LOGINSontak saja pertanyaan Clara yang blak-blakan itu membuat Adrian dan Siska terkejut setengah mati. Adrian bahkan sampai tersedak air yang baru saja diminumnya, membuat pemuda itu terbatuk-batuk hebat sambil buru-buru menutupi mulutnya dengan tisu.“Uhuk! Uhuk! K-Kak Clara ngomong apaan, sih?!” seru Adrian gelagapan dengan wajah memerah, baik karena tersedak maupun karena panik.Siska yang duduk di sebelah Clara pun tak kalah kaget. Ia sampai menghentikan suapannya, menatap Clara dan Maya secara bergantian dengan mata terbelalak lebar. “Hah?! Lo ngomong apa tadi, Clar? M-main sendiri gimana maksudnya?”“Duuuh! Clara ini bener-bener deh, mulutnya,” gumam Siska, dalam hati.Sementara itu, Maya tampak mendadak membeku di tempat. Wajah cantik waNita itu seketika merah padam, antara malu bukan main dan panik karena hal privatnya diungkit terang-terangan di hadapan semuanya.“C-Clara! Kamu ini kalo ngomong sembarangan banget!” tegur Maya dengan suara yang agak bergetar, berusaha tetap tenang
Adrian terperanjat kaget begitu mendengar suara teguran Maya yang mendadak muncul dari arah tangga. Sementara Clara justru melirik sekilas dan mencibir pelan sambil berbisik, “Mampus, lo!”“Eh, Mama!” sapa Adrian gelagapan, berusaha menata napasnya agar tidak terlihat sedang panik setelah merengek bukan main pada sang kakak tirinya.Maya melangkah mendekat dengan alis terangkat, menatap kedua anaknya secara bergantian. “Iya, ini Mama tanya dari atas kedengaran ribut banget. Emangnya kamu minta apa sih, Yan? Sampe ngerengek begitu ke Clara?” selidik Maya penasaran, memperhatikan gerak-gerik Adrian yang salah tingkah.Adrian langsung memutar otak, mencari alasan yang masuk akal agar kecurigaan ibu tirinya tidak mengarah ke hal-hal yang tidak-tidak. “Oh, itu... anu, Mah. Aku tadi lagi minta izin mau pinjam mobilnya Kak Clara buat jalan besok pagi,” dalih Adrian cepat, berusaha tersenyum.Clara yang mendengar alasan konyol adik tirinya itu langsung mendengus sinis. “Halah, bohong banget,
Adrian tersenyum tipis, menoleh sedikit ke arah kakak tirinya di kursi sebelah sambil tetap fokus mengemudi di tengah jalanan kota yang basah oleh air hujan.“Yee! Ditanya serius malah cengengesan!” cibir Clara, gemas melihat ekspresi tidak berdosa adik tirinya.“Menurut lo yang mana lagi, Kak? Ya yang itu, lah!” jawab Adrian santai, menunjuk ke arah bawah dengan gerakan bibirnya sambil melirik sekilas.“Dih! Dasar ade cabul, bener-bener gak ada akhlak emang lo, ya?” cibir Clara dengan pipi yang mulai merona panas.“Gara-gara tadi di kosan Kak Sheila gak selesai dan nanggung banget, malah bikin bagian bawah gue jadi tegang begini, nih! Sialan,” gumam Adrian di dalam hati, merutuki kondisi fisiknya yang menuntut pelepasan.Sementara itu, Clara tampak melipat kedua tangannya di depan dada, mencoba bersikap dingin dan mengabaikan ucapan Adrian. Tanpa gadis itu sadari, jantungnya berdegup lebih kencang, dan rona merah di wajahnya perlahan semakin menjalar hingga ke bagian leher akibat bay
Sheila melolot, memastikan apa yang didengar olehnya tidak salah. “Hah? A-apa lo bilang tadi? Mau foto gue?”Adrian mengangguk, “Iya, Kak!”Sheila sontak terkejut dan langsung menyilang kedua tangannya di depan dada, menolak mentah-mentah. “Eh, jangan gila ya! Nanti kalo foto itu kesebar ke mana-mana gimana? Repot urusannya!” tolak Sheila tegas dengan rona panik di wajahnya.“Sumpah, Kak! Demi apa pun, foto ini cuma bakal ada di galeri HP gue sendiri buat kenang-kenangan. Gak bakal gue sebarin ke siapa-siapa,” janji Adrian bersumpah meyakinkan seniornya itu.Sheila terdiam sejenak, menatap lekat-lekat mata Adrian untuk mencari kejujuran di sana. Melihat kesungguhan dan tatapan memohon dari juniornya, pertahanan Sheila akhirnya luntur juga.“Beneran, ya? Awas aja kalo sampe bocor atau ada orang lain yang tau, gue gorok leher lo!” ancam Sheila meski akhirnya ia mengizinkan, membuka kembali posisi tangannya dan berpose menggoda menjulurkan lidahnya di hadapan kamera ponsel Adrian.Cekrek
Tanpa ragu-ragu lagi, Adrian perlahan melonggarkan kancing dan ritsleting celananya. Membiarkan bagian dirinya yang sejak tadi menegang hebat terbebas di hadapan Sheila.“Astaga!”Mata Sheila melebar seketika, menatap lekat-lekat ke arah Adrian dengan binar kekaguman yang nyata. Senyuman penuh kepuasan terukir di bibirnya, menyadari bahwa apa yang ia lihat memang jauh melampaui imajinasinya.Tanpa menunggu waktu lama atau membuang kesempatan di tengah suasana hujan yang semakin lebat di luar sana. Sheila mendekatkan wajahnya, bersiap mencicipi benda besar itu.Slurp!Suara decakan basah langsung memenuhi sudut kamar begitu Sheila menjulurkan lidahnya yang hangat. Dengan terampil Sheila memainkan dan menjilat bagian ujung milik Adrian yang sedang menegang.“Ahhhh... enak banget, Kak!” desah Adrian tertahan, kedua tangannya spontan mencengkeram erat bahu Sheila untuk menahan gelombang nikmat yang langsung menghantam sarafnya.“Punya lo emang gede banget, Yan! Ini kalo benar-benar dimas
Adrian lagi-lagi menelan ludah. Ia bingung harus bagaimana, karena Sheila benar-benar sangat menggoda.“Ya tapi bikin gue serba salah, Kak! Liat tuh, punya gue di bawah makin tegang keras gara-gara kelakuan lo,” keluh Adrian jujur, menunjuk ke arah tonjolan celananya yang semakin mendesak.Sheila terkekeh geli melihat respon juniornya itu. Ia menatap lurus ke bagian bawah Adrian. “Wah, makin gede aja tuh. Kalo cuma diliatin doang emang bikin gemes ya, Yan? Lo gak mau minta gue buat megang atau minta tolong diusapin gitu?”“Jangan ngaco deh, Kak! Nanti kalo ketauan atau kebablasan gimana?” tolak Adrian berusaha bertahan, meski napasnya sudah mulai memburu.“Kan udah gue bilang, di sini aman. Tetangga sebelah aja makin kenceng tuh desahannya, masa lo cuma bisa nahan tegang sendirian?” goda Sheila lagi dengan nada berbisik, sengaja memajukan dadanya hingga jarak di antara mereka kini semakin dekat.Suara dari kamar sebelah semakin menjadi-jadi, memenuhi keheningan ruangan dengan desahan







