Masuk~Beberapa menit sebelum Anthony sampai di rumah.~
"Kau terlihat begitu putus asa, Pengantinku." Tubuh Ara langsung menegang, kedua matanya membelalak lebar saat suara itu menyentuh telinganya. Suara tersebut terdengar sangat dekat, seolah seseorang tengah berbisik tepat di samping telinga kirinya. Padahal sejak tadi Ara hanya berbaring memandangi langit-langit kamar dengan mata sembab dan tubuh lelah setelah menangis berjam-jam."Jika tubuh iblis sepertimu saja hampir hancur setelah kehilangan semua itu, bagaimana dengan Ara?"Dan sorot mata Anthony berubah."Dia manusia. Manusia, Anthony." Yuuscar menekankan setiap katanya. Keheningan terasa makin berat. "Tubuhnya bahkan tidak diciptakan untuk menampung kekuatan iblis sebesar milikmu. Sekarang kau memberikan pecahan jantungmu, kehidupanmu, bahkan keabadian yang melekat pada keberadaanmu kepadanya."Yuuscar menatap lurus ke mata Anthony. "Apa kau sadar apa yang sudah kau masukkan ke dalam tubuh gadis itu?"Anthony tercenung. Jemarinya perlahan mengepal. Tentu dia sadar. Dia sadar sejak awal. Dia sudah menghitung setiap kemungkinan, setiap risiko, kegagalan, bahkan kemungkinan terburuk sekalipun. Namun, dia tetap melakukannya karena tidak ada pilihan lain yang menurutnya lebih baik."Kau tidak perlu khawatir." Suara Anthony terdengar lirih, tetapi tegas. "Semuanya sudah kuperhitungkan."Yuuscar terdiam, lalu dia meng
"Kau yakin tidak membutuhkan apa pun selain kompresan itu? Kau sekarat, Bung."Anthony melirik sekilas ke arah manusia berkulit pucat yang berdiri tak jauh darinya dengan kedua lengan terlipat di depan dada. Tatapan prihatin yang dilayangkan Yuuscar justru membuatnya mendengkus pelan."Aku baik-baik saja." Suaranya serak dan nyaris kehilangan tenaga. "Hanya ... jangan biarkan aku telanjang.""Huh, kau lucu." Yuuscar mendengkus, lalu menyeringai tipis."Terima kasih," sahut Anthony dengan tawa pendek yang segera berubah menjadi embusan napas berat.Bahkan dalam keadaan seperti ini, dia masih bisa merasakan tatapan Yuuscar yang mengarah kepadanya terang-terangan, seolah manusia itu sedang mengamati sekaligus mengevaluasi seberapa parah kerusakan tubuhnya.Jika saja saat ini Anthony berada di tempat lain—bukan di kediaman Yuuscar Vingkimanuel—mungkin tubuhnya sudah habis tak bersisa.Suhu tubuhnya meningkat berkali-kali lipat
"Mulai hari ini, aku melepaskanmu dari posisi sebagai mata dan tanganku."Tubuh Mikhail seakan membeku, apalagi melihat senyuman di wajah sosok yang dia kagumi."Mikhail Littenheim, kau bebas."Nada suaranya berubah tenang dan tegas. Sebuah titah terakhir dari seorang putra mahkota sudah terucap.Tidak.Kata itu seharusnya terasa seperti hadiah. Selama ratusan tahun, dia mengabdi, mengawasi, melindungi, menjadi tangan yang membunuh atas nama Juslandier, dan mata yang melihat segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau sang putra mahkota, kebebasan seharusnya menjadi hadiah.Namun, mengapa rasanya seperti sebuah hukuman?"Yang Mulia ....""Jangan menangis." Anthony tersenyum kecil. "Kau membuatnya terlihat seolah aku akan mati."Mikhail menatapnya. Darah masih tersisa di sudut bibir Anthony, tubuhnya gemetar. Auranya begitu samar hingga nyaris tidak terasa. Namun, pria itu masih tersenyum yang membuat air mata Mikhail kemba
"Iblis yang mencoba memanusiakan dirinya sendiri. Benar-benar gila, bukan?"Mikhail tidak menjawab, dia hanya mematung dengan kedua tangannya yang mengepal."Jika sekarang ada peluru nyasar menembus tubuhku, mungkin aku benar-benar akan mati kehabisan darah.""Jangan mengatakan hal seperti itu, Yang Mulia. Jika gadis itu bangun dan mendengarnya, dia pasti akan sedih."Suara Mikhail terdengar lebih jelas kali ini. Sedangkan Anthony tertawa atas pemilihan kata yang dipakai oleh Mikhail.Gadis itu, begitulah Mikhail selalu menyebut Ara. Dia tidak pernah memanggil Ara dengan sebutan Nona Jung, atau mungkin Lady Wallenstein sebagai pasangan Anthony J. Wallenstein. Namun, Anthony tahu, di balik sebutan datar tersebut, Mikhail sudah mengakui Ara sebagai seseorang yang penting.Setidaknya, penting bagi dirinya.Meski tidak dapat melihatnya dengan jelas, dia yakin bahwa saat ini Mikhail sedang menelan mentah-mentah gemuruh yang dirasakan
Beberapa puluh jam sebelumnya, 1 Januari, dini hari.Anthony duduk termenung di tepian tempat tidur. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya saling bertaut erat di antara kedua paha. Bahunya perlahan terangkat ketika dia mencoba menarik napas panjang. Namun, udara yang memasuki paru-parunya terasa seperti puluhan bilah pisau tajam yang menyayat dari dalam.Napas yang seharusnya memenuhi rongga dadanya hanya masuk setengah sebelum rasa sakit memaksanya berhenti.Tubuh Anthony bergetar. Dia menundukkan kepala lebih dalam, mencoba meredam suara napasnya sendiri. Tubuhnya seolah sedang dihancurkan perlahan dari dalam, sementara jantungnya berdenyut menyakitkan seperti tertusuk pedang setiap kali berdetak.Anthony menggertakkan gigi. Seluruh tulangnya terasa seperti dipatahkan satu per satu, sementara daging dan setiap saraf dalam tubuhnya bergaung lara. Peluh dingin membanjiri pelipis, leher, hingga punggungnya.Lalu, Anthony buru-buru menut
"Tuan dari mana?! Kenapa meninggalkanku sendirian?! Aku mencari Tuan ke mana-mana!"Anthony tidak menghindar. Dia membiarkan setiap pukulan mendarat di dadanya."Aku kira Tuan pergi ...." Pukulan Ara perlahan kehilangan tenaga. Suaranya menjadi terdengar lirih, dan tangan yang tadi memukul kini justru mencengkeram pakaian Anthony. "Aku kira Tuan benar-benar pergi meninggalkanku. Ketika aku membuka mata, Tuan tidak ada di sisiku."Lalu Ara mendongak, wajahnya basah oleh air mata. "Seperti saat itu."Anthony terdiam. Hanya dua kata terakhir itu yang dibutuhkan untuk membuat tatapannya berubah. Anthony tahu apa yang dimaksud Ara.Hari ketika gadis itu terbangun dan mendapati dirinya sendirian. Hari ketika rasa aman yang baru saja Ara temukan kembali direnggut begitu saja. Dan sekarang, tanpa bermaksud demikian, Anthony telah membuatnya mengingat ketakutan yang sama."Ara ...." Anthony mengembuskan napas perlahan. Tatapannya menyapu lobby, orang
“Perutku rasanya aneh,” gumam Ara seraya menyentuh perutnya, sesekali meremasnya kecil.Anthony mengernyit heran. Dia menggenggam tangan Ara lalu menyingkirkannya perlahan sebelum telapak tangannya sendiri berpindah menyentuh perut gadis itu. Lembut dan penuh kehati-hatian.
"Araphael." "Tuan, ini aku. Ara." Dengan susah payah, Ara mengangkat tangan kanannya. Jemarinya meraih wajah Anthony, lalu menyandarkan kepalanya ke pipi sang tuan. Ara tersenyum kecil saat tubuh besar yang memeluknya bereaksi. Ketika jemarinya mengusap rahang Anthony, iblis tak bersaya
Tubuh Vance menegang saat mendengarnya. Kedua matanya terbuka lebih lebar, dipenuhi kengerian. Pandangan itu perlahan bergulir menatap Ara yang terlelap di atas ranjang. Dahi gadis itu berkerut, bibirnya mengerang pelan, terdengar resah. Dilihat dari raut wajahnya, Vance yakin Ara tengah memimpik
Di lantai atas, Ara berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap. Anthony mengatakan bahwa ini adalah kamarnya. Setelah pelayan bernama Lily pergi, Ara segera masuk. Ruangan itu tidak terlalu istimewa. Suatu kamar biasa, tetapi bagi Ara, tempat ini terasa berbeda ketika dia duduk di tepian ka







