LOGINAdrian menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang serius. Mengamati kesungguhan yang terpancar jelas dari sorot mata Viktor setelah mendengar cerita panas tentang Winda.“Lo serius, Tor?” tanya Adrian memastikan, merendahkan nada suaranya agar tidak mencuri perhatian pengunjung coffee shop lain yang mulai sepi.“Ya serius, lah! Muka gue keliatan lagi main-main emangnya? Mana ada cowok waras yang gak pengen kalau diceritain hal sehebat tadi.”“Lo mau gituan juga sama Winda?” tanya Adrian lebih spesifik, sengaja ingin menguji seberapa jauh nyali sahabatnya itu.Mendengar pertanyaan itu, nyali Viktor mendadak ciut separuh. Ia langsung menggeleng cepat sambil bergidik ngeri. “Emang bisa kalo sama Winda? Kan lo sendiri bilang dia sebel sama gue, yang ada gue disemprot sama dia kalo nekat mendekat!” balas Viktor, malah bertanya balik dengan nada panik.Adrian mendengus geli lalu menoyor pelan kepala sahabatnya. “Yeee! Si bego... malah balik nanya. Bukan gitu maksud gue!”“Ya maksud gue kan,
Adrian meminta Viktor untuk mendekatkan duduknya. Memberikan gestur rahasia seolah-olah apa yang hendak ia katakan berikutnya adalah informasi paling sakral dan terlarang di muka bumi ini.“Sini, lo ke sini dikit. Jangan keras-keras ngomongnya, nanti didengar orang sebelah,” bisik Adrian dengan seringai tipis di bibirnya.Viktor yang sudah terbakar rasa penasaran tingkat akut langsung menggeser kursinya merapat ke meja, mencondongkan tubuhnya. “Jadi gimana, Yan? Jangan bikin gue makin penasaran setengah mati gini, cepetan ceritain!” desak Viktor tidak sabar dengan suara bergetar pelan.Adrian menyesap sisa es kopi di gelasnya sebentar, lalu menatap lurus ke mata sahabatnya itu sebelum mulai membongkar rahasia panasnya bersama Winda.“Ya... gimana ya gue mulainya, Tor? Lo tau sendiri kan Winda kalo di kampus stylenya kayak gimana? Rapi, keren, modis, keliatan kayak cewek baik-baik yang gak pernah neko-neko,” ujar Adrian sengaja memancing imajinasi liar Viktor.“Iya-iya, gue tau! Makany
Viktor mendadak teringat pada suatu hari di kampus beberapa waktu lalu, ketika dosen mata kuliah yang seharusnya mengajar tiba-tiba berhalangan. Di saat jam kosong yang cukup panjang itu, Winda secara tidak terduga mengajak Adrian pergi meninggalkan area kampus dengan dalih ada urusan mendesak yang harus diselesaikan di apartemen pribadinya.Sementara Viktor yang saat itu berniat ikut malah dilarang ikut secara kasar dan ketus oleh Winda.“Gak percaya? Ya udah, terserah elo,” ucap Adrian acuh tak acuh, kembali menyesap kopinya dengan tenang.Viktor menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, menatap tajam ke arah sahabatnya seolah ingin mencari kebohongan di balik seringai tipis itu. “Jadi yang waktu itu Winda marah banget sama gue gara-gara gue maksa mau ikut lo sama dia ke apartemennya... jangan-jangan waktu itu kalian berdua emang sengaja mau begituan di sana?!” tebak Viktor, suaranya bergetar hebat karena amarah dan rasa tidak percaya yang bercampur aduk menjadi satu.Adrian tert
Adrian tersenyum penuh arti, membiarkan raut wajahnya dipenuhi misteri yang kian menyulut rasa penasaran Viktor hingga pemuda itu semakin penasaran.“Malah nyengir! Cepetan kasih tau, Yan!” cibir Viktor berbisik setengah merengek, matanya menatap Adrian tanpa berkedip.“Nanti sore aja! Jangan di kelas, gak aman,” jawab Adrian santai, lalu kembali berpura-pura fokus menatap papan tulis seolah-olah menjadi mahasiswa paling teladan di ruangan itu.Viktor mendengus kesal, tetapi ia terpaksa menahan diri sepanjang sisa jam perkuliahan. Rasa penasaran yang membakar dadanya membuat detik demi detik terasa berjalan sangat lambat.Akhirnya, sore hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Setelah mata kuliah terakhir selesai dan kelas dibubarkan, Adrian dan Viktor melangkah keluar gedung fakultas menuju sebuah coffee shop bernuansa tenang di dekat area kampus.Mereka memilih meja di sudut ruangan yang cukup berjarak dari pengunjung lain agar percakapan mereka tidak terdengar.Setelah pesanan kopi mere
Viktor tampak melongo menatap sosok wanita yang baru saja memanggil nama sahabatnya itu. Bahkan, matanya nyaris tidak berkedip sama sekali seolah sedang melihat makhluk dari dimensi lain. Sheila mengabaikan ekspresi aneh Viktor dan langsung memfokuskan pandangannya pada Adrian, menyapa juniornya itu dengan senyuman tipis yang jarang sekali ia tunjukkan kepada orang lain. “Adrian!” sapa Sheila sekali lagi sambil merapikan tas selempangnya. Adrian membalas sapaan itu dengan gestur yang sangat santai dan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka sebelumnya. “Eh, Kak Sheila. Ada apa, Kak?” tanya Adrian ramah. Sheila memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku mantel tipis yang ia kenakan, lalu berbasa-basi kecil. “Kemarin waktu pulang dari tempat kos gue, lo kehujanan di jalan gak?” tanya Sheila, memastikan keadaan juniornya itu. Adrian tersenyum lebar, “Aman, kok! Kan gue bawa mobil kemarin, Kak. Jadi gak mungkin basah kuyup,” jawab Adrian santai tanpa beban. Mendengar pe
Adrian hanya tertawa puas melihat reaksi histeris sahabatnya. Menutup kembali galeri ponselnya dengan senyuman penuh kemenangan.Sementara Viktor masih berdiri terpaku, menatap nanar ke arah layar ponsel Adrian yang kini sudah digelapkan kembali. Napasnya memburu, keringat dingin bercampur rasa tidak percaya masih jelas terlihat mengalir di pelipisnya.Otak Viktor seolah menolak untuk memproses apa yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Sosok wanita yang selama ini dikenal paling dingin, angkuh, dan disegani di lingkungan kampus ternyata bisa tak berdaya dan bertekuk lutut di hadapan sahabatnya.“Sumpah, Yan... ini beneran Kak Sheila, kan? Bukan editan aplikasi AI atau hasil editan lain, kan?” tanya Viktor dengan suara bergetar hebat, matanya masih melotot tak percaya menatap Adrian yang berdiri santai.“Heh, sembarangan banget kalo ngomong! Mana ada editan seniat dan sedetil itu, bego! Itu asli seratus persen, hasil karya gue kemarin siang sebelum gua ke kampus jemput







