تسجيل الدخولAnthony J. Wallenstein berdiri dalam diam. Jarak di antara mereka tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk membuat setiap adegan di hadapannya terlihat begitu jelas.
Tangan Vance yang menahan tengkuk Ara, dan tubuh gadis itu yang membeku. Lalu, ciuman itu.Sepasang mightblack miliknya menatap lurus ke arah dua sosok di tengah taman, tanpa berkedip. Tak ada perubahan di wajahnya. Tak ada amarah yang meledak. Namun, udara di sekelilingnya perlahan terasa lebih berat.Ta"Bunuh aku, Juslandier."Setelah semua ini, Juslandier Bloodfallen berharap dirinya tidak pernah belajar bagaimana rasanya mencintai seseorang.Dunia seakan berhenti.Inikah maksud perkataan Araphael hari itu?Inikah 'nanti' yang selama ini ditunggu oleh sang malaikat?Inikah janji yang harus dia tepati?"Maaf." Juslandier tidak bisa bernapas, suaranya terdengar begitu lirih. Dia kembali memeluk Araphael. Dan kali ini, Araphael tidak membalas pelukannya. Juslandier mengepalkan tangannya, kuku-kukunya menembus telapak hingga darah mengalir.Dia menyadari bahwa menyalahkan dirinya sendiri tidak akan mengubah apa pun. Dia tidak bisa memutar waktu, apalagi mengubah takdir. Dia tidak bisa kembali ke hari ketika dia pertama kali mencium aroma manis milik Araphael. Karena sejak hari itu, takdir mereka telah ditulis.Mereka memilih jalan ini. Mereka memilih untuk saling mencintai. Inilah takdir yang dirinya maupun Araphael ambil. Inila
"Ini perintah."Suara itu kembali menggema di dalam kepalanya, udara di sekitar Juslandier terasa membeku."Juslandier Bloodfallen, bunuh dia."Tubuhnya bergetar. Nama itu terdengar seperti vonis, layaknya takdir yang tidak bisa dia hindari. Dan dua kata selanjutnya menghentikan jantung Juslandier selama sepersekian detik. Dia lekas menutup kedua telinganya kuat-kuat."Tidak. Tidak ...." Dia menggeleng. Air mata mulai memenuhi kedua matanya. Dia tidak mungkin melakukan hal itu. "Tidak!"Namun, suara itu tidak hilang. Ia terus memantul, menghantam kesadarannya."Penggal kepalanya."Untuk sesaat, Juslandier berharap dia bukan putra Raja Abyss, karena dia menyadari bahwa ada perintah yang tidak mampu dia patuhi."SEKARANG.""TIDAK!"Teriakan itu keluar begitu saja. Juslandier lagi-lagi menggeleng seraya menutup telinganya rapat-rapat. Lalu, suara yang begitu dia kenali menyapa gendang telinganya."
"Kau kembali. Kau menemuiku lagi."Araphael langsung menangis tanpa berusaha menahannya, dia hanya mampu mengangguk perlahan. Bibirnya terasa kelu, seakan seluruh kata yang ingin dia ucapkan tertahan di tenggorokan.Dia hanya bisa menatap Juslandier, menatap iblis yang pernah mengacungkan pedang ke arahnya, iblis yang membuatnya jatuh, iblis yang membuatnya berani melawan takdir. Dan kini, Juslandier Bloodfallen menunjukkan senyuman yang mampu membuat air mata kian mengalir deras di pipinya, semakin sulit dihentikan.Di sekitar mereka, peperangan seolah berhenti. Para malaikat maupun iblis, mereka semua tak menunjukkan tanda-tanda akan melanjutkan pertempuran, mereka hanya terpaku di tempat masing-masing. Tidak ada yang mengangkat senjata, seakan seluruh medan perang sedang menyaksikan dua makhluk yang berusaha melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada perang itu sendiri, yaitu takdir.Begitu pula dengan Sephael dan Jivael yang terdiam, tenggelam dalam pikiran karena mereka tidak
"Ini kekalahanmu, Juslandier."Makhluk setengah malaikat dan setengah iblis itu bergeming. Dia terlentang di atas tanah yang basah oleh darah dan hujan, tampak seperti seseorang yang telah kehilangan alasan untuk bangkit.Pedang masih mengarah ke tubuhnya. Ratusan pasang mata memandangnya. Para malaikat dan para iblis, musuh maupun kawan, tetapi Juslandier Bloodfallen tidak memedulikan satu pun dari mereka.Dia bahkan tidak peduli saat dipermalukan di depan seluruh pasukan, dan tidak peduli jika hari ini namanya tercatat sebagai pihak yang kalah. Dan mungkin, kematian sedang berdiri tepat di hadapannya.Rasa sakit berlomba-lomba mengekang tubuhnya, meresapi setiap siksaan yang melanda ketika darah di dadanya mengucur makin deras."JUSLANDIER!"Suara Mikhail menggema, penuh kemarahan dan frustrasi."Bangun, Bodoh!"Juslandier mendengar suara Mikhail, menyuruhnya untuk berhenti berpura-pura seperti seorang pengecut da
Juslandier terbahak.Pemilik rambut jelaga itu tertawa lepas. Tawanya menggema di tengah hujan dan dentang senjata ketika anak panahnya berhasil menembus sayap kiri Jivael. Pemandangan itu terasa begitu memuaskan.Darah merah mengalir di antara bulu-bulu putih gading yang selama ini tampak sempurna. Warna suci itu ternoda dalam sekejap, menciptakan kontras yang membuat senyum Juslandier semakin lebar.Dia bisa membayangkan rasa sakitnya. Terlebih ketika Jivael memejamkan mata selama beberapa detik, berusaha menahan nyeri yang menjalar dari luka tersebut.Sangat lucu.Malaikat yang selama ini selalu terlihat tenang kini menatapnya dengan kemarahan yang nyaris tak disembunyikan. Petir menyambar langit, kilatan putih menerangi wajah Jivael yang muram. Dan pemandangan itu membuat Juslandier merasa jauh lebih hidup.Atau mungkin, jauh lebih mati rasa.Tanpa menunggu lebih lama, dia kembali melesat ke udara. Sayap hitamnya membentang lebar,
"Kau kembali. Kau menemuiku lagi."Araphael langsung menangis tanpa berusaha menahannya, dia hanya mampu mengangguk perlahan. Bibirnya terasa kelu, seakan seluruh kata yang ingin dia ucapkan tertahan di tenggorokan.Dia hanya bisa menatap Juslandier, menatap iblis yang pernah mengacungkan pedang ke arahnya, iblis yang membuatnya jatuh, iblis yang membuatnya berani melawan takdir. Dan kini, Juslandier Bloodfallen menunjukkan senyuman yang mampu membuat air mata kian mengalir deras di pipinya, semakin sulit dihentikan.Di sekitar mereka, peperangan seolah berhenti. Para malaikat maupun iblis, mereka semua tak menunjukkan tanda-tanda akan melanjutkan pertempuran, mereka hanya terpaku di tempat masing-masing. Tidak ada yang mengangkat senjata, seakan seluruh medan perang sedang menyaksikan dua makhluk yang berusaha melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada perang itu sendiri, yaitu takdir.Begitu pula dengan Sephael dan Jivael yang terdiam, tenggelam dal
Aku menatap bulan melalui jendela. Sesekali pandanganku beralih pada bangunan kecil di dekat rumah, lalu kembali menatap langit yang jauh di sana. Malam ini bulan terlihat lebih terang dari biasanya. Aku tidak tahu apakah itu pertanda baik atau bukan. Terlebih, aura negatif mengelilingi
"Araphael." "Tuan, ini aku. Ara." Dengan susah payah, Ara mengangkat tangan kanannya. Jemarinya meraih wajah Anthony, lalu menyandarkan kepalanya ke pipi sang tuan. Ara tersenyum kecil saat tubuh besar yang memeluknya bereaksi. Ketika jemarinya mengusap rahang Anthony, iblis tak bersaya
"Kau ... dan ibuku ...." Mengapa ayah membunuh ibu? Anthony tidak tahu. Lebih tepatnya, dia tidak pernah ingin tahu. Sejak mengetahui kebenaran itu, dia terlanjur marah. Terlanjur dipenuhi kebencian. Mencari alasan di baliknya bahkan tidak pernah terlintas di kepalanya.
"Tunggu apa lagi? Lepaskan pakaianmu," ujar Anthony, bibirnya menggariskan senyuman tipis. "Bukankah tadi kau sendiri yang mengajakku mandi bersama?" Apa Ara masih bisa menarik ucapannya? Kalau dipikir-pikir lagi, ini benar-benar memalukan. Apa yang merasukinya sampai berani m







