LOGINPenghinaan Dewi pada saat Reuni terhadap Ayunda Maulida, berujung dengan insiden memalukan. Dewi yang notabene seorang aktris yang baru muncul di dunia entertain, terus menerus membanggakan diri di hadapan semua guru dan teman-temannya. Dia begitu bangga karena sudah membintangi beberapa iklan dan juga bermain dalam sebuah layar lebar yang diangkat dari novel Peri Aksara yang fenomenal. Dewi yang membenci Ayu sejak SMA karena seorang Lingga Bardion---cowok populer di SMA yang lebih memilih Ayu dari pada dia, pada akhirnya menuai malu. Ayu yang selalu dia cibir dan rendahkan hanya karena merupakan siswa miskin dan ibunya hanya penjual nasi uduk, ternyata pemilik novel yang berlindung di balik nama pena Peri Aksara. Sementara itu, dia hanya pemeran figuran dalam film tersebut. Pada akhirnya, Dewi membanting stir, mencari muka di depan Ayu agar bisa bermain pada film berikutnya. Dia pun terus menerus mendekati Lani---Ibunda Lingga Bardion agar segera dijodohkan dengan lelaki yang dicintainya itu. Dion baru saja lulus S2 pada waktu itu. Hanya saja, ternyata benih-benih cinta yang tersemai antara Ayu dan Dion kembali bersemi, setelah terhalang jarak sekian tahun lamanya dan keduanya bertahan dalam kesendirian. Mampukah hubungan itu pada akhirnya berlabuh dan bagaimana cara Ayu menyikapi sikap Dewi? Mampukah dia terlepas dari acting Dewi yang pura-pura baik di depannya?
View MoreLANA
I stared out the cab window as the Miami streets blurred past. The air conditioning was barely working, and my thighs stuck to the fake leather seat. I’d just landed from my dad’s place up north, and this was the start of another summer with Mom. Same routine every year since the divorce. I live with Dad during the school year, then pack a suitcase and fly down here for two months. I was tired, a little jet-lagged, and still carrying that heavy feeling in my chest that wouldn’t go away. My boyfriend broke up with me exactly one month ago. He was my first real boyfriend, my first love, my first everything. We had been together for almost a year. Then one night he just said it straight to my face: I was boring in bed. I didn’t move enough. I didn’t moan enough. I just laid there like I wasn’t even into it. Those words still sat heavy in my stomach. I hadn’t been attracted to any guy since. Not one. I figured maybe something was wrong with me. Maybe I really was just boring. The cab finally turned onto Mom’s street and stopped in front of the familiar two-story house with the palm trees out front. I paid the driver, pulled my suitcase out of the trunk, and dragged it up the steps. Before I could even knock, the door swung open. “Lana!” Mom shouted. She grabbed me and hugged me so tight I could barely breathe. “My baby girl is finally here! Look at you. Come inside, it’s burning hot out there.” She took my suitcase and rolled it in. The cool air from the AC hit me and I let out a long breath. We walked straight to the living room and dropped onto the big sectional couch. Mom sat right next to me, holding my hands, smiling so wide it made me smile too even though I was tired. “How was the flight? Tell me everything,” she said. “Your dad made sure you had everything you needed? You look a little worn out, honey.” “It was okay. Long but fine. Dad’s good. He’s seeing somebody new, I think. School finished strong. I’m just glad to be here.” I squeezed her hands back. It felt good to talk to her. Really good. I hadn’t realized how much I missed this. We kept chatting. She told me about her new job, how the neighborhood was changing, how she finally fixed the backyard. I told her about my classes and the friends I made this year. We laughed about stupid stuff from last summer. For those fifteen minutes it felt normal. Just me and Mom catching up like always. No heavy feelings, no breakup talk. I wasn’t ready to tell her about that yet. I was in the middle of answering her question about what I wanted for dinner when I heard heavy footsteps coming down the stairs. I looked up. A man walked into the living room. Shirtless. Grey sweatpants low on his hips. He was tall, built solid with wide shoulders, thick arms, and a chest that looked like he lifted weights every single day. Sweat glistened on his skin. My eyes went straight to the lines of muscle on his stomach and the way those sweatpants hung so low I could see the deep V cutting down toward his crotch. My heart slammed hard against my ribs. I forgot how to breathe. My mouth went dry. Heat flooded my face and shot straight down between my legs so fast it scared me. I had never felt anything like this before. Not with my ex. Not with any guy I’d ever seen. My nipples got hard under my bra. I pressed my thighs together without thinking. What the hell was happening to me? He stopped when he saw me. “Oh shit. I didn’t know we had company. My bad.” His eyes stayed on me. Not a polite glance. He looked me up and down slowly, taking in my legs, my chest, my face. The look made my stomach twist and my pussy throb at the same time. I couldn’t look away. Mom stood up from the couch with a little laugh. “Dominic, this is my daughter Lana. She just got here from her dad’s place.” Dominic walked over. He stopped right in front of us. His eyes were still locked on me. Then he reached out, put his hand on Mom’s ass, and gave it a hard, loud smack. The sound cracked through the room. Mom giggled and playfully pushed his chest. “Behave,” she said, still smiling. He smirked, glanced at me one more time, then turned and walked back up the stairs. I watched every muscle in his back move as he went. My heart was racing so fast I felt dizzy. My panties felt wet. Actually wet. From just looking at him. From one look and one spank on my mom. I sat there frozen, trying to catch my breath. My hands were shaking a little. I crossed my arms over my chest so Mom wouldn’t see how hard my nipples were. The heat between my legs kept pulsing. This was wrong. This was so wrong. He was with my mom. But my body didn’t care. It had never reacted like this to anyone. Mom sat back down next to me like nothing had happened. She was still smiling, completely relaxed. “That’s Dominic. My husband. Your stepdad. We got married last fall. I wanted to tell you in person instead of over the phone. He’s been excited to meet you, Lana.” I stared at the empty staircase. My throat felt tight. My mind was spinning so fast I could barely form words. Stepdad? That man was my stepdad? The same man who just made my entire body react in ways I didn’t even know were possible. The same man whose handprint was probably still stinging on my mom’s ass. “Stepdad?” I finally said. My voice came out quieter than I wanted. A little shaky. “Yeah,” Mom said, patting my knee. “He’s great. You two are going to get along just fine. I know it.” I nodded slowly, but inside my chest everything was chaos. My pulse was still pounding between my legs. I could still see his chest, his stomach, the way he looked at me. I had never been this turned on in my life. Not once. And it was my mother’s husband. This was only my first hour here. And I already knew nothing about this summer was going to be the same.Suara tangisan bayi terdengar nyaring ketika aku dan Bang Zayd baru saja menginjakkan kakinya di rumah sakit. Senyum pada bibirku terkembang sempurna. Akhirnya adik yang kutunggu-tunggu sejak dulu, kini sudah ada. Meskipun, jaraknya teramat jauh. Dia akan menjadi paman kecil putriku. “Tuh, tadi kelamaan wara-wiri, pas datang sudah lahiran!” tukas Bang Zayd. “Ya, kan beli-beli dulu, Bang. Kalau gak aku, siapa? Ibu kan punya anaknya satu saja.” Aku mendelik ke arahnya. Namun baru saja aku mengatupkan bibir. Dari arah berlawanan tampak anak-anak Pak Hakim muncul sambil menenteng paper bag juga. Tak kalah banyak pula dariku. “Hay, Syfa!” “Hay!” Aku melambaikan tangan juga ketika Bang Zayd menyenggol lenganku sambil berbisik, “Kamu gak sendiri, Syfa. Tuh, sekarang ada mereka.”“Iya, Bang. Keknya gegara kemarin makan mie instan, kecerdasanku langsung berkurang.” “Eh, kamu makan mie lagi?” “Duh, keceplosan. Sekali lagi doang, Abang … kan waktu itu malah Abang habisin.” Lalu obrolan i
“Oh, ya? Ibu serius?” Aku terkejut senang. Ibu baru saja mengabarkan jika Bapak, Mama Renita dan Mbak Merina datang ke rumah. “Ya seriuslah, Syfa. Ibu juga sampai kaget. Gak nyangka.” Kudengar Ibu menjawab disertai kekehan. Duh senang rasanya mendengar nada bicara Ibu yang riang dan ringan. Hidupnya kini tampak lebih menyenangkan. “Tulus gak tuh minta maafnya? Tumben?” tanyaku lagi. Jujurly, aku tak percaya. Kok semudah itu mereka meminta maaf. Apakah insiden kemarin benar-benar membuatnya tobat? Aku memiringkan kepala untuk menjepit ponsel yang kuletakkan di antara bahu dan telinga. Sementara itu, satu tanganku sibuk mengaduk mie instan. Rasanya aku sudah tak tahan lagi mencium wangi yang menguar ini. Mumpung Bang Zayd gak ada. Akhir-akhir ini, aku berasa di penjara. Bang Zayd protektif banget. Mau ini, gak boleh, itu gak boleh. Padahal dokter juga bilang kalau sesekali gak apa-apa. “Semoga saja tulus, Fa. Alhamdulilah kalau mereka sudah sadar. Mungkin kejadian kemarin yang membu
Merina duduk tepekur di ruang tengah. Sudah dua hari berlalu dari kejadian memalukan di hotel itu, Merina sama sekali tak mau keluar. Dia terus-terusan mengurung diri di dalam rumah. Mentalnya tak kuat menghadapi ocehan dan cemoohan para tetangga.“Gak nyangka, ya! Ayahnya dokter, tapi anaknya mau-maunya jadi pelakor! Untung gagal nikah, ya!” “Iya, kasihan sekali istri pertamanya. Kemarin katanya pas datang ke acara itu lagi hamil besar, ya? Saya gak dateng kemarin soalnya.” “Iya Mbak e. Ya ampuun. Kita saja kaget dan shock. Apalagi pas tahu, itu duit yang dipake buat pesta, ternyata duit mertuanya si cowok!”“Masa, sih, Mbak? Gila, ya! Bener-bener itu janda bodong. Gak punya hati banget. Pasti dia goda habis-habisan itu cowok biar nempel! Gak nyangka, ya! Si Merina itu padahal anak dokter, ya!”Kalimat-kalimat cemoohan. Baik yang tak sengaja dia dengar, maupun tanpa sengaja dibacanya dari status WA dan sosial media, benar-benar merusak mood Merina. Semua menyalahkannya. Semua menyu
“Kami datang, sekalian mau sebar undangan, besan!” Mama Renita berbasa-basi pada Mami Ayu. “Oh, ya? Selamat kalau begitu! Kapan acaranya?” Mami Ayu menatap Mama Renita dengan penuh senyuman. “Semingguan lagi dari hari ini. Besan wajib dateng, ya. Kami merayakannya lebih mewah dari pada yang dulu-dulu.”“Inysa Allah.” Aku hanya mendengarkan obrolan Mama Renita dengan Mami Ayu. Tetiba saja Mama Renita bilang besan, padahal kan yang besanan sama Mami Ayu, cuma Ibu. Kenapa pula dia ikutan ngaku-ngaku. Dia pun sama sekali tak menyapa Ibu, malah sibuk terus dengan Mami Ayu dan keluarganya. Ibu datang menyambut hanya bersalaman saja. Dia terus ngajak ngobrol lagi dengan Mami Ayu dan mengabaikan Ibu, aneh.“Alhamdulilah, calon suaminya sekarang itu dokter. Memang kalau keluarga dokter, coocknya sama dokter,” tukas Mama Renita sambil tertawa sumbang. Kulihat Mami Ayu merangkulnya penuh rasa persahabatan lalu mengajak Mami Renita menjauh. Ah, sayang … padahal aku tengah turut serta mendengar
Pov Nur - Ibunda Asyfa“Duh, Zayd … maaf sampe kamu harus buatin sendiri kopi buat tamu.” Cukup merasa bersalah, ketika pulang dari rumah Mas Restu, rupanya di rumah ada tamu. Mas Hakim yang datang. Entah kenapa, aku merasa, akhir-akhir ini Zayd cukup sering mengundang Mas Hakim ke rumah. Mungkin kar
“Ya ampuuun, Re. Tuh ‘kan akutuh suka gitu. Kebetulan uangnya memang hanya tinggal 5 M di rekening akutuh, tadi lupa aku iyain semua nilai investasinya ke Mr. William! Next time deh, ya, kalau honor aku dari syuting sudah cair lagi! Beneran lupa banget, maaf, ya, Re!” Dewi tampak memasang rasa bers
Aku hanya diam, pastinya mereka mengira aku adalah orang yang paling tak punya uang di sini. Namun aku tetap memperhatikan, termasuk raut wajah Dewi yang tiba-tiba memucat. Aku hanya tersenyum di dalam dada. Setahuku, honor dari seorang pemeran figuran memang tak besar. Namun, siapa tahu Dewi punya
“Iya, Pak! Alhamdulilah walau dulu ketika sekolah sering gak ngerjain tugas dari Bapak, tapi karir saya baik-baik saja,” kekeh Dewi seraya menutup bibir merahnya yang menynggingkan senyum penuh kepercayaan diri. “Jadi, ternyata sukses itu gak selalu dari nilai akademik tinggi ‘kan ya, Pak? Sudah t


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore