LOGINSebuah pernikahan yang disiapkan matang-matang oleh Dissa dan Daniel hampir kandas dengan pilihan Daniel menjadi dokter relawan di daerah peperangan Gaza. Hingga mengharuskan mereka menjalani Pejuang LDR. Namun, mempertahankan Pejuang LDR itu tidak semudah dibayangkan dan hadirnya suka duka yang selalu mereka lewati. Season 1 dan Season 2 berada disini! Season 1 menceritakan tentang perjuangan LDR Dissa dan Daniel yang terpisah oleh jarak. Season 2 menceritakan tentang kisah kehidupan Dissa bersama Daniel setelah menikah. Berbagai liku-liku yang menanjak yang hampir menyakiti Dissa yang diculik dalam cengkeraman Kenzo Albert. Akankah Dissa mempertahankan cintanya kepada Daniel? atau Apakah Dissa menyerah dengan cinta LDR dan memilih pria lain sebagai penggantinya?
View More“Gimana, Abra, enak nggak sup iganya?” suara Riani mengisi ruang makan.
Serayu melirik suaminya yang menjawab singkat, “Enak,” sambil tetap makan.
Senyum puas muncul di wajah sang mertua, senyum yang sudah sering Serayu lihat, tapi tak pernah terasa hangat.
Abra merangkul bahu Serayu dengan santai. Sentuhan itu membuatnya kaku, bukan karena tidak nyaman, tapi karena ia tahu mata Riani sudah memperhatikan.
Dan benar saja, tatapan tajam itu langsung menusuk, seolah menilai bahwa Serayu tak pantas berada di sana.
“Ini masakan Aileen,” ucap Riani tiba-tiba.
Nama itu menghantam Serayu lebih kuat daripada nada suara yang mengatakannya.
Abra tersedak spontan, dan saat Serayu hendak memberinya air, Riani menepis tangannya seolah ia hanya gangguan. Sang mertua yang kemudian menyodorkan gelas pada Abra, membuat batas antara mereka semakin jelas, bahwa Serayu tetap orang luar.
“Aileen mampir tadi. Sekarang dia pindah tugas ke sini,” lanjut Riani. “Tambah cantik, pintar, karirnya bagus… Harusnya dulu kamu sabar nunggu dia S2.”
Ucapan itu menusuk, bukan karena Serayu cemburu, tetapi karena ia sudah terlalu sering dibandingkan dengan perempuan yang bahkan belum pernah ia temui.
Abra menahan ibunya dengan satu kata, “Mama.”
Saat itu juga Serayu tahu makan siang itu sudah berakhir untuknya.
“Kenapa, Abra? Nyatanya, sampai detik ini Mama memang tidak pernah merestui pernikahan kalian,” ujar Riani tanpa ragu. Ia menatap Serayu dengan tajam, seperti bagaimana ia selalu menatap menantunya itu.
“Ma, sudahlah.” Abra mulai kesal, tapi masih menahan diri.
Sementara Serayu, ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tahu, ia hanyalah koas dari keluarga sederhana yang masuk rumah sakit itu lewat beasiswa.
Hidupnya berubah sejak kecelakaan kecil dengan mobil milik Abra, dokter bedah muda yang arogan dan pewaris rumah sakit. Berniat bertanggung jawab, Serayu menyadari jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperbaiki mobil itu cukup besar.
Hingga akhirnya, tawaran pernikahan kontrak muncul dari Abra sebagai jalan keluar. Serayu sudah menolaknya, tapi keadaan keluarganya yang serba kekurangan memaksanya menerima.
Tak ada yang tahu perjanjian itu, termasuk Riani, yang sejak awal menolaknya. Serayu terlalu “biasa” untuk keluarga besar itu.
Apa pun yang Serayu lakukan selalu tampak salah di mata Riani. Bahkan hal sekecil menaruh gelas pun bisa menjadi alasan untuk merendahkannya.
“Abra, sampai kapan kamu mau dibutakan oleh istri kecilmu itu? Dia ini hanya mengincar hartamu, memanfaatkan popularitasmu di dunia kedokteran!” seru Riani tak tahan lagi. Tatapannya kembali terarah pada Serayu. “Kamu ini dari keluarga miskin, modal beasiswa, harusnya kamu sadar diri.”
Serayu kembali menunduk, tak tahu harus merespon dengan kalimat apa. Ia tahu, pernikahan ini hanya di atas kertas, tapi apa yang ibu mertuanya katakan tentang latar belakang keluarganya benar-benar meluikai hatinya.
“Ibu Riani, saya memang dari keluarga miskin, tapi saya nggak pernah punya niatan buruk pada Mas Abra dan keluarga,” lirih Serayu berusaha membela diri.
Awalnya, ketika menerima perlakuan buruk dari sang ibu mertua, Serayu tak ingin ambil pusing. Ia hanya perlu bertahan hingga kontrak pernikahannya dengan Abra berakhir. Namun lama-kelamaan, ibu mertuanya semakin keterlaluan.
“Di dunia ini tidak ada maling yang mengaku, Serayu! Saya nggak tahu, apa yang sudah kamu perbuat sampai bisa mencuci otak anak saya dan berani melawan ibunya sendiri,” cibir Riani tanpa perasaan.
Serayu meremas ujung bajunya di bawah meja. Tatapannya terarah ke arah Riani dengan penuh rasa tidak terima.
Abra yang melihat ekspresi Serayu langsung mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan istrinya di bawah meja. Seolah memberi instruksi untuk tidak lagi membalas ucapan ibunya agar suasana tidak semakin keruh.
“Sejak awal semua sudah berjalan lancar. Abra hanya tinggal menunggu waktu untuk menikah dengan Aileen, tapi tiba-tiba kamu muncul dan mengacaukan semuanya. Seharusnya kamu nggak usah menampakkan diri di hidup anak saya,” lanjut Riani seolah masih belum puas menyudutkan sang menantu.
“Ma, dari awal Abra memang nggak ingin menikah dengan Alieen,” sahut Abra menyanggah.
“Iya karena perempuan ini lebih dulu mencuci otakmu, Abra!” seru Riani makin kesal.
Serayu makin merasa kesal. Ia tahu, tiap kali kejadian seperti ini datang, Abra memang berusaha membelanya. Entah apa motif sebenarnya, setidaknya Serayu sedikit merasa terbantu meskipun rasanya juga percuma karena ibu mertuanya itu sama sekali tak bisa dibantah.
Jika saja Abra bersikap abai, mungkin hidup Serayu akan semakin terasa terperosok. Sudah terjebak dalam pernikahan kontrak, masih juga ditindas di keluarga suaminya tanpa pembelaan sedikitpun.
“Sudahlah, Abra antar Mama pulang,” kata Abra pasrah. Ia berdiri dan bersiap untuk pergi dari ruang makan.
“Kamu benar-benar berubah semenjak menikah dengannya,” tuduh Riani dengan nada dingin.
Abra tidak menanggapi, hanya menghela napas lalu menoleh pada istrinya.
“Masuklah dulu, Saya akan antar Mama pulang,” titahnya berbisik, meminta Serayu masuk ke dalam kamar.
Serayu menurut, tapi belum genap langkahnya tiba-tiba suara Riani membelah keheningan.
“Ceraikan Serayu, Abra!”
Hari ini merupakan hari yang ditunggu Dissa selama ini, hari senin yang menjadi saksi bahwa Dissa pertama kali masuk kuliah sebagai Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Ilmu Komunikasi. Kebetulan, jarak kampus dengan mension Richard memerlukan waktu 20 menit saja. Jadwal perkenalan mahasiswa baru dimulai pukul 07.30 wib pagi. Daniel yang tidak ingin Dissa terlambat, ia berinisiatif mengantarkan Dissa ke kampus ternama di London.Mobil yang dikendarai oleh Daniel telah memasuki area pekarangan kampus, Dissa menatap takjud dengan bangunan mewah nan megah hingga tidak terasa laju mobil berhenti di depan pintu utama kampus.“Sayang, aku antarkan disini. Maafkan aku belum bisa ikut masuk ke dalam,” ucap Daniel sendu.“Tidak apa-apa sayang, aku bahagia kamu mau mengantarkanku di kampus ini. Oh iya, semangat ya kerjanya, jaga mata dan hati karena hanya aku yang berhak memilikimu.” Dissa memandang Daniel dengan tatapan dalam.“Iya istriku tercinta, aku hanya milikmu seorang, kamu
Dissa memejamkan kedua bola matanya sejenak, ia butuh pikiran yang jernih untuk menimalisir semua kenyataan pahit dirinya pernah menjadi korban atas kejahatan Jesika.“Pa, sudahlah permasalahan yang pernah terjadi. Anggap saja semua yang pernah terjadi disebut takdir. Jangan pernah mudah menghakimi orang atas dasar masa lalunya karena semua orang pernah berbuat kesalahan,” ucap Dissa terdengar bijak dan Dedi tidak melanjutkan lagi perkataannya. Dedi serahkan semua yang akan terjadi cukup Dissa dan Daniel yang mengatasinya karena mereka sudah dewasa.“Okelah, kalau begitu Papa tidak ikut campur lagi kecuali Jesika berani melakukan kesalahan lagi maka Papa tidak segan-segan akan memecatkan secara tidak hormat.” sahut Dedi yang tak bisa dibantah.Setelah acara makan malamnya, Dissa dan Daniel memutuskan untuk ke kamar. Dandi memilih ikut Nenek Dila dan Kakek Dedi untuk tidur bersama. Dandi sangat dekat dan manja karena ia selalu diasuh
Setelah melewati masa test pendaftaran dan penerimaan selama 2 minggu. Akhirnya, Dissa diterima beasiswa prestasi akademik dengan nilai tertinggi di kampus ternama London. Sungguh, Dissa benar-benar bahagia atas kecerdasannya dan kegigihannya untuk melanjutkan kuliah Pascasarjana menjadi prioritasnya saat ini.Dissa yang telah sampai di Inggris, bersama Daniel dan anak kesayangannya, Mereka ingin menuju ke mension keluarganya di kota London. Awalnya Dissa menghawatirkan pekerjaan Daniel yang memiliki banyak pasien. Hal itu, membuat Dissa terniang-niang di sepanjang waktu."Bukankah kamu sedang sibuk dengan jadwal operasi pasien?" Dissa bertanya pada Daniel tapi Daniel tampak berpikir keras."Kamu yakin ingin ikut denganku dan mengorbankan pekerjaanmu?" tanya Dissa lagi dan Daniel mengangguk mantap."Iya, aku sangat yakin karena aku sebagai kepala keluarga harus bisa menjaga istri dan anakku. Meskipun, aku rela pindah bekerja ke luar negeri karena ak
Pagi telah menjelang dan ufuk timur telah terbit untuk menyinari dunia. Di dalam ruangan yang luas dan mewah terlihat seorang wanita cantik tengah asyik membaca sebuah koran di tangannya."Beasiswa S2 di London? Wow, terasa menarik bagiku untuk mendapatkan gelar Pascasarjana." batin Dissa.Saat ini, Dissa berada di ruang keluarga dan ia menikmati masa liburan akhir tahun bersama anak dan suaminya di rumah saja."Aku berhak untuk melanjutkan kuliahku karena aku masih muda dan aku pemilik perusahaan Richard. Anakku berhak mendapatkan ibu yang cerdas dan berpendidikan tinggi untuk menjamin masa depannya." Dissa membalikkan lembar koran cetak untuk melihat daftar persyaratan untuk mengikuti beasiswa luar negeri.Daniel yang sedang asyik bermain bernama Dandi di dalam dekapannya. Mereka melihat Dissa dari kejauhan. Dissa terlihat sedang serius membaca koran itu."Pa, aku mau tuyuuun." pinta Dandi dengan suara cade
Dua tahun kemudian Dissa berusaha mengejar Dandi yang berlari kesana-kemari di dalam mension mewah milik dirinya bersama Daniel. "Dandi, jangan berlari terus nanti kamu jatuh," ucap Dissa berusaha berjalan cepat mengejar anak pertamanya.
Hari demi hari yang dijalani Dissa hanyalah duduk diam dan termenung. Di hati kecilnya, ia selalu membayangkan betapa bahagianya ia memiliki baby yang lucu yang terlahir dari rahimnya dan ia akan dipanggil mama dan papa oleh anaknya. Tapi apalah daya, harapannya telah lenyap melayang di udara.
Sudah hampir 2 bulan, Dissa masih dalam kondisi yang sama. Daniel menghela nafasnya sejenak, ia menatap Dissa yang duduk termenung di atas ranjang rumah sakit. Saat ini, Daniel berniat menyuapi Dissa dengan makanan bubur dan obat-obatan. Berbagai cara Daniel lakukan untuk membujuk Dissa agar mau
Pernikahan Jesika dengan Nick dilakukan di kediaman mempelai wanita di kota Sungailiat. Berbagai dekor pelaminan mewah mulai dari pelaminan mini bernuansa putih di dalam rumah sebagai akad nikah dan di luar rumah terdapat pelaminan megah dengan konsep outdoor wedding dan tenda tersusun rapi yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore