Share

Bab 88

Author: Gali Pratama
last update publish date: 2026-09-26 19:55:03

Pendar sinar matahari pagi menembus kaca-kaca tinggi VIP Executive Lounge di lantai teratas hotel.

Suasana restoran privat itu masih sepi dan tenang, memancarkan kesan mewah nan eksklusif.

Clara melangkah masuk dengan panggul yang terayun anggun.

Sang CEO tampil begitu segar, bercahaya, dan memikat dalam balutan setelan blazer berwarna krem lembut, pilihan Raka semalam saat di kamar suite.

Rona kebahagiaan dan kepuasan fisik yang pekat terpancar jelas dari raut wajah cantiknya.

Raka mengekor sa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 90

    Telepon genggam di atas meja makan berdering nyaring, memecah ketegangan tersembunyi yang masih berkecamuk di bawah taplak meja.Clara langsung meraih ponselnya, melihat nama klien utama yang tertera di layar, lalu menggeser tombol hijau."Selamat pagi, Pak Hendra. Ya, kami sudah siap untuk presentasi pagi ini," ujar Clara dengan vokal resminya yang begitu lugas dan profesional seraya berdiri dari kursinya.Sang CEO berjalan menjauh beberapa langkah menuju sudut restoran yang lebih tenang, mendengarkan penjelasan panjang dari sang klien.Setelah beberapa menit berbincang intens, Clara kembali ke meja dengan dahi yang sedikit berkerut."Maya, Raka," panggil Clara tegas."Pak Hendra minta jadwal presentasi dimajukan tiga puluh menit. Sampel parfum kustom yang kemasan eksklusif masih ada di koper kamar saya, belum terbawa ke bawah."Maya yang baru saja berhasil menarik kakinya dari cengkeraman Raka langsung merapikan posisi duduknya.Matanya berbinar antusias begitu mendengar perintah sa

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 89

    Clara kembali ke meja membawa piring porselen berisi potongan buah segar dan beberapa pastel hangat.Sang CEO yang tampak begitu puas dan bersemangat menarik kursinya, lalu memamerkan senyum mewahnya yang cerah di bawah pendar lampu restoran."Sampel aromanya sudah kamu pastikan aman di dalam tas khusus kan, Maya?" tanya Clara seraya meletakkan piringnya di atas meja.Maya seketika mengubah raut wajahnya. Amarah dan kecemburuan yang tadinya meluap langsung disembunyikan rapat-rapat di balik senyum profesionalnya yang manis."Sudah, Bu Clara," jawab Maya dengan nada suara yang tertata rapi. "Semua sampel parfum dan dokumen presentasi untuk klien sudah tersusun di tas kerja saya.""Bagus," puji Clara seraya meraih kembali cangkir teh hangatnya. Sang CEO menoleh ke arah Raka yang duduk santai di sampingnya."Raka, setelah sarapan, kamu langsung panaskan mobil dan pastikan rute menuju kantor klien tidak macet.""Baik, Bu Clara," sahut Raka lancar. Suaranya tenang, berat, dan tanpa cela, m

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 88

    Pendar sinar matahari pagi menembus kaca-kaca tinggi VIP Executive Lounge di lantai teratas hotel.Suasana restoran privat itu masih sepi dan tenang, memancarkan kesan mewah nan eksklusif.Clara melangkah masuk dengan panggul yang terayun anggun.Sang CEO tampil begitu segar, bercahaya, dan memikat dalam balutan setelan blazer berwarna krem lembut, pilihan Raka semalam saat di kamar suite.Rona kebahagiaan dan kepuasan fisik yang pekat terpancar jelas dari raut wajah cantiknya.Raka mengekor satu tapak di belakangnya, tampil tegap dan gagah dengan kemeja hitam yang tercetak pas di dada bidangnya."Pagi, Bu Clara, Raka," sapa Maya yang sudah lebih dulu duduk di sudut meja kayu panjang.Maya berusaha tersenyum, namun matanya yang sedikit sembab tak bisa menyembunyikan rasa lelah dan kesal."Pagi, Maya," balas Clara singkat namun ramah.Sebelum menduduki kursinya, Clara mendadak menghentikan langkahnya tepat di samping Raka.Di depan meja yang juga diduduki Maya, Clara memiringkan badann

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 87

    Cairan hangat yang membakar tenggorokannya perlahan Clara telan hingga tuntas.Sang CEO terkulai lemas di atas sofa kulit dengan napas tersengal-sengal, membiarkan tubuh polosnya yang dibasahi peluh tipis menikmati sisa-sisa kejang nikmat yang baru saja menghantam seluruh sarafnya.Raka berdiri tegap di samping sofa, merapikan kebanggaan maskulinnya kembali ke balik celana kain.Jemari tebalnya yang kasar mulai meraih kemeja kerja hitam yang tergeletak di lengan sofa, bersiap untuk mengancingkannya satu per satu.Clara yang menyadari pergerakan itu seketika membuka matanya.Rona merah di pipinya belum sepenuhnya pudar, namun binar matanya memancarkan rasa tidak rela yang mendalam saat melihat pengawalnya bersiap untuk pergi."Mau ke mana, Raka?" tanya Clara dengan suara parau yang amat halus, menyiku tubuhnya untuk duduk seraya menarik selimut tipis menutup gundukan dadanya.Raka menoleh pelan, menyunggingkan senyum miring yang teramat tipis dan cool. Pria tegap itu memasukkan kancing

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 86

    Raka menghentikan gerakan lisan Clara pada tubuh tegapnya.Dengan satu cengkeraman telapak tangan yang lebar pada pinggul mulus sang CEO, Raka mengangkat tubuh Clara kembali ke atas sofa kulit, memosisikan wanita itu terlentang pasrah dengan sepasang paha mulusnya yang terekspos lebar.Iris mata Raka yang pekat menatap lurus wajah Clara yang merona hebat dengan napas tersengal-sengal."Sudah cukup main-mainnya, Bu Clara," bisik Raka dengan vokal serak yang begitu berat dan dalam, memangkas jarak hingga panggul tegapnya berada tepat di celah intim sang wanita yang sudah basah kuyup.Clara menengadahkan kepalanya, menatap Raka dengan tatapan yang sepenuhnya bertekuk lutut. "Lakukan, Raka, tuntaskan sekarang. Jangan siksa saya lagi."Tanpa membuang waktu, Raka mengarahkan puncaknya pada muara intim Clara.Dalam satu dorongan kuat dan mantap tanpa ragu, Raka menghenjakkan panggulnya mendalam, melesakkan seluruh kebanggaannya masuk ke dalam rongga intim Clara yang menjepit ketat.Jles!"Aa

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 85

    Dua kancing tersisa di kemeja sutra Clara terlepas sepenuhnya di bawah jemari tebal Raka.Dengan gerakan yang teratur dan penuh kendali, Raka menyibakkan kain sutra tersebut dari bahu mulus sang CEO, membiarkan pakaian atas itu terjatuh tak berdaya di atas lantai karpet yang tebal.Tak berhenti di situ, Raka menggeser jemarinya menuju pengait rok ketat yang membalut pinggul ramping Clara.Dalam satu tarikan pelan namun pasti, kain tersebut meluncur turun, mengekspos lekuk tubuh mulus tanpa sehelai benang pun yang kini terpampang jelas di bawah pendar remang lampu suite."Raka, kamu benar-benar tidak memberi saya kesempatan untuk bernapas," bisik Clara dengan vokal bergetar, dadanya yang padat naik-turun memburu saat udara dingin ruangan menyentuh kulit telanjangnya.Raka tidak langsung menjawab. Iris matanya yang pekat menyapu seluruh permukaan tubuh indah di hadapannya dengan tatapan penakluk yang mutlak.Pria tegap itu kemudian menyunggingkan senyum miring yang teramat tipis."Tubuh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status