LOGIN"Apa ini takdir?"
Pertanyaan itu membuat Juslandier mengernyitkan dahi. Kedua matanya perlahan bergulir ke bawah ketika dia merasakan tangan hangat yang sedang meraba perutnya, tepat di atas luka yang beberapa saat lalu masih menganga.
Sentuhan itu begitu ringan. Hal yang membuat Juslandier semakin kesal.
"Apa kau percaya dengan takdir?" tanya sang malaikat.
Juslandier tidak menjawab. Namun, Araphael tampaknya tidak keberatan. Dia kembali melanjutkan perkataannya s
"Selama ini aku diam bukan berarti aku tidak peduli." Juslandier menunduk, lalu melanjutkan, "Aku hanya sedikit takut." Mikhail menatapnya tanpa berkedip. Dan dia tahu, ketakutan sepupunya adalah hal yang nyata. Lalu, Juslandier tertawa pelan. Tawa yang terdengar kosong. "Aneh, bukan?" Dia memandang telapak tangannya sendiri, senyumnya memudar. "Aku bisa mengingat setiap perang yang pernah kuikuti, mengingat wajah ribuan musuh yang mati di tanganku. Mengapa justru wajah ibuku yang tidak bisa kuingat?" Mikhail terdiam, dan Juslandier tidak menunggu jawaban karena dia tahu, kakak sepupunya ini mungkin tidak akan pernah menjawabnya. "Aku bahkan tidak tahu warna rambutnya, tidak tahu warna matanya. Kupikir aku sudah tidak peduli." Suara sang putra mahkota makin rendah. Dia mengangkat wajah menatap langit kelam Abyss. "Tapi ternyata aku hanya berpura-pura." Jemarinya perlahan mengepal. "Setiap kali melihat seorang ibu menggendong anaknya, kemudian setiap kali mendengar orang lain m
"Aku serius, Yang Mulia. Apa terjadi sesuatu? Kau bersikap aneh setelah kembali dari permukaan." Mikhail menatap penuh harap agar Juslandier mau menceritakannya. Namun, melihat bagaimana Juslandier memalingkan wajah membuat Mikhail yakin bahwa iblis yang duduk di sampingnya ini tidak suci melakukannya. Atau mungkin, sang Putra Mahkota memang tidak memiliki niat untuk berbagi dengan siapa pun. "Tidak ada, dan tidak akan ada sesuatu yang terjadi. Kau terlalu berlebihan, Mikhail," jawab Juslandier setelah membiarkan kesunyian di antara mereka. "Berlebihan? Tentu saja aku harus bersikap berlebihan saat melihat sosok yang selalu memasang wajah galak, kini justru memasang senyuman di wajahnya." "Sudah kubilang, aku tidak tersenyum." "Lalu apa?" "Olahraga wajah." "Ugh, ayolah!" Mikhail mengerang kesal. Sepertinya Juslandier Bloodfallen terkena penyakit merepotkan, Mikhail harus pergi menemui iblis pembuat ramuan dan meminta meracikkan obat untuknya. "Memangnya aneh jika melihatku t
"Bukankah begitu, Juslandier, Anakku?" Sesaat setelah Raja Abyss mengucapkan kalimat itu, suara derit pintu besar menggema di seluruh ruangan, dua daun pintu hitam perlahan terbuka, seluruh perhatian para petinggi Abyss seketika beralih ke sana. Sementara Mikhail hampir menangis haru karena akhirnya, makhluk paling menyebalkan di seluruh Abyss itu muncul. Juslandier Bloodfallen berdiri di ambang pintu dengan pakaian hitam dan jubah kebesaran yan menjuntai rapi, rambut gelapnya masih sedikit basah setelah berendam. Langkahnya tenang, wajahnya datar seperti biasa. Namun, entah mengapa, malam ini ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang bahkan tidak luput dari perhatian para petinggi dan membuat mereka mengerjap dua kali demi memastikan bahwa mata mereka tidak sedang bermasalah. Karena untuk sepersekian detik, mereka melihat sebuah senyuman tipis terukir di bibir sang putra mahkota. Dan hal itu membuat suasana ruangan menjadi jauh lebih mengejutkan daripada pengakuan tentang cinta itu s
Pertemuan sekaligus jamuan makan malam para petinggi Abyss nyaris berakhir menjadi bencana. Atau lebih tepatnya, bencana bagi Mikhail.Sedari awal acara, ahli waris klan Littenheim itu sudah duduk dengan punggung tegang dan keringat dingin yang tak henti-hentinya membasahi pelipis. Berkali-kali matanya melirik ke arah pintu utama, berharap sosok yang ditunggunya segera muncul.Namun, hingga menit-menit terakhir menjelang dimulainya pertemuan, Juslandier Bloodfallen belum juga menampakkan diri.Mikhail ingin menangis.Sungguh.Berada di ruangan yang sama dengan tujuh penguasa wilayah Abyss saja sudah cukup membuatnya merasa seperti direbus di dalam lahar gunung api. Belum lagi keberadaan Raja Abyss yang duduk di ujung meja panjang dengan wajah datar dan sorot mata yang mampu membuat para iblis menyesali kelahiran mereka.Setiap kali Raja melirik ke arahnya, Mikhail merasa setengah nyawanya langsung terlepas dari tubuh. Dan tersangka utama yang akan menjadi penyebab kematian dirinya ten
Jubah hitam dengan pauldrons besar itu tercampak begitu saja ke lantai sesaat setelah Juslandier menanggalkannya. Sebelah tangannya sibuk melepaskan dua sabuk yang melingkar di pinggang dan melintang di dada, sementara tangan yang lain menyisir rambutnya ke belakang sebelum mengacaknya lagi dengan kesal.Langkahnya bergaung pelan di ruangan luas yang dipenuhi uap hangat.Bracers dan greaves menyusul terlepas, kemudian meloloskan pakaian yang tersisa. Semuanya dibiarkan berceceran dari pintu masuk hingga tepi kolam tempat dirinya biasa berendam.Tak lama kemudian, tubuh tegap putra bungsu Raja Abyss itu telah tenggelam di dalam air hangat."Banyak sekali hal yang kulewati hari ini." Sebuah embusan napas panjang lolos dari bibirnya. Kepalanya bersandar pada tepian kolam. Mata biru samuderanya terpejam sesaat, menikmati keheningan yang jarang dia dapatkan.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama sebab wajah yang sama kembali muncul di d
Kedua iblis yang bertugas menjaga gerbang utama saling melirik saat melihat sang putra mahkota melintas. Mereka sempat berpikir bahwa penglihatan mereka sedang bermasalah, atau mungkin mata mereka tertusuk debu neraka.Sebab di wajah Juslandier Bloodfallen—makhluk yang terkenal dingin, kejam, dan tidak memiliki minat pada apa pun selain pedang dan peperangan—tersungging sesuatu yang nyaris mustahil untuk dilihat.Senyuman.Tidak lebar, tetapi tetap saja sebuah senyuman. Seketika bulu kuduk keduanya meremang."Apa kau melihatnya?" bisik salah satu penjaga."Aku berharap tidak.""Aku baru saja melihat Yang Mulia tersenyum.""Diam. Jangan mengucapkan hal mengerikan seperti itu.""Dia juga ... bersenandung."Penjaga satunya lagi langsung memucat. Mereka serentak menoleh memandangi punggung sang putra mahkota yang semakin menjauh.Hari ini terasa begitu ganjil. Mungkin langit Abyss akan runtuh. Mungkin gunu







