LOGINIni Bab kedua pagi ini. selamat beraktivitas (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 0/3. Bab Reguler: 2/2
Lantai di luar arena mengalami retak-retak panjang, menganga ke segala arah seperti jaring laba-laba raksasa yang ditarik dari satu pusat ke seluruh penjuru.Ketika cahaya itu perlahan mereda, yang tersisa adalah pemandangan yang membuat tribun membisu.Seluruh arena sudah berubah merah membara seperti lava yang baru mengering. Permukaan yang tadinya keras dan dingin kini retak-retak dan bercahaya dari dalam, memancarkan panas yang bisa dirasakan bahkan dari sisi tribun. Satu-satunya titik yang masih berwarna biru pucat hanyalah area kecil di sekitar kaki Mervin Lux yang masih berdiri.Asap hijau mengepul dari seluruh permukaan tubuhnya. Wajahnya pucat pasi. Tapi pedangnya masih menunjuk ke atas, ke arah Calder Sanctum yang melayang di langit.Calder berdiri di udara dengan tangan kanan masih terangkat. Sarung tangannya yang dibalut api keemasan kini berwarna merah tua, dan dari celah-celah jarinya, darah me
Divine God Beast Tamer mengerutkan dahi. Tatapannya tajam terarah ke arena."Aneh," gumamnya pelan. "Meski dia punya fisik istimewa yang bisa meredam dampak balik, seorang anak dari kawasan terpencil dengan kultivasi puncak Ranah Dao Integration seharusnya tidak bisa menggunakan kekuatan sebesar itu dengan semudah ini."Bahkan Ryan yang memiliki Divine Immortal Body pun masih butuh perjuangan keras untuk melakukan hal yang sama.Fisik Calder Sanctum jelas tidak setara dengan Ryan. Tapi mengapa dia bisa menggunakannya tanpa sedikit pun rasa takut akan dampak baliknya?Ryan tidak menjawab. Dia tidak punya jawabannya. Tapi pertanyaan itu menggantung di benaknya saat matanya terus mengikuti gerak Calder di arena.Meski begitu, satu hal tetap terlihat jelas. Sekuat apapun kekuatan Calder, masih ada guncangan samar di sana. Esensi pedang Mervin Lux yang lahir dari tekad menembus cakrawala itu menekan Cald
Calder Sanctum melangkah ke tengah arena dengan langkah yang tidak terburu-buru. Pandangannya menyapu peserta yang tersisa, Ryan, Mervin Lux, dan satu peserta dari Keluarga Swiftgale. Matanya berhenti sejenak pada Ryan, lalu bergeser ke Mervin Lux.Keheningan berlangsung tiga detik.Kemudian Calder tersenyum tipis. Bukan senyum yang merendahkan. Senyum seseorang yang sudah mengambil keputusannya dengan tenang. Dia menoleh ke arah Mervin Lux dan memberi anggukan hormat yang singkat, tanpa kesan basa-basi."Kawan Mervin, silakan menyerang lebih dulu."Tribun langsung meledak.Seseorang yang menerima Perlindungan Darah Kuno, puncak dari semua pencapaian dalam kompetisi ini, mempersilakan lawannya menyerang lebih dulu?Itu bukan kerendahan hati. Itu pernyataan yang jauh lebih lantang dari teriakan mana pun. Calder Sanctum sedang berkata dengan caranya sendiri bahwa bahkan tanpa taktik, bahkan dengan memberikan lawan seluruh keuntungan serangan pertama, hasilnya tidak akan berubah.Di
Bayangan itu mendadak berubah seakan hidup.Begitu kata-kata "Hukum Bayangan" jatuh dari mulut Drew Shadowmist, seluruh naungan gelap yang menutupi lantai arena bergerak serentak. Seperti makhluk tak kasat mata yang menerima perintah dari tuannya, bayangan-bayangan itu mengalir ke arah kaki Drew, melilit naik melewati pergelangan, betis, paha, dan seluruh tubuhnya dalam hitungan detik. Lapisan kegelapan padat terbentuk melingkupi Drew dari ujung kaki hingga ke leher, bukan sekadar pelapis biasa. Seluruh substansi kegelapan di arena ini memutuskan untuk berdiri di sisinya.Xavier Dragvine mengepalkan kedua tangannya.'Ini bukan lagi tentang teknik gerak. Dia memanggil hukum alam itu sendiri.'Tidak ada waktu untuk berpikir lebih jauh. Drew Shadowmist melesat ke depan.WUUSSHH!Bukan kecepatan biasa yang bisa diikuti mata. Dia bergerak seperti bayangan yang meluncur di permukaan air, mulus, tanpa gesekan, tanpa hambatan. Barisan bayangan di bawah kakinya menjadi jalan yang ia tempuh
Ryan melihat transformasi itu dan tersenyum tipis.'Xavier berhasil mendorongnya sampai ke sana.'Garis darah naga bukan sekadar kekuatan tambahan. Di Benua Valorisia, Keluarga Dragvine dan Keluarga Celestedragon berdiri di puncak justru karena warisan itu. Naga adalah Dao tersendiri, makhluk yang menyelam ke dasar samudra dan menembus lapisan awan tertinggi, yang menyerap hampir semua elemen alam dan beradaptasi di lingkungan mana pun. Vitalitas mereka tidak tertandingi. Bahkan luka yang sudah menguras sebagian besar energi spiritual Xavier sebelum ini sekarang relevansinya mulai bergeser.Dan kini, sebagian dari esensi itu mengalir penuh dalam tubuh Xavier.Beberapa peserta di sisi arena menahan napas. Mereka yang punya cukup pengetahuan paham apa artinya transformasi semacam itu. Garis darah naga yang benar-benar aktif bukan hanya soal penampilan yang berubah.Seluruh fondasi pertarungan ikut ber
Ini bukan lagi pertarungan.Ini eksekusi yang sengaja diperlambat.Xavier Dragvine terlempar ke kiri. Sebelum kakinya sempat menapak, kepalan sudah menyambut dari sisi kanan, menghantam sisa pelindung darah naganya dengan kekuatan yang membelah permukaan arena satu jengkal ke bawah. Darah menyembur dari sudut bibirnya. Dia memaksakan energi spiritual ke telapak kakinya, mengerem laju tubuh, berhenti setengah meter dari tepi arena.Drew sudah menghilang lagi sebelum Xavier sempat menoleh ke arahnya.Tawa itu datang dari atas. Ringan dan ganjil, seperti seseorang yang sedang menikmati permainan yang hanya lucu bagi dirinya sendiri."Bocah Sekte Moon Flower!" Drew muncul sesaat di sisi kiri arena, kedua tangan dimasukkan santai ke dalam saku jubahnya, senyumnya lebar ke satu sisi. "Apa aku ini manusia atau anjing gila, menurutmu sekarang?"Xavier mendengus. Napasnya tersengal tapi matanya tidak lepas da
"Adik Arthur," Walter Leon mengangkat gelas anggurnya dengan senyum lebar, "kultivasi dan kekuatanmu membuatmu menjadi panutan bagi seluruh generasi muda!" Matanya sesekali melirik Zodiac Hellheim dan ketiga rekannya yang berdiri tegak di belakang Ryan. "Keempat orang ini juga jenius yang tak terta
"Kakak Senior, biar aku bantu!" seru seorang murid sejati lain dengan panik.Murid sejati kedua itu menyerbu dengan putus asa, menghunus pedang spiritualnya, dan menyerang Ryan dari samping dengan teknik terbaiknya."Mencoba membantunya?" Ryan mendengus dingin dan menatap murid
"Ryan membunuh banyak murid juniorku tanpa ampun!" Stuart Fenex memutar buku-buku jarinya dengan gerakan yang mengancam, dan senyum dingin yang berbahaya muncul di bibirnya. "Sudah sepantasnya aku membunuh gurunya sebagai pembalasan yang setimpal!" Stuart Fenex berpikir sejenak dengan ekspresi sa
Menantang semua orang dari Sekte Red Phoenix? Kalimat provokatif itu meledak bagaikan petir di hati setiap orang yang hadir! Gila! Benar-benar gila sekali! Seberapa inginnya orang ini mati dengan cara yang mengenaskan? Para jenius Sekte Red Phoenix yang berkumpul saat ini tidak seperti para je







