Mag-log inNarti menyandarkan pinggulnya yang padat ke tepi etalase kaca. Kaos marun ketat yang membungkus tubuh atasnya tampak begitu sesak, memperlihatkan lengkungan dada yang penuh dan menonjol tegak.
Bibirnya yang basah oleh lipstik merah merekah melengkung tipis, menatap Badru yang sedari tadi gelisah menundukkan kepala. "Cari apa, Mas Badru?" suara Narti terdengar serak, sengaja mengulur kata. "Anu... itu, Nar. Ada pompa... buat susu?" Badru menyahut patah-patah, jemarinya sibuk meremas ujung kausnya yang mulai basah oleh keringat dingin. Narti terkekeh pelan, sepasang gundukannya bergoyang halus saat ia berbalik. Wanita itu berjinjit, mengulurkan tangan ke rak atas hingga kaus ketatnya terangkat dan mengekspos sejumput kulit perutnya yang putih mulus. Ia menurunkan sebuah kotak karton lalu menggesernya ke depan dada Badru. Pandangan Badru langsung terpaku pada gambar di kemasan itu. Di sana terpampang foto seorang wanita bule dengan belahan dada terbuka lebar, sedang menempelkan corong kaca ke putingnya yang ranum. Jakun Badru naik turun, wajahnya seketika terasa terbakar. "Maksudnya pompa ASI? Ini Mas, ada yang manual, ada yang elektrik. Mau yang mana?" Narti mencondongkan tubuhnya di atas etalase. Kerah bajunya yang agak longgar melorot ke bawah, menyisakan pemandangan belahan dada yang putih bersih dan dalam tepat di depan mata Badru. "Yang... yang paling bagus saja, yang harganya pas sama uang ini," jawab Badru buru-buru memalingkan muka. Ia menyodorkan selembar uang merah seratus ribuan milik Laras. Narti menerima lembaran itu. Ujung jari lentiknya yang berhias kuteks merah sempat bergesekan dengan kulit tangan Badru, mengirimkan sengatan halus. Namun, dahi Narti tiba-tiba berkerut rapat. "Kok uangnya lembap banget, Mas? Habis kena air?" Narti menggoyang-goyangkan uang itu, lalu mengelapkan jemarinya yang ikut basah ke paha celana jeans ketatnya yang membungkus panggul sintalnya. Badru rasanya ingin amblas ke dalam tanah. "Tadi... jatuh ke rumput basah waktu aku lagi angon sapi, Nar!" Begitu Narti menyerahkan kantong plastik hitam berisi pompa beserta seluruh uang kembaliannya, Badru langsung menyambarnya. Ia memasukkan uang kembalian itu ke kantong kanan celananya dengan hati-hati. Itu uang Laras, sepeser pun tidak boleh berkurang. Badru lalu melangkah seribu keluar dari toko, seolah-olah baru saja mengutil barang. Langkah kai badannya baru melambat saat ia melintasi sebuah lapak loakan di bawah pohon waru. 'Huft... Kok aku malu ya, beli barang beginian,' batin Badru seraya mereka kantong plastik belanjaannya. "Dibeli... Dibeli ...! Parfum murah tapi wanginya gak murahan! Cewek cantik, cewek bahenol, langsung nemplok. Parfum ajaib penakluk hati! Sekali semprot, wangi surga langsung nempel!" seru si penjual parfum, suaranya melengking di antara riuh pasar. Tiba-tiba saja Badru menoleh ke sebuah toko loakan di samping supermarket. Penjual itu mengibas-ngibaskan botol kaca berbentuk aneh itu di udara. "Murah meriah, Bang! Dijamin, bau badan hilang seketika!" Deg. Mendengar teriakan itu, Badru tertegun. Kata-kata penjual parfum itu seakan memutar kembali memori menyakitkan dalam benaknya. Ingatan tentang Lilis, gadis pujaan hatinya, yang meninggalkannya begitu saja karena alasan yang sama. Di sana ada cermin pecah di tumpukan barang loak memantulkan seraut wajahnya yang dekil. Gadis cantik yang baru memutuskannya itu seolah berdiri di depannya, mengibas-ngibaskan jemari lentiknya ke dekat hidung yang mancung dengan guratan jijik yang amat nyata. 'Pantesan Lilis minta putus, ternyata aku emang sedekil itu. Tapi apa Lilis boleh menghinaku sampai segitunya?' Harga diri Badru sebagai lelaki seperti diinjak-injak sampai lumat. Ia mengangkat kerah bajunya sendiri lalu mengendus kasar. Bau apek keringat bercampur aroma tanah kering langsung menyengat hidungnya. 'Bajingan,' batinnya memaki diri sendiri. Matanya kemudian tertuju pada keranjang berisi botol-botol kaca tua di pojok lapak. Badru berlutut, jemarinya mengais hingga menemukan sebuah botol kaca melengkung aneh berisi cairan warna madu pekat. Mereknya sudah terkelupas habis. Ia memutar tutupnya yang longgar dan menghirup ujung botol. Wushh... Seketika aroma bunga malam yang sangat manis, pekat, dan agak memabukkan menusuk rongga hidungnya. Bau yang aneh, seolah memiliki daya pikat yang berat dan panas. "Ukhh... Baunya aneh, tapi kayaknya lumayan buat ngilangin bau badanku," gumam Badru berniat membeli parfum aneh di tangannya. Srrrt... Srrrt. Badru menyemprotkan parfum aneh itu ke tubuhnya, berharap orang-orang tidak menutup hidung saat dirinya lewat nanti. "Ah, segini cukup." Badru beralih merogoh kantong celana kirinya, memisahkan diri dari uang milik Laras yang disimpan aman di kantong kanan. Jemarinya menemukan selembar uang sepuluh ribu rupiah yang sudah lecek dan beberapa koin logam sisa hasil upah serabutan kemarin. "Bah, ini berapa?" Tanya Badru pada pria tua yang menjaga toko tersebut. "Lima belas ribu aja." "Bisa dikurangin gak bah, jadi dua belas ribu. Saya cuma ada uang segini," ucap Badru memamerkan uang receh di tangannya, sambil tersenyum kikuk menahan malu. "Ya udah, sini. Itung-itung sedekah hari terakhir buka toko." Setelah menghitungnya di telapak tangan, ia menyodorkannya pada si penjual loak yang langsung mengangguk setuju. Tanpa menunggu lama, Badru menekan pelatuk botol itu berkali-kali. Cairan keemasan itu disemprotkannya ke urat leher, dada di balik kaus oblongnya, hingga ke balik ketiak. Aroma manis yang berat itu langsung menguar kuat membungkus tubuhnya, menyamarkan bau apek sapi sepenuhnya. "Kayaknya aku udah wangi nih. Waktunya pulang, sapi-sapi juga belum masuk kandang," bisik Badru pelan. Dengan tubuh yang kini memancarkan wangi pekat yang entah mengapa membuat dadanya sendiri terasa berdesir, Badru melanjutkan perjalanan menuju rumah Laras. Sesampainya di halaman rumah Laras yang sepi, Badru mendapati pintu kayu jati itu tidak tertutup rapat. Ada celah selebar telapak tangan yang membiarkan udara dalam rumah berembus keluar. Wushh... Srrrr Badru baru saja hendak mengetuk, namun gerakannya tertahan di udara. Dari celah pintu, aroma bedak bayi bercampur wangi khas tubuh wanita menyusup keluar, berbaur dengan parfum aneh yang melekat di leher Badru. Matanya otomatis mengintip ke dalam. Deg. Glek. Badru menelan ludahnya kasar, saat melihat pemandangan di dalam sana. Di atas tikar pandan yang tergelar di ruang tengah yang agak temaram, Laras sedang duduk bersandar pada kaki sofa. Rambut hitamnya yang panjang tampak acak-acak, sebagian menempel di leher dan keningnya yang berkeringat deras. Daster batik merah peniti yang dikenakannya tampak meregang kencang, terutama di bagian dada. Kain tipis itu sudah basah melingkar di seputar lingkaran dadanya, mencetak dengan sangat jelas bentuk dua gundukan kembarnya yang membengkak luar biasa besar, penuh sesak oleh air susu yang tertahan. Kedua tangan Laras yang putih tampak meremas-remas lembut pinggiran dadanya sendiri, mencoba mengurangi rasa sakit yang mendera. "Aduh... Gusti, kencang banget... Badru mana sih, lama banget ..." rintih Laras parau, matanya terpejam erat dengan bibir bawah yang digigit menahan nyeri. Setiap kali ia mendesah, dadanya yang montok dan berat itu berguncang pelan di balik daster basah. Napas Badru mendadak macet di tenggorokan. Pemandangan ranum di dalam sana membuat seluruh darahnya berdesir hebat. 'Sialan. Badanku jadi panas lagi.' Entah karena pengaruh hawa panas siang itu atau reaksi dari parfum aneh di tubuhnya, Badru merasa ada gelombang hangat yang mengalir deras menuju selangkangannya. Jono di balik celana kainnya perlahan menegak, mendesak ketat dan terasa sangat sesak. Glek. Badru menelan ludah yang terasa sekering pasir. Tangannya yang memegang gagang pintu mulai gemetar hebat, antara rasa bersalah dan hasrat lelaki yang mendadak meledak di dadanya. "Jono... tolonglah, jangan bikin malu kali ini aja!" bisik Badru penuh tekanan dalam hati sebelum memberanikan diri mendorong pintu lebih lebar.Glek!Jakun Badru naik turun kaku saat ujung hidung mancung Binar menyentuh kulit lehernya yang hangat. Napas wanita itu tersengal halus, mengembuskan uap panas yang langsung menggelitik bulu kuduk Badru.Srekk...Jemari lentik Binar tak sekadar bertaut di sela jemari kasar Badru, tapi perlahan merambat naik, meremas otot bisep di lengan pria tegap itu. Wangi pelet Kencana Wilis yang menguar makin pekat seakan membakar sisa-sisa kewarasan di kepala Binar."Mas Badru..." bisik Binar lirih, suaranya terdengar begitu rapuh bercampur gelora yang tertahan. "Jangan suruh saya menjauh... Saya gak kuat kalau harus nahan dingin sendirian di kamar belakang..."Badru memejamkan mata sesaat. Otot-otot rahangnya mengeras kaku, menahan darah mudanya yang mendidih deras ke seluruh tubuh."Teh Binar, sadar," tegur Badru dengan suara ditekan rendah, mencoba menarik tangannya perlahan. "Ini bukan rasa kedinginan biasa. Pikiran Teteh lagi kacau kena pengaruh hawa malam.""Bukan, Mas..." bantah Binar cep
Srek...Pintu kamar belakang berderit pelan. Binar merangkak keluar dari bawah kolong ranjang kayu. Seluruh badannya masih gemetar hebat, wajah cantiknya pucat pasi tanpa rona sedikit pun.Melihat Badru berdiri tegap di ambang pintu tengah, pertahanan Binar seketika runtuh. Langkah kakinya yang goyah bergegas mendekat, lalu tanpa aba-aba, kedua tangannya melingkar erat memeluk pinggang liat Badru dari depan.Gruk!Wajah Binar terbenam di dada bidang Badru yang hangat. Isak tangisnya pecah tertahan, membasahi kulit telanjang pria itu dengan air mata yang hangat."Mas Badru... hiks... saya takut banget..." bisik Binar tersengal-sengal, cengkeraman jemarinya meremas kain sarung di punggung Badru kian kencang. "Kalau dia bawa saya balik... hidup saya pasti abis disiksa lagi..."Glek!Jakun Badru naik turun kaku. Kehangatan tubuh Binar yang hanya terbalut kaos tipis menempel lekat di badannya, membuat detak jantung Badru ikut terpacu. Namun, melihat kepanikan murni di mata wanita itu, Badr
Brak! Brak! Brak!Gedoran di pintu kayu rumah panggung tua milik Badru berdentum keras membelah sunyi malam, merontokkan debu-debu halus dari kusen kayu. Hawa merah yang semula Badru kira jelmaan Bantara buyar seketika, berganti dengan suara bentakan kasar seorang laki-laki dari luar teras."Woi! Buka pintunya! Jangan pura-pura tidur lu di dalam!"Deg!Wajah Binar seketika pias seperti mayat. Begitu mendengar lengkingan suara berat dan serak itu, kedua matanya membelalak dipenuhi teror yang luar biasa. Tubuhnya gemetar hebat sampai bibirnya bergetar kencang, jemarinya refleks membekap mulut sendiri agar tak menjerit."I-Itu suara Mas Joko... suami saya..." bisik Binar tercekat, air matanya luruh membasahi pipi. Jemarinya mencengkeram lengan Badru dengan kuku-kuku yang menancap panik. "Dia beneran nyari saya sampai ke kampung ini, Mas..."Badru menatap sorot mata Binar yang kalut setengah mati. Tanpa banyak bicara, Badru menepuk punggung tangan wanita itu seraya memberi isyarat ke arah
Malam makin larut. Hawa dingin kebun pisang menyusup lewat celah dinding bambu.Di lantai beralas sarung, Badru tidur dengan kening berkerut dalam. Napasnya memberat saat dadanya mendadak terasa tertindih beban tak kasat mata.Whuushh...Udara di sekitarnya mendadak panas. Bau belerang dan anyir darah menyengat indra penciumannya.Di alam bawah sadarnya, kabut merah berputar pekat. Sosok Bantara muncul dengan mata menyala dan seringai bertaring."Badru..." dengus suara berat itu tepat di telinganya. Cengkeraman kuku hitamnya terasa membakar bahu Badru. "Wanita-wanita itu sudah basah oleh aromamu... Semakin liar mereka, semakin dekat purnama tiba. Siapkan ragamu untuk melayaniku!"'Pergi, iblis laknat!' tolak Badru menggeram kuat dalam tidurnya."Hahaha! Kau tak bisa lari, Badru!" tawa Bantara menggelegar buas.Bruk!"Hah... hah... hah!"Badru tersentak bangun. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi kening dan kaos kusamnya. Tangannya refleks meraba saku sarung, memastikan botol M
Glek!Jakun Badru naik turun kaku. Punggungnya yang bersandar di dingklik kayu mendadak menegak tegang. Peringatan Aki Warsa soal hawa panas dan candu minyak gaib itu beradu dengan bayangan sosok gaib Bantara yang terus meneror alam mimpinya, menuntut bayaran pelayanan tiap malam bulan purnama.'Sialan... Baru aja dibilangin Aki Warsa, ini wangi malah nyengat lagi pas kena angin malam,' batin Badru menggeram cemas, jemarinya mengepal di atas lutut. 'Kalau Binar makin terjerat, hawa nafsu di gubuk ini bakal ngundang si iblis Bantara datang lebih cepat sebelum purnama.'Binar yang bersimpuh di lantai pandan tampak makin gelisah. Dadanya yang padat tanpa balutan bra naik turun kencang di balik kaos kusam Badru. Kedua matanya yang sayu mulai berair, menatap leher tegap Badru seolah melihat sesuatu yang paling manis di dunia."Mas..." bisik Binar makin parau, tangannya yang lembut bergerak ragu ke atas, lalu mendarat di atas lutut kekar Badru. "Mas Badru beneran gak pakai minyak apa-apa? W
Tak butuh waktu lama, atap gubuk bambunya yang kusam mulai tampak di balik rimbunnya rumpun pisang ambon. Di dalam gubuk, pendar cahaya lampu tempel minyak tanah terlihat samar-samar menerobos celah anyaman dinding bambu.Suara sayup-sayup azan magrib mulai berkumandang dari musala kampung yang letaknya cukup jauh di seberang sungai.Allahu Akbar... Allahu Akbar...Badru memantau situasi sekitar gubuk sejenak. Gelap dan sepi. Hanya ada suara jangkrik malam yang mulai bersahutan di balik semak belukar.Badru melangkah mendekati pintu depan, lalu mengetuknya pelan tiga kali sesuai sandi rahasia mereka.Tok! Tok! Tok!"Teh Binar, ini saya, Badru," bisik Badru rendah di depan celah pintu.Srek...Terdengar langkah kaki bergegas dari dalam gubuk. Suara selot bambu ditarik perlahan, dan daun pintu langsung terbuka menganga sedikit.Wajah cantik Binar menyembul dari balik pintu. Begitu melihat sosok jangkung Badru berdiri di hadapannya, senyum manis dan raut lega seketika merekah di wajahnya
"Kita udahan aja ya, Kang. Lilis udah nggak bisa kalau harus lanjutin hubungan ini." Badru terdiam, masih berusaha mencerna ucapan Lilis, gadis pujaan hati yang selalu ia bayangkan akan menjadi istrinya. "Kenapa emangnya, Lis?" tanya Badru. Suaranya terdengar serak dan berat, berusaha keras mered
Badru bergegas duduk di tepi ranjang kapuk. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha mengusir rasa pusing yang masih tersisa. Namun, begitu matanya terbuka lebar, rasa pusing itu langsung hilang dalam sekejap.Deg.Jantung Badru hampir copot saat melihat pemandangan di depannya.Lara
Karena pintu tidak tertutup, jadi Badru mengira ia bisa masuk tanpa mengetuk pintu. "Teh Laras... ini pompa ASI-nya sudah saya beli," kata Badru. Suaranya pecah di ujung kalimat karena gugup.Laras kaget, kepalanya menoleh cepat. Gerakan mendadak itu membuat daster batiknya melorot, memperlihatkan
"Ada apa, Teh?" Tanya Badru yang cepat-cepat menunduk. Melihat pemandangan di depan matanya, ia menelan ludah berkali-kali, seolah tenggorokannya terasa kering Ia bisa melihat pepaya besar, halus nan padat itu menyembul dari balik penyangga merahnya, yang tidak sanggup menampung seluruh daging ke







