FAZER LOGIN"Kamu memang berhasil menjadi istriku. Tapi, jangan harap kamu akan mendapatkan hatiku!" Kelopak mata Rosalyn bergetar mendengar ucapan suaminya. Perasaan wanita itu sudah hancur lebur, dengan suara bergetar dan penu tekad berkata, “Ceraikan aku, Dewa!” Setelah empat tahun menikah, akhirnya Rosalyn memilih menyerah. Apalagi, perempuan itu mendapati fakta bahwa cinta suaminya tak akan bisa diraih. Ia Lelah berusaha sendirian menjalani kehidupan pernikahan bagai di neraka. Rosalyn memilih pergi dan meninggalkan surat cerai. Di saat bersamaan Dewa tidak terima ditinggalkan begitu saja. Perlahan pria itu mulai menyadari arti penting seorang Rosalyn serta perasaannya terhadap sang istri. Dewa bersumpah tidak akan melepaskan Rosalyn.
Ver maisAku Lelah
"Hari ini kamu gajiankan, Mas?" tanyaku kepada Mas Bima. Dia baru saja pulang kerja. Baru saja melepas kemejanya.
"Iya," jawabnya dengan napas berat.
"Emm ...."
"Masak apa? Aku laper!" ucapnya, memotong ucapanku.
"Masak tempe aku sambal kering," jawabku.
"Tempe terus ... nggak bisa masak yang lain apa?" sungutnya.
"Ya, bisanya aja, sih, tapi kan uangnya ...."
"Halaah ... kamu itu di kasih berapapun tetap saja kurang!" potongnya lagi. Kuteguk ludah ini sejenak. Terasa perih di dalam sini.
Mas Bima langsung menuju ke dapur. Aku lihat segera mengambil piring dan menyentong nasi. Tak ada basa basinya untuk menawariku makan. Padahal aku ingin sekali, ia menawariku makan. Biar tak merasa di abaikan.
Aku juga ikut mengambil piring. Karena untuk sore hari, aku sengaja menunggunya pulang untuk makan bersama. Berharap rumah tangga ini terasa hangat.
Aku lihat Mas Bima menumpahkan semua kering tempe itu di piringnya.
"Loo, Mas aku belum makan, kok aku nggak di bagi lauknya? Lauknya cuma itu!" ucapku terkejut dengan tingkahnya.
Brraaagh ....
Tangannya menggebrak meja. Semakin membuatku terkejut.
"Salah siapa masak sedikit? Sudah tahu aku ini pulang kerja! Aku ini lapar!" sungutnya, kemudian melanjutkan makannya lagi dengan sorot beringasnya.
Lagi, aku hanya bisa meneguk ludah. Dengan area mata memanas aku mengambil kecap manis untuk lauk makanku. Tak mau mempertajam masalah.
Sesekali dengan cepat kuseka air mata ini. Karena kalau tahu aku menangis, amarahnya semakin menjadi.
Aku lihat dia makan dengan lahap. Tanpa memperdulikan aku yang makan hanya berlaukan kecap manis.
Memang sedikit aku memasak kering tempe. Karena hanya satu papah tempe saja. Sebenarnya bisa saling berbagi. Karena memang sudah tak ada uang lagi, untuk masak yang lebih banyak.
"Mana kopinya? Masak setiap hari minta di ingatkan!" sungutnya. Segera aku letakan piring ini dan segera membuatkan kopi untuk Mas Bima.
Ya Allah, di mana hati lelaki itu? Tak ada ibakah dia melihat istrinya hanya makan berlauk kecap manis? Sedangkan kering tempe yang ia anggap masakan itu-itu saja, tapi ia habiskan seorang diri.
"Ini kopinya!" ucapku dengan nada serak.
"Hemmm," balasnya. Segera aku letakan kopi itu disebelahnya. Aku segera melanjutkan makanku lagi. Makan yang hanya berlauk kecap manis.
"Malah lanjut makan lagi! Ambilkan aku handuk dulu! Udah gerah ini!" sungutnya. Baru saja makanan ini masuk ke mulut, dia sudah memerintahku lagi.
Kutarik napas ini kuat-kuat dan menghembuskannya perlahan. Kembali aku letakan piringku lagi. Padahal cacing di dalam perut sudah berteriak meminta haknya.
"Ini handuknya!" ucapku.
"Hemmm," balasnya, kemudian menyeruput kopi buatanku tadi.
"Ini uang gajiku!" ucapnya, seraya menyodorkan uang merah beberapa lembar. Kemudian aku menghitungnya.
"Harus cukup sampai gajian bulan depan!" pesannya.
"Gajimu kan tiga juta, Mas? Ini cuma satu juta?" tanyaku.
"Kamu pikir ibu dan adik-adikku kamu suruh puasa? Lima ratus untuk kebutuhanku, sisanya aku kasihkan Ibu semua," jelasnya.
Kupejamkan sejenak mata ini. Kuremas uang satu juta rupiah itu. Bagaimana aku harus membaginya? Sedangkan token listrik saja hampir dua ratus ribu. Belum jajan Azkia, yang sekarang lagi ngaji sore.
Semenjak Bapak mertua meninggal dua bulan yang lalu, hasil kerja Mas Bima, kepotong sana sini. Bahkan menurutku lebih banyakan ke Ibunya.
"Kalau gitu, ijinkan aku kerja. Uang segini nggak cukup untuk sebulan!" keluhku.
"Mau bikin malu aku kamu? Nggak usah kerja! Kalau kamu pinter ngaturnya pasti cukup uang segitu!" balasnya.
"Tapi sama sekali nggak bisa nabung! Bagaimana nasib kita di masa tua, kalau tak ada tabungan dari sekarang? Bagaimana nasib pendidikan Azkia?" bantahku.
"Halaah ... protes mulu bisanya! Bersyukur bisa nggak sih? Masih banyak orang di luar sana yang kelaparan! Nggak megang duit sepeserpun! Bersyukur! Jangan ngeluh terus!" sungutnya, kemudian berlalu seraya menyambar handuknya.
Hilang nafsu makanku. Menetes lagi air mata ini dan segera aku menyekanya. Sesaknya di dalam sini luar biasa.
Ya Allah aku lelah! Berdosakah jika aku memilih mundur? Tak ada bayangan masa depan yang cerah jika aku bertahan dengan lelaki seperti itu.
Belum lagi, biaya sekolah Azkia. Aku tak mau Azkia tak menempuh pendidikan yang tinggi. Azkia harus lebih dariku. Harus!
Aku segera masuk ke dalam kamar. Meraih sepucuk surat dari Abah. Lelaki cinta pertamaku. Surat yang baru saja sampai tadi pagi.
Dalam surat ini berisi, Abah memintaku segera pulang, karena warisan akan segera di bagi dengan kakak dan adikku. Aku tak mau, Mas Bima tahu hal ini. Karena jika ia tahu, bisa jadi akan dia kuasai dan aku hanya gigit jari.
Bismillah ... aku harus segera pulang, hanya bersama Azkia, bagaimanapun caranya.
Ya Allah ... aku lelah!
************
“Bagaimana kondisi Lily, Kak?” tanya Rosalyn sesampainya di rumah sakit.“Air ketubannya pecah. Dia kesakitan.” Kevin tampak gelisah, pria itu masih mengenakan piama dan menutupi tubuh dengan selimut.Rosalyn menuntun Kevin supaya duduk di bangku logam depan ruang bersalin. “Kita berdoa saja semoga Lily dan bayinya selamat.”Ketiga orang itu menanti dengan gelisah. Setelah hampir setengah jam berjalan, seorang dokter menghampiri Kevin dan menjelaskan, “Bayi Nyonya Lily sebentar lagi lahir, jika suaminya ingin melihat proses persalinan, kami persilakan.”Kevin menggeleng. Justru ia mendorong Rosalyn supaya menemani Lily di dalam sana. Sebagai wanita yang pernah melahirkan, ia mencebik melihat dua pria duduk gelisah di kursi. Ia pun mendampingi Lily di ruang bersalin.Rosalyn segera menggenggam tangan iparnya. Lily sedang kesakitan setelah pembukaan jalan lahir melebar sempurna.“Semangat Lily, kamu pasti bisa,” bisik Rosalyn diangguki iparnya.Dengan bimbingan dokter spesialis kandungan
“Kenapa, Bro?” sapa Fabian sambil menyodorkan sekaleng minuman. “Orang bilang ini bagus dan tahan lama,” kata pria itu.Dewa memelotot dan menyambar kaleng, lalu membuangnya ke tempat sampah.“Tidak butuh!” sentak Dewa dengan tatapan menghunus tajam.Fabian menepuk bahu temannya dan berujar, “Jangan marah-marah, kamu bisa darah tinggi!”Dewa mendengkus kasar, baginya kalimat Fabian bukan menenangkan melainkan sebuah ejekan. Pria itu menepis kasar tangan temannya, lalu berjalan mencari Rosalyn ke dalam mansion.Pagi ini, keluarga kecil itu sengaja mengunjungi Mansion Arnold. Tentu saja, karena Tuan Jack dan Feli menitipkan beberapa hadiah untuk Lily dan calon bayinya.Akan tetapi, kening Dewa mengerut dalam ketika melihat Rosalyn berjalan sendirian tanpa keempat anak mereka.“Di mana Brahma, Arimbi, Devendra dan Daneswara?” tanya Dewa dengan tatapan menyelidik.Mendengar pertanyaan itu tentunya Rosalyn mengulum senyum. Ah, ia memang sengaja menyiapkan kejutan istimewa ini untuk suami p
“Halo, Sayang … Papa datang. Janeta sudah mandi, ya? Harum banget.” Kevin menggendong putri kecilnya yang menyambut di balik pintu. Pria itu menciumi puncak kepala Janeta dan mengayun tubuhnya, membuat putri kecil tertawa riang. Namun, di ujung lorong, seorang wanita sedang cemberut menatap ke arah Kevin.“Terima ka—” Ucapan Kevin menggantung karena wanita itu melengos saja ke dapur tanpa mengelurkan sepatah kata.Kevin menurunkan tubuh Janeta dan membiarkannya bermain, lalu ia menyusul pujaan hati yang entah kenapa memasang wajah ketus.“Kamu kenapa?” tanya Kevin.“Menurutmu, kenapa?” ketusnya.“Aku tidak tahu, Lily. Ayo, bilang,” ucap Kevin lagi.Lily menatap tajam ke arah Kevin dan berujar, “Aku bosan seharian di rumah. Aku ini biasa kerja, bukan diam di rumah. Apalagi … ka-mu lebih memperhatikan Janeta dibanding aku.” Pascadinyatakan hamil, Lily diberhentikan oleh Dewa. Wanita itu pun ikut tinggal di Milan. Dia tidak lagi sibuk mengurusi peternakan, karena Dewa berhasil mencari
“Astaga apa-apaan mereka ini?!” geram Fabian. Ia menatap layar ponsel yang tidak berhenti berpendar sedari tadi. Itu bukan masalah pekerjaan kantor, tetapi … masalah rumah tangga, terutama ranjang. Demi kelangsungan masa depannya. Meskipun sudah mengetahui isinya, tetap saja Kevin mengintip melalui pop up. Dia terbelalak ketika satu pesan kembali masuk dari adik ipar. [Tutorial posisi hubungan intim untuk memiliki keturunan secepatnya.] “Dia pikir aku pria polos? Aku ini lebih berpengalaman darinya!” Kevin melempar telepon genggam ke atas sofa, lantas berdiri sambil memandangi foto pernikahan di atas meja. Lagi, Kevin tetap membaca pesan adik iparnya. Sebagai seorang pria berpengalaman, tentu saja posisi itu tidak asing lagi. Ia pun mereguk saliva, pikirannya berfantasi liar membayangkan Lily. Gairah pria itu tersulut. Hanya saja, ia bingung menyalurkannya, sebab Lily tidak ada di sini. Pasangan itu menjalani hubungan jarak jauh. Terpaksa Kevin bertahan sampai Dewa menemukan p
“Dia sosok yang hebat. Aku mengagumi dia sejak lama,” jawab Kevin membuat Fabian memutar bola mata dengan malas.“Cukup katakan saja namanya!” kesal Fabian, kemudian berjalan memasuki pondok.Seorang pun tidak ada yang menyadari bahwa saat ini, detik ini, dua anak manusia sedang beradu pandang dalam j
Tanpa berpikir panjang, Kevin mengikuti jejak merah yang agak mengering. Bahkan saat ini kedua kakinya sudah terendam air sebatas tulang kering. Ia terus melangkah, walaupun noda darah tidak lagi terlihat di tengah sungai. Entah mengapa sekelebat bayangan muncul, dipenuhi oleh senyuman
Tangan Dewa menggantung di udara. Selain tersayat kata-kata tajam sang istri yang menunjukkan seberapa mandirinya wanita itu, ia juga tertusuk dinginnya angin dari celah jendela terbuka.Tubuh kekar yang terbalut handuk putih sebatas pinggang sampai di bawah lutut itu bergeming. Dewa tahu p
“Sepertinya, kehadiranku tidak diinginkan," sindir pria berambut klimis. Orang itu berkata lagi, “Lagi pula, sekarang kamu sudah memiliki seseorang. Dan aku hanya menjalani perintah atasan saja.”Tangan Lily yang sedang menuangkan susu terhenti. Ia menoleh pada sumber suara dan menatap tidak suka pad












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Classificações
avaliaçõesMais