Share

Bab 2. Ketahuan gituan

last update Last Updated: 2026-02-06 01:26:53

Nikita tidak langsung keluar. Dia tetap berdiri di sana, napasnya tiba-tiba terlihat tidak teratur. Tapi, tidak ada makian. Hanya matanya yang masih menatap tajam.

"K-kamu… ngapain kamu?!" bentak Nikita, nadanya masih keras seperti biasa, tapi ada getar aneh di sorot matanya yang membuat dadaku semakin sesak.

Aku menelan ludah.

‘Kenapa dia ini malah datang, sih?!’ gerutuku setengah kesal dan panik.

"Maaf, Bu… Aris cuma… gerah," jawabku beralasan, berusaha membuang muka menghindari tatapan tajamnya.

Suaraku sendiri terdengar tidak yakin di telingaku. Jantungku berdegup kencang, bukan hanya karena takut dimarahi, tapi karena aku tidak mengerti kenapa tatapannya membuatku gugup setengah mati.

Nikita masih terpaku di ambang pintu. Matanya yang tajam dan biasanya penuh kebencian itu kini meredup, seolah kehilangan pijakan.

Namun, fokusnya sama sekali tidak beralih dari balik selimut tipis yang kini kutarik semakin tinggi.

Meskipun si gatot sudah mulai lemas karena aku panik, tapi aku belum sempat menaikkan celanaku!

“Gerah kamu bilang?” suara Nikita terdengar serak, tapi justru terasa lebih menusuk.

Aku semakin bingung. Perasaanku campur aduk antara takut, salah tingkah, dan kekhawatiran berlebihan kalau-kalau dia tahu aku baru saja bersolo karir sambil menonton video miliknya.

Dia melangkah masuk satu langkah, lalu menutup pintu di belakangnya. Bunyi klik itu membuat dadaku mencelos.

Refleks, aku semakin mengeratkan peganganku pada selimut, seolah itu satu-satunya tameng yang kumiliki.

“I-iya, Bu. Tadi Aris pulang jalan kaki, terus di kamar ini kipasnya mati. Jadi Aris… Aris nggak sengaja…” ucapku terbata, kepalaku menunduk, berharap penjelasan sederhana itu cukup untuk mengakhiri situasi canggung ini.

Nikita tidak memotong ucapanku, tidak juga memaki. Dia justru berdiri diam beberapa saat, menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca, lalu berjalan ke arahku.

Aroma parfum melatinya yang menyeruak, bercampur dengan sisa suasana dari ruang kerja tadi, ditambah tatapan aneh itu membuat perutku terasa tidak enak.

Sepertinya dia memang tahu soal video itu.

Tamat sudah riwayatku!

”B–Bu, maaf Aris bikin Ibu nggak nyaman. Aris … Aris akan pergi dari sini sekarang juga,” kataku cepat, sambil bergerak asal untuk menarik celanaku naik dari balik selimut.

Sudahlah, kalau memang aku tidak bisa mengumpulkan lebih banyak bukti, lebih baik aku pergi sekarang juga. Bukti sebelumnya sepertinya sudah cukup.

Daripada aku harus terus dikuliti oleh nenek sihir ini.

Tapi, yang sama sekali tidak kuduga adalah …

SREK!

Nikita menarik cepat selimutku.

Aku langsung membelalakkan mata terkejut. “B–Bu?”

Wajah Nikita tampak tak kalah terkejut. Meskipun aku sudah berhasil menaikkan celanaku, tapi jelas gundukan itu masih terlihat jelas.

“Kamu…” katanya akhirnya, dia menatapku lebih intens yang malah membuatku semakin gila. “Berani-beraninya ngelakuin hal menjijikan di rumah ini!”

Sialan. Padahal dia lebih menjijikan!

Tapi, aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya menundukkan kepala. Setidaknya, dia tidak tahu soal video itu.

“Maaf, Bu …” lirihku.

Nikita menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu berhenti sejenak di area si gatot. Tangannya tiba-tiba terulur, sontak aku langsung sedikit mundur. Tapi, dia berhasil memegang bahuku, meremasnya pelan.

“Sepertinya, daripada menyuruhmu pergi, lebih baik aku ‘menghukummu’ lebih keras,” katanya lirih, tangan dan suaranya benar-benar menekanku.

Aku mendongak, mataku melotot kaget, mematung sesaat karena benar-benar tidak mengerti. Apalagi ketika dia menekan kata menghukum yang membuat pikiranku langsung berlarian.

Dia sudah mengusirku dan menghapusku dari daftar ahli waris, apa masih kurang?!

“T–tapi, Bu … Aris kan—”

“Gak usah banyak membantah. Mulai sekarang, kamu harus ikuti semua perintahku. Kalau nggak, kamu akan tahu akibatnya!” potongnya cepat, lalu mendorongku agak keras.

Aku semakin menegang dan terkejut. Wanita ini benar-benar gila!

"Sekarang... bersihkan badanmu. Kamu bau keringat!" Nikita mendengus galak seperti biasanya.

Setelah mengatakan itu, Nikita bergegas keluar dari kamar.

Aku bisa mendengar langkah kakinya yang cepat dan tidak beraturan di lorong.

Aku berdecak kesal dengan sikapnya yang selalu semena-mena. Sekarang, apalagi mau wanita tua itu?!

Tapi, aku segera menghela napas dan berpikir lebih positif. Setidaknya kalau aku bisa tinggal di sini, aku bisa mengumpulkan banyak bukti untuk membuatnya semakin malu. Aku yakin, nanti dia pasti akan sering main dengan Gunawan lagi.

Aku langsung menyalin video itu menjadi beberapa file, lalu menyimpannya dengan rapi. Kalau Nikita memang tahu soal video itu dan memaksaku menghapusnya, setidaknya aku masih punya salinan.

***

Keesokan paginya, aku bangun sebelum matahari sepenuhnya naik. Aku segera bangkit, mengenakan kaosku kemarin, lalu keluar menuju dapur untuk sekedar mencari air minum.

Tapi begitu berdiri di ambang ruang makan, pandanganku langsung terpaku.

Di meja makan, Vira, putri sulung Nikita, sedang duduk di kursi. Vira ini mulutnya tak kalah kejam dengan ibunya. Tapi, jelas aku tidak bisa membantahnya karena dia pasti langsung mengadu pada ibunya.

Tapi sekarang, bukan itu yang membuatku terperanga. Melainkan posisi duduknya yang gila!

Satu kakinya dinaikkan ke atas kursi, lututnya ditekuk, sementara tangannya sibuk mengoles kutek di kuku-kuku kakinya.

Daster rumahan tipis yang dipakainya pendek sekali, bahkan saat duduk begitu, ujung kainnya sudah tersingkap tinggi, memperlihatkan paha mulusnya yang terbuka lebar.

Dari sudutku berdiri, celana dalam putih tipisnya terlihat jelas, menempel ketat di bagian paling intimnya.

Glek!

Dia menunduk fokus ke kakinya sendiri, rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah. Leher gaun yang rendah itu ikut terbuka lebar karena posisinya, membuat belahan dadanya terlihat dalam dan menggoda.

Bukit kembar yang penuh tertekan sedikit oleh kain tipis itu, hampir seolah-olah mau tumpah keluar setiap kali dia menghembuskan napas.

Aku berdiri membeku di tempat, tidak bisa mengalihkan mata.

“Wow,” gumamku refleks.

Saat itu, ternyata Vira menyadarinya. Dia menoleh cepat dan menatapku terkejut, botol kuteknya jatuh ke lantai.

PRAK!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 9. Suara desahan lagi!

    Aku sempat meliriknya sekilas. Vira mematung, matanya yang tadi melotot marah kini terpaku pada dadaku.Entah apa yang sedang dia perhatikan, botol minuman di tangannya dia remas pelan. Ekspresinya yang galak mendadak berubah jadi aneh, seolah dia sedang melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat."Kenapa, Nona? Ada yang salah?" tanyaku dengan nada sedikit menantang.Vira tersentak, wajahnya langsung merona merah padam. "Apaan sih! PD banget! Aku cuma mau bilang... kerja yang bener! Jangan malah pamer badan kucelmu itu! Jijik tahu nggak!"Tapi dia belum beranjak pergi, tatapannya beberapa kali menatap dada dan bagian bawahku.Aku baru sadar, celanaku basah sehingga si gatot tercetak jelas, malah bagian kepalanya sangat terlihat jelas.“Eh!” Aku langsung menutupinya dengan tanganku.“Dasar gila!” ketusnya, nada suaranya keras tapi sedikit bergetar. Dia langsung menjauh dan berbalik dengan gerakan terburu-buru.Dan tiba-tiba…“Aaa…!” Vira terpeleset. Dengan cepat, aku berusaha men

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 8. Nafsu nenek sihir

    "Cepat, Aris... ayo masukkan sekarang..." bisiknya serak, tidak sabar.Aku tidak menunggu dua kali. Aku mulai menggesekkan kepala si gatot di pinggiran surgawi itu.Lembut, hangat, licin.‘Gila, pantes aja Gunawan kegirangan main sama ini orang. Luar aja kerasa enak gini!’ batinku bersorak.“Ahh … Aris kenapa malah dimainin begitu. Cepat masukkan!” rintih Nikita tak tahan, bahkan dia menggerakkan pinggulnya sendiri, membuat barang berhargaku seperti ingin disedot masuk.Aku menatap wajah laparnya lekat-lekat. Jika sedang seperti ini, Nikita benar-benar terlihat seperti wanita murahan yang haus sentuhan, sangat berbeda dengan Nikita si ibu tiri galak itu.“Kenapa buru-buru sekali, Bu …” kataku lirih sembari terus memainkan ujung si gatot di area kenikmatan itu.Namun, lagi-lagi Nikita menggoyangkan pinggulnya tak sabar. Wajahnya semakin merah, tatapan matanya lebih gelisah.“Ibu udah gak tahan, Aris …”Ah, aku paham sekarang. Wanita ini benar-benar bisa kehilangan akal kalau sudah di

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 7. Gairah memuncak

    Dia sengaja menggesekkan tubuhnya yang hanya terbalut sutra tipis itu ke dadaku.Sentuhan itu membuat si gatot yang tadinya sempat meredup karena takut, kini kembali menegang keras.Aku merasa seperti sedang disiksa. Bau melati di tubuhnya kini bercampur dengan bau ketakutan dan gairah yang menyesakkan."Tapi Bu...," sanggahku, meskipun tanganku sendiri sudah mulai gatal untuk membalas pelukannya.Cuma pria nggak normal yang akan diam saja setelah mendapat serangan petang seperti ini!Nikita tersenyum tipis, senyum yang sangat licik namun mematikan. Dia meraih tanganku dan meletakkannya kembali di pinggangnya yang ramping."Tugasmu hari ini belum selesai, Aris. Kamu belum benar-benar 'nurut' sama Ibu," katanya sambil menekan pinggulnya ke arahku. “Memangnya kamu tega melihat ayahmu itu tersiksa terus begitu?”Aku langsung membelalakkan mataku. Dia mau mengancamku dengan memakai ayahku?!Sialan, wanita ini benar-benar tahu cara memanfaatkan situasi.Aku hanya bisa berdiri diam, menikma

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 6. Hampir ketahuan

    Aku menggigit bibirku sendiri untuk menahan suaraku.Aku ini ingin membalas perbuatannya, tapi kenapa dia malah membuatku gila sendiri seperti ini?!“Jangan di tahan, Aris …” bisik Nikita tepat di telingaku, sesekali dia juga meniup telingaku, membuatku semakin merinding.Namun, saat tangannya ingin masuk ke dalam celanaku, tiba-tiba—Tok! Tok! Tok!"Ma! Mama sudah tidur? Vira mau pinjam catokan rambut, punyaku rusak!"Suara melengking Vira membuat kami berdua tersentak hebat. Nikita langsung menarik tangannya dengan panik dan merapikan jubahnya yang sudah sangat berantakan. Wajahnya yang tadi merona kini berubah sedikit pucat karena terkejut."Vira?! Sebentar! Mama lagi di kamar mandi!" teriak Nikita sambil memberi isyarat padaku untuk diam.“B–Bu, gimana ini?” tanyaku panik."Lama banget sih, Ma? Vira masuk ya?!" suara Vira kembali terdengar dibarengi dengan kenop pintu diputar terdengar jelas.Nikita menatapku dengan mata melotot. Dia menarik lenganku dengan kasar dan mendorongku m

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 5. Sentuhan gairah

    Nikita duduk di tepi ranjang dengan pose yang sangat santai, namun jubah mandi sutranya yang tipis itu tidak sanggup menyembunyikan lekuk tubuhnya.Karena kain jubah itu sedikit tersingkap di bagian bawah dan jatuh mengikuti lekuk dadanya, aku bisa melihat dengan sangat jelas bayangan gelap di balik kain merah marun itu.Glek!‘Gokil! Kalau video itu kusebar, pasti langsung viral. Badannya aja semontok ini!’ teriakku dalam hati.Aku bukan pria munafik, melihat seperti ini ya jelas saja membuatku tergugah.Benar-benar tidak ada tali bra atau garis celana dalam yang terlihat. Hanya kulit putih dan bayangan yang menggoda."Cepat ke sini!" panggilnya. Suaranya terdengar penuh intimidasi."I-iya, Bu. Mana yang perlu Aris perbaiki?" jawabku sambil melangkah mendekat dengan canggung karena penampilannya itu.Aku berusaha keras menjaga pandanganku agar tetap tertuju pada kotak perkakas di tanganku, meski sudut mataku terus saja mencuri pandang ke arah paha mulusnya yang menyilang itu.Nikita

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 4. Janjian di kamarnya

    Pandanganku gelap seketika. Aroma parfum bunga yang manis bercampur dengan bau kain bersih langsung menyeruak masuk ke hidungku. Refleks, aku menarik benda itu dengan tangan yang masih kotor karena tanah taman.Aku tertegun. Kainnya sangat tipis, nyaris transparan di bagian pinggirnya, dan ukurannya... benar-benar mungil."Astaga..." gumamku lirih. Aku menoleh ke arah jemuran yang berantakan, lalu kembali menatap benda di tanganku.Entah kenapa, jantungku jadi berdegup dua kali lebih cepat hanya karena memegang benda ini. Aku teringat bagaimana Vira duduk di meja makan tadi pagi dengan daster pendeknya.Apa ini miliknya?Sepertinya ukurannya pas.Membayangkan benda sekecil ini membungkus tubuhnya yang putih mulus membuat tenggorokanku tiba-tiba terasa sangat kering."Woi, Gembel! Ngapain kamu pegang-pegang barangku?!"Suara teriakan dari atas membuatku meloncat kaget. Aku mendongak dan melihat Vira berdiri di balkon lantai dua.Tiba-tiba…Byur!Prang!Dia menyiramkan sebotol air tepa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status