LOGINtinggalkan like dan komen ya geng
Sera menatap layar ponselnya yang kini menggelap dengan tangan yang gemetar hebat. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat suara ledakan tadi terus terngiang, memekakkan telinga sekaligus menghancurkan pertahanannya. Ia mencoba mendial kembali nomor Rendra. Sekali, dua kali, lima kali—hanya suara operator dingin yang memberitahu bahwa nomor itu berada di luar jangkauan. "Mas... angkat, Mas. Tolong angkat," bisiknya parau, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Sepuluh menit yang terasa seperti berabad-abad itu tiba-tiba dipecah oleh suara gedoran keras di pintu kamar. Suara itu kasar, penuh amarah, dan tidak sabaran. "Sera! Buka pintunya! Sera!" Suara Sintia. Sera segera menghapus air matanya kasar dan berlari membuka pintu. Namun, baru saja daun pintu itu terbuka sedikit, sebuah hantaman keras mendarat di pipi kirinya. PLAK! Sera terhuyung ke samping, rasa panas menjalar di wajahnya seiring dengan bunyi denging di telinga. Di ambang pintu, Sintia
Jemari Sera yang sedikit gemetar meraih tombol daya, menekan dengan mantap hingga pendar lampu kecil dan desis uap tipis dari difuser itu padam seketika. Ia tidak lagi bisa membedakan mana bantuan dan mana ancaman. Keraguan kini merayap, menyelimuti pikirannya terhadap siapa pun yang berada di bawah atap Mansion Narrottama. Bahkan kepada Eyang Utari yang selama ini menjadi satu-satunya tempat ia merasa aman, Sera mulai membangun benteng. Sera beranjak menuju ranjang, menjatuhkan tubuhnya di tepian kasur sembari menggenggam ponsel. Matanya tertuju pada layar hitam yang membisu, berharap ada satu baris pesan atau kabar dari Rendra. Sera melirik televisi layar datar yang tergantung di dinding kamar. Tangannya sempat meraih remote, ingin sekali menyalakan berita untuk mencari tahu perkembangan situasi di Amartapura, namun keraguan menahannya. Ia takut jika layar itu justru akan menampilkan gambar yang menghancurkan hatinya. Keheningan malam terasa begitu mencekam. Sera terdiam cuku
Mangkuk itu meluncur bebas, namun sebelum cairan mendidih itu sempat menyentuh kulitnya, insting Sera bergerak lebih cepat. Sera menyentakkan tubuhnya ke belakang dengan gerakan refleks yang tak terduga, membuat genangan sup panas itu jatuh menghantam lantai marmer dengan suara dentuman pecah yang memekakkan telinga. Uap panas membubung dari lantai, membasahi ujung sepatu pelayan itu, sementara Sera berdiri beberapa senti dari maut yang hampir melepuhkan kulitnya. Napasnya memburu, matanya yang bulat menatap nanar pada pecahan porselen yang berserakan di dekat kakinya. "Ya Tuhan! Nona, maafkan saya! Saya tidak sengaja!" Pelayan itu menjerit dengan nada yang terdengar sangat dibuat-buat, tangannya menutupi mulut dengan ekspresi horor yang tampak berlebihan. Sera tidak menjawab. Ia mengangkat kepalanya, perlahan mengalihkan pandangan dari lantai menuju kursi di ujung meja. Di sana, Sintia sedang duduk dengan tenang, jemarinya masih melingkari tangkai gelas kristal. Tak ada kete
Eyang Utari masih menatap Sintia tajam. "Aku tahu arometerapi itu bukan hanya akan membuat tenang dan nyaman, tapi lebih buruk dari itu. Zat di dalamnya bisa membuat rahim Sera bermasalah. Dia bisa mandul.” Eyang Utari menggeleng kecewa. “Kenapa kamu bisa berbuat sejahat itu pada istri putramu? Hanya karena ego dan kebencianmu?” Sintia mematung, merasa udara di sekitarnya terasa mencekik. Lidahnya kelu, seolah seluruh kosakata pembelaan yang ia susun di kepala mendadak lumat. Sepasang matanya yang tajam kini bergetar, menatap sosok wanita tua di depannya dengan campuran rasa tak percaya dan amarah yang mulai mendidih. "Dari mana Mama tahu?" Pertanyaan itu berteriak di batinnya. Sintia telah mengatur segalanya dengan sangat rapi, menggunakan perantara yang menurutnya setia. Ia mulai melayangkan pandangan ke arah pintu, berpikir tentang kemungkinan adanya pengkhianat di balik seragam pelayan mansion ini. Siapa yang berani menusuknya dari belakang? Sintia menarik napas panjang,
Aroma mentega dan vanila yang manis menguar begitu Lana meletakkan sebuah tas kertas di atas meja kayu kafe yang terletak tepat di seberang Rumah Sakit Narita. Sera menghirup aroma itu dalam-dalam, sebuah senyum kecil akhirnya terbit di wajahnya yang masih tampak kuyu. Kue-kue buatan Siwi seolah menjadi penawar paling ampuh untuk suasana hati yang berantakan. “Nona, ini dari Ibu Siwi,” ucap Lana sembari membuka tutup toples kue, menampakkan jajaran kue kering yang kuning keemasan. “Beliau berpesan agar Anda memakannya bersama teman-teman.” Sera, Lana, Deo, dan Erika duduk melingkar di sudut coffee shop yang cukup tenang. Sera segera meraih cangkir kopinya, namun gerakan tangannya tertahan oleh tatapan tajam Lana. “Nona, Anda belum menyentuh makanan padat sejak pagi,” tegur Lana dengan nada rendah namun tegas. “Sebaiknya makan kuenya dulu, jangan terus-menerus menyesap kopi itu. Apalagi tadi pagi saya lihat Anda memesan kopi hitam bukan kopi seperti biasanya.” Erika, yang baru
Sera melangkah gontai memasuki ruang koas, aroma antiseptik yang tajam menyambut indranya. Di tangan kanannya, ia memagang sebuah cup kopi. Sera menyesap cairan itu, berharap kafein segera memompa kesadarannya yang masih terasa tertinggal di bantal. Kepalanya masih menyisakan denyut samar, sisa dari tidur yang terlalu dalam. Ia menjatuhkan diri di kursi, meletakkan cup kopi yang tinggal setengah, lalu meraih ponsel dari saku snelli. Ibu jarinya tertahan di atas nama 'Mas Rendra'. Ada keinginan kuat untuk mengetikkan sesuatu—apa saja—hanya untuk memastikan pria itu baik-baik saja di Amartapura. Namun, bayangan Rendra yang sedang sibuk dengan urusan kenegaraan atau diskusi yang kaku membuatnya ragu. Ia menarik napas panjang, lalu mengalihkan tujuannya. Sera mengetikkan pesan untuk Siwi. [Bu, jangan lupa kirim kue buatan Ibu ke rumah sakit, ya. Aku ingin sekali makan itu. ] Tak sampai satu menit, ponselnya bergetar. Sebuah balasan masuk yang membuat sudut bibir Sera terangkat







