LOGIN"Kamu memang berhasil menjadi istriku. Tapi, jangan harap kamu akan mendapatkan hatiku!" Kelopak mata Rosalyn bergetar mendengar ucapan suaminya. Perasaan wanita itu sudah hancur lebur, dengan suara bergetar dan penu tekad berkata, “Ceraikan aku, Dewa!” Setelah empat tahun menikah, akhirnya Rosalyn memilih menyerah. Apalagi, perempuan itu mendapati fakta bahwa cinta suaminya tak akan bisa diraih. Ia Lelah berusaha sendirian menjalani kehidupan pernikahan bagai di neraka. Rosalyn memilih pergi dan meninggalkan surat cerai. Di saat bersamaan Dewa tidak terima ditinggalkan begitu saja. Perlahan pria itu mulai menyadari arti penting seorang Rosalyn serta perasaannya terhadap sang istri. Dewa bersumpah tidak akan melepaskan Rosalyn.
View More“Apa kamu buta?!”
Renata Amelia terkejut mendengar bentakan wanita di sampingnya. Padahal jelas-jelas wanita itu yang menabrak bahunya ketika ia berjalan menuju meja kerjanya."Maaf, saya sungguh-sungguh tidak hati-hati," Renata mencoba mengungkapkan penyesalannya dengan nada yang rendah.Renata baru saja memulai petualangan baru di Axidira Company, tapi sudah membuat kesan tidak mengenakan untuk salah satu orang di gedung ini. Ia pun hanya diam ketika wanita itu menggelengkan kepala dengan sikap angkuh yang terpancar dari setiap gerakannya."Lain kali, gunakan matamu dengan bijak saat masih diberi kesempatan untuk melihat!" gertaknya dengan nada yang penuh dengan keangkuhan dan kepuasan diri.Renata merasa tersinggung dengan kata-kata wanita itu, tetapi dia mencoba tetap tenang. Dia tahu bahwa dia harus menjaga sikap profesional di tempat kerja. Meskipun ia tidak tahu apakah wanita ini akan menjadi rekan kerjanya atau tidak.Wanita itu cukup glamor untuk ukuran karyawan. Lihat saja dress merah ketat yang dipakainya itu, dan make up tebalnya.
"Dia tidak bersalah, Velicia. Jangan membuat masalah yang tidak perlu," ucap suara bass dengan tegas, memecah keheningan yang mulai terasa tegang.Renata bergeming sejenak, menatap ke arah suara yang baru saja muncul. Seorang pria, berdiri di sana dengan tatapan tajam yang menembus pandangan mereka.Keberadaan pria itu memberikan kehadiran yang kuat dan mengubah dinamika situasi dengan sekejap."Maaf atas sikapnya, silahkan lanjutkan pekerjaanmu," kata pria itu dengan suara lembut.Renata tersenyum dengan penuh pengertian, "Tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti."Wanita itu menghela nafas dan menatap Renata dengan pandangan sinis sebelum akhirnya berjalan ke sebuah ruangan..Renata dan pria itu saling bertatapan setelah wanita itu pergi. Ada sesuatu yang lain, yang dirasakan Renata dari tatapan pria itu. Ia tiba-tiba merasa gerah, tapi dalam arti yang aneh.Karena canggung, Renata melepaskan pandangan dan segera menuju meja kerjanya.Hari pertamanya bekerja di Axidira Company, Renata tidak terlalu kesulitan. Ia merasa sangat bersyukur karena memiliki rekan kerja yang menyenangkan. Ada Arini, atasan nya yang sangat ramah, meskipun suka menyuruh tiba-tiba.Seperti saat ini. Ketika hampir menjelang makan siang, Arini menyerahkan sebuah berkas kepadanya. Ada setumpuk berkas yang tebal sehingga membuat Renata membulatkan mata.“Kamu antarkan beberapa berkas ini ke ruangan Pak Addison, ya. Aku punya rapat setelah ini, jadi aku tidak bisa melakukannya sendiri. Bisa, kan? Tolong ya!"Arini memelas, menunjukkan ekspresi yang memohon dengan penuh harap."I-iya, Rin," Renata terkekeh kecil melihat tingkah lucu teman barunya itu, merasa senang bisa membantu Arini.“Oh iya, dan pastikan kamu dapatkan tanda tangannya langsung. Ini penting banget,” tambah Arini, sebelum keluar dari ruangan itu buru-buru.Renata mengambil berkas itu dan berjalan menuju ruangan bosnya. Dia sempatkan berkaca terlebih dahulu memperbaiki penampilan agar terlihat rapih saat bertemu bosnya.Dengan sopan, dia mengetuk pintu kaca yang dilapisi stiker blur, menciptakan efek misterius yang membuatnya tidak dapat melihat ke dalam ruangan.Renata terdiam sejenak, saat mendengar suara desahan yang samar-samar terdengar dari balik pintu."Sebentar," jawab seseorang di dalam ruangan tersebut.Renata tau itu pasti suara sang bos."Biarkan saja, Sayang. Tidak penting juga," terdengar suara wanita yang membalas"Sabarlah, ini kantorku. Semua yang ada di sini pasti penting untukku," balas sang pria, sebelum meminta Renata masuk. "Masuk!"Renata mengetuk pintu kembali tiga kali dengan hati-hati, menunjukkan rasa hormatnya, sebelum akhirnya melangkah masuk dengan perasaan canggung yang sedikit menggelitik.Wangi ruangan itu khas dengan aroma bunga. Dia merasa terkejut melihat wanita yang tadi menabraknya duduk dengan anggun di atas meja bosnya, memegang segelas wine yang memancarkan aroma yang menggoda di tangannya.Renata semakin terkejut saat menyadari bahwa bos perusahaan ini adalah lelaki yang tadi melerai mereka. Dia tertegun sejenak, otaknya mencerna pemandangan di hadapannya dengan rasa kagum yang tak terelakkan.Dalam pikirannya, seorang bos seharusnya adalah seorang bapak-bapak dengan kumis yang tebal dan perut buncit, mengenakan jas yang terlihat kaku dan konservatif.Tapi ternyata bosnya itu adalah seorang pria tampan dengan rambut klimis yang teratur, hidung yang mancung yang menambahkan pesona pada wajahnya, dan mata yang memancarkan kecerdasan dan ketajaman.
Apalagi saat itu dia mengenakan kemeja putih dengan dua kancing atas yang dibiarkan terbuka, mungkin sengaja memamerkan dadanya yang bidang atau baru saja selesai bermesraan dengan pasangannya."Hei, matamu hampir copot!" kata wanita itu dengan senyuman yang terlihat meremehkan, mengirimkan getaran yang tidak menyenangkan ke dalam hati Renata."Maaf, Bu. Saya disuruh mengantarkan berkas dari Bu Arini," Renata menjawab dengan rasa gugup yang berusaha dia sembunyikan di balik senyuman sopan.'Astaga, kenapa aku bisa seperti ini,' pikirnya dalam hati, merasa sedikit cemas dengan situasi yang tidak biasa ini.Renata berharap dapat menunjukkan kemampuannya dengan baik kepada wanita ini, meskipun suasana yang tercipta begitu tegang."Taruh saja di situ," lanjut wanita itu dengan gerakan tangan yang elegan, menunjuk ke meja dengan penuh keanggunan.“Tapi, ini harus mendapat tanda tangan langsung dari Pak Addison,” ucap Renata sedikit gugup.Wanita itu memutar bola mata. “Nanti juga akan dikerjakan! Kamu ini menganggu kita tau!”“Tapi…”“Kamu keluar saja,” ucap Alvin, yang duduk di mejanya tanpa mengalihkan tatapan dari berkas.“Apa?” tanya Renata bingung dengan suara pelan.Sedangkan wanita yang duduk di meja itu tampak menunjukkan senyum kemenangan.“Tapi berkasnya…”“Bukan kamu,” potong Alvin, dan mengangkat pandangan kepada wanita berpakaian merah itu. “Tapi kamu, Velicia."“Bagaimana kondisi Lily, Kak?” tanya Rosalyn sesampainya di rumah sakit.“Air ketubannya pecah. Dia kesakitan.” Kevin tampak gelisah, pria itu masih mengenakan piama dan menutupi tubuh dengan selimut.Rosalyn menuntun Kevin supaya duduk di bangku logam depan ruang bersalin. “Kita berdoa saja semoga Lily dan bayinya selamat.”Ketiga orang itu menanti dengan gelisah. Setelah hampir setengah jam berjalan, seorang dokter menghampiri Kevin dan menjelaskan, “Bayi Nyonya Lily sebentar lagi lahir, jika suaminya ingin melihat proses persalinan, kami persilakan.”Kevin menggeleng. Justru ia mendorong Rosalyn supaya menemani Lily di dalam sana. Sebagai wanita yang pernah melahirkan, ia mencebik melihat dua pria duduk gelisah di kursi. Ia pun mendampingi Lily di ruang bersalin.Rosalyn segera menggenggam tangan iparnya. Lily sedang kesakitan setelah pembukaan jalan lahir melebar sempurna.“Semangat Lily, kamu pasti bisa,” bisik Rosalyn diangguki iparnya.Dengan bimbingan dokter spesialis kandungan
“Kenapa, Bro?” sapa Fabian sambil menyodorkan sekaleng minuman. “Orang bilang ini bagus dan tahan lama,” kata pria itu.Dewa memelotot dan menyambar kaleng, lalu membuangnya ke tempat sampah.“Tidak butuh!” sentak Dewa dengan tatapan menghunus tajam.Fabian menepuk bahu temannya dan berujar, “Jangan marah-marah, kamu bisa darah tinggi!”Dewa mendengkus kasar, baginya kalimat Fabian bukan menenangkan melainkan sebuah ejekan. Pria itu menepis kasar tangan temannya, lalu berjalan mencari Rosalyn ke dalam mansion.Pagi ini, keluarga kecil itu sengaja mengunjungi Mansion Arnold. Tentu saja, karena Tuan Jack dan Feli menitipkan beberapa hadiah untuk Lily dan calon bayinya.Akan tetapi, kening Dewa mengerut dalam ketika melihat Rosalyn berjalan sendirian tanpa keempat anak mereka.“Di mana Brahma, Arimbi, Devendra dan Daneswara?” tanya Dewa dengan tatapan menyelidik.Mendengar pertanyaan itu tentunya Rosalyn mengulum senyum. Ah, ia memang sengaja menyiapkan kejutan istimewa ini untuk suami p
“Halo, Sayang … Papa datang. Janeta sudah mandi, ya? Harum banget.” Kevin menggendong putri kecilnya yang menyambut di balik pintu. Pria itu menciumi puncak kepala Janeta dan mengayun tubuhnya, membuat putri kecil tertawa riang. Namun, di ujung lorong, seorang wanita sedang cemberut menatap ke arah Kevin.“Terima ka—” Ucapan Kevin menggantung karena wanita itu melengos saja ke dapur tanpa mengelurkan sepatah kata.Kevin menurunkan tubuh Janeta dan membiarkannya bermain, lalu ia menyusul pujaan hati yang entah kenapa memasang wajah ketus.“Kamu kenapa?” tanya Kevin.“Menurutmu, kenapa?” ketusnya.“Aku tidak tahu, Lily. Ayo, bilang,” ucap Kevin lagi.Lily menatap tajam ke arah Kevin dan berujar, “Aku bosan seharian di rumah. Aku ini biasa kerja, bukan diam di rumah. Apalagi … ka-mu lebih memperhatikan Janeta dibanding aku.” Pascadinyatakan hamil, Lily diberhentikan oleh Dewa. Wanita itu pun ikut tinggal di Milan. Dia tidak lagi sibuk mengurusi peternakan, karena Dewa berhasil mencari
“Astaga apa-apaan mereka ini?!” geram Fabian. Ia menatap layar ponsel yang tidak berhenti berpendar sedari tadi. Itu bukan masalah pekerjaan kantor, tetapi … masalah rumah tangga, terutama ranjang. Demi kelangsungan masa depannya. Meskipun sudah mengetahui isinya, tetap saja Kevin mengintip melalui pop up. Dia terbelalak ketika satu pesan kembali masuk dari adik ipar. [Tutorial posisi hubungan intim untuk memiliki keturunan secepatnya.] “Dia pikir aku pria polos? Aku ini lebih berpengalaman darinya!” Kevin melempar telepon genggam ke atas sofa, lantas berdiri sambil memandangi foto pernikahan di atas meja. Lagi, Kevin tetap membaca pesan adik iparnya. Sebagai seorang pria berpengalaman, tentu saja posisi itu tidak asing lagi. Ia pun mereguk saliva, pikirannya berfantasi liar membayangkan Lily. Gairah pria itu tersulut. Hanya saja, ia bingung menyalurkannya, sebab Lily tidak ada di sini. Pasangan itu menjalani hubungan jarak jauh. Terpaksa Kevin bertahan sampai Dewa menemukan p
Kevin menghela napas melihat tanggapan Lily. Haruskan ia menyerah dan tenggelam ke dasar lautan patah hati? Ya, mungkin … karena ini bukanlah kali pertama gadis itu menolaknya. Pria itu menarik tangannya. Namun ….“Cincinya kebesaran. Enggak sesuai ukuran jariku,” kata gadis itu mengguna
Beberapa hari berlalu, Lily tampak kesulitan berpamitan dengan Janeta. Gadis itu selalu menahan diri untuk pulang ke peternakan. Pada akhirnya ia menemani Janeta di vila atau rawat jalan ke rumah sakit. Seperti hari ini, Lily mengantar Janeta bertemu dokter.Akan tetapi, gadis itu tidak men
“Demam pasien mencapai 40 derajat. Dan kami sarankan diopname selama beberapa hari,” tutur Dokter usai memeriksa batita yang terbaring lemah di atas ranjang.“Lakukan yang terbaik, Dokter. Tolong sembuhkan keponakanku,” pinta Rosalyn sambil berurai air mata.Dokter mengangguk la
Kevin melangkah gontai menuju kamar Janeta. Pria itu ingin melihat kondisi putri tercinta. Namun, ia mengurungkan niatnya, sesudah melihat apa yang sedang dilakukan Lily. Gadis itu membelai lembut kepala Janeta dan menggenggam satu tangan mungil. Kevin tersenyum tipis melihat kele












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore