Share

Bab 6

Penulis: Leona Valeska
last update Tanggal publikasi: 2026-04-01 15:50:32

“Kau yang sejak tadi bersama Lucian. Apa kau mencoba meracuninya?” tanya Kael dengan nada datarnya dan penuh dengan kecurigaan.

Emily langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. “T-tidak, Tuan. Saya tidak berani melakukan itu,” jawabnya terbata-bata.

Kael menyipitkan matanya dengan tatapan yang begitu menghunus. “Dengar, Elian. Aku mencurigaimu karena kau adalah pelayan pribadiku. Jika ternyata Lucian diracun olehmu, maka kemungkinan besar kau juga akan melakukan itu padaku!”

Emily hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan Kael barusan. Kenapa pria itu bisa berpikir bahwa dia akan meracuni Kael hanya karena mencurigai Lucian diracuni olehnya?

“Jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati. Mulut Tuan Duke memang pedas dan jahat,” ucap Markus sambil menepuk pundak Emily dengan pelan.

Emily menganggukkan kepalanya dan berjalan memasuki kastil kembali untuk menyiapkan pesta nanti malam.

**

Pesta para bangsawan telah dimulai. Emily ditugaskan menjadi salah satu pelayan untuk melayani para tamu.

Kali ini dia mengenakan seragam pelayan formal yang kerahnya mencekik leher, ia harus bergerak gesit menuangkan anggur ke gelas para bangsawan Utara yang suaranya memenuhi aula dengan gelak tawa angkuh.

“Tunggu, kau ... pelayan muda.”

Langkah Emily langsung membeku seketika. Seorang bangsawan pria paruh baya dengan kumis melintang dan mata yang sedikit berkabut karena alkohol, Lord Vane, menahan nampannya.

Emily menoleh dan tersentak kaget, meski langsung dia ubah kembali agar tidak dicurigai. Pria itu adalah sepupu jauh dari ibu tiri Emily, orang yang dulu sering berkunjung ke kediaman Dawson untuk berpesta.

“Siapa namamu?” tanya Lord Vane sambil menyipitkan matanya dan mencondongkan tubuhnya hingga bau anggur yang menyengat menusuk hidung Emily.

“Nama saya Elian, Tuan,” jawab Emily sambil menunduk sedalam mungkin.

“Elian? Tapi, kenapa wajahmu dan struktur rahangmu itu,” gumam Lord Vane lalu jemarinya yang gemetar mencoba menyentuh dagu Emily untuk mengangkat wajahnya.

“Sangat mirip dengan putri Marquis Dawson yang hilang. Siapa namanya? Emily? Ya, Emily Dawson. Apa kau punya hubungan darah dengannya?” tanyanya kemudian.

Darah Emily seolah berhenti mengalir. Benar saja, pria itu mengenal Emily meski dulu hanya berpapasan jika Lord Vane sedang berkunjung ke rumahnya. 

Napasnya menjadi pendek dan pandangannya mulai berputar. Kelelahan setelah bekerja selama delapan belas jam tanpa henti, ditambah dengan ketegangan siklus bulanannya yang belum usai, membuat kakinya terasa seperti terbuat dari kapas.

Ditambah pertanyaan dari Lord Vane membuat tubuhnya semakin lemas. Bahkan pikirannya kembali liar. Bagaimana jika Lord Vane memberitahu Kael tentang wajahnya yang mirip dengan Emily? 

“Saya hanya anak desa, Tuan. Mungkin wajah saya memang pasaran,” jawab Emily dengan bibir yang memucat.

“Tidak, tidak. Matamu itu ... mata itu tidak mungkin milik rakyat jelata,” Lord Vane bersikeras, bahkan suaranya kini mulai menarik perhatian beberapa bangsawan di sekitar mereka.

“Anda sedang mabuk, Tuan.”

“Meski aku sedang mabuk, aku masih mengenal orang-orang yang pernah bertemu denganku, Pelayan,” ucapnya sambil menyesap anggur di dalam gelas miliknya. 

Baru saja pria itu hendak membuka mulutnya kembali, tiba-tiba, sebuah bayangan besar jatuh menaungi mereka. Suasana di sekitar meja itu mendadak sunyi, seolah suhu udara turun beberapa derajat dalam sekejap.

“Lord Vane,” suara bariton yang berat dan penuh otoritas memotong percakapan itu.

Duke Kael berdiri di sana sambil memegang gelas kristal berisi cairan merah gelap. Matanya yang abu-abu menatap Lord Vane dengan kilat kemarahan yang tidak disembunyikan. Kael lalu melirik Emily yang tampak goyah, lalu kembali menatap tamu bicaranya.

“Apa kau datang ke perjamuanku untuk mencari hiburan dari seorang pelayan?” tanya Kael dengan nada rendah namun mengandung ancaman yang nyata.

“Ah, Tuan Duke, saya hanya merasa pemuda ini sangat mirip dengan—”

“Cukup!” bentak Kael hingga membuat Lord Vane tersentak dan membuat anggurnya tumpah sedikit.

“Pelayanku ada di sini untuk melayani para tamu, mengisi gelas, dan memastikan kenyamanan kalian. Mereka di sini bukan untuk kau ajak berbincang atau kau interogasi seperti narapidana!”

Emily tersentak mendengar ucapan barusan. Baginya, kata-kata Kael barusan adalah perlindungan yang tak terduga. Pria itu baru saja memutus tali gantung yang hampir menjerat lehernya.

“Elian, pergi dari sini. Kau membuat kepalaku sakit dengan wajah bodohmu itu. Kembali ke dapur atau aku akan memotong lidahmu karena sudah berani melalaikan tugas demi mengobrol.”

“Maafkan saya, Tuan Duke. Permisi,” Emily membungkuk cepat, segera berbalik dan berjalan cepat meninggalkan aula, menghilang di balik pintu kayu besar menuju koridor yang sepi.

Emily bersandar di dinding batu yang dingin, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Jantungnya masih berdegup kencang, namun rasa syukurnya pada Kael meluap.

Duke yang kejam itu, dengan caranya yang kasar, baru saja menyelamatkannya dari kehancuran identitasnya meski Kael tidak berniat seperti itu. 

Beberapa menit kemudian, Kael melangkah keluar dari aula, tampaknya ingin mencari udara segar setelah membentak Lord Vane barusan.

Emily yang baru saja hendak keluar, langsung tersentak kaget melihat tubuh tegap Kael berada di hadapannya.

“Tuan?” panggil Emily sambil menyembunyikan keterkejutannya. 

Kael melirik Elian sebentar kemudian mendengus pelan. “Kau benar-benar pelayan yang tidak berguna, Elian. Jangan pernah bicara dengan sembarang orang di dalam kastil ini!”

Emily langsung menelan ludahnya. “Sekali lagi saya minta maaf, Tuan. Saya tidak sengaja—"

“Kembali bekerja. Dan jangan lakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya jika kau masih ingin bekerja di kastilku!” 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 179

    Rencana pengalihan yang dilakukan Johan berjalan dengan sangat sempurna. Provokasi beringasnya berhasil memancing amarah buta semua prajurit, hingga mereka bergerak massal dalam formasi buru, meninggalkan area tenda dalam gemuruh langkah besi yang menjauh.Kael kini benar-benar berada seorang diri di dalam tendanya tanpa perlindungan kavaleri satu pun.Namun, harga yang harus dibayar Johan untuk taktik nekat ini sangatlah mahal. Sesaat setelah dia melompat ke pohon berikutnya, rentetan anak panah militer dan tembakan uap bertekanan tinggi terus menyerang posisinya dari bawah dengan sangat gencar.JEDAS! JEDAS! STREEEK!"Sialan! Mereka benar-benar menembak untuk membunuh!" umpat Johan, suaranya tenggelam di antara dahan pinus yang hancur berantakan terkena proyektil uap.Hantaman energi mekanis itu merobek mantel bulunya menjadi serpihan, membuat Johan harus melompat dari satu dahan ke dahan lain dengan bersusah payah demi menghindari maut yang mengintai di setiap jengkal udara.Napasn

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 178

    Tanpa membuang waktu lagi, Johan bergerak dengan ketangkasan luar biasa yang hanya dimiliki oleh seorang ksatria terlatih perbatasan utara.Tubuh kekarnya merayap cepat, memanfaatkan tonjolan kulit pohon, lalu langsung memanjat naik ke atas dahan pohon pinus tinggi yang berada tepat di jalur luar perkemahan kavaleri. Angin badai yang mulai mereda membuat siluetnya terlihat samar namun pasti di antara dedaunan yang membeku.Dari atas sana, Johan menarik napas dalam-dalam, mengabaikan udara dingin yang menusuk paru-parunya. Ia berteriak lantang memanggil nama Kael dengan nada mengejek yang sangat menggema, memecah kesunyian lembah berbatu tersebut."Hei, Kael Ravenshire! Serigala pincang dari utara!" seru Johan, suaranya menggelegar bergaung di antara tebing-tebing granit. "Apakah zirah uap buatan kekaisaranmu itu hanya hiasan meja sampai-sampai kau tidak bisa mengejar seorang ksatria tua di halaman rumahnya sendiri?!"Tindakan provokasi yang luar biasa nekat itu seketika membuat semua

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 177

    Dari balik bayang-bayang batang pohon pinus raksasa yang berselimut es, Emily dan Johan berdiri membeku. Dari celah semak-semak, mereka berdua bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana kondisi Kael yang sangat mengenaskan di dalam tenda darurat yang kain depannya sengaja dibuka setengah untuk sirkulasi udara uap pemanas."Lihat itu, Kak," bisik Emily, suaranya bergetar hebat menahan isak tangis yang nyaris pecah. "Tubuhnya menggigil sampai seburuk itu. Dia sekarat karena infeksi panahmu."Johan menyipitkan mata, memperhatikan gerak-gerik Panglima Juan dan para prajurit yang sibuk di sekitar tenda. Ia basahi ujung jarinya, mengangkatnya ke udara untuk memeriksa arah mata angin yang berembus di antara celah tebing batu."Sial, ini buruk," gumam Johan, wajahnya mendadak berubah sangat serius. Ia lalu menoleh ke arah adiknya dengan tatapan memperingatkan."Emily, dengerkan aku baik-baik. Angin malam ini berembus tepat ke arah tenda Kael. Jika Kael yang sedang demam tinggi ekstrem itu sam

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 176

    Panglima Juan akhirnya terpaksa menghentikan barisan kavaleri besi tepat di tengah lembah yang terlindung dinding batu raksasa.Ia melompat dari kudanya dengan beringas begitu melihat Kael sudah terlihat sangat sekarat, tubuh kekarnya limbung dan hampir jatuh terjerembab dari atas kudanya ke atas tumpukan salju yang membeku."Hentikan barisan! Dirikan tenda darurat sekarang juga!" teriak Juan, suaranya menggelegar mengalahkan deru angin badai. "Bawa lampu pemanas mekanis ke dalam! Cepat!"Para prajurit bergerak cekatan, memicu kompresor uap pada zirah mereka untuk menegakkan tiang-tiang tenda militer tebal dalam hitungan menit.Dua prajurit kavaleri lapis baja bergegas membopong Kael masuk ke dalam tenda, membaringkannya di atas dipan lipat darurat.Juan segera membuka wadah logistik medis, mengeluarkan sebuah botol kaca berisi cairan pekat berwarna perak kehitaman."Yang Mulia, Anda harus meminum ini. Ini adalah ramuan obat penurun demam militer dosis tinggi. Setidaknya, cairan ini b

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 175

    "Lepaskan aku, Kak Johan! Kita membuang-buang waktu!" seru Emily, meronta dalam dekapan tangan kakaknya yang sekokoh karang.Johan menahan pundak adiknya dengan cengkeraman kuat agar tidak bertindak bodoh dan nekat menerobos badai salju di luar gua dalam kondisi buta. "Tenangkan dirimu, Emily! Keluar sekarang dalam keadaan badai seperti ini sama saja dengan bunuh diri!""Tapi Kael sedang terluka! Dia menderita di luar sana!" kilat Emily, air matanya kian deras membasahi pipi."Aku tahu! Dan aku setuju denganmu bahwa kita memang akan menemui Duke itu malam ini," kata Johan, suaranya meninggi demi mengalahkan deru angin, matanya menatap Emily dengan ketegasan mutlak."Maka dari itu, Emily, hapus air matamu dan segera bantu aku memasukkan racun herba ini ke dalam wadah tabung bambu agar persiapan kita segera selesai! Kita butuh tameng untuk melumpuhkan pengawalnya, atau kau akan tertembak sebelum sempat menyapanya!"Emily terengah-engah, mencoba menguasai gemuruh di dadanya, lalu mengang

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 174

    Johan menatap jilatan api yang mulai mengecil, lalu mengarahkan pandangannya kembali pada Emily. "Pikirkan lagi, Emily. Paksa otakmu mengingat kembali masa sebelum rumah kita dibakar.""Aku sedang mencoba, Kak, tapi kepalaku sakit," keluh Emily, meremas pelipisnya yang terasa berdenyut akibat hawa dingin yang menusuk."Biar kubantu memancing ingatanmu," potong Johan, nadanya bergeser menjadi lebih dalam dan menyelidik."Bukankah kau dulu saat masih berusia tujuh tahun pernah memiliki seorang teman pria rahasia yang sering menyusup ke halaman belakang rumah kita? Ingatkah kau, kalian berdua bahkan sering membantu ibu kita memasak sup herba di dapur?"Emily tertegun. Detak dadanya mendadak bergemuruh hebat, seolah ada dinding besar di dalam ingatannya yang runtuh seketika. "Teman pria... rahasia?""Ya. Anak laki-laki bertubuh kurus yang selalu mengenakan jubah lusuh berkerung besar untuk menyembunyikan wajahnya," lanjut Johan, matanya berkilat intens."Ibu sering memberinya makanan kare

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 108

    Emily melangkah perlahan mendekati meja kerja mahoni yang besar, tempat Kael sedang duduk dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku.Pria itu tampak sangat fokus meneliti lembar demi lembar cetak biru proyek bendungan utara. Udara di dalam ruang kerja itu terasa berat oleh keheningan,

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 106

    Cahaya matahari pagi yang pucat menerobos celah jendela ruang arsip bawah tanah, menerangi jutaan partikel debu yang menari-nari di atas tumpukan dokumen kuno.Emily menyisir baris demi baris berkas keuangan dari dua tahun lalu, mencari manifes penjualan batubara yang diminta Kael sebagai bahan kal

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 105

    Angin pesisir berembus membawa uap garam yang dingin, menerbangkan ujung jubah hitam Kael yang berdiri kokoh seperti pilar batu di atas pasir pantai yang landai.Matahari hampir tenggelam sepenuhnya, menyisakan garis tipis berwarna jingga kemerahan yang membakar cakrawala. Kael berdiri mematung den

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 104

    Roda kereta kuda yang dilapisi besi berderak konstan di atas jalanan berbatu menuju perbatasan kota, menciptakan ritme yang monoton di tengah keheningan interior kereta yang mewah.Aroma kulit jok yang mahal dan parfum maskulin Kael yang tajam memenuhi ruang sempit tersebut. Emily duduk di kursi ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status