ホーム / Romansa / Pelayan Cantik Milik Tuan Muda / 149. Rasa Trauma yang Menggerogoti

共有

149. Rasa Trauma yang Menggerogoti

作者: CeliiCaaca
last update 公開日: 2026-02-22 13:54:16

Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang tertutup rapat oleh tanaman merambat.

Daniel menempelkan kartu aksesnya, dan gerbang itu terbuka pelan, menampilkan jalan setapak berkerikil yang diapit oleh pepohonan rindang.

Di ujung jalan itu, sebuah bangunan kaca raksasa berdiri megah, memantulkan cahaya matahari pagi dengan kilau yang menyilaukan mata.

Diana terperangah. Dia menempelkan telapak tangannya ke kaca mobil, matanya membulat menatap struktur bangunan yang tampak
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   201. Our Happy Ending - Tamat

    Dua minggu kemudian.Taman belakang kediaman Arsenio telah disulap menjadi ruang yang sangat privat dan hangat. Tidak ada panggung tinggi, tidak ada deretan kursi emas yang berlebihan.Hanya ada sebuah altar kayu sederhana yang dihiasi bunga lili putih segar dan beberapa kursi kayu yang diatur melingkar untuk para tamu yang tidak lebih dari dua puluh orang.Langit senja Jakarta yang berwarna jingga keunguan memberikan pencahayaan alami yang jauh lebih indah daripada lampu studio mana pun.Daniel berdiri di depan pendeta, mengenakan setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna.Tangannya terlipat di depan tubuh, namun jemarinya terus bergerak gelisah, sebuah tanda gugup yang jarang ia tunjukkan. Saat musik dawai mulai mengalun lembut, pintu kaca besar menuju taman terbuka.Diana muncul dengan gaun sutra berwarna putih gading yang mengalir indah, cukup longgar untuk menyembunyikan sedikit tonjolan di perutnya namun tetap memperlihatkan keanggunannya.Ia tidak didampingi siapa pun, berjal

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   200. Debat Kecil Sebelum Pernikahan

    Lampu gantung di ruang kerja Daniel masih menyala terang meski jarum jam sudah melewati pukul sebelas malam.Di atas meja jati yang luas, tumpukan katalog vendor pernikahan mewah, mulai dari dekorasi bunga impor hingga daftar gedung hotel bintang lima berserakan.Daniel berdiri di depan jendela, menatap refleksi dirinya sendiri, sementara Diana duduk di sofa dengan wajah yang tampak lelah namun keras kepala.“Ini bukan sekadar perayaan, Diana. Ini adalah pernyataan,” ucap Daniel tanpa berbalik.“Dunia harus tahu siapa kamu. Aku ingin mereka melihat bahwa Nyonya Arsenio yang baru adalah wanita yang terhormat, bukan sekadar bayangan di rumah ini.”Diana mengembuskan napas panjang, lalu meletakkan katalog katering yang baru saja dibacanya. “Dan untuk menunjukkan itu, kita harus mengundang seribu orang yang bahkan tidak mengenal kita secara pribadi? Untuk apa, Daniel? Untuk sorotan kamera paparazzi?”Daniel berbalik, langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai kayu saat ia mendekati D

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   199. Pengakuan Diana

    “Daniel, aku ….” Diana tercekat. “Aku takut.”“Takut apa?” Daniel mengernyit, tangannya turun menggenggam jemari Diana yang bebas. “Apa Manda menghubungi lagi? Atau orang-orang Kenny?”“Bukan. Ini tentang kita,” suara Diana pecah.“Tentang masa depan rumah ini. Daniel, kamu baru saja mendapatkan ketenanganmu. Kamu baru saja membuang orang-orang yang mengkhianatimu. Aku takut ... aku takut kehadiranku hanya akan mengingatkanmu pada kekacauan itu.”Daniel terdiam seraya menatap Diana dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kenapa kamu bicara begitu? Kamu adalah alasan aku tetap waras, Diana.”“Tapi aku hanya seorang pelayan, Daniel! Di mata dunia, aku tidak pantas berada di sini. Dan jika ... jika ada sesuatu yang berubah di antara kita, aku takut kamu akan menyesal telah memilihku.”“Apa yang berubah, Diana? Bicara yang jelas!” Daniel mulai tidak sabar, namun ia tetap berusaha menahan suaranya agar tidak membentak.Diana menarik napas dalam-dalam, keberaniannya terkumpul di titik nadir.

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   198. Garis Merah di Pagi Hari

    Tiga bulan telah berlalu sejak badai di kediaman Arsenio mereda. Rumah besar itu kini terasa lebih hangat, meskipun bayang-bayang masa lalu terkadang masih melintas di sudut-sudut koridor yang sepi.Pagi itu, cahaya matahari menembus gorden kamar utama, namun Diana tidak menyambutnya dengan senyuman seperti biasa.Ia berlari kecil menuju kamar mandi, menekan dadanya yang terasa sesak. Suara muntah yang payah bergema di dalam ruangan yang didominasi marmer putih itu.Diana berpegangan erat pada pinggiran wastafel, napasnya tersengal, sementara peluh dingin membasahi pelipisnya.“Lagi,” gumamnya lirih sembari membasuh mulutnya dengan air dingin.Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya sedikit lebih pucat dari biasanya. Selama dua minggu terakhir, tubuhnya terasa sangat tidak bersahabat.Awalnya ia mengira ini hanyalah dampak dari kelelahan karena membantu Daniel merapikan administrasi rumah tangga dan yayasan yang sempat terbengkalai. Namun, frekuensi mual ini terlalu teratur un

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   197. Bukan Seorang Monster

    Jam dinding di kamar utama menunjukkan pukul sepuluh malam. Keheningan yang menyelimuti kediaman Arsenio malam ini terasa berbeda, bukan lagi keheningan yang mencekam karena rahasia, melainkan kesunyian yang lapang namun sedikit asing.Daniel berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang, memegang segelas air putih, bukan lagi wiski.Diana masuk setelah menutup pintu dengan pelan. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur sutra yang sederhana. Ia mendekat, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Daniel dari belakang, menyandarkan pipinya pada punggung pria itu.“Semuanya sudah berangkat, Daniel,” bisik Diana. “Hardy baru saja mengirim pesan. Pesawat mereka sudah lepas landas satu jam yang lalu.”Daniel mengembuskan napas panjang, bahunya yang sejak tadi tegang perlahan merosot. “Akhirnya. Rumah ini terasa benar-benar milikku sekarang. Tapi rasanya masih sangat aneh.”Diana melepaskan pelukannya dan berpindah ke samping Daniel, menatap wajah pria itu dari sampin

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   196. Keadilan dalam Pengasingan

    Kantor notaris itu terletak di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit di pusat Sudirman. Ruangannya didominasi oleh panel kayu gelap dan kaca besar yang memperlihatkan hiruk-pikuk Jakarta di bawah sana.Daniel duduk di kursi kulit yang kaku, menatap tumpukan berkas di atas meja mahoni. Di seberangnya, Notaris senior keluarga Arsenio, Pak Hendra, membersihkan kacamatanya dengan gerakan lambat yang menambah ketegangan di ruangan itu.“Anda yakin dengan nominal ini, Tuan Daniel?” tanya Pak Hendra sembari menyodorkan draf akhir. “Secara hukum, setelah pengakuan pembunuhan dan bukti DNA itu, Anda bisa saja membuat mereka tidak mendapatkan sepeser pun.”Daniel mengambil pulpen logamnya, memainkannya di antara jemari. “Aku tahu, Pak Hendra. Tapi aku tidak ingin mereka mati kelaparan di negeri orang lalu mencoba kembali ke sini untuk mengemis atau memeras. Berikan mereka aset di Kanada dan apartemen kecil di pinggiran Toronto. Itu cukup untuk hidup layak, tapi tidak cukup untuk memb

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   182. Petunjuk Abu-Abu

    SUV hitam itu berhenti tepat di depan gerbang kayu tua yang catnya sudah mengelupas. Panti Asuhan Kasih Abadi berdiri di tengah rimbunnya pohon pinus yang menyelimuti perbatasan Bogor.Udara di sini jauh lebih dingin, menusuk hingga ke tulang. Daniel turun dari mobil, diikuti oleh Diana yang masih

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   181. Jangan Takut

    Lampu depan sedan sport merah milik Kenny masih menyala terang, membelah kegelapan subuh yang dingin.Kenny melangkah keluar dari mobilnya dengan gerakan yang dibuat-buat, seolah dia sedang berada di atas panggung sandiwara.Dia merapikan kerah kemejanya yang mahal, lalu berjalan mendekati pintu pe

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   180. Rencana Perjalanan ke Panti Asuhan

    Pagi belum benar-benar pecah ketika Daniel menarik lengan Diana di lorong remang lantai dua. Jarum jam baru menunjukkan pukul empat subuh.Udara dingin pegunungan merayap masuk melalui celah ventilasi, menusuk kulit, namun ketegangan yang memancar dari tubuh Daniel terasa jauh lebih dingin.Daniel

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   179. Teror di Balik Telepon

    Lampu kamar pelayan yang ditempati Diana berpijar redup, menciptakan bayangan panjang di dinding. Di luar, suara jangkrik malam terdengar seperti detak jam yang memburu.Diana baru saja hendak merebahkan tubuhnya yang lelah ketika ponsel di atas nakas bergetar hebat. Tidak ada nama yang muncul, han

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status