keranjang berisi botol-botol kaca tua di pojok lapak. Badru berlutut, jemarinya mengais hingga menemukan sebuah botol kaca melengkung aneh berisi cairan warna madu pekat.

Mereknya sudah terkelupas habis. Ia memutar tutupnya yang longgar dan menghirup ujung botol.

Wushh...

Seketika aroma bunga malam yang sangat manis, pekat, dan agak memabukkan menusuk rongga hidungnya. Bau yang aneh, seolah memiliki daya pikat yang berat dan panas.

"Ukhh... Baunya aneh, tapi kayaknya lumayan buat ngilangin bau badanku," gumam Badru berniat membeli parfum aneh di tangannya.

Srrrt... Srrrt.

Badru menyemprotkan parfum aneh itu ke tubuhnya, berharap orang-orang tidak menutup hidung saat dirinya lewat nanti.

"Ah, segini cukup."

Badru beralih merogoh kantong celana kirinya, memisahkan diri dari uang milik Laras yang disimpan aman di kantong kanan.

Jemarinya menemukan selembar uang sepuluh ribu rupiah yang sudah lecek dan beberapa koin logam sisa hasil upah serabutan kemarin.

"Bah, ini berapa?" Tanya Badru pada pria tua yang menjaga toko tersebut.

"Lima belas ribu aja."

"Bisa dikurangin gak bah, jadi dua belas ribu. Saya cuma ada uang segini," ucap Badru memamerkan uang receh di tangannya, sambil tersenyum kikuk menahan malu.

"Ya udah, sini. Itung-itung sedekah hari terakhir buka toko."

Setelah menghitungnya di telapak tangan, ia menyodorkannya pada si penjual loak yang langsung mengangguk setuju.

Tanpa menunggu lama, Badru menekan pelatuk botol itu berkali-kali. Cairan keemasan itu disemprotkannya ke urat leher, dada di balik kaus oblongnya, hingga ke balik ketiak.

Aroma manis yang berat itu langsung menguar kuat membungkus tubuhnya, menyamarkan bau apek sapi sepenuhnya.

"Kayaknya aku udah wangi nih. Waktunya pulang, sapi-sapi juga belum masuk kandang," bisik Badru pelan.

Dengan tubuh yang kini memancarkan wangi pekat yang entah mengapa membuat dadanya sendiri terasa berdesir, Badru melanjutkan perjalanan menuju rumah Laras.

Sesampainya di halaman rumah Laras yang sepi, Badru mendapati pintu kayu jati itu tidak tertutup rapat. Ada celah selebar telapak tangan yang membiarkan udara dalam rumah berembus keluar.

Wushh... Srrrr

Badru baru saja hendak mengetuk, namun gerakannya tertahan di udara. Dari celah pintu, aroma bedak bayi bercampur wangi khas tubuh wanita menyusup keluar, berbaur dengan parfum aneh yang melekat di leher Badru.

Matanya otomatis mengintip ke dalam.

Deg.

Glek.

Badru menelan ludahnya kasar, saat melihat pemandangan di dalam sana.

Di atas tikar pandan yang tergelar di ruang tengah yang agak temaram, Laras sedang duduk bersandar pada kaki sofa.

Rambut hitamnya yang panjang tampak acak-acak, sebagian menempel di leher dan keningnya yang berkeringat deras. Daster batik merah peniti yang dikenakannya tampak meregang kencang, terutama di bagian dada.

Kain tipis itu sudah basah melingkar di seputar lingkaran dadanya, mencetak dengan sangat jelas bentuk dua gundukan kembarnya yang membengkak luar biasa besar, penuh sesak oleh air susu yang tertahan.

Kedua tangan Laras yang putih tampak meremas-remas lembut pinggiran dadanya sendiri, mencoba mengurangi rasa sakit yang mendera.

"Aduh... Gusti, kencang banget... Badru mana sih, lama banget ..." rintih Laras parau, matanya terpejam erat dengan bibir bawah yang digigit menahan nyeri.

Setiap kali ia mendesah, dadanya yang montok dan berat itu berguncang pelan di balik daster basah.

Napas Badru mendadak macet di tenggorokan. Pemandangan ranum di dalam sana membuat seluruh darahnya berdesir hebat.

'Sialan. Badanku jadi panas lagi.'

Entah karena pengaruh hawa panas siang itu atau reaksi dari parfum aneh di tubuhnya, Badru merasa ada gelombang hangat yang mengalir deras menuju selangkangannya.

Jono di balik celana kainnya perlahan menegak, mendesak ketat dan terasa sangat sesak.

Glek.

Badru menelan ludah yang terasa sekering pasir. Tangannya yang memegang gagang pintu mulai gemetar hebat, antara rasa bersalah dan hasrat lelaki yang mendadak meledak di dadanya.

"Jono... tolonglah, jangan bikin malu kali ini aja!" bisik Badru penuh tekanan dalam hati sebelum memberanikan diri mendorong pintu lebih lebar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 6

    Lilis mematung di ambang pintu. Matanya melotot lebar, menatap bergantian ke arah Laras yang hanya memakai daster tipis dan Badru yang berdiri membungkuk kaku menahan selangkangannya."Teh Laras! Kang Badru! Lagi ngapain kalian di kamar?!" pekik Lilis, suaranya melengking tinggi membuat telinga Badru berdengung.Sruk.Laras seketika loncat dari kasur kapuk. Wajahnya yang tadi kemerahan menahan gairah, mendadak berubah pucat. Dengan gerakan secepat kilat, tangan kirinya menarik daster satin hitamnya yang sempat tersingkap di atas paha, sementara tangan kanannya berpura-pura merapikan bantal."Eh, Lilis! Kamu jangan salah paham dulu!" seru Laras dengan nada tinggi demi menutupi rasa gugupnya."Salah paham gimana, Teh?! Itu daster Teteh sudah ketat begitu, terus posisinya kenapa dekat banget sama Kang Badru?!" Lilis menunjuk-nunjuk kasur dengan jari yang gemetaran karena emosi.Laras langsung membusungkan dadanya yang besar, mencoba pasang badan. Kain satin hitam yang super ketat itu mak

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 5 Godaan dan gangguan

    Badru bergegas duduk di tepi ranjang kapuk. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha mengusir rasa pusing yang masih tersisa. Namun, begitu matanya terbuka lebar, rasa pusing itu langsung hilang dalam sekejap.Deg.Jantung Badru hampir copot saat melihat pemandangan di depannya.Laras berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang sudah berubah total. Laras tampaknya baru saja selesai mandi. Rambutnya masih basah dan dililit handuk di atas kepala. Sial bagi Badru, Laras hanya mengenakan daster satin hitam yang sangat tipis dan ketat, dengan potongan yang sangat rendah di bagian dada."T-Teh Laras ..." ujar Badru lirih, lidahnya benar-benar kelu melihat pemandangan seperti ini. Bahkan, jakunnya terus naik turun.Tubuh Laras benar-benar membuat mata Badru seakan terpaku. Ia baru pertama kali melihat tubuh wanita hampir telanjang begini. Bentuk tubuhnya yang berisi, mulai dari pinggul sampai paha putihnya yang padat, terlihat sangat jelas di balik kain tipis itu.Tangan B

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 4 kehidupan kedua

    Karena pintu tidak tertutup, jadi Badru mengira ia bisa masuk tanpa mengetuk pintu. "Teh Laras... ini pompa ASI-nya sudah saya beli," kata Badru. Suaranya pecah di ujung kalimat karena gugup.Laras kaget, kepalanya menoleh cepat. Gerakan mendadak itu membuat daster batiknya melorot, memperlihatkan separuh bulatan putih besar yang menyembul padat."Eh! Badru! Ketuk pintu dulu kenapa sih?!" bentak Laras dengan muka merah padam. Sret sret.Tangan kirinya sibuk membenarkan kerah daster, tapi tangan kanannya masih memegang dadanya yang bengkak. Pemandangan itu malah makin kelihatan jelas.Badru mematung di ambang pintu. Kakinya kaku. Bau ranum Laras bercampur parfum loakan di lehernya membuat otak Badru mendadak nge-blank.Glek.Badrul menelan ludah kasar, karena kerongkongannya terasa sangat kering."Ma-maaf, Teh. Pintunya mangap," jawab Badru. Dia merunduk, tapi matanya sempat melirik ke bawah sebelum membuang muka.'Aku bakal dimarahin lagi nih,' batin Badru merasa takut.Laras menden

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 3 Parfum aneh

    Narti menyandarkan pinggulnya yang padat ke tepi etalase kaca. Kaos marun ketat yang membungkus tubuh atasnya tampak begitu sesak, memperlihatkan lengkungan dada yang penuh dan menonjol tegak. Bibirnya yang basah oleh lipstik merah merekah melengkung tipis, menatap Badru yang sedari tadi gelisah menundukkan kepala."Cari apa, Mas Badru?" suara Narti terdengar serak, sengaja mengulur kata."Anu... itu, Nar. Ada pompa... buat susu?" Badru menyahut patah-patah, jemarinya sibuk meremas ujung kausnya yang mulai basah oleh keringat dingin.Narti terkekeh pelan, sepasang gundukannya bergoyang halus saat ia berbalik. Wanita itu berjinjit, mengulurkan tangan ke rak atas hingga kaus ketatnya terangkat dan mengekspos sejumput kulit perutnya yang putih mulus. Ia menurunkan sebuah kotak karton lalu menggesernya ke depan dada Badru.Pandangan Badru langsung terpaku pada gambar di kemasan itu. Di sana terpampang foto seorang wanita bule dengan belahan dada terbuka lebar, sedang menempelkan corong k

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 2 Godaan baru

    "Ada apa, Teh?" Tanya Badru yang cepat-cepat menunduk. Melihat pemandangan di depan matanya, ia menelan ludah berkali-kali, seolah tenggorokannya terasa kering Ia bisa melihat pepaya besar, halus nan padat itu menyembul dari balik penyangga merahnya, yang tidak sanggup menampung seluruh daging kenyal itu. "Ishh ... Jangan deket-deket! Coba mundur dikit." Sentak Laras sambil menatap jijik ke arah Badru yang tampak gemetaran. "Iya teh, maaf." Badru dengan refleks melangkah mundur. Kini, matanya hanya bisa melihat betis Laras yang tampak halus dan putih bersih. "Beliin pompa ASI di minimarket depan bengkel kang Jajat itu ya. Kang Yanto lagi gilir sama istri tuanya," ucap Laras dengan nada ketus. Jantung Badru hampir copot, ketika melihat Laras memasukkan tangan halusnya ke sela dadanya yang sesak, mengambil beberapa lembar uang yang ia simpan di dalam bra-nya. Pikiran-pikiran liar seketika muncul di otak Badru. "Mentang-mentang aku nggak bisa kasih 'jatah', dia langsung aja ba

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 1 Badru si 'banteng bau'

    "Kita udahan aja ya, Kang. Lilis udah nggak bisa kalau harus lanjutin hubungan ini." Badru terdiam, masih berusaha mencerna ucapan Lilis, gadis pujaan hati yang selalu ia bayangkan akan menjadi istrinya. "Kenapa emangnya, Lis?" tanya Badru. Suaranya terdengar serak dan berat, berusaha keras meredam gejolak di dadanya. Jantungnya berdetak kacau, seolah siap meledak kapan saja. "Aku malu, Kang! Malu banget punya pacar yang kerjanya cuma angon sapi!" teriak Lilis, wajahnya memerah penuh penolakan. Deg! Dada Badru seakan dihantam palu godam. Pria itu menunduk perlahan. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih, menahan sesuatu yang lebih menyakitkan dari sekadar luka fisik. 'Jadi, selama ini dia malu bersamaku?' batin Badru, harga dirinya seakan baru saja diinjak-injak ke tanah. Rahang pria bertubuh besar itu mengeras. Tatapannya perlahan berubah menjadi tajam sekaligus kosong. Ia menelan kepahitan itu dalam-dalam, menolak membiarkan setetes pun a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status