Share

Bab 5

Author: Leona Valeska
last update publish date: 2026-04-01 15:50:10

Emily dan Lucian tersentak hebat, seolah-olah sebilah belati baru saja menancap di lantai tepat di antara kaki mereka. Pria yang berdiri di ambang pintu itu bukan sekadar manusia; dia adalah maut yang terbungkus dalam jubah bulu serigala hitam.

Duke Kael berdiri dengan tangan bersedekap, matanya yang abu-abu berkilat tajam di bawah cahaya lampu aula yang temaram.

Emily merasa lidahnya mendadak kelu, sementara jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut detaknya akan memantul di dinding batu kastil.

Ia mencoba menutupi bagian belakang celananya dengan gerakan kaku, berdoa agar bayangan di pojok ruangan cukup gelap untuk menyembunyikan noda merah yang mulai melebar.

“Tuan Duke!” Lucian adalah yang pertama kali menguasai diri. Dia segera melangkah maju, memasang badan di depan Emily seolah-olah sedang melindungi adiknya sendiri.

“Maafkan kami, Tuan. Kami tidak bermaksud berbisik-bisik. Saya hanya sedang memberitahu Elian tentang ... tentang pasokan daging rusa di gudang.”

Kael menaikan alisnya dengan tatapan curiga pada dua orang di hadapannya itu. “Daging rusa? Sejak kapan pelayan pribadi punya urusan dengan stok daging di gudang?”

“Itu ... kami sedang mendiskusikan hidangan spesial untuk pesta para bangsawan nanti, Tuan,” Lucian mencoba tersenyum, meski otot rahangnya tampak sangat tegang.

“Elian bilang Anda menyukai bagian paha belakang yang empuk, jadi saya menyarankan agar kami menyimpannya secara khusus agar tidak diambil pelayan lain.”

Kael menyipitkan mata lalu berjalan mengitari Lucian, dan mendekati Emily yang masih menunduk dalam.

Aroma sabun kasar pelayan dan bau karat yang samar dari darah Emily mulai memenuhi indra penciuman sang Duke yang tajam. Kael merunduk, mencoba menangkap mata Emily yang terus menghindar.

Baru saja Kael hendak membuka mulut untuk melontarkan interogasi yang lebih mematikan, suara lonceng besar di gerbang depan kastil berdentang tiga kali dengan nada darurat.

“Tuan, Duke! Mohon maaf, Tuan. Kami diperintahkan untuk berbaris di aula kastil. Pasukan kerajaan telah tiba untuk mencari buronan keluarga Dawson,” ucap salah satu prajurit yang sedang mengumpulkan seluruh pelayan kastil.

Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan cepat menuju aula depan dengan langkah tegapnya. Sementara Emily dan Lucian saling pandang dengan napas terengah, namun ketakutan mereka belum berakhir.

“Ikut aku,” bisik Lucian sambil menarik lengan Emily. “Kita harus berbaris di aula.”

“Ta-tapi, Lucian. Mereka sedang mencariku. Bagaimana jika aku ketahuan dan dibawa kembali ke penjara sana?” tanya Emily cemas.

Lucian menghela napas panjang. “Tetap berada di dekatku, Emily. Aku akan memastikan kau selamat dari kejaran prajurit raja itu.”

Lucian menggenggam tangan Emily kemudian membawanya ke aula.

Saat mereka tiba di aula besar, suasana sudah mencekam. Puluhan pelayan pria sudah berbaris rapi di bawah pengawasan ketat prajurit Ravenshire.

Di tengah ruangan, berdiri tiga orang prajurit berpakaian zirah lengkap dengan lambang matahari emas di dada mereka, prajurit pusat dari Ibukota. Yang lebih mengerikan adalah dua ekor anjing pelacak besar berbulu cokelat gelap yang sedang mengendus-endus lantai dengan suara napas yang berat.

“Duke Kael,” salah satu prajurit pusat bicara dengan nada angkuh. “Kami mendapat perintah langsung dari Raja untuk menggeledah setiap sudut wilayah Utara. Emily Dawson terlihat melarikan diri ke arah ini dua minggu yang lalu. Kami membawa anjing yang sudah mencium aroma pakaian terakhirnya di penjara bawah tanah.”

Emily merasa dunianya runtuh. Dia sedang dalam masa datang bulan. Darah yang merembes di celananya bukan hanya sekadar kotoran, tapi itu adalah identitas biologis yang paling kuat.

Anjing-anjing itu tidak akan kesulitan mencium bau darah segar, apalagi jika bau itu berasal dari seorang wanita yang sedang mereka cari.

Emily meremas ujung seragamnya, hingga keringat mulai membasahi pelipis dan telapak tangannya. Ketakutan yang murni membuat penglihatannya sedikit mengabur.

“Tenanglah,” bisik Lucian sambil meraih tangan Emily dan menggenggamnya kuat-kuat di balik barisan. “Jangan gemetar. Kalau kau gemetar, Duke akan melihatmu. Tarik napas, Emily. Bersikaplah normal seolah kau hanya pelayan bodoh yang takut pada anjing.”

“Tapi bau darah ini,” bisik Emily nyaris hendak menangis.

“Anjing itu dilatih mencari aroma tubuhmu, bukan sekadar darah. Fokus pada pernapasanmu,” Lucian mencoba menguatkan, meski Emily tahu Lucian pun sedang bertaruh nyawa.

Prajurit pusat mulai berjalan di sepanjang barisan pelayan. Anjing-anjing itu mengendus setiap sepatu, setiap ujung celana pelayan dengan teliti.

Sementara Duke Kael berdiri di ujung ruangan, mengamati proses itu dengan wajah datar, namun matanya yang tajam menyapu setiap reaksi bawahannya.

Anjing pertama mulai mendekat ke arah Emily. Hewan itu berhenti di depan pelayan di samping Lucian, lalu bergerak maju.

Emily memejamkan matanya, merasakan hidung anjing yang basah mulai mengendus udara di dekat kakinya. Detak jantungnya terasa seperti genderang perang yang siap meledak.

Saat moncong anjing itu hampir menyentuh kain celana Emily yang bernoda, Lucian melakukan sesuatu yang gila.

“Ugh! Aaakh!”

Tiba-tiba, Lucian jatuh tersungkur ke lantai. Tubuhnya mulai mengejang hebat, dengan kedua tangannya mencakar udara, dan mulutnya mengeluarkan busa putih yang sebenarnya adalah gumpalan sabun kecil yang sempat ia selipkan di mulutnya saat berlari ke aula tadi.

“Lucian!” teriak Emily spontan dan berpura-pura panik.

Suasana aula langsung kacau. Para pelayan berhamburan mundur karena terkejut. Anjing pelacak itu tersentak kaget oleh gerakan mendadak Lucian dan mulai menggonggong keras, menarik perhatian semua orang di ruangan itu.

“Apa yang terjadi?!” teriak prajurit pusat.

“Sepertinya dia keracunan!” teriak salah satu pelayan senior. “Dia baru saja makan sup di dapur!”

Kael melangkah maju dengan cepat dan melihat Lucian yang terus kejang-kejang dengan dramatis di lantai. Emily dengan cerdik langsung berlutut di samping Lucian, membelakangi anjing pelacak tersebut sehingga tubuhnya terlindungi dari endusan hewan itu.

Ia menggunakan kesempatan ini untuk menyeka keringat di wajahnya dan mengatur napas.

“Bawa dia ke tabib!” perintah Kael dengan nada gusar.

Prajurit pusat tampak kesal karena proses pencarian mereka terganggu. Mereka menarik anjing-anjing yang masih menggonggong liar itu menjauh dari kerumunan pelayan yang sedang sibuk menolong Lucian.

Emily menoleh ke arah para prajurit itu lalu menghela napas lega. ‘Syukurlah. Terima kasih, Lucian. Jika kau tidak menolongku hari ini, mungkin para prajurit itu sudah membawaku dan membunuhku saat ini juga,’ ucapnya dalam hati.

“Elian?”

Emily tersentak kaget saat Kael memanggil namanya. “Ya, Tuan?” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 15

    Udara di dalam gua terasa membeku, seolah-olah dinginnya batu meresap langsung ke dalam sumsum tulang.Di luar, badai salju menderu-deru, menutup mulut gua dengan tirai putih yang tebal.Satu api unggun kecil di tengah ruangan hanya menyisakan bara merah yang lemah, memberikan cahaya remang yang tidak cukup untuk mengusir kegelapan di sudut-sudut gua.Para prajurit tidur dalam barisan yang rapat di sisi lain gua, saling berbagi kehangatan dari tubuh masing-masing.Namun, sebagai pelayan pribadi, Emily tidak memiliki kemewahan untuk bergabung dengan mereka.“Elian. Kemari,” ucap Kael dengan suara beratnya.Emily yang sedang mencoba menggosok kedua telapak tangannya yang membiru, menoleh dengan ragu.“Suhu di sini bisa membunuhmu dalam satu jam jika kau tidur sendirian di pojok itu,” ucap Kael tanpa membuka mata. “Tidur di sini. Kita harus berbagi panas tubuh agar tidak membeku sebelum pagi.”Emily menelan ludah. “Tuan Duke, saya ... saya bisa tidur di dekat api unggun. Saya tidak ingin

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 14

    Malam telah tiba.“Cepat ikat kembali peti-peti itu! Kita harus segera mencari tempat berteduh sebelum badai ini menutup jalur!” teriakan Komandan Penjaga memecah suara angin.Emily bergegas menghampiri kuda cokelatnya yang membawa pasokan senjata cadangan. Tangannya yang masih kaku akibat kedinginan mencoba menarik tali pengikat yang mulai membeku.Jalur yang mereka lalui kini menjadi sangat berbahaya; sisi kanan adalah dinding tebing hitam yang tegak lurus, sementara sisi kiri adalah jurang dalam yang tertutup kabut dan salju.Tiba-tiba, kuda logistik di depan Emily meringkik panik. Tanah lumpur yang bercampur salju di bawah kaki hewan itu amblas. Kuda itu tergelincir, kaki belakangnya menggantung di udara.“Tunggu! Jangan jatuh!” teriak Emily tanpa pikir panjang.Ia lalu melompat dari kudanya dan menerjang maju, mencoba mencengkeram tali kekang kuda yang tergelincir itu agar tidak terseret jatuh ke jurang.Namun, berat beban peti senjata dan kekuatan tarikan kuda yang panik justru

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 13

    “Kenapa diam saja?” ucap Kael yang terdengar sangat datar dan tidak sabar. “Potong kulitnya dari bagian persendian kaki belakang. Tarik ke bawah.”Emily menelan ludahnya sambil berusaha menahan rasa mual yang mendesak di tenggorokannya.Ia lalu memposisikan mata pisau di atas kulit rusa yang masih hangat. Saat logam tajam itu menyobek lapisan kulit luar, suara robekan jaringan tubuh hewan itu terdengar nyata di telinganya.Emily memejamkan mata sejenak, sementara jemarinya yang pucat kini mulai berlumuran cairan merah yang lengket.Lucian, yang berdiri tak jauh dari sana sambil memegang nampan kayu kosong, menatap Emily dengan tatapan iba.Ia tahu Emily adalah seorang wanita yang tidak pernah menyentuh bangkai seumur hidupnya. Lucian ingin sekali merebut pisau itu dan menyelesaikannya dalam sekejap, namun ia sadar bahwa Kael sedang mencari alasan untuk menghukum mereka lebih berat.Dengan langkah pelan, Lucian mendekat seolah-olah ingin memberikan nampan tersebut kepada Emily agar dag

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 12

    Selama perjalanan yang melelahkan, mereka tak kunjung menemukan makanan yang bisa mereka makan.Perut Emily melilit perih, rasa lapar mulai mengikis konsentrasinya, namun ketegangan di sekitarnya jauh lebih menyiksa daripada rasa lapar itu sendiri.Di depannya, Duke Kael memacu kudanya dengan pelan, punggungnya tegak lurus, menolak untuk menunjukkan kelelahan sedikit pun.Di punggung Kael tersampir busur besar yang terbuat dari kayu hitam yang diperkuat dengan lempengan besi di bagian tengahnya. Emily menatap busur itu dengan perasaan ngeri.Ia tahu seberapa besar tenaga yang dibutuhkan untuk menarik tali busur sekuat itu, dan ia tahu seberapa mematikan akurasi sang Duke.Tiba-tiba, Kael mengangkat tangannya. Pasukan di belakangnya berhenti seketika tanpa suara. Kael turun dari kuda, dia bergerak seperti seringan kucing hutan meski ia mengenakan zirah besi.Ia mengambil busur besarnya, memasang anak panah dengan ujung perak yang tajam, dan mulai membidik ke arah semak belukar di kejau

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 11

    Kegelapan di Hutan Obsidian tidak seperti kegelapan di pinggiran kota. Di sini, cahaya bulan seolah tertelan oleh tajamnya dahan-dahan pohon hitam yang saling mengunci di atas kepala.Emily duduk meringkuk di atas akar pohon yang keras sambil memeluk lututnya erat-erat. Di sekelilingnya, para prajurit Duke Kael tertidur dengan tangan tetap menggenggam hulu pedang, sementara api unggun kecil di tengah perkemahan hanya memberikan kehangatan yang minim.Auuuuuuu—Lolongan serigala membelah kesunyian malam, terdengar sangat dekat dari balik semak berduri di sisi barat.Tubuh Emily tersentak hebat. Suara itu bukan sekadar suara binatang baginya; itu adalah suara yang membangkitkan memori paling kelam dalam hidupnya.Ia seolah kembali ke malam di mana ibunya berteriak kesakitan, dengan kaki yang koyak dan darah yang mengalir deras setelah diserang oleh kawanan serigala hutan saat mereka mencoba melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan tahun lalu.“Jangan mendekat... tolong, jangan mend

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 10

    Kabut putih yang pekat mulai menelan iring-iringan kuda saat mereka melewati batas luar Hutan Obsidian.Pohon-pohon di sini tidak seperti pohon di pinggiran Ravenshire; batangnya hitam legam, menjulang tinggi dengan dahan-dahan yang saling melilit, menutupi sebagian besar cahaya matahari yang tersisa.Emily menarik napas, namun udara yang masuk ke paru-parunya terasa tajam dan membekukan, kontras dengan pelipisnya yang masih basah oleh keringat akibat memikul beban logistik tadi.Akar-akar pohon yang menonjol seperti tulang-tulang raksasa sering kali menjerat kaki kuda, membuat perjalanan menjadi sangat lambat dan melelahkan. Emily mencengkeram tali kekang kudanya dengan tangan yang mulai mati rasa karena kedinginan.Di barisan paling depan, Kael tampak tidak terpengaruh oleh suhu yang anjlok drastis. Jubah bulu serigalanya berkibar tertiup angin kencang, menutupi zirah besinya yang berkilau kusam.Meski ia memacu kudanya dengan kecepatan konstan, Emily menyadari bahwa setiap beberapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status