Share

Bab 4

Author: Gali Pratama
last update publish date: 2026-07-31 11:51:15

“Be-beneran, Bu? Nggak apa-apa emang kalau saya ikut masuk, Bu?” tanya Raka sedikit terkejut mendengar tawaran dari bosnya itu.

Clara mengangguk lalu keluar dari mobilnya, diikuti oleh Raka dan mengikuti wanita itu dari belakang.

Masuk lift yang terhubung langsung ke unit apartemen Clara.

"Duduk di situ, Raka," perintah Clara pelan sambil menunjuk sofa saat mereka telah tiba di apartemen.

Kemudian melangkah menuju dapur bersih, mengambil beberapa bongkah es batu dari kulkas dua pintu, membungkusnya dengan kain handuk kecil yang bersih, lalu menghampiri Raka kembali.

Raka duduk agak canggung di pinggir sofa.

Rasa sungkan bercampur takjub memenuhi pikirannya ketika melihat betapa luas dan megahnya apartemen milik bosnya itu.

Sebagai OB yang biasanya hanya menyapu lorong kantor, berada di dalam hunian pribadi bos besarnya terasa seperti mimpi yang gila.

"Tahan sebentar, ya. Nanti rada ngilu," ucap Clara halus.

Tangan lentiknya yang hangat perlahan mendaratkan kain berisi es itu ke pipi kiri Raka yang membengkak dan memerah.

"Aww..." Raka meringis pelan saat sensasi dingin menghantam lukanya.

"Sakit?" tanya Clara dengan raut wajah penuh cemas. Matanya menatap lekat lebam di wajah Raka, lalu naik menatap manik mata pemuda 24 tahun itu.

"Dikit, Bu. Tapi nggak apa-apa, selama Ibu yang ngompres," jawab Raka diselingi cengiran tipis yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

Clara sontak memutar bola matanya mendengarnya. "Kamu itu, masih sempat-sempatnya becanda setelah kena pukul orang gila kayak Heru."

"Ya mau gimana lagi, Bu? Daripada saya nangis di depan bos sendiri, kan malu," balas Raka dengan lembut.

Clara terdiam sejenak, sementara tangannya terus menekan kompres es itu dengan sangat hati-hati.

"Baru kali ini ada pria yang pasang badan buat ngelindungin saya, Raka,” gumam Clara dengan suara lirihnya.

"Berarti Pak Heru sering begitu ya, Bu? Maksudnya suka KRDT dan marah-marah kayak tadi?" tanya Raka ingin tahu.

"Bukan urusan kamu, Raka,” jawab Clara pendek.

"Memang bukan urusan saya, Bu," ucap Raka seraya menatap lekat wajah sang bos.

"Tapi kalau dilihat dari cara dia mendatangi Ibu tadi tuh dia kayak bukan cuma gak mau cerai sama Ibu aja. Dia tahu persis celah yang bikin Ibu takut."

Jemari Clara yang memegang kain kompres mendadak gemetar tipis. Namun, bibirnya masih diam seribu bahasa karena bingung harus memulai dari mana.

“Ada sesuatu yang dia pegang buat ngancam Ibu?" Raka kembali memastikan.

Clara kemudian menghela napas berat begitu mendengar pertanyaan dari karyawannya itu.

"Ya begitulah, Raka. Pernikahan saya sama dia itu bukan rumah,” ucap Clara seraya menatap kosong ke depan.

“Maksudnya, Bu? Gapapa cerita aja, Bu. Biar Ibu juga tenang, siapa tahu Ibu butuh teman curhat, kan?” goda Raka yang kembali menerbitkan cengiran pada wanita itu.

Clara memalingkan wajahnya dengan tangan meremas kuat.

Apa yang dikatakan oleh Raka memang ada benarnya, meskipun dia hanya seorang OB, tapi keberaniannya melawan Heru patut diacungi jempol.

Jika tidak Raka di sana saat itu, mungkin wajahnya yang akan bonyok terkena hantaman keras dari Heru. 

"Dia itu manusia paling jahat yang pernah saya kenal. Dulu waktu kami masih jadi suami istri, perusahaan yang saya bangun ini pernah mengalami krisis. Heru bawa saya ke meeting sama sahabat lamanya yang katanya investor besar."

Raka menyimak dengan cermat. Bahkan raut wajah konyolnya perlahan berganti menjadi serius saat menangkap luka mendalam dari nada bicara wanita itu.

"Di tengah-tengah meeting di restoran pribadi, Heru sengaja izin ke kamar mandi lama banget," lanjut Clara dengan nada suaranya yang mulai bergetar menahan gejolak emosi.

"Ternyata dia sengaja ngebiarin sahabatnya itu mengintimidasi dan melecehkan saya secara fisik di bawah meja. Paha saya dipegang-pegang, baju saya mau ditarik. Saat saya berontak dan minta tolong sama Heru pas dia balik, tahu apa yang dia bilang?"

Clara menoleh pada Raka dengan mata berkaca-kaca menahan air mata yang sudah berkumpul di sudut mata cantiknya.

"Dia cuma bilang, 'Udah sih Clara, kasih aja apa mau dia. Ini demi investasi perusahaan kita.' Dia jual istrinya sendiri demi uang dan relasi!" tumpah Clara dengan napas yang memburu.

Mata Raka seketika membola mendengarnya. Rahangnya pun merapat keras. Kepalan tangannya di atas paha juga mengencang seketika.

"Keparat!" umpat Raka tanpa sadar.

Pria mana yang tega membiarkan istrinya digodai dan dilecehkan pria lain demi materi? Jawabannya, cuma Heru yang bajingan seperti itu.

"Sejak hari itu, saya gugat cerai dia. Tapi pengkhianatannya nggak berhenti di situ. Dia kuras tabungan bersama dan nipu saya habis-habisan sebelum angkat kaki," tutur Clara lagi.

Namun, kali ini air mata akhirnya menetes melintasi pipi mulusnya.

"Sejak saat itu, saya membenci suami saya hingga saat ini.”

Raka mengangguk dengan pelan. Kepingan puzzle di kepalanya kini menyatu sempurna. Ia akhirnya paham kenapa Clara bereaksi begitu agresif dan menuduhnya saat ketahuan di kantor tadi sore.

Clara lantas menyapu air matanya dengan punggung tangan lalu menatap Raka kembali. 

"Termasuk… soal apa yang kamu lihat di kantor tadi sore," bisik Clara dengan wajah kemerahan menahan malu.

"Saya ini wanita normal, Raka. Saya punya kebutuhan dan gairah, tapi saya trauma sama pria. Saya nggak sudi disentuh atau menyentuh pria manapun lagi. Jadi, main solo itu satu-satunya cara aman buat saya memuaskan diri sendiri tanpa takut dikhianati lagi."

Mendengar pengakuan yang begitu jujur itu, Raka hanya bisa menyengir canggung.

Wajahnya pun ikut memanas membayangkan kembali adegan paha mulus dan desahan Clara di sofa kantor sore tadi.

"I-iya, Bu. Saya paham kok. Itu wajar banget," jawab Raka terbata-bata sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal akibat canggung.

Clara menatap cengiran konyol Raka.

Kejujuran dan kepolosan pemuda itu justru terasa begitu menyegarkan di matanya.

"Tapi kamu beda," gumam Clara dengan pelan.

“Walaupun kamu masih muda, tapi kamu berani pasang badan waktu Heru mau nampar saya. Dan kamu nggak minta imbalan apa-apa."

"Ya gimana ya, Bu. Pria mana yang tega liat cewek mau ditampar di depan mata sendiri?" sahut Raka jujur seraya menatap langsung ke dalam manik mata Clara yang kini meredup hangat.

"Lagian, asumsi Ibu soal saya itu salah dikit. Sebenarnya saya carmuk sikit lah, Bu. Biar nggak jadi dipecat, hehe."

Citra lantas memutar bola matanya mendengarnya. “Ada-ada aja kamu, Raka.” 

Raka tersenyum canggung kemudian menatap lekat wajah Clara.

“Oh iya, Bu. Kalau Ibu nggak keberatan, saya bisa kok jagain Ibu kalau semisal Pak Heru datang lagi ke kantor atau ke sini. Pokoknya Ibu nggak usah khawatir! Saya jago bela diri!” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 13

    Clara menatap tonjolan tebal di balik celana Raka dengan binar mata liar.Tanpa ragu, jemari lentik dengan kuku berpoles cat merah itu membuka kancing dan Ritsleting celana Raka, lalu meluncurkan celana kain dan celana dalam pria itu ke bawah lutut.Anggota tubuh Raka yang besar, tebal, dan tegang keras melompat bebas. Urat-urat menonjol melingkari batangnya yang hangat.Clara menarik napas pendek. Meski sudah beberapa kali melihatnya, ukuran milik staf OB-nya ini selalu berhasil memancing rasa takjub sekaligus gairah murninya."Punya kamu selalu sebesar ini, Raka. Benar-benar gila," gumam Clara sambil memegang batang tebal itu dengan satu tangannya."Ini semua karena merekam keindahan tubuh Bu Clara," balas Raka jujur, suaranya makin berat saat jemari Clara mulai mengusap bagian kepalanya yang basah oleh cairan pra-ejakulasi.Clara membungkukkan tubuh cantiknya di tepi meja mahoni.Dengan bibir indahnya yang merekah, ia mulai melingkupi ujung kepala milik Raka, memasukkannya perlahan

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 12

    Jemari Raka bergerak terampil meraih kepala ritsleting di bagian belakang rok pensil ketat milik bosnya.Dengan satu tarikan mantap, ritsleting besi itu bergeser turun, membelah kain ketat yang membungkus panggul berlekuk indah tersebut.Raka menuntun rok itu meluncur melewati paha mulus yang padat dan berisi, membiarkannya jatuh menumpuk di lantai marmer yang dingin.Kini, penglihatannya dimanjakan oleh pemandangan yang sanggup melipatgandakan gairah di dalam dadanya.Clara hanya mengenakan celana dalam renda tipis berwarna hitam yang teramat transparan.Di bagian tengah kain tipis itu, bercak basah berdiameter lebar sudah mencetak jelas, membuktikan betapa tubuh CEO wanita itu sangat responsif terhadap sentuhannya.Bau harum parfum vanila bercampur aroma alami tubuh wanita yang bangkit gairahnya memenuhi udara di sekitar Raka.Tanpa membuang waktu, Raka mengambil posisi berlutut tepat di antara kedua paha mulus Clara yang terkuak lebar di tepi meja mahoni.Dengan kedua tangannya yan

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 11

    “Selamat pagi, Bu Clara,” sapa Raka saat tiba di depan pintu ruang kerja sang bos.“Pagi,” jawab Clara. "Tutup pintunya dan kunci dari dalam, Raka," perintah Clara. Suaranya rendah, penuh penekanan yang tak bisa dibantah."Baik, Bu Clara," jawab Raka patuh, lalu melangkah ke arah pintu utama, memutar kait kunci besi hingga terdengar bunyi klik yang bergema di ruangan hening itu.Ia pun kembali melangkah mendekati Clara, lalu berhenti tepat satu langkah di hadapan wanita berkulit putih mulus itu.Clara melepaskan blazer mewahnya dan melemparkannya begitu saja ke atas kursi kerja.Tatapan mata tajam sang CEO wanita berumur tiga puluh tahun itu mengunci wajah Raka. Ada gairah liar yang tersirat jelas di balik tatapan dominan itu.Clara menyandarkan pinggulnya pada tepi meja mahoni. Kakinya yang berbalut rok pensil ketat bersilangan rapi."Kamu tahu persis apa tugas tambahanmu pagi ini, kan?" Suara Clara rendah, terkontrol, namun menyimpan getaran halus yang menembus hening ruangan."Saya

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 10

    Raka memacu sepeda motor tuanya menembus padatnya lalu lintas jalanan kota.Kebisingan klakson dan deretan lampu merah tak dihiraukannya; pikirannya sepenuhnya tertuju pada jarum jam yang terus berputar cepat.Angin malam menghantam dada tegapnya, tetapi rasa dingin tak terasa sama sekali karena darahnya berdesir hebat oleh ketegangan."Sedikit lagi, Raka, sedikit lagi!" gumamnya seraya memutar gas motor makin dalam.Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 19.52 WIB. Ia hanya punya waktu delapan menit sebelum Pak RT mewujudkan ancamannya.Setiap detik terasa begitu berharga, berpacu keras melawan keputusasaan yang hampir menenggelamkannya beberapa jam lalu.Sementara itu, di lorong kontrakan lantai dua, Pak RT sudah berdiri kaku di depan pintu kamar Raka. Raut wajah pria paruh baya itu sangat gusar.Di tangan kanannya tergenggam gembok besi besar yang masih baru, sedangkan tangan kirinya memegang dua kantong plastik sampah berukuran besar.Pak RT beberapa kali melirik jam

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 9

    Clara menarik napas panjang sembari membenarkan ikatan bathrobe sutranya, lalu memutar kunci dan membuka pintu apartemen.Di ambang pintu, berdiri dua sahabat sosialitanya: Fiona dan Sheila.Keduanya tampil memikat dengan gaun malam yang modis dan riasan sempurna, masing-masing memegang botol minuman mahal."Akhirnya dibuka juga! Kita pikir kamu lagi pingsan di dalam, Ra," cerocos Fiona seraya melangkah masuk tanpa diundang, disikuti Sheila yang tertawa renyah."Nggak ngabarin dulu kalau mau datang?" tanya Clara sambil berusaha menutupi kepanikannya dengan nada dingin yang biasa ia perlihatkan."Surprise, dong! Kita tahu kamu lagi butuh hiburan," balas Sheila santai.Namun, langkah Fiona dan Sheila terhenti mendadak begitu melewati lorong kecil menuju ruang tengah.Raka, yang tidak sempat bersembunyi penuh di kamar mandi karena panik dan bingung, justru keluar dari area kamar utama sambil merapikan kancing kemejanya yang belum sepenuhnya terpasang rapi.Pemuda bertubuh tegap dan berwa

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 8

    "Lepas baju kamu sepenuhnya," perintah Clara dengan nada suara tegasnya.Mendengar perintah tersebut, Raka langsung menelan ludahnya, tenggorokannya mendadak kering.“B-baik, Bu.”Jemarinya yang kasar bergerak cekatan melepas sisa kancing seragam OB yang melilit tubuhnya hingga kain murah itu jatuh begitu saja ke lantai.Di bawah pendar lampu kamar yang remang, dada tegap Raka terekspos jelas.Bentuk tubuhnya terbentuk alami dari kerja fisik sehari-hari, mengangkat dus berat, memindahkan furnitur kantor, dan menyapu koridor Gedung Graha Nusantara.Secara instingtif, Raka menyadari posisi tawar dalam ruangan ini.Di luar sana, ia hanyalah buruh harian dengan gaji pas-pasan yang sering dipandang sebelah mata.Namun di dalam kamar mewah ini, bentuk fisiknya yang tegap, bahunya yang lebar, serta otot dadanya yang padat menjadi modal utama yang sangat diinginkan oleh atasannya.Ada kepuasan tersembunyi yang bergetar di dadanya saat melihat mata Clara meneliti setiap lekuk tubuhnya dengan l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status