Share

Bab 80

Author: Leona Valeska
last update publish date: 2026-05-05 21:32:55

Di balik pintu ek oak yang tebal, suara Kael terdengar berat dan tajam, menembus celah udara yang sempit. Emily menempelkan telinganya ke kayu dingin itu, menahan napas seolah detak jantungnya sendiri bisa mengkhianati keberadaannya.

“Kau bilang ada yang masuk ke dalam?” suara Kael meninggi, penuh dengan nada tidak percaya sekaligus amarah. “Siapa orang gila yang berani menerobos gedung yang sudah menjadi tungku neraka seperti itu, Vane?”

“Saya masih menyelidikinya, Tuan Duke,” sahut Vane dari
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 82

    Emily berdiri di balik pilar koridor, untuk memastikan bayangan kereta uap Kael benar-benar telah tertelan kabut lembah. Begitu sunyi kembali menguasai pelataran, ia bergegas menuju dapur, tempat Lucian sedang berpura-pura sibuk menghitung persediaan perak.“Dia sudah pergi, Lucian,” bisik Emily, suaranya tajam karena adrenalin.Lucian meletakkan sendok peraknya dengan tangan gemetar. “Kau tidak dengar peringatannya tadi? Sayap barat, Emily! Dia menyebutnya secara spesifik di depan semua orang. Itu jebakan!” ucap Lucian tampak kesal karena Emily bersikeras ingin pergi ke sana.“Justru karena dia menyebutnya, aku yakin ada sesuatu yang dia sembunyikan di sana atau di ruang kerjanya,” balas Emily keras kepala.“Kael memang cerdas, tapi dia juga arogan. Dia pikir peringatannya akan melumpuhkanku. Aku butuh kunci cadangan yang ada di ruang jaga bawah. Aku tahu kau punya akses ke sana.”“Ini bunuh diri,” rintih Lucian, namun ia tetap merogoh saku celemeknya dan menyerahkan seuntai kunci ku

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 81

    Uap dingin menyelimuti pelataran Ravenshire saat fajar menyingsing, menyamarkan langkah kaki para pelayan yang berlarian menyiapkan kebutuhan Duke.Emily sedang berdiri di depan lemari besar berbahan mahoni, tangannya gemetar saat menyentuh setelan wol tebal berwarna biru tua yang kaku.Tidak ada aroma darah atau debu mesiu pada pakaian ini, melainkan wangi lavender dan kayu cendana yang mahal.“Seragam formal?” bisik Emily pada dirinya sendiri. “Ini bukan untuk berburu pengkhianat.”Ia membawa pakaian itu ke kamar utama dengan langkah hati-hati. Kael sudah berdiri di depan cermin besar, mengenakan kemeja putih sutra yang belum dikancingkan sepenuhnya.Sinar matahari pagi yang pucat menembus jendela, mempertegas bekas luka kecil di bahunya yang lebar, sebuah pemandangan yang membuat Emily segera menunduk, takut akan tatapan tajam pria itu.“Siapkan lencana emasnya, Elian,” perintah Kael tanpa berbalik. Suaranya serak khas orang yang tidak tidur semalaman.Emily mendekat, jemarinya yan

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 80

    Di balik pintu ek oak yang tebal, suara Kael terdengar berat dan tajam, menembus celah udara yang sempit. Emily menempelkan telinganya ke kayu dingin itu, menahan napas seolah detak jantungnya sendiri bisa mengkhianati keberadaannya.“Kau bilang ada yang masuk ke dalam?” suara Kael meninggi, penuh dengan nada tidak percaya sekaligus amarah. “Siapa orang gila yang berani menerobos gedung yang sudah menjadi tungku neraka seperti itu, Vane?”“Saya masih menyelidikinya, Tuan Duke,” sahut Vane dari dalam. Suaranya terdengar frustrasi.“Laporannya baru saja dikonfirmasi oleh pengawal di sisi timur. Bayangan itu bergerak sangat lincah, masuk melalui jendela atas tepat sebelum lantai kedua runtuh. Kami menyisir puing-puingnya setelah api mereda, namun tidak menemukan mayat ataupun jejak orang tersebut. Dia seolah lenyap ditelan asap.”Emily tersentak, tangannya refleks menutup mulutnya sendiri untuk meredam pekikan kecil. Vane melihatnya. Dia melihat penyelamatku.“Lalu apa kau pikir dia kelu

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 79

    Emily menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang dingin, jemarinya meremas kertas kecil itu hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya seolah ingin melarikan diri dari ketegangan yang menyesakkan ini.“Menara Barat,” bisik Emily pada kegelapan kamarnya.“Tempat yang bahkan para pelayan senior pun takut untuk datangi karena konon penuh dengan catatan gelap mendiang Duke terdahulu. Apa yang menungguku di sana? Siapa pun orang berjubah itu, dia tahu rahasia yang tidak diketahui Lucian ataupun Jacob.”Ia menatap pantulan dirinya di cermin retak yang ada di sudut ruangan. Wajahnya yang tertutup jelaga membuatnya tampak asing, seolah topeng “Elian” mulai melekat secara permanen.“Aku tidak bisa terus begini,” monolognya dengan suara serak.“Setiap detik aku berpura-pura menjadi pelayan pria di depan Kael, aku sedang menari di atas mata pisau. Jika aku tidak segera menemukan bukti itu dan membersihkan nama Johan, penyamaran ini akan menjadi l

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 78

    Dunia terasa berputar saat Emily membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah sisa rasa terbakar di tenggorokannya, seolah ia baru saja menelan bara panas.Ia terbatuk hebat, mengeluarkan dahak hitam yang bercampur dengan abu. Tubuhnya gemetar kedinginan di atas tanah yang lembap, kontras dengan memori terakhirnya tentang udara yang sanggup mengelupas kulit.“Uhuk! Uhuk... di mana... di mana ini?” rintihnya parau.Ia mencoba duduk, namun kepalanya berdenyut seakan dihantam gada besi. Emily menatap tangannya yang hitam legam oleh jelaga. Pakaian pelayannya compang-camping, beberapa bagian hangus, namun ia masih hidup.Ia menoleh ke arah timur dan melihat semburat cahaya oranye yang masih menyala di kejauhan, sisa-sisa Gedung Bea Cukai yang kini sudah rata dengan tanah.Ia seharusnya mati di sana. Ia ingat betul saat atap itu runtuh dan api mengurung setiap celah udara. Namun, sekarang ia berada di tengah hutan pinus yang sunyi, jauh dari hiruk-pikuk prajurit Kael. Bagaimana mung

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 77

    “Elian! Elian, keluar dari sana!”Lucian menjerit hingga kerongkongannya terasa pecah. Ia mencoba menerjang barikade api yang kini melahap ambang pintu, namun sebuah tangan kekar menyentak kerah bajunya dan melemparnya mundur ke atas tanah yang becek.“Tetap di tempatmu, Pelayan!” bentak seorang prajurit Kael, sambil mengacungkan tombaknya agar Lucian menjauh. “Gedung itu sudah jadi tungku neraka. Kau mau mati konyol?”“Pelayan itu... temanku ada di dalam!” Lucian berbohong dengan suara gemetar, air mata mengalir bebas membelah debu di pipinya. “Biarkan aku masuk sebentar saja!”“Tidak ada siapa-siapa lagi di sana kecuali tikus dan kecoa,” sahut prajurit lain sambil tertawa kasar, lalu menatap kobaran api yang membubung tinggi ke langit malam. “Duke sudah memerintahkan pembersihan total. Mundur, atau kau akan kami seret ke barak!”Lucian berpaling ke arah Kael yang berdiri tidak jauh dari sana. Tampak Sang Duke berdiri tegak dengan tangan bersedekap, wajahnya yang tampan terpantul cah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status