Se connecterEmily melangkah menyusuri lorong panjang dengan tungkai yang terasa seringan kapas, namun jantungnya berdegup sekeras palu yang menghantam landasan besi.Peringatan Ben masih terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti gagak yang mengitari bangkai. Setiap pasang mata pelayan yang berpapasan dengannya seolah menyimpan kecurigaan yang sama, menusuk menembus kain kasar seragam “Elian” yang ia kenakan.Ia segera mencari Lucian di gudang penyimpanan anggur, tempat paling sunyi di bawah tanah kastil. Begitu pintu kayu berat itu tertutup, Emily langsung menyambar lengan pria tua itu.“Ben tahu, Lucian. Dia tahu aku bukan sekadar pelayan rendahan,” bisik Emily dengan napas memburu.Lucian meletakkan botol kristal yang tengah ia bersihkan. Wajahnya yang keriput tampak semakin pucat di bawah temaram lampu minyak. “Apa katamu? Bagaimana mungkin? Apa yang kau lakukan di kamar Duke?”“Aku menemukan sesuatu di jas Kael. Selembar kertas yang hampir habis terbakar, ada stempel intelijen di sana. T
Ben, dengan gerakan yang sangat tenang namun presisi, memasukkan kembali sobekan kertas hangus itu ke dalam laci nakas kecil di samping ranjang, memutar kuncinya, dan menyimpan kunci perak itu ke dalam saku rompinya yang ketat.“Kau beruntung aku yang menemukanmu, bukan Vane,” desis Ben dengan suara yang rendah, nyaris menyerupai desis ular yang siap mematuk.Emily memegangi pipinya, matanya berkaca-kaca namun ia menolak untuk membiarkan air mata itu jatuh. “Saya tidak mencuri, Tuan Ben. Saya hanya—"“Tutup mulutmu!” Ben memotong dengan tajam. Kemudian melangkah maju, hingga memaksa Emily mundur hingga punggung gadis itu membentur tiang ranjang yang keras.“Di kastil ini, menyentuh barang pribadi Duke tanpa perintah adalah dosa yang tak terampuni. Kau pikir tempat ini apa? Pasar di pinggiran kota?”Ben mencengkeram dagu Emily, memaksanya menatap langsung ke dalam matanya yang keruh.“Barang-barang di kamar ini adalah suci. Setiap inci kain, setiap helai kertas, adalah milik Tuan Duke.
Jantung Emily serasa berhenti berdetak saat jemarinya baru saja menyentuh tepian kertas yang kasar dan berbau sangit itu.Belum sempat ia membuka lipatan yang menyimpan rahasia tersebut, suara debuman pintu yang menghantam dinding membuyarkan segalanya.“Apa yang kau lakukan, Elian?! Kau pikir kamar ini tempat untuk melamun?”Ben, pelayan senior yang dikenal dengan kedisiplinannya yang tiran, melangkah masuk. Wajahnya yang kemerahan tampak semakin garang di bawah cahaya lampu dinding. Ia memegang kemoceng bulu ayam seolah itu adalah tongkat komando.“Maaf, Tuan Ben. Saya hanya... saya sedang merapikan jas Tuan Duke,” sahut Emily dengan suara yang diusahakan tetap stabil, meski telapak tangannya mulai berkeringat dingin.Ia mencoba melipat jas itu sedemikian rupa agar kertas di sakunya tertutup kain wol tebal tersebut.Ben mendengus kasar, langkah botnya berdentum di atas lantai kayu ek saat ia mendekat.“Merapikan? Kau sudah berada di sini selama hampir satu jam! Aku sudah menyelesaik
Sinar matahari yang pucat menerobos melalui celah gorden beledu berat, menciptakan garis-garis debu yang menari di atas lantai kayu ek yang dipoles hingga mengilap.Emily melangkah masuk ke dalam kamar pribadi Duke Kael dengan langkah yang diredam, membawa ember kayu dan kain pembersih. Hawa dingin langsung menyambutnya, sebuah sensasi yang tidak berasal dari cuaca di luar, melainkan dari aura ruangan itu sendiri.“Kamar ini... benar-benar seperti pemiliknya,” gumam Emily pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh keheningan yang tebal.Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi furnitur bergaya Victoria yang kaku. Lemari besar dengan ukiran malaikat yang tampak sedang meratapi sesuatu, serta ranjang bertiang empat yang ditutupi sprei satin berwarna hitam pekat.Semuanya terlihat sangat mahal, sangat tertata, namun sama sekali tidak memiliki nyawa. Tidak ada bunga, tidak ada buku yang dibiarkan terbuka, tidak ada noda kopi di atas meja, hanya keteraturan yang mencekam.“B
Lucian terdiam sejenak, namun raut wajahnya mendadak berubah drastis. Sorot matanya yang biasanya teduh kini berkilat tajam, memantulkan api dari lampu minyak yang bergetar di atas meja.Ia menggebrak meja kayu itu dengan kepalan tangannya, menciptakan suara dentuman yang cukup keras hingga membuat Emily tersentak.“Cukup, Emily! Hentikan omong kosong ini!” suara Lucian meninggi, penuh dengan amarah yang bergetar karena rasa sayang yang mendalam.“Tapi Lucian, aku—”“Kau apa? Kau lelah? Kau ingin menyerah?” potong Lucian dengan nada pedas. Ia berdiri dari kursinya, bayangannya memanjang di dinding kamarnya yang sempit, tampak seperti raksasa yang sedang murka.“Dengar baik-baik, Gadis Dawson! Aku tidak mengkhianati sumpahku pada mendiang ayahmu, aku tidak mempertaruhkan leherku setiap hari di kastil terkutuk ini, hanya untuk melihatmu merengek seperti pengecut di tepi ranjang!”Emily terpaku, matanya membelalak menatap pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri itu. Ia belum p
Sudah larut malam dan Emily masih berada di dalam sana. Dia sedang berdiri mematung, menatap kegelapan hutan Ravenshire yang tampak seperti lautan tinta tanpa ujung.Tidak ada bintang yang berani menampakkan diri malam ini, seolah langit pun ikut berduka atau mungkin malu menyaksikan sandiwara yang sedang ia mainkan.“Sampai kapan, Elian?” bisik Emily pada pantulan wajahnya yang samar di kaca jendela. “Atau harus kupanggil kau Emily? Gadis yang bahkan tidak berani mengenakan gaunnya sendiri.”Ia menyentuh kerah kasar kemeja pelayannya, merasakan betapa kain itu telah mencekik identitasnya selama berbulan-bulan.Menjadi Elian berarti harus menelan harga diri, berjalan dengan bahu merosot, dan menunduk di hadapan pria yang paling ia benci di muka bumi ini.Namun, menjadi Emily berarti kematian atau yang lebih buruk, menjadi pion di bawah kaki Duke Kael yang tanpa ampun.“Kael bukan sekadar pria,” batinnya sambil mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih.“Dia adalah hukum di sini.







