LOGINIni Bab Kedua Siang Ini. Selamat beraktivitas (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 2/3. Bab Reguler: 2/2
"Hahahahaha!" Tawa Cole Shadowmist masih bergema keras di seluruh arena. "Jangan khawatir, kau tidak akan kulempar keluar dari panggung secepat itu. Kau harus membantu aku bersenang-senang dulu!"Ryan menatap Cole yang tertawa dengan mata yang setengah menggeleng, setengah geli.Lalu ia ikut tertawa. Ringan. Pendek."Kau tahu tidak," ucapnya santai sambil mengusap ujung bibirnya dengan punggung tangan, "orang-orang yang bicara padaku dengan cara seperti itu biasanya berakhir dengan sangat menyedihkan."Tawa Cole terhenti.Sesuatu dalam kalimat itu membuatnya diam. Bukan karena ancaman. Bukan karena takut. Lebih karena ada yang tidak pas, seperti kepingan puzzle yang dipaksa masuk tapi tidak benar-benar cocok di tempatnya.Matanya turun ke tombaknya sendiri.Dan kemudian ia mengerti.Tombak itu tidak menembus dada Ryan.Serangan Kilat Bayangan Ekstrem yang ia lepaskan tadi memang meluncur denga
Pemuda itu terdiam. Lalu matanya membulat sedikit. "Ketua Sekte, maksudnya... Kakak Senior Mervin yang akan masuk?"Eren menggeleng.Pemuda itu semakin bingung. "Kalau bukan Kakak Senior Mervin... Xavier?"Tidak ada jawaban yang datang. Hanya senyum yang tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan itu.**"Pertandingan kelima belas!"Suara lelaki tua itu bergema dan Ryan bangkit dari duduknya."Ryan Pendragon dari Keluarga Blazesky! Cole Shadowmist dari Keluarga Shadowmist!"Sorak sorai di bangku penonton meledak kembali, namun kali ini dengan warna yang berbeda. Ada tawa di dalamnya."Hei, aku tidak salah lihat? Lawannya anggota Shadowmist? Dan itu murid sekte luar yang cuma Ranah Primordial Chaos tingkat tiga?""Hahahaha, nasib buruk sekali. Kalau ketemu orang lain mungkin masih bisa bertahan. Tapi melawan Keluarga Shadowmist dengan level seperti itu?""Kasihan. Ini bukan pertandingan, ini
Setelah pertandingan pertama yang ditutup dengan cara yang tidak terduga itu, suasana di bangku penonton tidak pernah benar-benar kembali seperti semula. Ribuan pasang mata masih sesekali melirik ke tempat di mana tubuh Drake Darkgold diangkat keluar, beberapa mulut masih terbuka setengah, seolah tidak yakin apa yang baru saja mereka saksikan memang nyata. Pertandingan kedua, ketiga, keempat datang dan pergi. Cukup menarik, namun tidak benar-benar menggetarkan. Hingga tiba giliran pertandingan ketujuh. Semacam pergeseran terjadi di tengah kerumunan. Bisik-bisik yang tadinya santai berubah menjadi tegangan yang berbeda, dan kepala-kepala yang tadinya menunduk malas kini tegak kembali. Ryan merasakan perubahan itu bahkan sebelum ia melihat alasannya. Di atas panggung, seorang pemuda dari Keluarga Shadowmist berdiri. Penampilannya tidak istimewa di pandangan pertama. Rambut gelap, postur sedang, ekspresi yang terlalu tenang untuk seseorang yang berdiri di tengah arena di baw
Di bangku peserta Keluarga Woodholt, wajah-wajah memerah satu per satu. Beberapa kepala tertunduk. Hanya kepala keluarganya yang memandang panggung dengan sorot yang berbeda dari yang lain. Tidak ada rasa malu di matanya. Hanya tatapan orang yang sedang menunggu sesuatu terjadi. Drake sendiri melongo melihat pemandangan itu. Ia tidak menyangka musuhnya akan "melarikan diri" semudah dan secepat itu. Matanya beralih ke pedang emas pucat yang masih melayang pelan ke arahnya. Senyumnya kembali. 'Kalau begini, barang ini jadi milikku.' "Kalau mau lari, silakan lari. Tapi pedangnya aku ambil dulu sebagai bayaran atas waktu yang sudah terbuang!" Mervin, yang sudah hampir di tepi panggung, menjawab tanpa menoleh. "Kalau bisa diambil, ambil saja." Drake mengulurkan tangannya dan menggenggam ke arah pedang itu. SRITTT! Suara yang nyaris tidak terdengar. Kerumunan yang tadi riuh mendadak bisu. Drake menatap tangannya. Empat jarinya terputus bersih, jatuh ke lantai panggung bersama
Pertandingan pertama dimulai.Arena utama di pusat venue adalah panggung batu biru yang lebar dan rata, dengan lapisan pelindung berbentuk kubah setengah lingkaran yang melayang di atasnya. Formasi cahaya itu berfungsi ganda: menahan kerusakan agar tidak menjalar ke penonton, sekaligus membuat setiap gerakan di atas panggung terlihat jelas dari segala sudut.Dua peserta sudah berdiri di atas panggung.Suara lelaki tua itu bergema di seluruh venue. "Mervin Lux dari Keluarga Woodholt! Drake Darkgold dari Keluarga Darkgold! Pertandingan dimulai!"Sorak sorai meledak dari bangku penonton. Namun arahnya jelas, dan bukan untuk Mervin."Drake Darkgold! Habisi bocah dari Sekte Moon Flower itu!""Itu genius nomor satu Keluarga Darkgold! Murid sekte luar itu sudah tamat!""Murid-murid Sekte Moon Flower semua sampah! Apa yang mereka andalkan selain senjata mahal pemberian guru mereka?"Ryan mengerutkan dahinya.
Di kamar yang berbeda, Yakou Zedd duduk di tepi ranjang dengan kedua siku di atas lutut dan kedua tangannya menopang dagu.Sudah lama ia duduk dalam posisi itu.Ini bukan pertama kalinya ia mengikuti ujian ini. Ia sudah pernah menjalaninya sekali, dan dari pengalaman itu ia tahu betul betapa tidak mungkinnya ia menjadi murid rahasia.Keluarga Sanctum dan Keluarga Shadowmist terlalu menjulang. Mervin Lux terlalu jauh di depannya. Itu bukan urusan yang perlu ia khawatirkan.Satu-satunya alasan ia ada di sini adalah Ryan Pendragon.Pritha Zest membutuhkan Ryan disingkirkan. Dan Yakou membutuhkan Pritha tetap bergantung padanya.Namun rencananya sudah gagal.'Ryan terlalu kuat.' Dia mengepalkan jarinya di atas lututnya. 'Bahkan Cord pun tidak bisa melukainya. Tapi...'Matanya menyipit.Ia memperhatikan sesuatu yang mungkin luput dari orang lain. Setelah serangan kapak Cord dipatahkan oleh Ryan, ad
Keluarga Mouren menguasai sebagian besar sumber daya kultivasi di Kota Season. Sebagai keluarga kuno, mereka memegang kunci ke berbagai tempat rahasia. Bahkan kekuatan-kekuatan besar di Gunung Langit Biru ingin menjalin hubungan baik dengan mereka. Lebih dari itu, Keluarga Mouren dan Keluarga H
Ketika kedua penjaga tersebut masih dalam keadaan terkejut, Ryan tiba-tiba mengeluarkan Tombak Iblis Rhongomyniad dan mengayunkan tangan kanannya ke belakang dalam gerakan mulus. Qi tombak itu dipenuhi dengan kekuatan petir ilahi, menciptakan kilatan biru yang membutakan mata. Sebelum mereka berd
Meski berbakat dan kuat, Shirly Jirk tak bisa menyembunyikan kegundahannya. Firasat buruk terus mengusiknya, membuat konsentrasinya buyar. "Tetua Kelly," ucapnya tegas, mata berkilat penuh tekad. "Kita harus ke Keluarga Hodge sekarang. Aku perlu mencari tahu di mana adikku." Tetua Kelly sedikit te
Tanpa peringatan, pemuda itu melangkah maju dan dengan gerakan ringan melambaikan kipas lipat di tangannya. Seketika, jarum-jarum es melesat ke arah Ryan, khususnya mengincar beberapa titik akupunktur vital di punggungnya. Jika jarum-jarum itu mengenai sasaran, Ryan bisa lumpuh atau bahkan tewas







