LOGINPerjalanan cinta yang rumit dari seorang guru Taman Kanak-kanak bernama Carissa Cassiopeia. Putri dari pasangan suami istri yang bekerja menjadi pembantu pada keluarga kaya raya. Karena sang majikan begitu menyayangi Carissa, dia akhirnya menjodohkan Carissa dengan putra tunggalnya bernama Carlos Leon. Pernikahan yang dibayangkan akan menjadi sumber kebahagiaan, justru menjadi awal malapetaka. Karena sang tuan muda begitu membenci perempuan yang berasal dari keluarga kelas bawah. Bukan tanpa sebab, Carlos memiliki trauma masa kecil yang mendalam. Sang ibu meninggalkan ayah beserta dirinya demi pria lain. Pria kaya yang bisa membeli kebahagiaan dengan kekayaan. Hingga pada akhirnya Carissa telah lelah mempertahankan pernikahannya karena memergoki Carlos tengah memadu kasih bersama seorang wanita. Dia memutuskan untuk mengakhiri ikatan dan pergi jauh ke tempat tak seorang pun mengenalinya. Di sanalah Carissa bertemu dengan seorang pria baik dan tampan. Pria yang bisa mencintai dirinya dengan sepenuh hati. Lalu bagaimana dengan akhir kisah antara Carissa dan Carlos? Apakah takdir akan mempersatukan mereka kembali ataukah memisahkan untuk selamanya?
View MoreSETELAH AKU KAU MILIKI
Part 1 Hanya Anak-anak "Hai, Mas. Baru pulang kerja?" Yesi tersenyum ramah pada Emir yang muncul di pintu. Pria itu membalas senyum mantan istrinya sekilas. Lalu menyambut tangan dua anak perempuan usia tujuh tahun yang berebut menyalaminya. Emir mengusap kepala anak kandung dan anak tirinya. Lantas kedua gadis kecil itu kembali duduk di pangkuan mamanya masing-masing. "Kenapa lengan Aurel terluka?" Emir yang baru duduk memperhatikan tangan putri kandungnya yang tergores. Masih tampak memerah oleh bekas darah yang mengering. "Jatuh katanya, Mas." Yesi menjawab sambil memperhatikan luka itu. "Nggak sengaja tadi. Senggolan sama Zahra di halaman, Mas." Naima menjelaskan sambil memandang sang suami. Sementara Yesi ini mantan istrinya Emir yang sudah bercerai tiga tahun lalu. "Di dorong sama Zahra tadi," sahut Bu Anjar dengan tatapan sinis pada Zahra. Naima kian erat memeluk putrinya yang selalu ketakutan di depan nenek tirinya. Naima memilih diam untuk menghindari keributan. Dia tidak akan menang sekalipun pembelaannya benar. Di mata Bu Anjar, Zahra selalu salah. Suasana mendadak tegang. Emir memandang Zahra yang diam menempel pada sang mama, lalu memperhatikan luka Aurel. "Aku mau ngajak Aurel nginep dua hari, Mas. Minggu sore aku anterin." Yesi bicara memecah ketegangan di antara mereka. Emir mengangguk. Lalu mengulurkan tangan untuk meraih lengan sang anak. Gadis kecil itu turun dari pangkuan Yesi dan memeluk papanya. "Jangan nakal, ya," pesannya seraya mengecup kening gadis kecilnya. "Sakit, Pa." Aurel menunjukkan luka di tangannya. "Iya, nanti akan sembuh ini." Yesi bangkit dari duduknya sambil meraih ransel berisi pakaian Aurel yang telah disiapkan oleh Naima. Lantas pamitan dan memeluk Bu Anjar. Juga menyalami Naima dan Zahra. Emir mengendong Aurel dan mengantarkannya hingga ke depan pagar. Di mana mobil Yesi terparkir. "Kalau terus-terusan Aurel disakiti di sini, Mas. Aku akan membawanya tinggal bersamaku," ujar wanita bergaun merah jambu itu seraya menatap lekat mantan suaminya. "Biasa anak-anak bermain, Yes. Besok juga baikan lagi." "Nggak sampe terluka juga kali, Mas. Pokoknya kalau Aurel dinakali terus. Aku akan membawanya pergi jauh darimu," ancam Yesi dengan tatapan tajam. Emir membukakan pintu dan memasang seat belt untuk Aurel. Yesi duduk di kursi kemudi. Emir menutup pintu setelah mencium kening anaknya. Dan dia kembali ke rumah setelah mobil hitam itu pergi. Di dalam rumah, Naima membawa Zahra ke kamarnya. "Duduk sini, ya. Zahra bisa menggambar dulu. Nanti Mama ke sini lagi. Mama mau nyiapin makan malam untuk papa." Zahra mengangguk dengan tatapan sendu. Hati Naima seakan teriris-iris. Cukup lama dia memandang putrinya. Mengusap rambut gadis itu, mencium keningnya lalu keluar kamar. Naima menyiapkan pakaian ganti untuk Emir yang sedang mandi. Ketika hendak keluar kamar, sang suami selesai mandi. "Yesi ngancam mau membawa Aurel pergi kalau sampai terluka lagi. Atau anak itu merasa nggak nyaman di rumah ini. Tadi kenapa Aurel sampai terluka?" Emir berkata tepat di depan Naima. "Mas, anak-anak tadi berlarian di halaman. Zahra bilang, Aurel tersandung batu dan jatuh sendiri di dekatnya. Lalu tangannya tergores ranting bunga mawar." "Tapi Ibu bilang, Aurel di dorong Zahra?" "Terserah Mas mau percaya sama siapa." Naima malas untuk berdebat. Karena pada akhirnya, dia yang tetap salah. Diulurkannya pakaian yang dipegang pada sang suami, lantas ia melangkah pergi untuk menyiapkan makan malam. Naima menata menu dengan cepat. Lalu melangkah ke ruang dalam. "Makan malamnya sudah siap, Mas," bilangnya pada Emir yang duduk di sofa bersama ibunya. "Kamu nggak makan?" tanya Emir saat Naima hendak masuk kamar putrinya. "Aku panggil Zahra dulu, Mas." Naima menghampiri Zahra yang tengah mewarnai. "Zahra, kita makan dulu." Zahra menggeleng. Naima mengerti, kalau sang anak takut dengan Bu Anjar. "Ayo, sama Mama," bujuk Naima. "Nggak, Ma. Zahra nggak lapar." "Baiklah, Mama ambilin nasi. Zahra makan di sini saja." Tergesa Naima melangkah keluar kamar. Lalu mengambil piring milik Zahra. "Zahra mau makan di kamar, Mas. Sambil ngerjain PR-nya." Naima berkata pada sang suami. "Kenapa makan di kamar. Selalu dimanja gitu, makanya bocah jadi nakal," tegur Bu Anjar dengan lirikan mautnya. Naima tidak jadi mengambilkan nasi dan piring dikembalikan ke rak. "Nggak apa-apa, Ma. Zahra masih anak-anak. Dia juga sambil ngerjain tugas sekolahnya. Nai, ambilkan nasinya," ujar Emir. "Nanti saja, Mas." Naima melangkah kembali ke kamar. "Suamimu sedang makan. Kenapa nggak diladeni. Malah sibuk sama anakmu yang bandel itu." Kembali ucapan tajam itu keluar dari mulut seorang mertua. Naima tak menjawab. Dia tetap masuk ke kamar dengan hati yang terkoyak. "Zahra, makan nanti saja, ya. Kalau Zahra sudah selesai mewarnai." Zahra mengangguk. 🖤LS🖤 "Zahra, maafkan Mama," bisik Naima sambil membenahi selimut yang menutupi tubuh mungil putrinya. Rambut lurus Zahra terurai di bantal, wajahnya terlihat begitu tenang disaat sedang tidur saja. Kalau terbangun, rasa tak nyaman tampak di matanya. Tadi dia tidak mau makan meski sudah dipaksa. Hati Naima perih. Ia ingat saat sore tadi anak itu menahan tangis sewaktu dimarahi Bu Anjar. Zahra hanya menunduk, tak berani membela diri. Air mata sempat menetes, cepat-cepat ia seka agar tak terlihat. Dia pasti sedih. Zahra selalu mengalah. Berbeda dengan Aurel yang mencari cara agar perhatian orang-orang hanya tertuju padanya. Naima menatap lagi wajah itu. Getir menyeruak di dada. Kenapa keadaan selalu menempatkan Zahra pada posisi salah? "Nai," suara berat Emir terdengar dari arah pintu kamar yang terkuak sedikit. "Mas tunggu di kamar," katanya, lalu berbalik tanpa menunggu jawaban. Naima menarik napas panjang. Disapunya lembut rambut Zahra sekali lagi sebelum meninggalkan kamar itu. Hatinya masih perih. Dia berharap pernikahannya dengan Emir setelah mereka sama-sama sendiri, bisa membuat Zahra memiliki figur seorang ayah. Lagipula mereka didukung oleh papanya Emir yang sudah meninggal dua tahun lalu. Mereka dulu adalah dua orang yang pernah saling jatuh cinta, tapi karena keadaan akhirnya masing-masing menikah dengan orang lain. Setelah sama-sama sendiri, mereka dipertemukan kembali. Di awal pernikahan, hubungan baik-baik saja. Emir juga penuh perhatian pada dua anak tanpa membeda-bedakan. Namun akhir-akhir ini mulai banyak berubah. Setelah mama kandungnya Aurel kembali. Walaupun sesekali masih membela Zahra dan Naima di depan mamanya. Setelah mengganti lampu dengan lampu malam yang temaram, Naima keluar kamar. Namun langkahnya terhenti saat mendengar percakapan di ruang keluarga. "Salahmu dulu nggak dengerin Mama. Kamu lebih menuruti apa kata papamu untuk menikahi janda itu. Dengan alasan kasihan, biar anaknya yang yatim punya ayah. Padahal kamu masih punya peluang rujuk dengan Yesi demi Aurel." Mendengar ucapan mertuanya dari balik tembok, membuat hati Naima terasa perih. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar ucapan seperti itu. Next ...."Long time no see, Beatrize. How are you?" "Seperti yang kamu lihat, Dav!" Beatrize duduk dengan anggun di atas sofa lalu melepas kaca mata hitam miliknya. Pria dengan label manajer tersebut menghampiri Beatrize kemudian duduk di samping wanita tersebut. "I miss you, darl!" Beatrize berdecak. "Aku sedang tidak mood!" "Kamu butuh sesuatu? Like sampanye, wine, or—" "Aku sedang tidak ingin minum." "Lalu?" "Dav, aku ingin melihat rekaman cctv dua minggu yang lalu. Saat itu aku tengah mabuk. Aku penasaran siapa yang telah membawaku dari klub dan berani-beraninya mengerjaiku." "Aku sangat tahu siapa!" "Siapa?" "Infoku tidak gratis Beatrize!" Beatrize mendengkus. "Kamu licik!" David tergelak. "Aku memang licik. Karena aku seekor rubah." Beatrize memutar bola matanya malas. Dia mengeluarkan satu batang rokok dari dalam tas. David sigap menyalakan alat pemantik. "Thankyou." "Jadi, bagaimana? Kamu menginginkan informasi itu atau tidak?" David menyandarkan punggungnya dengan kedu
Ayah adalah cinta pertama bagi setiap anak perempuan. Ketika lelaki yang menjadi cinta pertama pergi untuk selama-lamanya, di sanalah titik terendah yang mampu meluluh lantahkan hidup dan hati seorang wanita. Dunia pun seakan berhenti berputar untuk sesaat. Karena kebahagiaan, bak direnggut secara paksa. Tiada lagi tempat yang bisa dijadikan sandaran. Selain bertumpu pada kaki sendiri dengan kedua pundak yang berusaha tegar."Maafkan saya, Carissa. Tadi saya sedang ada pertemuan. Jadi, tidak sempat mengangkat teleponmu," sesal Charles memeluk tubuh gadis yang tengah berkabung.Carissa menganggukkan kepala. "Tidak apa-apa Tuan... lagi pula ini semua sudah menjadi suratan takdir. Kalau papa harus meninggalkan dunia, secepat ini."Charles mengusap-usap punggung Carissa. "Tabah ya, Nak. Jacob orang baik, dia pasti sudah tenang di alam sana ... dan kamu harus bangkit, demi mamamu."Carissa melepas dekapan dan menatap sendu ke arah Charles. "Terima kasih, Tuan. Kata-kata Tuan telah menyadar
Saat ini, batin Carissa benar-benar dalam keadaan terguncang. Di satu sisi, dia dikhawatirkan oleh kondisi Heleina yang tiba-tiba melemah. Satu sisi lain, dia dihadapkan dengan kenyataan bahwa nyawa sang ayah sudah berada di ujung tanduk."Ya Tuhan... aku harus mencari ke mana uang sebanyak itu? Bahkan untuk membayar uang mukanya saja, tidak cukup sekedar menjual perhiasan mama."Carissa berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang ICU. Tangan yang bergetar, sesekali menyapu air mata yang terus saja mengalir tiada henti. Ketakutan menelesup ke dalam sanubari, memikirkan keadaan kedua orang tuanya yang sama-sama terbaring lemah tidak sadarkan diri."Apa aku meminta tolong tuan Charles saja ya? Dia pasti bersedia membantuku." Carissa mencoba menghubungi nomor majikan orang tuanya itu. Namun, sia-sia karena Charles tidak mengangkat panggilannya. "Ya Tuhan... bahkan tuan Charles pun disaat dibutuhkan seperti ini, sulit sekali untuk dihubungi."Carissa mengerutkan dahi lantaran kepanikan ya
"Sepertinya mobil hitam itu membuntutiku sedari tadi!" Jacob bermanuver dengan membelokkan mobilnya mencari jalan lain seraya menancap gas, menambah laju kecepatan. "Benar berarti, ada yang sedang mengikutiku. Tapi siapa mereka dan ada maksud apa?" gumam Jacob bingung. Berkali-kali dia memperhatikan kendaraan di belakangnya dari balik kaca spion. Sementara dari dalam mobil tersebut, tiga pria yang menjadi orang suruhan Carlos tengah berbagi tugas. Di mana salah satu dari mereka akan meluncurkan sebuah tembakan ke arah ban mobil Jacob, sementara yang lainnya bertugas menyetir mobil dan memperhatikan kondisi sekeliling. "Bagaimana, apakah aman untuk mengeksekusi sekarang?" "Nanti saja, kita tunggu mobil itu masuk highway. Baru kita lakukan perintah dari tuan Carlos," sahut salah seorang dari mereka. "Kalau kita mencelakai orang itu di sini, bukan hanya target yang akan mati. Namun, orang-orang yang berada di sekitarnya bisa terkena imbas." Setelah setengah jam terjadi aksi kejar-kejar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews