Mag-log in“Oi, Elian! Melamun saja kau,” Markus, pelayan bertubuh gempal yang bertugas di kandang kuda, menyenggol bahunya kasar. “Bagaimana rasanya jadi bayangan Tuan Duke selama seminggu ini? Kudengar kau yang memandikannya kemarin. Apa lehermu masih utuh?”
Emily yang sedang menyantap sup di dapur bersama beberapa pelayan yang lain itu kemudian menoleh ke arah Markus.
“Melelahkan, Markus. Tuan Duke bukan orang yang suka bicara. Dia hanya memberiku perintah dengan tatapan yang seolah bisa membelah kepalaku kalau aku salah gerak.”
Beberapa pelayan lain lantas tertawa hambar mendengar jawaban Emily barusan.
“Dia memang iblis,” sahut pelayan lain dengan suara rendah. “Tidak punya hati. Kau lihat wanita yang dieksekusi kemarin? Hanya karena dia mencoba menyelipkan surat cinta ke kantong jubah Duke, nyawanya melayang. Dia benar-benar alergi pada makhluk bernama perempuan.”
“Kenapa begitu? Maksudku, kastil ini sangat besar, tapi isinya laki-laki semua. Apa dia memang lahir membenci wanita?” tanya Emily sambil meletakkan sendoknya di atas mangkuk supnya.
Seorang pelayan senior yang rambutnya sudah memutih, yang sedari tadi diam, akhirnya bergumam sambil mengelap sisa sup di janggutnya.
“Bukan lahir begitu, Nak. Dulu dia punya kekasih, wanita bangsawan yang katanya sangat cantik. Tapi saat Duke sedang dikirim ke perbatasan untuk berperang, wanita itu malah kabur dengan bangsawan lain dari kerajaan tetangga.
“Membawa lari dokumen penting dan hampir membuat Duke mati di medan perang karena pengkhianatan itu. Sejak saat itu, baginya, wanita adalah sinonim dari pengkhianat.”
“Gila,” gumam pelayan muda di sebelah Markus. “Gara-gara itu, kami jadi korban. Aku harus sembunyi-sembunyi kalau mau bertemu kekasihku di desa bawah. Kalau sampai ketahuan ada aroma parfum wanita di baju kami saat masuk gerbang, Duke tidak akan segan-segan mengusir kami tanpa pesangon. Atau lebih buruk, menggantung kami.”
Emily terdiam dengan bulu kuduknya yang meremang. Informasi itu seperti vonis mati. Jika Kael membenci wanita karena pengkhianatan, maka Emily, seorang wanita yang menyamar dan membohonginya setiap detik adalah perwujudan dari segala hal yang paling dibenci pria itu.
Satu per satu pelayan mulai berdiri untuk kembali ke tugas masing-masing. Emily hendak menyusul, namun sebuah tangan menahan lengannya. Itu Lucian, seorang pelayan pendiam yang biasanya bertugas di gudang logistik.
“Elian, tunggu sebentar,” bisik Lucian.
Emily menoleh sambil berusaha menjaga ekspresi datarnya. “Ada apa, Lucian? Aku harus menyiapkan jubah berburu Tuan Duke.”
Lucian tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya melirik ke arah bagian bawah celana Emily, tepatnya di bagian belakang kain seragam abu-abunya yang kaku.
Emily mengerutkan kening, lalu mengikuti arah pandang itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat noda merah kecil yang merembes di kain celananya.
Darah. Siklus bulanannya datang di waktu yang paling tidak tepat.
“Wajahmu jadi sepucat kapas, Elian. Atau harus kupanggil Emily?” tanya Lucian dengan pelan.
Emily segera berbalik memunggungi tembok, dengan tatapan mata yang liar menatap sekeliling. “Apa yang kau bicarakan? Aku tidak tahu maksudmu. Itu ... itu hanya noda saus atau mungkin aku terluka saat membersihkan pedang Duke tadi pagi.”
“Jangan bodoh,” Lucian melangkah mendekat menatap lekat wajah Emily.
“Aku bukan pelayan bodoh seperti Markus. Aku melihatmu dua minggu lalu. Di penjara bawah tanah kerajaan, saat kekacauan pecah setelah pengumuman eksekusi keluarga Dawson. Aku berada di sel seberangmu sebelum aku berhasil menyuap penjaga untuk lari.”
Tubuh Emily langsung membeku mendengar ucapan Lucian barusan. “Ka-kau—"
“Aku juga buronan, Emily Dawson. Bedanya, aku hanya pencuri dokumen kecil, bukan anak seorang Marquis yang dituduh koruptor besar,” Lucian menatapnya dengan simpati yang aneh.
“Aku melihatmu memotong rambutmu di balik tumpukan jerami dekat gerbang kota sebelum kau menuju ke Utara. Aku tahu kau perempuan.”
Emily akhirnya terdiam lalu mencengkeram baju Lucian dengan erat. “Tolong ... tolong jaga rahasia ini. Aku tidak punya pilihan lain. Aku akan dibunuh jika kembali ke Ibukota, dan aku akan digantung jika keluar dari kastil ini tanpa perlindungan.”
Lucian menghela napas panjang sambil melipat tangan di dadanya. “Aku tidak akan mengadukanmu. Sesama pelarian harus saling menjaga. Tapi Emily, kau benar-benar gila.
“Kau masuk ke sarang serigala yang paling benci pada kaummu. Kenapa kau nekad menyembunyikan identitasmu di bawah hidung Duke Kael? Bagaimana jika dia tahu? Dia tidak akan hanya menebas lehermu, tapi dia juga akan mencabikmu hidup-hidup.”
“Aku hanya perlu waktu untuk mencari bukti bahwa ayahku tidak bersalah,” bisik Emily dengan air mata yang hampir jatuh. “Hanya Kael yang punya akses ke dokumen rahasia kerajaan di wilayah Utara ini. Jangan sampai rahasia ini–”
Krieeet.
Pintu kayu besar aula makan yang tadinya tertutup rapat tiba-tiba terbuka dengan bantingan keras. Suara itu begitu dominan hingga keheningan menyelimuti ruangan dalam sekejap.
“Rahasia apa yang kalian sembunyikan dariku?”
“Kenapa diam saja?” ucap Kael yang terdengar sangat datar dan tidak sabar. “Potong kulitnya dari bagian persendian kaki belakang. Tarik ke bawah.”Emily menelan ludahnya sambil berusaha menahan rasa mual yang mendesak di tenggorokannya.Ia lalu memposisikan mata pisau di atas kulit rusa yang masih hangat. Saat logam tajam itu menyobek lapisan kulit luar, suara robekan jaringan tubuh hewan itu terdengar nyata di telinganya.Emily memejamkan mata sejenak, sementara jemarinya yang pucat kini mulai berlumuran cairan merah yang lengket.Lucian, yang berdiri tak jauh dari sana sambil memegang nampan kayu kosong, menatap Emily dengan tatapan iba.Ia tahu Emily adalah seorang wanita yang tidak pernah menyentuh bangkai seumur hidupnya. Lucian ingin sekali merebut pisau itu dan menyelesaikannya dalam sekejap, namun ia sadar bahwa Kael sedang mencari alasan untuk menghukum mereka lebih berat.Dengan langkah pelan, Lucian mendekat seolah-olah ingin memberikan nampan tersebut kepada Emily agar dag
Selama perjalanan yang melelahkan, mereka tak kunjung menemukan makanan yang bisa mereka makan.Perut Emily melilit perih, rasa lapar mulai mengikis konsentrasinya, namun ketegangan di sekitarnya jauh lebih menyiksa daripada rasa lapar itu sendiri.Di depannya, Duke Kael memacu kudanya dengan pelan, punggungnya tegak lurus, menolak untuk menunjukkan kelelahan sedikit pun.Di punggung Kael tersampir busur besar yang terbuat dari kayu hitam yang diperkuat dengan lempengan besi di bagian tengahnya. Emily menatap busur itu dengan perasaan ngeri.Ia tahu seberapa besar tenaga yang dibutuhkan untuk menarik tali busur sekuat itu, dan ia tahu seberapa mematikan akurasi sang Duke.Tiba-tiba, Kael mengangkat tangannya. Pasukan di belakangnya berhenti seketika tanpa suara. Kael turun dari kuda, dia bergerak seperti seringan kucing hutan meski ia mengenakan zirah besi.Ia mengambil busur besarnya, memasang anak panah dengan ujung perak yang tajam, dan mulai membidik ke arah semak belukar di kejau
Kegelapan di Hutan Obsidian tidak seperti kegelapan di pinggiran kota. Di sini, cahaya bulan seolah tertelan oleh tajamnya dahan-dahan pohon hitam yang saling mengunci di atas kepala.Emily duduk meringkuk di atas akar pohon yang keras sambil memeluk lututnya erat-erat. Di sekelilingnya, para prajurit Duke Kael tertidur dengan tangan tetap menggenggam hulu pedang, sementara api unggun kecil di tengah perkemahan hanya memberikan kehangatan yang minim.Auuuuuuu—Lolongan serigala membelah kesunyian malam, terdengar sangat dekat dari balik semak berduri di sisi barat.Tubuh Emily tersentak hebat. Suara itu bukan sekadar suara binatang baginya; itu adalah suara yang membangkitkan memori paling kelam dalam hidupnya.Ia seolah kembali ke malam di mana ibunya berteriak kesakitan, dengan kaki yang koyak dan darah yang mengalir deras setelah diserang oleh kawanan serigala hutan saat mereka mencoba melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan tahun lalu.“Jangan mendekat... tolong, jangan mend
Kabut putih yang pekat mulai menelan iring-iringan kuda saat mereka melewati batas luar Hutan Obsidian.Pohon-pohon di sini tidak seperti pohon di pinggiran Ravenshire; batangnya hitam legam, menjulang tinggi dengan dahan-dahan yang saling melilit, menutupi sebagian besar cahaya matahari yang tersisa.Emily menarik napas, namun udara yang masuk ke paru-parunya terasa tajam dan membekukan, kontras dengan pelipisnya yang masih basah oleh keringat akibat memikul beban logistik tadi.Akar-akar pohon yang menonjol seperti tulang-tulang raksasa sering kali menjerat kaki kuda, membuat perjalanan menjadi sangat lambat dan melelahkan. Emily mencengkeram tali kekang kudanya dengan tangan yang mulai mati rasa karena kedinginan.Di barisan paling depan, Kael tampak tidak terpengaruh oleh suhu yang anjlok drastis. Jubah bulu serigalanya berkibar tertiup angin kencang, menutupi zirah besinya yang berkilau kusam.Meski ia memacu kudanya dengan kecepatan konstan, Emily menyadari bahwa setiap beberapa
“Elian! Jangan hanya berdiri menatap kuda. Angkat peti gandum itu ke kereta belakang!” bentak seorang bintara tinggi dengan suara yang parau.Emily kemudian tersentak. Dia pun segera menghampiri sebuah peti kayu berisi pasokan gandum dan daging kering. Saat ia mencoba mengangkatnya, otot-otot lengannya langsung menegang hebat.Beban itu jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Emily harus menggertakkan gigi, memaksakan seluruh tenaganya agar peti itu terangkat dari tanah.Napasnya memburu, terasa sesak karena bebat kain di dadanya yang kini terasa semakin mencekik akibat aktivitas fisik yang berat.Dari sudut matanya, ia melihat Kael berdiri di tangga utama kastil. Duke itu sudah mengenakan jubah bulu serigalanya, sambil memegang sarung tangan kulit sambil mengawasi setiap detail persiapan.Matanya yang dingin tidak pernah lepas dari sosok “Elian” yang tampak kepayahan.Lucian berjalan mendekat sambil memanggul karung jerami. Melihat Emily yang wajahnya mulai memucat karena menahan be
Kael keluar dari kolam dengan gerakan yang efisien, bahkan tidak memedulikan air yang bercucuran dari tubuhnya ke lantai marmer. Dia lalu berdiri di depan Emily, menjulang tinggi seperti menara batu yang tak tergoyahkan.“Jangan hanya berdiri di sana dengan mulut terbuka, Elian,” suara Kael tajam, memutus lamunan Emily. “Zirahku. Sekarang.”Emily langsung tersentak. Dengan tangan yang masih gemetar karena syok mendengar nama kakaknya disebut, ia melangkah menuju manekin kayu tempat zirah tempur Kael tersampir.Ia mengambil gambeson, lapisan kain pelindung tebal yang harus dikenakan sebelum lempengan besi.Kael merentangkan kedua tangannya dan membiarkan Emily mendekat. Jarak di antara mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter. Emily bisa merasakan panas yang menguar dari kulit Kael yang baru saja terkena air panas.Saat Emily memakaikan gambeson ke tubuh kekar itu, ia harus merapatkan tubuhnya agar bisa menjangkau bagian punggung dan bahu Kael.“Lebih cepat, Elian!” perintah Kael







