Share

Bab 45

Author: Leona Valeska
last update publish date: 2026-04-18 22:56:51

Emily duduk di tepi tempat tidur dengan tangan yang masih gemetar, menggenggam erat liontin perak peninggalan ayahnya. Kata-kata Kael tentang membakar hutan utara terus bergaung di kepalanya.

Jika Kael benar-benar menyulut api besok pagi, Johan yang sedang terluka parah tidak akan bisa lari. Kakaknya akan terpanggang di dalam labirin pepohonan itu tanpa sempat memberikan penjelasan lebih lanjut tentang surat wasiat di tangannya.

Ia harus bertindak. Emily segera menyelinap keluar kamar melalui c
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 66

    Perjalanan kembali ke kastil berlangsung dalam keheningan yang jauh lebih berat daripada saat mereka berangkat. Emily berkuda beberapa langkah di belakang Kael, menatap punggung tegap sang Duke yang tertutup jubah hitam.Kata-kata Kael di hutan tadi masih terngiang jelas di telinganya. Hasrat pria itu untuk membunuhnya dan Johan bukan lagi sekadar gertakan; itu adalah tujuan hidupnya.Sesampainya di kastil, kesibukan segera berpindah ke dapur. Emily membantu Lucian menyiapkan hasil buruan tersebut. Daging rusa jantan itu dipanggang dengan rempah-rempah kuat, aromanya memenuhi lorong-lorong batu yang dingin.Namun, bagi Emily, aroma itu tidak membangkitkan selera makan. Ia justru teringat pada rusa yang mati dengan sekali tembak, persis seperti bayangan Kael tentang bagaimana keluarga Dawson seharusnya berakhir.“Bawa ini ke ruang makan pribadi,” perintah Lucian sambil menyerahkan nampan perak besar. “Dan Elian, kuatkan hatimu. Tatapannya malam ini jauh lebih tajam dari biasanya.”Emil

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 65

    Kael menurunkan busurnya, namun ia tidak segera mengambil anak panah baru. Ia berdiri tegak, memunggungi Emily sambil menatap arah lari rusa yang baru saja lolos.Hening di hutan itu terasa menekan, hanya diselingi suara gesekan dedaunan. Emily mengepalkan tangannya di samping tubuh, mencoba menetralkan degup jantungnya yang liar. Pertanyaan Kael tentang pengkhianatan tadi terasa seperti umpan yang sangat berbahaya.Emily menarik napas panjang, mencoba memberanikan diri. Ini adalah kesempatan paling terbuka yang ia miliki untuk menggali pola pikir Kael.“Tuan Duke,” panggil Emily lirih. “Jika pengkhianatan begitu menyakitkan bagi Anda... bolehkah saya bertanya satu hal?” tanyanya kemudian.Kael tidak menoleh, namun bahunya sedikit bergerak. “Katakan.”“Kenapa Anda begitu yakin bahwa Lord Dawson melakukan korupsi puluhan tahun lalu? Maksud saya, dia adalah orang yang sangat dipercaya oleh mendiang Raja. Tidakkah ada kemungkinan bahwa bukti-bukti itu dimanipulasi oleh orang lain?”Kael

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 64

    Udara di perbatasan utara terasa jauh lebih menusuk dibandingkan area kastil. Hutan pinus yang lebat menelan cahaya matahari, menyisakan bayangan-bayangan panjang yang menari di antara pepohonan.Kael berkuda di depan dengan langkah mantap, sementara Emily mengikuti di belakang menggunakan kuda yang lebih kecil, membawa kantong kulit berisi persediaan air dan anak panah cadangan.Kael tidak banyak bicara sejak meninggalkan kastil. Wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya. Masalah korupsi di proyek Bendungan Perbatasan Utara telah menyita waktu tidurnya selama seminggu terakhir.Para pejabat yang ia percayai ternyata menilap dana pembangunan, membuat pondasi bendungan itu terbengkalai dan mengancam keselamatan ribuan warga di hilir.“Berhenti di sini,” perintah Kael pelan.Ia turun dari kudanya dengan gerakan yang sangat tangkas. Emily segera menyusul, menambatkan tali kekang kuda pada dahan pohon yang rendah.Kael mengambil busur panjangnya yang terbuat dari kayu hitam yang dipoles m

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 63

    Di pagi harinya, Emily masuk dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar terdengar tenang. Kepalanya masih sedikit pening karena kurang tidur, namun ancaman Kael semalam membuatnya tidak punya pilihan selain tampil sempurna.Kael sudah duduk di balik meja besarnya. Ia tidak mengenakan jubah kebesarannya, hanya kemeja putih dengan kerah terbuka dan rompi hitam.Lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang tegang saat ia menulis sesuatu dengan pena bulu.“Kau tampak sudah sembuh, Elian,” ucap Kael tanpa mengangkat wajah dari kertasnya.“Berkat kemurahan hati Anda, Tuan Duke. Istirahat semalam sangat membantu,” jawab Emily sambil meletakkan nampan berisi kopi pekat dan roti gandum di sisi meja yang kosong.Kael hanya bergumam pendek, lalu menunjuk ke arah sudut ruangan, di mana beberapa peti kayu besar terbuka dengan dokumen yang meluap keluar.“Arsip dari lima tahun yang lalu. Semuanya berantakan karena pemeriksaan semalam. Rapikan kembali berdasarkan ta

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 62

    Emily melangkah masuk ke dalam dapur dengan tungkai yang terasa lemas. Begitu daun pintu tertutup rapat, ia merosot ke lantai, menyandarkan punggungnya pada kayu pintu yang dingin.Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ancaman Kael tentang membedah perutnya masih terngiang dengan sangat nyata, seolah bilah pisau Duke itu sudah menyentuh kulitnya.“Emily!” sebuah bisikan tajam memecah kesunyian.Lucian muncul dari balik bayangan rak penyimpanan gandum. Wajah pria tua itu pucat pasi di bawah cahaya lilin yang hampir habis. Ia segera menghampiri Emily, namun bukannya membantu gadis itu berdiri, ia justru mencengkeram bahu Emily dengan gusar.“Kau gila? Apa yang kau pikirkan dengan keluar di saat seperti ini?” desis Lucian. Matanya melotot, memancarkan kepanikan yang murni. “Aku melihat lampu minyak itu dari jendela atas. Itu Duke Kael, bukan? Kau tertangkap olehnya?”Emily hanya bisa mengangguk lemah. Suaranya tercekat di tenggorokan.“Bodoh! Benar-benar bodoh!” Lucian melepaskan cengkeramann

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 61

    Emily masih membeku di tempat. Seluruh otot di tubuhnya menegang, dan untuk sesaat, ia lupa bagaimana cara bernapas. Udara malam yang dingin terasa semakin mencekik saat Kael melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka.“Aku bertanya padamu, Elian,” geram Kael dengan suara rendahnya. “Apa yang dilakukan pelayan pribadiku di dekat jalur pengangkutan limbah pada jam seperti ini dengan pakaian yang bukan seragamnya?”Emily merasakan keringat dingin membasahi punggungnya di balik jubah cokelat kusam itu. Ia harus bicara. Jika ia diam terlalu lama, Kael akan langsung menyeretnya ke ruang bawah tanah.Emily segera merosot ke tanah, menjatuhkan lututnya di atas rumput basah. Ia melipat tubuhnya, menekankan kedua telapak tangannya ke perut dengan kuat.“Ugh... maafkan saya, Tuan Duke,” rintih Emily sambil memejamkan mata erat-asat, mencoba memanggil rasa sakit yang nyata ke wajahnya. “Perut saya... perut saya melilit hebat sejak satu jam yang lalu.”Kael tidak bergerak. Ia berdiri dia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status