LOGINTanpa ragu-ragu lagi, Adrian perlahan melonggarkan kancing dan ritsleting celananya. Membiarkan bagian dirinya yang sejak tadi menegang hebat terbebas di hadapan Sheila.“Astaga!”Mata Sheila melebar seketika, menatap lekat-lekat ke arah Adrian dengan binar kekaguman yang nyata. Senyuman penuh kepuasan terukir di bibirnya, menyadari bahwa apa yang ia lihat memang jauh melampaui imajinasinya.Tanpa menunggu waktu lama atau membuang kesempatan di tengah suasana hujan yang semakin lebat di luar sana. Sheila mendekatkan wajahnya, bersiap mencicipi benda besar itu.Slurp!Suara decakan basah langsung memenuhi sudut kamar begitu Sheila menjulurkan lidahnya yang hangat. Dengan terampil Sheila memainkan dan menjilat bagian ujung milik Adrian yang sedang menegang.“Ahhhh... enak banget, Kak!” desah Adrian tertahan, kedua tangannya spontan mencengkeram erat bahu Sheila untuk menahan gelombang nikmat yang langsung menghantam sarafnya.“Punya lo emang gede banget, Yan! Ini kalo benar-benar dimas
Adrian lagi-lagi menelan ludah. Ia bingung harus bagaimana, karena Sheila benar-benar sangat menggoda.“Ya tapi bikin gue serba salah, Kak! Liat tuh, punya gue di bawah makin tegang keras gara-gara kelakuan lo,” keluh Adrian jujur, menunjuk ke arah tonjolan celananya yang semakin mendesak.Sheila terkekeh geli melihat respon juniornya itu. Ia menatap lurus ke bagian bawah Adrian. “Wah, makin gede aja tuh. Kalo cuma diliatin doang emang bikin gemes ya, Yan? Lo gak mau minta gue buat megang atau minta tolong diusapin gitu?”“Jangan ngaco deh, Kak! Nanti kalo ketauan atau kebablasan gimana?” tolak Adrian berusaha bertahan, meski napasnya sudah mulai memburu.“Kan udah gue bilang, di sini aman. Tetangga sebelah aja makin kenceng tuh desahannya, masa lo cuma bisa nahan tegang sendirian?” goda Sheila lagi dengan nada berbisik, sengaja memajukan dadanya hingga jarak di antara mereka kini semakin dekat.Suara dari kamar sebelah semakin menjadi-jadi, memenuhi keheningan ruangan dengan desahan
Adrian memarkirkan mobilnya, lalu mematikan mesin setelah posisinya pas di tempat parkir dalam yang terlindung dari guyuran hujan. Keduanya kemudian melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua tempat kamar Sheila berada.Hawa dingin dari air hujan yang mengguyur di luar membuat suasana koridor yang lengang itu terasa makin sunyi, hingga derap langkah kaki mereka terpantul jelas di sepanjang lorong.“Ayo masuk aja dulu, Yan,” ucap Sheila sambil memutar kunci dan membuka pintu kamarnya, lalu mengibaskan beberapa tetes air hujan di lengan pakaiannya.Kamar kos Sheila terasa begitu nyaman dan bernuansa modern. Dilengkapi fasilitas penyejuk udara, kasur berukuran sedang, serta televisi layar datar, tempat itu lebih mirip kamar hotel daripada indekos mahasiswa biasa.Adrian meletakkan kunci mobil di atas meja kecil lalu duduk dengan santai di atas karpet.Saat Sheila melangkah ke arah lemari untuk mengambil handuk kecil, dan bergantian pakaian di kamar mandi. Adrian dengan cepat mengelu
Melihat gerakan nekat ibu tirinya, Adrian sontak panik bukan kepalang. Ia langsung melambaikan tangannya menolak. “Eh... jangan, Mah! Enggak usah repot-repot! Lagian kan... aku juga udah sering liat!” tolak Adrian secara reflek, hingga akhirnya ia sadar bahwa dirinya telah keceplosan mengucapkan kalimat yang sangat berbahaya.Maya langsung menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap anak tirinya itu dengan senyuman, “Oh... jadi kamu udah sering liat? Wah, berarti udah hapal dong sama punya Mama, ya? Sampai bisa keceplosan ngomong gitu tadi?” goda Maya semakin menjadi-jadi, menikmati ekspresi pucat pasi di wajah Adrian.Adrian menelan ludahnya dengan susah payah, benar-benar merutuki kebodohannya sendiri yang tidak bisa menjaga ucapan. “B-bukan gitu maksudnya, Mah! Maksud aku tuh... ya, ampun... gimana, ya?” elak Adrian panik, membuat Maya tertawa lepas.Maya tertawa renyah, menikmati kepanikan luar biasa di wajah anak tirinya. “Hahaha! Iya-iya, sayang! Mama cuma bercanda, kok! Santai a
Adrian langsung menggelengkan kepalanya dengan panik dan gerakan cepat. Ia berusaha keras menyembunyikan rasa gugup yang kini telah melanda sekujur tubuhnya akibat tebakan tajam sang ibu tiri.“A-aku cuma mau buang air kecil aja, kok, Mah! Sumpah, gak ada maksud apa-apa!” jawab Adrian dengan nada suara yang terdengar gugup dan terbata-bata, keringat dingin mulai merayap di pelipisnya.Maya menyipitkan matanya, menatap anak tirinya itu dengan senyuman penuh selidik. “Beneran cuma mau buang air kecil? Bukan karena kamu tadi sempat ngintip Mama terus jadi ngebayangin yang aneh-aneh, kan?” tanya Maya tidak percaya, sengaja mendesak Adrian untuk melihat reaksinya lebih dekat.“Iya beneran, Mah! Aku gak bohong sama sekali!” elak Adrian mati-matian, berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tidak semakin salah tingkah di hadapan wanita itu.Namun, Maya yang sudah terlanjur penasaran melirik sekilas ke arah bagian bawah tubuh anak tirinya yang memang tampak mencetak jelas di balik celana kain y
Adrian terkejut bukan main saat mendengar kata hukuman terucap tegas dari bibir ibu tirinya. Membuat matanya langsung membelalak kaget sementara ketegangan di dadanya semakin membuncah.“Maaf, Maah! Aku emang salah, aku emang pantes Mama hukum,” ucap Adrian pasrah, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena sadar dirinya sudah berada di posisi yang serba salah dan tidak bisa mengelak lagi.“Iya, kamu emang pantes dihukum karena nakal!” balas Maya dengan nada suara tegas, menatap lurus anak tirinya tanpa melepaskan intensitas tekanannya.Adrian hanya bisa pasrah dan tidak bisa membantah sedikit pun. “Iya, Maahh!” sahutnya lirih, siap menerima konsekuensi apa pun yang akan dijatuhkan padanya.“Kira-kira hukuman apa ya yang cocok buat anak laki-laki nakal yang suka ngintipin orang tuanya sendiri?”Adrian menelan ludah dengan susah payah. “Please, Mahh! Jangan yang berat-berat hukumannya, aku janji gak akan ngulangin lagi. Beneran, ini yang terakhir!”Maya menatap Adrian lekat-lekat, tersen







