Share

3. Mencari Fakta

last update Last Updated: 2025-10-14 10:43:34

"Akhir-akhir ini, setiap aku pulang aku tidak pernah bertemu dengan mereka." Arsa menatap wajah kedua anaknya yang tertidur pulas. 

Andira memperhatikan raut wajah sendu yang ditampilkan oleh Arsa. Ia mengetahui bahwa pria itu tengah merindukan kedua anak mereka. Dan tidak bisa bertemu karena kesibukan.

"Mungkin kamu kecewa. Satu hal yang perlu kamu tahu, mereka lebih kecewa daripada kamu," beritahu Andira.

"Apa mereka marah sama aku?" lirih Arsa.

"Tadi saat aku barusan pulang sebelum kamu datang, mereka mengeluh bahwa kamu menjanjikan untuk memiliki waktu bersama mereka. Tapi, kamu tidak menepati janji untuk meluangkan waktu sebentar saja," sahut Andira dengan lembut namun berhasil menikam hati Arsa.

"Seharusnya kalau kamu memang tidak bisa menunaikan janji itu, jangan kamu ucapkan. Lebih baik kamu menyisihkan waktu tanpa menjanjikan apapun. Itu lebih membahagiakan daripada kamu memberikan janji dan harapan yang menyakiti mereka."

Andira benar-benar kecewa. Baginya, sikap Arsa sangat keterlaluan. Ia sendiri tak diperhatikan oleh pria itu masalah. Tapi bagaimana dengan anak-anak mereka?

"Maafkan Papa. Papa berjanji akan sebisa mungkin memiliki waktu untuk kalian," gumam Arsa.

Andira bersedekap dada memperhatikan suaminya yang duduk di tepi ranjang membelai wajah putra dan putri mereka. Jujur, ia pun merasa kecewa sama seperti kedua anaknya. Namun kini ia mengetahui apa alasan Arisa tidak bisa memenuhi janji tersebut. 

Andira yakin bahwa adanya Arsa memiliki waktu kurang untuk keluarga. Masalahnya pasti bukan karena pekerjaan. Karena dulu sesibuk apapun, Arsa pasti bisa menyisihkan waktu. Tidak seperti saat ini. 

Dan penyebabnya adalah wanita, membuat Andira begitu yakin. Jangankan waktu untuk anak-anak mereka. Untuk waktu sekedar duduk berdua dan berbicara dengannya saja, Arsa hampir tak pernah punya waktu itu. Dan saat ini Arsa juga terlihat biasa saja walaupun tidak memiliki waktu tersebut untuk istrinya. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun.

"Aku mau berangkat sekarang." Arsa bangkit dari duduknya setelah cukup lama berada di kamar anaknya. Tapi terlebih dahulu, ia mengecup kening kedua anaknya secara bergantian.

Andira tak menjawab apapun dan hanya mengangguk. Ia mengekori langkah suaminya yang akan berjalan ke kamar mereka untuk memanggil koper yang telah diisi beberapa pakaian. Arsa rencananya akan pergi selama satu minggu ke luar kota. Dan Andira telah meminta salah satu rekan kerjanya, untuk menyelidiki apa saja yang dilakukan oleh Arsa selama di luar kota.

"Jaga diri kamu dengan baik. Serta, sampaikan salamku sama anak-anak," kata Arsa.

Andira mengangguk. "Berhati-hatilah di perjalanan. Jangan lupa kabari aku kalau kamu sudah sampai."

"Iya, Sayang."

"Selain itu, walaupun sesibuk apapun kamu, tolong hubungi anak-anak. Walaupun kamu tidak bisa memiliki waktu bersama mereka, setidaknya mereka bisa melepas rindu walaupun hanya mendengar suara ayahnya," pinta Andira.

Arsa mengangguk mendengarkan celotehan sang istri. Tak ingin berlama-lama, dia mengecup kening Andira dan bersiap untuk berangkat. Andira berdiri di teras rumah menatap kepergian sang suami. Hingga mobil menghilang dari pandangan, Andira menatap tajam kearah jalanan dan mengepalkan tangannya.

"Aku tahu kamu pasti sudah tidak sabar bertemu dengan kekasih gelap mu," gumamnya.

***

Andira bangun cukup pagi melakukan aktivitas mandi dan memasak sarapan untuk anak-anak. Bersama kedua anaknya, Andira sarapan nasi goreng. Tak lupa ia menyampaikan salam dari ayah pada mereka. 

Setelah aktivitas wajibnya selesai, Andira bekerja. Andira mengecek laptop yang ada di ruang kerjanya. Di dalam laptop itu, tergambar sebuah peta dengan titik merah yang ada di satu tempat yang ia kenal.

"Ternyata tidak di luar kota. Tetapi hanya di Jakarta." 

Andira tersenyum sinis melihat gambaran peta itu. Titik merah itu, adalah sinyal GPS yang terpasang di mobil Arsa. Arsa hanya pergi ke sebuah tempat dengan jarak tempuh sekitar satu jam menggunakan mobil.

Tadi malam saat Arsa bersiap-siap untuk pergi, Andira menyuruh seseorang untuk memasang GPS pada mobil suaminya. Itu dimaksudkan untuk melacak kemana saja Arsa pergi, dan singgah ke mana. Ia ingin tahu apakah Arsa masih berbohong kepadanya.

Dan ternyata, Arsa kembali membohongi nya. Tadi malam dia sudah berbohong. Sekarang berbohong lagi?

Memang sebuah kebohongan akan ditutupi oleh kebohongan-kebohongan lain. Tapi sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Sepandai-pandainya menutupi bangkai, akan tetap tercium baunya.

Selama ini Andira selalu menaruh kepercayaan kepada Arsa. Ia percaya bahwa sang suami tidak akan pernah mengkhianati nya. Mengingat bagaimana sulitnya mereka berjuang untuk bisa sampai di titik sekarang.

Akhir-akhir ini, ada beberapa temannya mengatakan bahwa ada tanda-tanda awal bahwa Arsa berselingkuh. Tetapi, Andira menutup mata dan telinga. Ia percaya sepenuhnya kepada sang suami. 

Andira bukanlah orang yang mudah percaya dengan apa yang ia dengar. Ia selalu percaya dengan apa yang ia lihat, dan menatap dengan pandangan dua sisi. Baru ia bisa menyimpulkan sesuatu itu palsu atau tidak. 

Hingga akhirnya Andira menemukan lebih dari tiga kali kejanggalan-kejanggalan dalam diri Arsa. Arsa sering pulang malam, dan tak pernah lagi menyentuh istrinya. Arsa kedapatan beberapa kali terpergok oleh Andira menerima telepon diam-diam.

"Bu Andira!" panggil Cindy---asisten Andira.

Andira menoleh pada pintu ruang kerjanya yang terbuka. "Masuk dan duduklah!" 

Cindy masuk melangkah menuju kursi yang ada di seberang meja tempat Andira bekerja. Ditangannya terdapat sebuah map berwarna merah yang akan ia serahkan kepada Andira. Cindy terlihat gelisah menggigit bibir bawahnya.

Melihat ekspresi Cindy yang tidak bersahabat, membuat Andira berpikir negatif. Tapi ia segera menepis pikiran buruk itu. Ia tak boleh berprasangka terlebih dahulu.

"Bagaimana hasil penyelidikanmu?" tanya Andira penasaran.

"Ini, Bu." Cindy menyerahkan map berwarna merah yang sedari tadi ia pegang.

Andira memegang erat map yang baru saja diserahkan oleh Cindy padanya. Entah mengapa hatinya terasa berdebar. Seolah ada sesuatu hal yang sangat buruk untuk ia ketahui.

Andira menggigit bibir bawahnya. Ia tak pernah merasa seperti ini. Tak pernah ia takut untuk mengetahui rahasia dari sesuatu hal yang ia selidiki. Tetapi, rasa penasarannya lebih besar dari rasa takutnya.

Dengan perlahan, Andira mulai membuka lembaran pertama untuk ia baca. Hal pertama yang ia ketahui adalah identitas wanita yang selama ini menjadi simpanan Arsa. Matanya tajam menatap baris demi baris keterangan dari wanita itu.

"Dia adalah sekretaris Pak Arsa. Dan wanita itu telah bekerja selama kurang lebih 7 bulan. Semakin lama, mereka akhirnya menjalin hubungan serius. Pak Arsa dan wanita tersebut, berpacaran," ungkap Cindy.

Andira tak menyahut perkataan Cindy. Ia tetap terus membaca lembar demi lembar hasil penyelidikan Cindy. Ada beberapa lembar bukti transfer uang atas nama Arsa yang ditujukan untuk wanita itu.

Napas Andira tertahan ketika membaca baris terakhir keterangan di bagian akhir. Matanya memanas mengetahui hal yang mengguncang dirinya. Wanita itu, ada kaitannya dengan kehidupan Andira di masa lalu.

Cindy yang memperhatikan perubahan raut wajah Andira, merasa khawatir. Bahu Andira terlihat bergetar. Andira kelihatan sangat terguncang. 

"Kenapa, Bu? Apakah Ibu mengenal wanita itu?" tanya Cindy penasaran.

"Wanita ini ...."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembalasan Istri Yang Terluka    66. Rencana Arsa

    "brengsek!" ...Arsa membanting ponselnya hingga hancur berkeping-keping. Orang yang menipunya sampai saat ini belum ditemui di mana keberadaannya. Ia bahkan memarahi asistennya yang tidak becus mencari satu orang saja."Tega dia menipuku! Di mana dia sekarang?" Arsa terlihat dendam dan marah. "Mas ... Kamu kenapa marah-marah sih?" Jenna yang mendengar suara gaduh, memilih masuk ke ruangan kerja Arsa sambil membawa secangkir teh hangat."Siapa suruh kamu masuk ke dalam ruangan kerjaku?" bentak Arsa membuat Jenna berjingkat kaget."Aku ke sini mau mengantarkan teh hangat buat Mas. Biasanya aku juga bebas kan masuk ke ruangan ini?"Arsa mendekati Jenna dana"Keluar. Aku tidak mau melihat wajah kamu!" "Tapi---" "Aku bilang keluar. Kamu dengar tidak?" Mata Arsa memerah karena emosi."Baik."Jenn dengan wajah sedihnya menunduk dalam dan berjalan dengan lesu. Ia membuka pintu dan keluar dari ruangan kerja sang suami. Setelah berhasil keluar ruangan, ia mengintip wajah Arsa yang terlihat

  • Pembalasan Istri Yang Terluka    65. Bertemu

    Arsa masih memeriksa barang pesanannya. Kali ini ia membeli sabu dari penjual yang lain. Karena penjual yang sebelumnya kehabisan stok. Tetapi ia merasa aneh dengan aroma dan juga bentuk barang yang dikirimkan oleh orang baru tersebut kepadanya. Bentuk kristal putih yang ia pegang saat ini berbeda dari biasanya. Ia menggunakan sarung tangannya dan memeriksa setiap butiran itu menggunakan mikroskop. Dan ternyata benar. Bentuk kristal itu tidak rapi dan tidak sesuai dengan standar pada umumnya. Ia kemudian menimbang berat tiap kemasan yang ia pesan. Ia menghela napas berat sekaligus mengepalkan tangannya. Timbangan itu tidak sesuai dengan apa yang ditransaksikan. Arsa mengambil ponsel untuk menghubungi anteknya. "Joe ... kamu cari orang yang menjual sabu kepadaku!" "Memangnya kenapa pada masalah?" tanya Joe. "Timbangannya tidak sesuai dan juga bentuk serta warnanya tidak sesuai standar pada umumnya," jelas Arsa dengan geram. "Jadi kamu ditipu?" tanya Joe penasaran. "Di man

  • Pembalasan Istri Yang Terluka    64. Terbang Ke Korea

    "Kamu yakin akan berangkat sendirian?" tanya Demian pada wanita disampingnya."Tentu saja aku sudah menantikan hari ini untuk bertemu dengan anak-anakku. Aku sudah sangat merindukan mereka," jawabnya.Hari ini adalah jadwal Andira akan berangkat ke Korea Selatan, untuk menemui kedua anaknya. Ia juga sudah memberikan kabar kepada Zeya dan Darrel akan kedatangannya. Mereka bahkan saling berjanji akan bertemu di suatu tempat. Tentunya secara sembunyi-sembunyi. Sebentar lagi Andira akan melakukan boarding pass dan ditemani oleh Demian beserta Cindy. Demian mengantarkan wanita itu sampai ke bandara dan untuk melepas keberangkatannya. Andira sebenarnya menolak. Tetapi Demian yang memaksa ingin ikut mengantarkan. Andira berangkat ke Korea, ingin bertemu dengan kedua anaknya. Rasa rindu yang dipendam oleh wanita itu, tidak bisa dibendung lagi. Ia tidak sabar untuk datang memeluk mereka. Zeya juga sangat antusias dan sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Andira. Tentu saja Andira merasa ba

  • Pembalasan Istri Yang Terluka    63. Transaksi Barang Mahal

    "Mana pesanan saya yang kamu janjikan?" tanya Arsa kepada seorang pria berjaket jeans abu."Ini, Bos." Pria berjaket jeans abu itu menyerahkan koper besar kepada Arsa.Arsa membuka koper itu. Didalamnya berisi cairan kristal bening yang berharga setara dengan emas. Ia memeriksa bungkusan plastik sebesar batu bata itu. Setiap satu wadah plastik berbobot 1 kg. Arsa tersenyum-senang mendapatkan barang tersebut. Karena sesuai dengan apa yang ia inginkan. "Bagaimana, Bos?" Arsa mengacungkan jempol memuji. "Memuaskan. Kamu memang hebat."Arsa kemudian menyerahkan koper besar yang ia bawa kepada pria itu. "Ini uangnya." Pria itu tersenyum menyeringai ketika membuka koper berisi uang lembaran berwarna merah dari Arsa. Ia tersenyum senang. Sudah beberapa kali ia bertransaksi dengan Arsa. Dan Arsa adalah salah satu pelanggannya yang begitu menyenangkan. Ia tidak pernah kecewa dengan Arsa. Begitu pula sebaliknya Arsa juga tidak pernah kecewa padanya. "Terima kasih, Pak Arsa. Senang sekal

  • Pembalasan Istri Yang Terluka    62. Buta Permanen

    "Apa dia tidak bisa melihat selamanya?" tanya Jenna dengan sendu sambil menatap wajah bayinya."Kata dokter dia buta permanen. Dia tidak mungkin bisa melihat selama seumur hidupnya," jawab Sherina dengan lesu Jenna sudah sadar, dan kini sedang menggendong putra pertamanya dengan raut wajah sedih. Ia mengusap pipi mungil bayi itu dengan lembut. Sebagai seorang ibu yang baru saja dikaruniai seorang putra, tentu rasa hatinya seperti disayat karena melihat anaknya mengalami kekurangan saat lahir. Seharusnya pertama kali lahir, ia bisa melihat dunia walaupun sedikit buram. Tapi selamanya bayi itu tak akan pernah bisa melihat dunia. Bahkan wajah kedua orang tuanya pun, ia tidak akan pernah melihat. "Apa aku salah makan saat masih mengandungnya hingga dia menjadi seperti ini?" Jenna berpikir apa salahnya saat mengandung. "Mana Mama tahu? Kamu sendiri bagaimana cara menjaga kandungan mu?"Sherina tidak pernah memantau putrinya yang sedang hamil semenjak Jenna sudah dinikahi oleh Arsa sec

  • Pembalasan Istri Yang Terluka    61. Pernikahan Yang Dinodai

    "Apakah kamu, mau membantu saya memberikan suntikan dana kepada perusahaan saya?" tanya Firman dengan penuh harap kepada Arsa.Firman menatap menantunya dengan penuh rasa cemas dan khawatir. Ia tak yakin jika seandainya pria itu yang telah menjadi suami putrinya, akan mau membantunya. Tetapi ia bingung akan meminta bantuan dari siapa. Ada masalah dalam koneksinya teman-temannya. Mereka tidak menjawab dan sebagian tak ingin membantunya. Entah karena perbuatan siapa. Padahal selama ini, jika Firman mengalami masalah sedikit saja mereka pasti tanpa diminta akan turun tangan membantu. "Berapa dana yang Anda butuhkan?" Arsa penasaran dengan jumlah yang dibutuhkan. "40 miliar," jawab Firman.Arsa menganggukkan kepalanya. Pria itu kemudian meneguk kembali kopi yang tinggal setengah hingga tandas. Ayah Zeya dan Darrel itu berpikir keras mengenai dana sebesar yang disebutkan oleh Firman. Itu bukan dana kecil."Nanti akan saya berikan suntikan dananya," Kata Arsa.Firman terlihat berbinar se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status