Share

Bab 52

Author: Leona Valeska
last update publish date: 2026-04-21 22:55:05

Matahari baru saja naik ketika kereta kuda hitam milik Duke Ravenshire berhenti di depan gerbang Kantor Gubernur. Udara pagi masih terasa dingin, namun suhu di dalam kereta jauh lebih membekukan.

Emily duduk di sudut, memangku tas kulit tebal berisi dokumen-dokumen proyek Pelabuhan Aethelgard. Kael duduk di hadapannya, diam mematung dengan tatapan lurus ke depan. Pria itu tampak seperti patung marmer yang dipahat dari kebencian dan ketegasan.

Selama perjalanan, Kael tidak mengucapkan sepatah ka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Leona Valeska
saya update 2 bab sehari ya Kak. nanti insya Allah saya update 3-4 bab sehari mulai bulan depan (⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
goodnovel comment avatar
may cus
kalo bisa di banyakin y thoor up nyaa... semangaat
goodnovel comment avatar
may cus
AQ suka novelmu thoor... pengen baca terus.., tp sayang up nya ga banyak jadii ngegantung
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 73

    Gedung Bea Cukai Lama itu berdiri seperti raksasa yang sekarat di ujung dermaga. Pilar-pilar batunya yang bergaya kolonial telah menghitam akibat polusi jelaga dan kelembapan laut selama puluhan tahun.Suasana di sana sunyi, hanya deru angin laut yang membawa bau amis dan kayu busuk. Emily turun dari kudanya, menatap fasad bangunan yang tampak angker di bawah cahaya bulan yang tertutup awan tipis.“Sisir setiap lantai!” perintah Kael. Suaranya memecah keheningan malam dengan otoritas yang tak terbantahkan. “Jangan biarkan satu tikus pun meloloskan diri. Jika kalian menemukan Johan, bawa dia hidup-hidup padaku.”Para prajurit bergerak cepat, mendobrak pintu jati besar yang sudah lapuk dengan sekali hantam. Mereka masuk dengan obor di tangan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding.Emily mengikuti di belakang Kael, langkah kakinya terasa berat di atas lantai marmer yang retak dan berdebu. Namun, setelah pencarian selama lima belas menit, gedung itu tetap membisu. T

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 72

    Suara denting baja yang beradu dengan logam memenuhi lorong sempit itu saat bayangan pertama menerjang dari kegelapan. Kael tidak menghindar.Dengan satu gerakan fluid yang sangat cepat, ia memutar tubuhnya, membiarkan bilah pedang lawan lewat hanya beberapa sentimeter dari dadanya, lalu menghunjamkan pedangnya sendiri tepat ke celah pelindung leher penyerang itu.“Satu,” gumam Kael dingin.Emily memejamkan mata, memalingkan wajah saat darah memuncrat ke dinding bata yang berlumut. Namun, kekacauan tidak berhenti di sana.Puluhan perampok turun dari tangga besi bangunan, berteriak liar sambil mengayunkan parang dan belati. Para prajurit Kael segera bergerak seperti mesin perang yang terlumuri minyak; setiap ayunan pedang mereka berarti satu nyawa melayang.“Vane! Ambil sisi kiri, jangan biarkan ada yang memanjat kembali!” perintah Kael sambil menebas tangan lawan yang mencoba meraih tali kekang kuda Emily.“Siap, Tuan Duke!” Vane menerjang maju, menabrakkan perisainya ke kerumunan pen

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 71

    Kuda-kuda dalam rombongan itu mendengus gelisah, langkah kaki mereka bergema di atas jalanan berbatu distrik selatan yang lembap.Kabut tebal yang bercampur dengan jelaga batubara dari pabrik-pabrik jauh, menyelimuti lorong sempit itu hingga jarak pandang hanya tersisa beberapa meter.Lampu-lampu gas di dinding bangunan kumuh itu berkedip lemah, tidak cukup kuat untuk menembus kegelapan yang menekan.“Tetap dalam barisan!” perintah Vane dengan suara rendah namun tegas.Emily merapatkan jubahnya, jemarinya mencengkeram tali kekang kuda dengan buku jari yang memutih. Tepat saat mereka melewati sebuah bangunan gudang tua yang jendelanya sudah pecah, suara siulan tajam membelah udara.Zing! Zing!“Serangan!” teriak salah satu pengawal di depan.Rentetan anak panah melesat dari kegelapan lantai atas bangunan-bangunan kumuh di sisi kiri dan kanan. Emily tersentak kaget, kudanya meringkik dan berdiri di atas dua kaki belakangnya. Gadis itu hampir saja terlempar ke aspal basah jika tidak sege

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 70

    “A-ada yang saya bantu, Tuan?” tanya Emily yang kini berdiri mematung di tengah ruangan yang remang. Arang kecil di tangan Kael seolah menjadi bukti mutlak yang akan menyeretnya ke tiang gantungan.Kael terdiam sejenak dengan tatapan matanya yang begitu menghunus yang membuat Emily harus menyembunyikan kegugupannya.“Informan dari distrik selatan baru saja kembali. Mereka melihat pria dengan ciri-ciri Johan masuk ke sebuah rumah petak di dekat dermaga lama dua jam yang lalu.”Emily menelan ludah, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. “Dermaga lama? Apakah Anda yakin itu dia, Tuan?”“Ciri-cirinya tidak mungkin salah. Luka parut di pelipis dan cara dia berjalan,” Kael memukul peta itu tepat di titik distrik selatan. “Dia bersembunyi di sarang tikus itu, mengira bau limbah bisa menutupi jejaknya. Dia salah besar.”Kael berbalik, matanya berkilat karena gairah berburu yang meluap-luap. “Elian, siapkan perlengkapan perangku. Armor kulit ringan, pedang ganda, dan pastikan anak panahku di

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 69

    Lampu minyak di atas meja kayu kecil di sudut kamar Emily bergoyang pelan, menyebarkan cahaya kuning yang tidak stabil. Dengan tangan yang masih gemetar, Emily mengeluarkan kancing perak yang ia temukan di halaman belakang.Logam itu terasa dingin dan berat. Ia kemudian membentangkan kertas kecil berisi catatan sandi yang ia buat dari ruang kerja Kael tadi pagi.Inisial 'V' pada kancing itu terus menatapnya. Emily mulai mencocokkan pola garis melingkar di sekitar huruf tersebut dengan simbol-simbol yang ia catat. Dalam sandi keluarga Dawson, garis melingkar sering digunakan untuk melambangkan jabatan “Penasihat” atau “Pemegang Segel”.“V... Victor,” bisik Emily.Nama itu muncul di kepalanya seperti hantaman godam. Lord Victor adalah penasihat keuangan senior yang telah melayani keluarga Duke selama dua generasi. Dialah yang pertama kali melaporkan kejanggalan audit dana kerajaan yang menyeret nama ayah Emily.Jika Victor adalah orang yang ditemui Elena malam itu, maka semuanya masuk a

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 68

    Lampu minyak yang dibawa Emily sengaja ia redupkan hingga hanya menyisakan pendar kecil. Ia melangkah keluar melewati pintu dapur yang jarang dikunci, menyelinap ke arah sayap barat kastil yang sudah lama tidak terjamah.Halaman belakang ini dulunya adalah kebanggaan Lady Elena, namun kini hanya menjadi hamparan semak belukar dan dahan mawar liar yang kering.Emily menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. Informasi dari Lucian tentang pertemuan rahasia Elena di tempat ini menjadi satu-satunya petunjuk yang paling masuk akal.Ia harus menemukan bukti fisik, sekecil apa pun, yang tertinggal di area yang menurut pelayan lama menjadi titik buta penjaga.“Pintu samping di dekat pohon oak,” gumam Emily pelan, mengingat arahan Lucian.Ia menyibak semak berduri dengan ujung sepatunya, berusaha tidak menimbulkan suara derak yang terlalu keras. Langkahnya terhenti saat ia melihat dinding mawar yang begitu lebat hingga menutupi sebagian tembok batu kastil.Di balik jalinan ba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status