Se connecterHeru bungkam seketika.
Menyadari dirinya kalah telak secara fisik, Heru lantas menghempaskan tangan Raka dengan kasar, dan merapikan bajunya yang kusut sembari melangkah mundur.
"Awas lo ya. Urusan kita belum selesai!" ancam Heru sebelum akhirnya berbalik dan berjalan cepat meninggalkan koridor.
“Dan lo, Clara. Hidup lo gak akan tenang karena udah berani ceraikan gue!” ucapnya sambil menunjuk tepat di wajah Clara.
Setelah melihat Heru keluar dari ruangan itu, Raka perlahan memutar tubuhnya dan mendapati Clara berdiri membeku tak jauh di belakangnya. Kedatangan Heru jelas merebut kembali trauma yang berusaha ia kubur rapat-rapat.
"Bu Clara nggak apa-apa?" tanya Raka dengan pelan.
Clara mengerjapkan mata beberapa kali, seolah baru saja ditarik kembali ke dunia nyata. "S-saya... saya nggak apa-apa."
Namun ketika Clara melangkah satu kali menuju pintu ruang kerjanya untuk mengambil kunci mobil, lututnya mendadak lemas.
Tubuhnya limbung ke samping.
Dengan refleks cepat, Raka merengkuh bahu Clara sebelum wanita itu tersungkur ke lantai.
Tangannya yang hangat dan kokoh menahan tubuh rapuh sang bos besar. Untuk beberapa detik, posisi mereka begitu dekat.
"Awas, Bu," bisik Raka sembari menahan tubuh wanita itu.
Clara menyandar pasrah di dada tegap Raka selama beberapa saat, hingga gengsinya yang tinggi mendadak runtuh oleh rasa lelah emosional yang melingkupinya.
Melihat kondisi Clara yang tampak lemas seperti itu, Raka jadi tidak tega kalau membiarkan sang bos menyetir sendiri ke rumahnya.
"Ibu yakin bisa jalan ke parkiran basement?" tanya Raka memastikan.
“Memangnya kamu mau, antar saya sampai rumah?” tanya Clara kemudian.
Raka mengangguk. Semoga setelah ini sang bos urung memecatnya jika dia mau membantunya mengantar pulang.
Setidaknya ini adalah bagian dari effort yang harus Raka lakukan demi mempertahankan statusnya sebagai OB di sana.
"Bisa, Bu. Mari saya antar." Raka melangkah mengikuti Clara dari belakang menuju basement.
Setibanya disana, Raka langsung membukakan pintu penumpang depan untuk Clara, memastikan wanita itu duduk dengan nyaman, baru kemudian ia memutari mobil dan duduk di kursi pengemudi.
Saat Raka menarik sabuk pengaman dan menyalakan mesin, cahaya dari panel instrumen mobil menerangi wajahnya dari samping.
Clara, yang duduk di sebelahnya, tak bisa menahan matanya untuk tidak memperhatikan pemuda 24 tahun itu.
Pipi kiri Raka terlihat memerah dan sedikit bengkak akibat hantaman tangan Heru tadi.
‘Dia benar-benar pasang badan buat aku,’ batin Clara.
Rasa bersalah di dadanya kian berdenyut nyeri. Pria yang tadi ia tuduh, kini justru duduk di sampingnya, menjadi pelindungnya di saat tergelapnya.
"Pipi kamu," ucap Clara membuka suara. "Pipi kamu memar, Raka."
Raka melirik sebentar ke kaca spion tengah lalu mengulas senyum tipis. "Cuma memar dikit kok, Bu. Nanti juga hilang kalau dikompres es."
"Maaf," potong Clara cepat.
Raka menoleh sekilas dan terkejut mendengar kata itu keluar dari mulut sang bos besar.
"Maaf buat yang di ruangan tadi," lanjut Clara.
"Saya... saya terlalu cepat nuduh kamu yang enggak-enggak. Saya pikir kamu sama aja kayak pria lain yang cuma mau manfaatin keadaan. Saya tahu kamu nggak sengaja masuk."
Raka menahan napasnya sejenak. Penjelasan jujur dari Clara membuat sudut hatinya hangat.
Ternyata wanita tangguh ini punya trauma mendalam yang membuatnya selalu memasang benteng pertahanan begitu tinggi pada setiap pria.
"Nggak apa-apa, Bu. Saya paham kok," balas Raka lembut.
"Saya juga minta maaf karena masuk nggak ngetuk pintu dulu. Kalau saya ngetuk, Ibu nggak bakal sekaget tadi."
Clara menggigit bibir bawahnya. Kata-kata Raka yang begitu pengertian justru membuat perasaan asing di dalam dadanya makin bergejolak.
Hingga akhirnya, mobil berbelok memasuki area parkir basement sebuah apartemen mewah di kawasan pusat kota.
Raka memarkirkan mobil dengan mulus di slot khusus milik Clara, lalu mematikan mesin.
Raka melepas sabuk pengamannya dan menoleh ke arah Clara. "Sudah sampai, Bu,” ucapnya memberitahu.
Namun Clara tidak langsung bergerak untuk membuka pintu.
Wanita itu tetap duduk bergeming, sementara matanya menatap lurus ke depan dengan napas yang mulai tak teratur.
"Bu Clara?" panggil Raka dengan pelan.
Clara perlahan menoleh menatap Raka sambil menggigit bibir bawahnya yang membuat Raka mengerutkan keningnya.
"Raka," panggil Clara dengan suara lirihnya.
“Iya, Bu? Ada yang bisa dibantu, Bu?” tanya Raka dengan cepat.
"Kamu... mau ikut naik ke atas sebentar? Saya mau bantu kompres pipi kamu."
Clara menatap tonjolan tebal di balik celana Raka dengan binar mata liar.Tanpa ragu, jemari lentik dengan kuku berpoles cat merah itu membuka kancing dan Ritsleting celana Raka, lalu meluncurkan celana kain dan celana dalam pria itu ke bawah lutut.Anggota tubuh Raka yang besar, tebal, dan tegang keras melompat bebas. Urat-urat menonjol melingkari batangnya yang hangat.Clara menarik napas pendek. Meski sudah beberapa kali melihatnya, ukuran milik staf OB-nya ini selalu berhasil memancing rasa takjub sekaligus gairah murninya."Punya kamu selalu sebesar ini, Raka. Benar-benar gila," gumam Clara sambil memegang batang tebal itu dengan satu tangannya."Ini semua karena merekam keindahan tubuh Bu Clara," balas Raka jujur, suaranya makin berat saat jemari Clara mulai mengusap bagian kepalanya yang basah oleh cairan pra-ejakulasi.Clara membungkukkan tubuh cantiknya di tepi meja mahoni.Dengan bibir indahnya yang merekah, ia mulai melingkupi ujung kepala milik Raka, memasukkannya perlahan
Jemari Raka bergerak terampil meraih kepala ritsleting di bagian belakang rok pensil ketat milik bosnya.Dengan satu tarikan mantap, ritsleting besi itu bergeser turun, membelah kain ketat yang membungkus panggul berlekuk indah tersebut.Raka menuntun rok itu meluncur melewati paha mulus yang padat dan berisi, membiarkannya jatuh menumpuk di lantai marmer yang dingin.Kini, penglihatannya dimanjakan oleh pemandangan yang sanggup melipatgandakan gairah di dalam dadanya.Clara hanya mengenakan celana dalam renda tipis berwarna hitam yang teramat transparan.Di bagian tengah kain tipis itu, bercak basah berdiameter lebar sudah mencetak jelas, membuktikan betapa tubuh CEO wanita itu sangat responsif terhadap sentuhannya.Bau harum parfum vanila bercampur aroma alami tubuh wanita yang bangkit gairahnya memenuhi udara di sekitar Raka.Tanpa membuang waktu, Raka mengambil posisi berlutut tepat di antara kedua paha mulus Clara yang terkuak lebar di tepi meja mahoni.Dengan kedua tangannya yan
“Selamat pagi, Bu Clara,” sapa Raka saat tiba di depan pintu ruang kerja sang bos.“Pagi,” jawab Clara. "Tutup pintunya dan kunci dari dalam, Raka," perintah Clara. Suaranya rendah, penuh penekanan yang tak bisa dibantah."Baik, Bu Clara," jawab Raka patuh, lalu melangkah ke arah pintu utama, memutar kait kunci besi hingga terdengar bunyi klik yang bergema di ruangan hening itu.Ia pun kembali melangkah mendekati Clara, lalu berhenti tepat satu langkah di hadapan wanita berkulit putih mulus itu.Clara melepaskan blazer mewahnya dan melemparkannya begitu saja ke atas kursi kerja.Tatapan mata tajam sang CEO wanita berumur tiga puluh tahun itu mengunci wajah Raka. Ada gairah liar yang tersirat jelas di balik tatapan dominan itu.Clara menyandarkan pinggulnya pada tepi meja mahoni. Kakinya yang berbalut rok pensil ketat bersilangan rapi."Kamu tahu persis apa tugas tambahanmu pagi ini, kan?" Suara Clara terdengar serak, terengah pelan, menembus hening ruangan."Saya tahu, Bu," balas Raka
Raka memacu sepeda motor tuanya menembus padatnya lalu lintas jalanan kota.Kebisingan klakson dan deretan lampu merah tak dihiraukannya; pikirannya sepenuhnya tertuju pada jarum jam yang terus berputar cepat.Angin malam menghantam dada tegapnya, tetapi rasa dingin tak terasa sama sekali karena darahnya berdesir hebat oleh ketegangan."Sedikit lagi, Raka, sedikit lagi!" gumamnya seraya memutar gas motor makin dalam.Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 19.52 WIB. Ia hanya punya waktu delapan menit sebelum Pak RT mewujudkan ancamannya.Setiap detik terasa begitu berharga, berpacu keras melawan keputusasaan yang hampir menenggelamkannya beberapa jam lalu.Sementara itu, di lorong kontrakan lantai dua, Pak RT sudah berdiri kaku di depan pintu kamar Raka. Raut wajah pria paruh baya itu sangat gusar.Di tangan kanannya tergenggam gembok besi besar yang masih baru, sedangkan tangan kirinya memegang dua kantong plastik sampah berukuran besar.Pak RT beberapa kali melirik jam
Clara menarik napas panjang sembari membenarkan ikatan bathrobe sutranya, lalu memutar kunci dan membuka pintu apartemen.Di ambang pintu, berdiri dua sahabat sosialitanya: Fiona dan Sheila.Keduanya tampil memikat dengan gaun malam yang modis dan riasan sempurna, masing-masing memegang botol minuman mahal."Akhirnya dibuka juga! Kita pikir kamu lagi pingsan di dalam, Ra," cerocos Fiona seraya melangkah masuk tanpa diundang, disikuti Sheila yang tertawa renyah."Nggak ngabarin dulu kalau mau datang?" tanya Clara sambil berusaha menutupi kepanikannya dengan nada dingin yang biasa ia perlihatkan."Surprise, dong! Kita tahu kamu lagi butuh hiburan," balas Sheila santai.Namun, langkah Fiona dan Sheila terhenti mendadak begitu melewati lorong kecil menuju ruang tengah.Raka, yang tidak sempat bersembunyi penuh di kamar mandi karena panik dan bingung, justru keluar dari area kamar utama sambil merapikan kancing kemejanya yang belum sepenuhnya terpasang rapi.Pemuda bertubuh tegap dan berwa
"Lepas baju kamu sepenuhnya," perintah Clara dengan nada suara tegasnya.Mendengar perintah tersebut, Raka langsung menelan ludahnya, tenggorokannya mendadak kering.“B-baik, Bu.”Jemarinya yang kasar bergerak cekatan melepas sisa kancing seragam OB yang melilit tubuhnya hingga kain murah itu jatuh begitu saja ke lantai.Di bawah pendar lampu kamar yang remang, dada tegap Raka terekspos jelas.Bentuk tubuhnya terbentuk alami dari kerja fisik sehari-hari, mengangkat dus berat, memindahkan furnitur kantor, dan menyapu koridor Gedung Graha Nusantara.Secara instingtif, Raka menyadari posisi tawar dalam ruangan ini.Di luar sana, ia hanyalah buruh harian dengan gaji pas-pasan yang sering dipandang sebelah mata.Namun di dalam kamar mewah ini, bentuk fisiknya yang tegap, bahunya yang lebar, serta otot dadanya yang padat menjadi modal utama yang sangat diinginkan oleh atasannya.Ada kepuasan tersembunyi yang bergetar di dadanya saat melihat mata Clara meneliti setiap lekuk tubuhnya dengan l







