LOGINBerawal dari sebuah pertemuan yang selalu menjengkelkan hati, Indriani Putri seorang janda beranak satu dengan seorang pemuda tampan yang baru saja lulus sekolah menengah itu membuat wanita berumur 26 tahun itu, menggelengkan kepalanya melihat kelakukan pemuda yang baru menginjak usia 18 tahun itu, yang jauh dari kata seorang laki-laki 'dewasa' Namun... Takdir berkata lain pemuda itulah yang menjadi hidup seorang Indriani tidak akan lagi menyandang status sebagai seorang janda. "Mbak aku ini sudah besar lho. Mau bukti?" Seringai nakal senyum tersungging di bibir pemuda itu. "Apa nya yang besar? Jempol kaki?!" Sahut Indri dengan sedikit ketus, bisa-bisanya bocah ingusan yang kini adalah suaminya itu menggodanya. "Hahaha." Pemuda bernama Adrian itu tergelak dengan jawaban Indri. "Wah Mbak udah tahu kalau jempol kaki aku gede. Berarti Mbak udah berpengalaman." Goda nya lagi membuat ku menatap tajam padanya. "Kenapa? Mau coba ya sama aku?" Seru nya menyebalkan. "Aku siap kok kapan aja mbak mau." Goda nya lagi. "Mimpi mu!" Ketus Indri seraya pergi. "Halal lho mbak." Teriaknya. "Yukkkk." Ucap nya mengikuti langkah pergi nya Indri.
View MoreThe sound of rain lashing against the floor-to-ceiling glass of the penthouse office was the only thing keeping me grounded. It was a violent storm, but it was nothing compared to the hurricane raging inside my chest.
"Read it again, Ms. Davis. I don’t pay for mistakes."
Liam Sterling’s voice was low, smooth, and terrified me more than the thunder. He stood by the window, his back to me, looking out over the city of New York like a king surveying a kingdom he wanted to burn down. Even from the back, he was intimidating—broad shoulders encased in a charcoal suit that probably cost more than my grandmother’s entire house.
I looked down at the document on the mahogany desk. The paper was heavy, expensive, and cold under my fingertips.
SURROGACY AND PARENTAL RIGHTS RELINQUISHMENT AGREEMENT.
The bold letters seemed to scream at me.
"I’ve read it, Mr. Sterling," I said, my voice barely rising above a whisper. I hated how weak I sounded. I hated that my hands were trembling so badly I had to clasp them in my lap to hide it.
He finally turned around.
If the devil had a face, it would be Liam Sterling’s. He was devastatingly handsome, with sharp, aristocratic cheekbones and eyes the color of shattered ice. But there was no warmth in him. No humanity. He looked at me not as a woman, or even a human being, but as an incubator. A vessel he had rented for nine months because he couldn't be bothered to find a wife.
He walked toward the desk, his movements predatory and graceful. The scent of expensive sandalwood and rain filled my senses, making me dizzy.
"Then you understand Clause 14?" he asked, tapping a manicured finger against the paper. "Once the child is born, you will be compensated. You will hand the infant to my medical team. And then, you will vanish."
He leaned in, his icy blue eyes boring into mine. "You will not visit. You will not call. You will not look for pictures in the tabloids. To this child, you are dead. Do you understand?"
I swallowed the lump in my throat, fighting the urge to vomit. Dead.
"I understand," I choked out.
"Good." He straightened up, adjusting his cufflinks with indifference. "Because if you ever try to claim him, if you ever try to squeeze more money out of me using the press... I will bury you. I have lawyers who can ensure you never work again. I have the power to make sure your sick grandmother is thrown out of that hospital before her next breath."
My head snapped up. "You promised to pay her bills."
"I promised to pay them if you sign," he corrected coldly. "And if you adhere to the contract. The moment you become a liability, the funding stops."
The threat hung in the air, heavy and suffocating.
I thought of Nana. I thought of the beeping machines, the sterile smell of the ICU, the doctor telling me that without the surgery, she wouldn't last the month. She was the only family I had left in this cruel world. She was the one who held me when my parents died. I couldn't let her die. Not when I had a way to save her.
Even if that way meant selling a piece of my soul.
I picked up the pen. It felt like holding a knife.
My other hand drifted instinctively to my stomach. I was barely showing, just a small, firm swell beneath my thrift-store dress, but I felt them. A flutter. A tiny, secret movement that sent a shockwave of electricity through my veins.
I’m sorry, I thought desperately, directing the words inward to the life growing inside me. I’m so sorry. I have to do this.
I pressed the pen to the paper. The ink flowed dark and permanent.
Nora Davis.
It was done. I had just sold my baby.
Liam didn't smile. He didn't look relieved. He simply pressed a button on his intercom. "Bring the check. She’s finished."
A moment later, his assistant, a woman with a face as pinched as a lemon, walked in and placed a slip of paper on the desk. I didn't look at the numbers. I knew it was enough. It was blood money, but it was enough.
"The driver is waiting downstairs," Liam said, turning his back on me again. He was already checking his watch, dismissing me like I was a meeting that had run two minutes over. "He will take you to the private residence. You will stay there until the birth. My doctors will monitor you daily."
I stood up, my legs shaking. I wanted to scream at him. I wanted to tell him that he was a monster, that a child needed love, not just a trust fund and a penthouse. But I was nobody. I was the maid’s daughter who grew up in the shadow of his world, and now, I was just a hired womb.
"Goodbye, Mr. Sterling," I whispered.
He didn't answer.
I walked to the elevator, my heart pounding a frantic rhythm against my ribs. The doors slid open, and I stepped inside, the mirrored walls reflecting a pale, terrified girl with tears streaming down her face.
As the elevator plummeted toward the lobby, I clutched the check to my chest. I had saved Nana. That was what mattered. I repeated it like a mantra. I saved Nana.
But as the floors ticked down, a sharp, sudden pain shot through my side, followed by a sensation I had never felt before. It wasn't just one kick.
It was two.
Distinct. Separate. Simultaneous.
One on the left. One on the right.
I froze, my breath hitching. The doctor Liam had hired... he had done the ultrasound so quickly. He had said "one healthy fetus." But I knew my body. And in that silent elevator, with the ink on the contract still wet, a terrifying realization washed over me.
I looked down at my stomach, my hands trembling.
I didn't know then that I wasn't carrying one soul, but two.
And I didn't know that Liam Sterling had just bought the wrong baby.
Sesampainya di depan ruangan El masuk dengan rasa gugup sekaligus senang nya, ia langsung duduk di kursi kepemimpinan dan memutar kursi itu membelakangi Kiara yang dari tadi mengikuti nya.El langsung memegangi dadanya yang berdebar tiga kali lebih cepat saat ini. Wajahnya yang berseri dan bibir nya yang tersenyum di balik sana membuat Kiara mengerutkan kening nya."Sedang apa yang di lakukan pak El, kenapa dia diamkan aku seperti ini? Dia tadi memanggil ku untuk mengikuti nya sekarang malah aku di anggurin seperti ini!" Kesal Kiara karena El tak kunjung menyampaikan apa maksud dia menyuruh Kiara untuk ke ruangannya."Pak Rafael..." Panggil Kiara dengan hati-hati. "Maaf pak tadi bapak panggil saya ke sini untuk apa ya?" Tanyanya dengan sangat hati-hati.Sedangkan El ia masih memegang dadanya itu, ia masih menenangkan hatinya yang kurang ajar nya masih berdebar-debar mengingat kejadian tadi, lalu El pun menyentuh bibirnya yang masih merasakan bagaimana lembut nya
Kiara mengikuti langkah cepat dan lebar pimpinan sekaligus pemilik hotel itu. Langkah cepatnya El membuat Kiara pun menjadi cepat padahal ia saat ini menggunakan sepatu yang berhak cukup tinggi.Ketika mereka melangkahkan kaki, Kiara melihat seorang rekan kerjanya yang sedang mengepel lantai, dan mungkin El tidak memperhatikan nya, maklum saja dia adalah bos untuk apa memperhatikan bawahan nya secara detail."Awas pak El ada genangan a....aaaaaa." Mendengar Kiara berteriak dengan cepat El membalikkan tubuhnya dan dengan refleks menarik pinggang Kiara dengan tangan nya yang akan terjengkang itu. Kiara pun yang merasakan tubuhnya akan terjatuh menjengkang karena licin nya genangan air itu pun tanpa sadar menarik jas yang El kenakan saat ini, sehingga jika di slow motion gerakan mereka terlihat jelas saling tarik menarik, dan pada saat itu El tanpa sengaja mengecup kening Kiara saat Kiara menarik jas El dengan kedua tangan nya sehingga Kiara menabrak dada bidang El itu. S
Kiara menjamu semua tamu yang hadir dalam penjamuan tersebut, salah satu di antara mereka Kiara mengenalnya ya Kiara melihat Ferdi berada di sana duduk dengan santai nya. "Apa kak Ferdi masih sedang bekerja ya? Oh mungkin kak Ferdi di ajak bos nya kesini karena dia kan bekerja di perusahaan itu." batin Kiara. Dengan sopan dan ramah Kiara bersikap, semua tamu di sana pun sangat bersikap ramah. Kiara yang bertugas menjamu apapun yang mereka butuhkan dari mengambilkan makanan, minuman dan hidangan penutup. Terdengar dari obrolan mereka seperti pertemuan keluarga bukan seperti pertemuan kolega bisnis. Dan alangkah terkejutnya Kiara saat mendengar pemilik itu mengenalkan anaknya kepada semua tamu nya itu, dan anak yang di maksud nya adalah Ferdi kakak kelas Kiara semasa kuliah. Saat Kiara tak sengaja melihat Ferdi, Ferdi pun sedang menatap Kiara dan tersenyum tipis. Kiara membalas senyuman Ferdi kaku. Setelah selesai menjamu keluarga Ferdi yang masih
Setelah kejadian 350 itu terjadi hari hari Kiara jalani dengan ikhlas ya suatu kata yang mudah di ucapkan namun sulit untuk di jalani, tapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi Kiara meyakini bahwa setiap masalah pasti ada solusinya. Ya, solusi yang akan membuat nya susah seumur hidup Kiara. "Kiara" panggil seseorang, Kiara pun membalikkan badan nya untuk mengetahui siapa yang memanggil nya. "Kak Ferdi kakak lagi ngapain disini?" tanya Kiara pada Ferdi "Aku sedang kerja disini itu perusahaan tempat aku bekerja." ucapnya menunjukkan ke arah perusahaan besar dekat hotel Kiara bekerja. "Kak Ferdi kerja di perusahaan itu? Wah keren banget kakak bisa kerja di sana, itu kan perusahaan besar dan gak mudah orang bisa kerja di sana." ucap Kiara kagum. Ferdi hanya tersenyum dengan perkataan Kiara, "Kamu kerja di hotel ini?" tanya Ferdi melihat dari seragam Kiara. Kiara hanya mengangguk membenarkan pertanyaan Ferdi. "Wah kita bisa terus ketemu dong Kiara." cic






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews