LOGINAdrian mengangkat tangan kiri kakak tirinya ke atas dan menahannya lembut di dinding kamar mandi. Berhubung malam ini Siska mengenakan tanktop tipis tanpa bra, ketiak mulus wanita itu langsung terpampang jelas di depan mata Adrian, membuat pemuda itu reflek menghirup aroma harum sabun bercampur aroma alami dari tubuh sang kakak.“Eungh! Geli, Yan!” bisik Siska setengah mengeluh, merasakan embusan napas hangat adiknya menggelitik kulit sensitif di area lengannya.“Hehehe, abisnya lo cantik banget, Kak. Bikin gue gak tahan buat nyium ketek lo,” bisik Adrian merayu sambil tersenyum usil.“Udah, gak usah mulai ngerayu, deh! Katanya tadi lo gak bakal lama dan bakal selesai, hm?” protes Siska dengan suara bergetar, meski tatapannya justru menyiratkan kalau pertahanannya mulai runtuh.Adrian tersenyum tipis, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja. “Iya, sabar bentar. Tapi ada syaratnya sebelum kita mulai, Kak.”Siska mengerutkan dahi, menata
Pintu kamar terbuka perlahan dari dalam. Adrian sempat sedikit terperanjat kaget karena tidak menyangka pintunya akan dibuka secepat itu. Namun detik berikutnya, senyum lebar merekah di wajah tampannya saat melihat sosok sang kakak tiri berdiri di ambang pintu dengan balutan pakaian tidur tipis yang menggoda.“Lo ngapain malam-malam berdiri di depan kamar gue kayak hantu gentayangan?” tanya Siska dengan nada heran bercampur curiga, melipat tangannya di dada.“Anu, Kak—“ Adrian terbata-bata, mencoba merangkai kata-kata manis untuk melancarkan misinya.Belum sempat Adrian merampungkan kalimatnya, Siska langsung mendorong pelan dada adik tirinya itu agar memberi jalan. “Udah, minggir dulu! Jangan ngalangin jalan, gue kebelet mau ke toilet!” ucap Siska cepat.Siska langsung melangkah tergesa-gesa menyusuri koridor lantai dua menuju ke arah toilet yang berada tidak jauh dari kamar mereka. Adrian yang hasratnya sudah di ubun-ubun tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Tanp
Melihat pesan tersebut, Adrian langsung tersenyum. Tanpa membuang waktu lama, jari-jarinya langsung lincah mengetikkan balasan bernada menggoda.Adrian: “Kenapa, Mbak? Lo kangen ya sama gue? Ngaku aja deh!”Tak butuh waktu lama bagi Ririn untuk membaca dan langsung membalas pesan tersebut dengan balasan yang cukup blak-blakan.Mbak Ririn Cantik: Ih, geer banget anak ini! Tapi... ya emang iya sih, gue kangen dikit. Gak ada yang biasa diajak ribut karena suka ngeliatin barang gue.Adrian terkekeh pelan membaca pesan itu. Ia tahu persis arah pembicaraan tetangga kosnya yang terkenal galak tersebut.Adrian: Wah! Emangnya kangen apa nih, Mbak? Kangen orangnya atau kangen yang lain?Ponsel Adrian kembali bergetar cepat, menunjukkan balasan dari Ririn yang diketik penuh antusias.Mbak Ririn Cantik: Dua-duanya lah, bego! Kalo dipikir-pikir lebih enak dibantuin. Lo bener-bener jago bikin gue melayang, Yan. Kapan mau main ke sini lagi?Adrian menelan ludahnya pelan. Membayangkan bagaimana nakal
Beberapa saat kemudian, ponsel yang tergeletak di dashboard mendadak berdering nyaring, menampilkan nama Rangga di layar. Dengan satu gerakan santai, Rika menyentuh tombol speaker dan langsung mengangkat panggilan tersebut. "Halo, Rangga," sapa Rika membuka percakapan sambil terus fokus memperhatikan jalan. "Rika! Sialan, gue daritadi kepikiran terus. Gimana urusan sama Siska? Aman, kan? Dia gak curiga aneh-aneh ke lo, kan?" tanya Rangga langsung memberondong dengan suara di ujung telepon yang terdengar jelas memendam kepanikan luar biasa. Rika mendengus pelan mendengar nada bicara atasannya yang terlampau tegang itu. "Santai kali, Pak Manajer. Jangan gampang parno gitu dong. Semuanya jalan dengan baik-baik aja dan gak ada hal aneh yang terjadi." "Beneran? Siska gak nanyain macam-macam soal kerjaan atau sikap gue kemarin?" cecar Rangga memastikan. "Pokoknya aman, lagian gue gak ngapa-ngapain, kok! Gue cuma basa-basi masalah kantor sebentar, terus udah," ucap Rika berbohong dengan
Viktor yang melihat perubahan ekspresi di wajah sahabatnya langsung mendekat dan mengintip layar ponsel Adrian. “Wah, siapa tuh yang nge-chat? Buset, namanya Mbak Rika Seksi? Ckckck, beruntung banget hidup lo, Yan, diincer cewek-cewek hits!” celetuk Viktor heboh sambil menaik-naikkan alisnya. “Sst, apaan sih lo, Tor! Jangan aneh-aneh!” balas Adrian salah tingkah, buru-buru mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku. Viktor menatap Adrian dengan dahi berkerut dalam, rasa penasarannya membuncah lantaran ia sama sekali tidak tahu siapa sosok yang dimaksud. “Eh, sebentar-sebentar. Siapa sih Mbak Rika Seksi itu? Kok gue gak kenal sama sekali? Perasaan teman-teman lo anak kuliahan, gak ada yang namanya sekeren itu,” cecar Viktor penasaran sambil mencolek-colek lengan Adrian. Adrian mendengus pelan, berusaha memasang wajah sesantai mungkin meski jantungnya masih berdegup sedikit cepat akibat pesan tak terduga itu. “Mana lo kenal. Itu teman sekantornya Kak Siska ya
Adrian langsung meruntuki dirinya sendiri begitu menyadari dirinya keceplosan. Dalam hatinya ia meruntuk, “Duh, gawat! Kenapa malah lidah gue yang bocor? Kalo Kak Clara sampe tau soal hubungan gue sama Kak Siska, bisa-bisa panjang urusannya!”“E-eh, maksudnya... ya rahasia kakak-adik biasa lah, Kak! Gak ada apa-apa lagi kok,” elak Adrian cepat, mencoba menutupi kegugupannya dengan senyuman lebar.Clara menyipitkan mata, menatap Adrian dengan selidik yang belum sepenuhnya reda. “Biasa gimana? Lo gak usah coba-coba nutupin sesuatu dari gue, ya, Adrian! Lo tadi jelas-jelas bilang ada hal lain yang bikin kalian berdua makin akur.”Adrian berdehem pelan, memutar otak secepat kilat untuk mencari alibi yang masuk akal agar Clara tidak mengorek masalah lain. “Dih, kepo banget sih jadi kakak! Rahasia dapur lah, masa semuanya harus dibongkar ke lo?”“Yee, dibilangin malah nyolot! Gue curiga lo sama Kak Siska lagi nyembunyiin sesuatu dari gue. Awas ya kalo kalian main rahasia berdua doang di bel







