Mag-log in"Apa maksudmu dengan teknik simpul mati?" Emily menatap Johan dengan napas yang tertahan di tenggorokan.Johan memutar gelang itu di bawah temaram bara api, menunjukkan jalinan seratnya yang rapat."Ibu tidak menggunakan benang biasa, Emily. Aku tidak mau membuang gelang anyaman ini karena benda ini dibuat secara khusus dengan teknik simpul mati oleh ibu kita sendiri menggunakan serat akar pohon utara. Jadi, jangan harap kau bisa menemukan di pasar mana pun gelang dengan pola kembar seperti ini. Ini murni tanda pengenal klan kita."Mendengar penjelasan itu, Emily mendadak tersentak hebat. Tubuhnya menegang kaku, dengan mata membola sempurna menatap pola simpul hitam tersebut.Ingatannya mendadak terlempar ke malam di mana ia membersihkan ruang kerja pribadi Kael, malam di mana ia tak sengaja membuka sebuah kotak beludru kecil yang tersembunyi di balik laci rahasia sang Duke."Emily? Hei!" Johan menepuk bahu adiknya dengan kasar, menyadari perubahan drastis pada gestur tubuhnya. "Ada a
Saat hendak membantu merapikan isi tas Johan yang berantakan, jemari Emily tak sengaja menyentuh sebuah benda asing di dasar kantong kulit.Ia menariknya perlahan, mengeluarkan sebuah gelang anyaman hitam dengan manik-manik batu gunung kuno yang tampak kusam. Emily tertegun, memperhatikan pola anyamannya yang terasa sangat familier."Kak... ini..." Emily menggantung kalimatnya, matanya tak berkedip menatap benda tersebut. "Aku pernah melihat ini sekilas di tasmu waktu kita masih di gubuk."Johan menoleh, menghentikan aktivitasnya merapikan tabung-tabung bambu berisi racun. Tatapannya yang semula keras perlahan melunak saat melihat benda yang berada di genggaman adiknya."Simpan itu baik-baik," kata Johan, suaranya merendah, kehilangan nada sarkas yang biasanya mendominasi. "Itu adalah gelang milikmu sendiri, Emily."Emily mengernyitkan dahi, membolak-balikkan gelang anyaman tersebut di bawah cahaya remang api unggun. "Milikku? Bagaimana bisa ada padamu?""Benda itu tertinggal di laci
Di dalam kegelapan malam pegunungan yang dingin, Johan akhirnya mengiyakan permintaan nekat Emily.Pria itu bangkit berdiri, bergerak lincah dan tanpa suara menyusuri sekitar gua untuk mencari beberapa tanaman liar dan akar beracun tambahan guna melengkapi sisa bahan-bahan mentah yang sudah dia miliki di dalam kantong tas kulitnya.Jemarinya yang kasar dengan cekatan mencabut beberapa batang kecubung es yang tumbuh tersembunyi di sela-sela batuan beku.Setelah dirasa cukup, Johan kembali ke dekat ceruk tanah. Ia meletakkan sebatang batu landasan yang permukaannya rata, lalu mulai menumbuk akar-akar tersebut dengan batu lain yang lebih kecil. Suara tumbukan batu yang ritmis beradu dengan deru angin badai di luar gua.Sembari menumbuk akar-akar tersebut, Johan mendengus geli. Ia melirik adiknya yang sejak tadi duduk gelisah sembari meremas jemarinya sendiri."Kau tahu, Emily?" Johan membuka suara, menyindir adiknya dengan senyum miring yang terukir di wajahnya yang penuh bekas luka. "Ak
Johan tertegun mendengar ide gila adiknya. Mulutnya sempat sedikit terbuka, tidak menyangka bahwa gadis yang dulu hanya ia ketahui sibuk dengan resep pai daging di dapur kastil kini mampu menelurkan taktik infiltrasi sesadis ini.Namun, perlahan-lahan, ketertarikan muncul di wajahnya yang penuh bekas luka. Kerutan di dahinya mengendur, digantikan oleh binar mata seorang predator yang melihat celah berburu yang sempurna di tengah kepungan musuh."Meracik ekstrak pelumpuh saraf dari balik kabut?" Johan mengulang kalimat itu dengan nada rendah, menimbang setiap risiko taktis di dalam kepalanya."Itu taktik yang biasa digunakan oleh unit bayangan Aliansi Barat untuk menyusup ke benteng logistik."Emily meyakinkan kakaknya dengan anggukan mantap, matanya berkilat penuh penekanan di bawah pendar sisa api unggun. Ia tahu betul latar belakang kakaknya selama bertugas di perbatasan utara.Emily menjelaskan bahwa dia tahu Johan bisa membuat racun herba tradi
Johan menegaskan kepada adiknya bahwa memikirkan Kael akan mendengarkan mereka di tengah hutan ini adalah hal yang paling konyol dan naif yang pernah Emily pikirkan di dalam otaknya.Ia melangkah mendekati Emily, menatapnya dengan tatapan yang seolah ingin menembus tempurung kepala adiknya agar menyadari kegilaan situasi mereka."Buka matamu, Emily! Hapus fantasi pelayan istanamu itu!" desis Johan, suaranya bergetar menahan geram yang tertahan."Kita tidak sedang berada di ruang dansa kastil di mana kau bisa merayu pria itu dengan segelas teh lavender! Ini adalah medan tempur mati!"Johan membeberkan realitas taktis yang mereka hadapi saat ini dengan sangat gamblang tanpa menyembunyikan satu pun fakta mengerikan.Mereka saat ini hanya tinggal berdua dengan persediaan senjata yang sangat terbatas, satu busur dengan anak panah terakhir dan sebilah belati berburu, sedangkan prajurit yang dibawa Kael sangat banyak, bersenjata lengkap, dan terlatih dala
Johan mendengarkan penjelasan adiknya dengan helaan napas panjang yang sarat akan rasa tidak percaya.Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa kaku oleh hawa dingin, lalu menatap Emily seolah-olah gadis itu baru saja menyarankan agar mereka menjinakkan badai salju utara dengan lambaian tangan."Kau dan Lucian benar-benar pasangan pemimpi yang serasi," kata Johan, suaranya ditekan rendah namun penuh dengan penekanan yang menuntut realitas."Mengobati luka batin seorang penguasa militer bukanlah perkara menyanyikan lagu pengantar tidur, Emily! Membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa membuat Kael berpikir dan menyadari bahwa apa yang dia percayai serta lakukan selama dua puluh tahun ini adalah sebuah kesalahan besar.“Pria itu dibesarkan di barak parit yang penuh darah, dikhianati oleh tunangannya sendiri, dan kau mengira dokumen kertas ini bisa meruntuhkan keyakinannya dalam semalam?"Johan mengambil sebilah ranting, lalu mematatahkan menjadi dua
Gema teriakan prajurit di tengah hutan membuat situasi kian membingungkan bagi pasukan Ravenshire yang baru tiba di perimeter utama. Hutan utara yang biasanya sunyi kini riuh oleh kepanikan kolektif militer.Dari kejauhan, desas-desus tentang penyamaran yang terbongkar itu mulai menyebar cepat di a
Mendengar namanya dipanggil dengan lantang di tengah hutan beku, Johan tidak berniat menyerah begitu saja. Harga dirinya sebagai mantan ksatria utara menolak tunduk pada gertakan pasukan kavaleri."Meletakkan senjata? Jangan harap, anjing-anjing kerajaan!" geram Johan di sela deru napasnya yang mem
Kata-kata getir Johan masih menggantung di udara yang pengap, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara dua bersaudara itu.Sepasang mata Emily bergetar, bibirnya terbuka ingin menyangkal argumen kakaknya yang begitu menyudutkan batin. Namun, belum sempat Emily membalas perkataan kakaknya, a
Debat argumen terjadi di antara dua bersaudara Dawson di dalam gubuk yang mulai berasap tipis akibat pembakaran dokumen di tungku besi.Udara di dalam ruangan terasa kian menyesakkan, bukan hanya karena partikel abu yang beterbangan, melainkan juga karena ketegangan ideologi yang merayap di antara







