Share

57 - Anthony's POV

Auteur: Shiooki
last update Date de publication: 2026-04-30 20:26:06

Anthony J. Wallenstein berdiri dalam diam. Jarak di antara mereka tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk membuat setiap adegan di hadapannya terlihat begitu jelas.

Tangan Vance yang menahan tengkuk Ara, dan tubuh gadis itu yang membeku. Lalu, ciuman itu.

Sepasang mightblack miliknya menatap lurus ke arah dua sosok di tengah taman, tanpa berkedip. Tak ada perubahan di wajahnya. Tak ada amarah yang meledak. Namun, udara di sekelilingnya perlahan terasa lebih berat.

Ta
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Sang Pelindung Terakhir    69 - Bayangan Yang Berpihak

    Matahari belum sepenuhnya terbit ketika pria berkulit pucat itu berjalan dan berhenti di depan jendela setelah mengaitkan kancing celana, tangannya memegang gelas kecil berisi cairan berwarna oranye tua. Sekilas dia melirik sosok yang meringkuk di atas ranjang, terlelap, hanya tertutup selimut sebatas dada. Jakunnya bergerak naik turun saat dia meneguk minumannya, dan cairan memabukkan itu habis perlahan, seiring tatapannya yang kosong menembus jalanan yang masih sepi. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Pria itu—Yuuscar Vingkimanuel—berbalik. Langkahnya tenang menuju meja kerja. Dia meraih sebuah peti berukuran sedang, menatapnya sejenak sebelum membukanya, lalu mengeluarkan kotak persegi panjang dari dalamnya. Mata hitamnya menatap benda itu lama, seolah sedang memastikan sesuatu. Lalu suara 'klik' terdengar saat kotak itu terbuka. Kilatan tajam dari bilah pisau langsung memantul di matanya. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Apa dia benar-benar akan melakukannya …?" guma

  • Sang Pelindung Terakhir    68 - Gulungan Surat Terakhir

    “Sephael!” Sephael menoleh saat namanya dipanggil. Tampak Jivael terbang mendekat dan mendarat di sampingnya. Sephael membiarkan burung Nirvana yang bertengger di lengannya terbang pergi, seolah memberi ruang. Namun, Sephael tidak langsung menatapnya. Tatapannya masih tertuju pada permukaan telaga, pada bayangannya sendiri. “Bagaimana?” tanyanya tenang. “Apa kau mendapat informasi dari Sungjael?” Tanpa perlu melihat, Sephael tahu jawaban itu bahkan sebelum Jivael menggeleng. “Buku itu bukan sesuatu yang bisa diakses sembarangan,” jawab Jiivael pelan. “Sungjael … enggan memberitahuku.” Sephael memejamkan mata sejenak, lalu menyibakkan rambutnya ke belakang. Sudah dia duga. Sungjael adalah penjaga Hukum Langit, eksekutor yang menggenggam kehidupan dan kematian atas perintah Sang Ayah. Informasi seperti itu tidak mungkin keluar dengan mudah, bahkan kepada mereka yang berkedudukan tinggi sekalipun. Meski be

  • Sang Pelindung Terakhir    67 - Pergerakan Baru

    "Kudengar ada keributan di istana Utara, jadi aku datang. Dan—WHOAH! Aku tidak menyangka kau menciptakan danau di sini.”Suara itu menggema ringan di tengah udara Abyss yang pekat.Di hadapannya, terbentang danau merah kehitaman. Permukaannya nyaris tidak beriak karena cairan itu terlalu kental untuk bergerak.Jattandier berdecih pelan tanpa membuka mata. Tubuhnya terbaring santai di atas sofa merah tua, kedua tangan terlipat di bawah kepala, seolah tempat itu hanyalah ruang istirahat biasa—bukan istana yang baru saja dipenuhi pembantaian. Namun, aura yang menguar darinya jelas berbahaya."Berisik."Mikhail tersenyum lebar, sama sekali tidak terusik. Pandangannya tetap terpaku pada danau itu, penuh kekaguman. Dia bahkan berlari dari istana Selatan. Bukan karena tidak bisa berteleportasi, dia hanya ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri.Dan sekarang, dia melihatnya. Seluruh danau itu terisi oleh darah iblis yang ditemui J

  • Sang Pelindung Terakhir    66 - Kepergian Vance

    “Sepertinya ada yang memanggilku.” “Istriku, Ilayda. Kenapa kau kemari? Aku sudah menyuruhmu untuk menunggu.” Sosok itu turun dari bagal putih dengan anggun. Gaun hitam malam yang membalut tubuhnya menyapu tanah, memperlihatkan bahu hingga belahan dada. Rambut legamnya menjuntai panjang hingga menyentuh tanah, dihiasi cabang-cabang hijau yang melingkar di kepalanya. Matanya sayu, tetapi indah, pupilnya menyempit seperti milik kucing, berwarna kuning kehijauan. “Aku bosan menunggu,” sahutnya ringan. “Lagipula, aku ingin bertemu manusia yang dibicarakan para periku.” Ilayda—istri Hope Nightray, sekaligus the Queen of Fairies—berjalan mendekat ke sisi Hope, sementara rombongannya—bagal putih berhias bunga, tiga anjing hitam bermata biru, dan Spriggan—menunggu di belakang. “Dia tidak terlihat sehat,” ujar Ilayda pelan, memperhatikan wajah pucat Ara yang meringis menahan sakit. Raut wajahnya berub

  • Sang Pelindung Terakhir    65 - Krisis Yang Menerjang

    “Berhenti menggonggong, Anjing Bodoh. Gonggonganmu mengganggu para peri manisku.” Suara itu datang bersama cahaya kehijauan yang merembes dari celah batu besar. Vance—dalam wujud anjing hitam—segera menunduk. Bukan karena takut, melainkan refleks saat merasakan aura sosok tersebut menekan. Sebenarnya Vance tidak menggonggong. Dia berbicara seperti manusia, terus memohon tanpa henti di depan batu yang diyakininya sebagai gerbang menuju dunia peri. Sudah empat jam Vance melakukannya. Para Eariel sempat mengerubunginya, mengusirnya dengan nada sebal. Kata mereka , sang Raja sedang 'sibuk' dengan istrinya. Namun, Vance tidak peduli, dia tetap menunggu. Dan kini, yang ditunggu akhirnya muncul. Hope Nightray, Raja peri Tír na nÓg, melangkah keluar dari celah batu, rambutnya berantakan, tubuhnya setengah telanjang. Cahaya kunang-kunang memantulkan garis ototnya dengan jelas, tidak ada sedikit pun usaha untuknya terl

  • Sang Pelindung Terakhir    64 - Hal Tak Terduga

    “Tadi … apa yang kau katakan?” Suara Vance terdengar ragu, bahkan sedikit serak. Wajahnya masih menyisakan keterkejutan saat memandang Anthony yang duduk santai di kursinya, ditemani secangkir teh dan koran pagi yang terbuka lebar.Dia yakin pendengarannya baik-baik saja. Namun, kata-kata Anthony barusan membuat telinganya berdenging.Tunggu! Bukan itu masalahnya. Dirinya dan Ara terikat, perkataan yang dia dengar dengan Anthony akan menjadi ingatan, dan hal itu akan tersampaikan dengan baik kepada Ara. Wajah Vance memucat, bibirnya gemetar saat mengatakan, "T-tunggu—"“Sudah berapa kali kuingatkan," sahut Anthony datar tanpa mengangkat kepala. "Aku tidak suka mengulangi perkataanku. Dan kau tidak perlu khawatir, Ara tidak akan mengetahuinya.” Dia meraih cangkir teh miliknya, menyesapnya perlahan, lalu melirik Vance yang berdiri kaku dengan wajah penuh protes sekaligus lega.Anthony mendengkus pelan setelah menyimpan kembali cangkirnya. Vance sepe

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status