تسجيل الدخول“Gimana, Bu?” tanya Raka menunggu Clara menjawab tawarannya barusan.
Clara menghela napasnya dengan panjang seraya menatap lekat wajah Raka, lalu tersenyum tipis.
“Iya, boleh. Kalau kamu nggak keberatan. Mana nomor kamu? Biar saya simpan.”
“Nggak kok, Bu. Anggap aja ini utang kecerobohan saya tadi sore,” ucap Raka sambil mengeluarkan ponsel android series lama dan mendikte nomornya.
“Terima kasih, Raka. Besok jangan sampai telat masuk kantor. Kamu nggak jadi saya pecat.”
“Siap delapan enam, Bu!” ucap Raka penuh semangat.
**
Keesokan paginya, Raka melangkah menyusuri koridor dengan senyum yang tak berhenti mengembang dari bibirnya.
Bahkan sambil bersiul pelan menyanyikan lagu riang, tangan tegapnya dengan cekatan mendorong troli pembersih dan menggerakkan alat pel ke kanan dan ke kiri.
Semangatnya membara jadi seratus persen.
Setelah menyelesaikan lorong utama, Raka berhenti tepat di depan pintu kayu tebal ruang kerja sang bos besar, Clara.
Raka menarik napas dalam-dalam.
Kali ini, ia tak mau mengulang kecerobohan kemarin. Tangan kanannya terangkat dengan pelan lalu mengetuk pintu tiga kali dengan sopan.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Bu Clara," panggil Raka pelan.
Hening. Tidak ada sahutan dari dalam.
Raka memutar gagang pintu perlahan dan mendorongnya sedikit. Masih sepi.
"Aman," gumam Raka lega.
Ia pun segera memulai pekerjaannya.
Mengambil kain microfiber dan semprotan pembersih kaca, lalu mengelap dinding kaca yang membatasi ruangan dengan pemandangan kota dengan cekatan.
Selesai dengan kaca, ia beralih mengambil alat pel, lalu memoles lantai marmer hitam itu hingga mengkilap tanpa noda.
Tugas terakhirnya adalah membersihkan area meja kerja mahoni yang megah di tengah ruangan.
Raka melangkah mendekat sambil membawa kain lap khusus kayu.
Namun, begitu matanya menyapu permukaan meja dan area sofa di sampingnya, langkah Raka seketika terhenti telak.
Di atas meja, tepat di samping tumpukan berkas laporan keuangan, tergeletak sebuah benda berwarna merah muda berukuran sedang.
Alat bergetar milik Clara yang kemarin sore digunakan sang bos rupanya masih tertinggal di sana.
Tubuh Raka sontak membeku. Tenggorokannya mendadak terasa kering kerontang, dan ia refleks menelan ludahnya dengan susah payah.
‘Kok masih ada di sini?! Bu Clara lupa beresin semalem?’ jerit Raka dalam hati. Pemuda itu celingukan, menoleh cepat ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang lain atau kamera pengawas yang merekam posisinya.
Haruskah ia mengambil alat itu dan menyembunyikannya ke dalam tas Clara? Atau membiarkannya tergeletak di sana begitu saja?
Kalau sampai ada staf atau sekretaris masuk dan melihat benda terlarang itu, reputasi Clara sebagai bos dingin dan elegan bakal hancur berkeping-keping!
"Gimana ini? Kenapa juga Bu Clara lupa naro ini barang laknat," gumam Raka kemudian menggaruk rambutnya yang tidak gatal itu.
Klek.
Suara pintu ruang kerja yang terbuka mendadak memotong helatan napas Raka. Pemuda itu tersentak kaget dan langsung menoleh cepat ke arah pintu.
Di sana, Clara berdiri dengan penampilan yang begitu memesona mengenakan rok span hitam pendek dan kemeja putih gading, dengan rambut digerai ke bawah.
Begitu mata mereka berbenturan, Raka langsung menyunggingkan senyum canggung yang teramat kaku, dan tangannya dengan refleks menyembunyikan kain lap ke belakang punggung.
"P-pagi, Bu Clara," sapa Raka terbata-bata.
Clara menghentikan langkahnya di dekat pintu dan menatap Raka dengan tatapan santai, tidak lagi datar seperti kemarin.
"Pagi, Raka," balas Clara lalu mengernyit heran melihat raut wajah OB-nya yang panik.
"Kamu kenapa? Muka kamu kok tegang gitu?" tanyanya kemudian.
"Anu, Bu, itu..." Raka tidak berani bersuara keras.
Jarinya menunjuk ragu-ragu ke arah benda berwarna merah muda di atas meja, sembari matanya berkedip-kedip memberi kode.
"Itu... ada yang tertinggal dari kemarin sore, Bu. Saya... saya nggak berani nyentuh sama sekali, sumpah!"
Clara mengikuti arah tunjukkan Raka.
Begitu matanya menangkap sex toy miliknya tergeletak telanjang di atas meja kerja, wajah bos wanita itu seketika memerah padam.
Clara dengan terburu-buru melangkah mendekat dan berdiri tepat di depan Raka.
"Ada... ada orang lain yang udah masuk ke sini sebelum kamu?" tanya Clara panik seraya menatap Raka penuh kecemasan.
Raka menggelengkan kepalanya dengan mantap dan cepat.
"Aman, Bu! Nggak ada sama sekali. Pintu tadi masih terkunci pas saya buka. Baru saya yang masuk ke ruangan Ibu pagi ini."
Mendengar penegasan itu, Clara menghela napas lega yang amat panjang.
Beban berat di dadanya terangkat seketika.
Ia kemudian mengulurkan tangannya, mengambil alat bergetar itu dan memasukkannya dengan cepat ke dalam tas kerja mewahnya yang terbuka.
Setelah mengamankan rahasianya, Clara tidak lantas menjauh. Ia berdiri sangat dekat di depan Raka, yang hanya terpisahkan oleh sudut meja.
Mengingat kejadian semalam di mana Raka melindunginya, mendengarkan semua
Clara mendongak pelan dan melirik Raka dari balik bulu matanya yang lentik.
Ia tengah memiringkan kepalanya sedikit, mengamati dada tegap Raka di balik seragam OB-nya, lalu membasahi bibir bawahnya yang merona dengan ujung lidah.
"Raka?” panggil Clara dengan rendah.
"I-iya, Bu?" jawab Raka terbata-bata.
Wanita itu kemudian maju satu langkah kecil, hingga membuat jarak mereka kini terkikis habis sampai-sampai membuat Raka bisa merasakan hangat aura tubuh sang bos.
"Kalau suamiku nggak bisa, alat ini kurang terasa, siapa lagi yang cocok kalau bukan kamu?"
Clara menatap tonjolan tebal di balik celana Raka dengan binar mata liar.Tanpa ragu, jemari lentik dengan kuku berpoles cat merah itu membuka kancing dan Ritsleting celana Raka, lalu meluncurkan celana kain dan celana dalam pria itu ke bawah lutut.Anggota tubuh Raka yang besar, tebal, dan tegang keras melompat bebas. Urat-urat menonjol melingkari batangnya yang hangat.Clara menarik napas pendek. Meski sudah beberapa kali melihatnya, ukuran milik staf OB-nya ini selalu berhasil memancing rasa takjub sekaligus gairah murninya."Punya kamu selalu sebesar ini, Raka. Benar-benar gila," gumam Clara sambil memegang batang tebal itu dengan satu tangannya."Ini semua karena merekam keindahan tubuh Bu Clara," balas Raka jujur, suaranya makin berat saat jemari Clara mulai mengusap bagian kepalanya yang basah oleh cairan pra-ejakulasi.Clara membungkukkan tubuh cantiknya di tepi meja mahoni.Dengan bibir indahnya yang merekah, ia mulai melingkupi ujung kepala milik Raka, memasukkannya perlahan
Jemari Raka bergerak terampil meraih kepala ritsleting di bagian belakang rok pensil ketat milik bosnya.Dengan satu tarikan mantap, ritsleting besi itu bergeser turun, membelah kain ketat yang membungkus panggul berlekuk indah tersebut.Raka menuntun rok itu meluncur melewati paha mulus yang padat dan berisi, membiarkannya jatuh menumpuk di lantai marmer yang dingin.Kini, penglihatannya dimanjakan oleh pemandangan yang sanggup melipatgandakan gairah di dalam dadanya.Clara hanya mengenakan celana dalam renda tipis berwarna hitam yang teramat transparan.Di bagian tengah kain tipis itu, bercak basah berdiameter lebar sudah mencetak jelas, membuktikan betapa tubuh CEO wanita itu sangat responsif terhadap sentuhannya.Bau harum parfum vanila bercampur aroma alami tubuh wanita yang bangkit gairahnya memenuhi udara di sekitar Raka.Tanpa membuang waktu, Raka mengambil posisi berlutut tepat di antara kedua paha mulus Clara yang terkuak lebar di tepi meja mahoni.Dengan kedua tangannya yan
“Selamat pagi, Bu Clara,” sapa Raka saat tiba di depan pintu ruang kerja sang bos.“Pagi,” jawab Clara. "Tutup pintunya dan kunci dari dalam, Raka," perintah Clara. Suaranya rendah, penuh penekanan yang tak bisa dibantah."Baik, Bu Clara," jawab Raka patuh, lalu melangkah ke arah pintu utama, memutar kait kunci besi hingga terdengar bunyi klik yang bergema di ruangan hening itu.Ia pun kembali melangkah mendekati Clara, lalu berhenti tepat satu langkah di hadapan wanita berkulit putih mulus itu.Clara melepaskan blazer mewahnya dan melemparkannya begitu saja ke atas kursi kerja.Tatapan mata tajam sang CEO wanita berumur tiga puluh tahun itu mengunci wajah Raka. Ada gairah liar yang tersirat jelas di balik tatapan dominan itu.Clara menyandarkan pinggulnya pada tepi meja mahoni. Kakinya yang berbalut rok pensil ketat bersilangan rapi."Kamu tahu persis apa tugas tambahanmu pagi ini, kan?" Suara Clara terdengar serak, terengah pelan, menembus hening ruangan."Saya tahu, Bu," balas Raka
Raka memacu sepeda motor tuanya menembus padatnya lalu lintas jalanan kota.Kebisingan klakson dan deretan lampu merah tak dihiraukannya; pikirannya sepenuhnya tertuju pada jarum jam yang terus berputar cepat.Angin malam menghantam dada tegapnya, tetapi rasa dingin tak terasa sama sekali karena darahnya berdesir hebat oleh ketegangan."Sedikit lagi, Raka, sedikit lagi!" gumamnya seraya memutar gas motor makin dalam.Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 19.52 WIB. Ia hanya punya waktu delapan menit sebelum Pak RT mewujudkan ancamannya.Setiap detik terasa begitu berharga, berpacu keras melawan keputusasaan yang hampir menenggelamkannya beberapa jam lalu.Sementara itu, di lorong kontrakan lantai dua, Pak RT sudah berdiri kaku di depan pintu kamar Raka. Raut wajah pria paruh baya itu sangat gusar.Di tangan kanannya tergenggam gembok besi besar yang masih baru, sedangkan tangan kirinya memegang dua kantong plastik sampah berukuran besar.Pak RT beberapa kali melirik jam
Clara menarik napas panjang sembari membenarkan ikatan bathrobe sutranya, lalu memutar kunci dan membuka pintu apartemen.Di ambang pintu, berdiri dua sahabat sosialitanya: Fiona dan Sheila.Keduanya tampil memikat dengan gaun malam yang modis dan riasan sempurna, masing-masing memegang botol minuman mahal."Akhirnya dibuka juga! Kita pikir kamu lagi pingsan di dalam, Ra," cerocos Fiona seraya melangkah masuk tanpa diundang, disikuti Sheila yang tertawa renyah."Nggak ngabarin dulu kalau mau datang?" tanya Clara sambil berusaha menutupi kepanikannya dengan nada dingin yang biasa ia perlihatkan."Surprise, dong! Kita tahu kamu lagi butuh hiburan," balas Sheila santai.Namun, langkah Fiona dan Sheila terhenti mendadak begitu melewati lorong kecil menuju ruang tengah.Raka, yang tidak sempat bersembunyi penuh di kamar mandi karena panik dan bingung, justru keluar dari area kamar utama sambil merapikan kancing kemejanya yang belum sepenuhnya terpasang rapi.Pemuda bertubuh tegap dan berwa
"Lepas baju kamu sepenuhnya," perintah Clara dengan nada suara tegasnya.Mendengar perintah tersebut, Raka langsung menelan ludahnya, tenggorokannya mendadak kering.“B-baik, Bu.”Jemarinya yang kasar bergerak cekatan melepas sisa kancing seragam OB yang melilit tubuhnya hingga kain murah itu jatuh begitu saja ke lantai.Di bawah pendar lampu kamar yang remang, dada tegap Raka terekspos jelas.Bentuk tubuhnya terbentuk alami dari kerja fisik sehari-hari, mengangkat dus berat, memindahkan furnitur kantor, dan menyapu koridor Gedung Graha Nusantara.Secara instingtif, Raka menyadari posisi tawar dalam ruangan ini.Di luar sana, ia hanyalah buruh harian dengan gaji pas-pasan yang sering dipandang sebelah mata.Namun di dalam kamar mewah ini, bentuk fisiknya yang tegap, bahunya yang lebar, serta otot dadanya yang padat menjadi modal utama yang sangat diinginkan oleh atasannya.Ada kepuasan tersembunyi yang bergetar di dadanya saat melihat mata Clara meneliti setiap lekuk tubuhnya dengan l







