FAZER LOGINViktor masih membeku di kursinya, jemarinya yang gemetar makin erat mencengkeram lembaran nota laknat itu. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya, membasahi kerah kemeja yang tadinya ia kenakan dengan penuh rasa percaya diri.“Astaga! Hampir 4 juta ini,” gumam Viktor, dalam hati.“Kenapa, Tor? Aman kan ya dompet lo?” tanya Adrian lagi, kali ini dengan nada menggoda sambil menahan tawa melihat raut wajah sahabatnya yang sudah sepucat kertas.Viktor menelan ludahnya yang terasa sekeras batu. Ia mencoba tersenyum, tetapi yang keluar justru ringisan memilukan. “A-aman... aman banget, Yan. Cuma... ini angkanya kok agak unik ya? Ada angka tiga, delapan, lima, terus nolnya banyak banget.”Clara yang melihat gestur panik Viktor langsung menaikkan sebelah alisnya, mengerti situasi tanpa perlu dijelaskan. “Kenapa, Tor? Kalo emang kemahalan atau uang lo gak cukup, bilang aja. Gak usah dipaksain,” timpal Clara santai.“E-eh! Bukan gitu, Kak Clara! Cukup kok! Cuma... anu... limit m-banking g
Siska tampak berpikir sejenak sambil mengetuk-ngetuk kemudi mobilnya sebelum akhirnya melemparkan senyum penuh selidik, “Seriusan lo mau ngajak gue juga?” Sementara itu, Viktor di atas motor sport-nya mendadak melamun, otaknya berputar cepat menghitung peluang tersembunyi. “Oh iya... siapa tau gue juga bisa deket sama Kak Siska? Mau yang mana juga boleh, dua-duanya sama-sama cakep dan mantab!” gumam Viktor dalam hati penuh harap, membayangkan dirinya jadi pria paling beruntung. “Woy! Malah bengong!” tegur Adrian kencang sambil menepuk bahu Viktor, membuyarkan lamunan sahabatnya. Viktor pun gelagapan setengah mati, buru-buru membetulkan posisinya dengan senyuman. “Eh! A-ayo, Kak! Ikut aja! Biar gue yang traktir semuanya! Tenang aja, dompet gue masih aman kok!” Siska terkekeh geli melihat tingkah polos teman adiknya itu. “Wah, tawaran menarik nih! Ya udah, gue ngikut dari belakang ya. Awas aja kalo bohong!” Lampu lalu lintas mendadak berubah hijau. “Siap, Kak! Ikutin motor gue ya!”
Viktor sempat membeku sejenak, tak menyangka kalau tawaran nekatnya justru sanggup menarik perhatian Clara. Matanya membelalak lebar dengan napas tertahan, terkejut setengah mati karena umpan asal-asalannya ternyata langsung disantap mentah-mentah oleh kakak tiri Adrian. “Se-serius, lah! Masa gue bohong? Gue ini Viktor, cowok paling jujur dan pantang jilat ludah sendiri, Kak!” ucap Viktor berapi-api, mendadak percaya diri setengah mati sambil menepuk dadanya bangga demi menutupi kepanikan dompetnya. Adrian justru mengerutkan dahinya dalam-dalam, merasa ada yang sangat tidak beres dengan sahabatnya itu. Ia menyikut lengan Clara pelan lalu berbisik di samping telinganya, “Lo beneran mau ditraktir sama dia, Kak?” “Emang kenapa? Lo gak mau?” jawab Clara heran, mengerutkan alisnya menatap Adrian yang tampak ragu-ragu. Adrian menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan raut wajah serba salah. “Bukan, bukan gitu... tapi kalo lo emang mau mah, gue ayo-ayo aja, sih.” Clara kembali men
Siti dan Sheila hanya bisa mengatupkan bibir rapat-rapat, tak berkutik di hadapan tatapan tajam Clara yang seolah bisa membaca seluruh pikiran liar mereka.Clara lalu menyandarkan tubuhnya semakin tegap di kursi perpustakaan. Ia memajukan wajahnya sedikit dan berbisik dengan nada dingin yang penuh ancaman.“Biar kalian pada ingat ya, gue sama sekali gak akan pernah ngizinin kalian berdua buat dekat-dekat atau nyentuh Adrian! Kalo sampe gue tau kalian berdua masih nekat neror dia atau berani nyamperin dia secara sembunyi-sembunyi, gue gak akan tinggal diam!” tegas Clara tanpa kompromi.Siti menelan ludahnya yang terasa kesat, mencoba mencairkan suasana dengan senyum kikuk. “Ya ampun, Clar... santai kali. Masa cuma gara-gara mau kenalan doang lo sampe segininya, sih?”“Gue serius, Siti! Gue gak main-main. Kalo kalian masih bandel, bakal gue laporin kelakuan kalian berdua langsung ke Papa gue!” ancam Clara cepat dengan tatapan mata yang sangat tajam.Sheila membelalak kaget, alisnya bert
Mata Viktor membelalak menatap Siti dan Sheila secara bergantian, sambil menyikut lengan sahabatnya itu kencang-kencang.Adrian sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan dan desakan dari Viktor di sampingnya. Ia memilih memfokuskan perhatiannya penuh pada kedua wanita berpenampilan modis yang kini sedang berdiri menatapnya menuntut.“Maaf banget ya... Kak Siti, Kak Sheila. Kemarin gue gak bisa dateng soalnya gak boleh pergi sama Kakak-kakak gue,” jawab Adrian dengan raut wajah yang memperlihatkan rasa tidak enak hati.Siti dan Sheila yang mendengar alasan polos itu langsung mendesah kecewa, saling bertukar pandang sebentar sebelum kembali protes pada Adrian.“Yah... lagian lo ngapain pake bilang-bilang segala sih, Yan? Kan dari awal gue udah bilang, gak usah pake cerita atau kasih tau Clara!” balas Siti dengan wajah bersengut sebal.“Iya nih, Adrian! Lo kan udah gede, masa mau pergi main aja harus izin dan bilang-bilang dulu sama kakak lo? Harusnya gak usah bilang-bilang, diem-diem aj
Adrian dan Clara terperanjat kaget setengah mati saat suara familiar itu mendadak menyapa mereka di tengah lampu merah. Sontak saja Clara langsung menarik kedua tangannya dari pinggang Adrian dan menggeser duduknya sedikit ke belakang dengan raut wajah merah padam, lalu mengomeli kakaknya yang sedang tersenyum lebar di dalam mobil.“Kak Siska ngagetin aja, sih? Kirain siapa?!” protes Clara dengan nada sebal yang dibuat-buat untuk menutupi rasa gugupnya.Siska tertawa memegangi kemudi mobil sedannya, menatap geli pada raut kebingungan dan rona merah di wajah adiknya. “Gitu dong, akur! Masa setiap hari ribut terus? Lagian tumben banget lo mau pelukan erat gitu naik motor? Biasanya juga ogah-ogahan kalo dekat-dekat sama Adrian,” ledek Siska lagi, makin gencar memanas-manasi.“Ah! Kak Siska bisa aja, deh!” ucap Adrian menyahut santai, meski sebenarnya ia juga merasa agak sedikit malu dan salah tingkah karena tertangkap basah di jalanan.“Gue reflek pegangan ya, Kak! Lagian Adrian bawanya







