MasukIni Bab kedua pagi ini. Selamat beraktivitas (◠‿・)—☆
Evan tidak mundur.Sebuah bayangan putih muncul di belakangnya, bukan awan biasa. Ini siluet naga panjang yang terbungkus lapisan kabut tipis. Pedang panjang muncul di tangannya dalam sekejap, dan jarinya bergerak membentuk kuda-kuda yang dalam dan stabil."Dao Naga Awan, Naga Mendaki Cakrawala!"Energi pedangnya meledak keluar dalam bentuk naga putih raksasa yang menerkam ke depan. Di sekitar naga itu, kabut berputar seperti mahkota yang terus mengalir, dan siapa pun bisa merasakan betapa tiap lapisan kabut itu padat seperti baja.Naga putih menabrak lautan petir.BOOM!Ledakan cahaya biru dan putih memenuhi lapangan. Para penonton melindungi mata mereka. Ketika cahaya reda, naga Evan tampak terluka, tubuh bayangannya terkoyak di beberapa tempat. Tapi ia masih berdiri di sana, dan Rex pun tidak bergerak dari posisinya.Serangan pertama selesai.Di bari
"Evan!"Ketua Sekte Cloud Nether melangkah maju, wajahnya yang tadi tegang melunak seketika saat melihat putranya berjalan santai ke pelataran. Pemuda berbaju hitam itu melangkah ringan, aura di tubuhnya padat dan mantap seperti batu yang sudah lama diasah.Evan Lux menyapu pelataran dengan satu pandangan. Ayahnya, para tetua, Silas Lux di sudut, dan dua orang asing di tengah. Yang berambut merah dengan mata kosong lebih berbahaya dari semua yang ada di sini, bahkan tanpa ia melakukan apa pun. Yang satu lagi mengenakan jubah Sekte Silver Frost."Ayah, ada apa?" tanyanya, suaranya ringan seperti seseorang yang baru pulang dari jalan-jalan. "Aku dengar ada murid perempuan yang terjebak di alam rahasia?"Ketua sekte menjelaskan semuanya singkat dan padat, cukup untuk Evan memahami gambaran besarnya.Di akhir penjelasan, tatapan Evan beralih ke Rex Sallow. Tidak ada kesan yang berarti di wajahnya.
Vera Stone mengambil posisi berdiri. Hukum nomologinya mengalir keluar seperti bendungan yang dibuka seluruh pintunya sekaligus. Langit di atas pelataran berubah dalam hitungan detik. Biru pagi berganti abu-abu berputar yang semakin pekat, semakin gelap. Bayangan awan gulita memenuhi udara dari segala arah, mengembang seperti tirai raksasa yang dijatuhkan dari langit. "Samudra Kabut Gulita!" BOOOOM! Kabut hitam keabu-abuan meledak dari tubuh Vera, menelan seluruh area dalam radius puluhan meter. Di dalamnya tersimpan lapisan formasi yang dibangun dari pemahaman hukum ruang dan jiwa. Siapa pun yang terjebak di dalamnya akan kehilangan orientasi secara bertahap, indra spiritualnya teredam, dan setiap gerakan terasa berat seperti berjalan di lumpur yang menarik ke bawah. Silas Lux yang berdiri di luar radius kabut menelan ludah. Bahkan ia tidak ingin masuk ke dalam sana tanpa persiapan yang panjang. Di tengah kegelapan gulita itu, Chester berdiri diam. Matanya yang kosong
Rex Sallow berdiri di pelataran Sekte Cloud Nether dengan kedua tangan terlipat santai di belakang punggung. Senyumnya dipasang rapi, topeng yang sudah terlalu terlatih untuk perlu dipikirkan lagi. Jubah putih Sekte Silver Frost yang ia kenakan bersih tanpa noda, dan di setiap lipatannya terasa keangkuhan yang sudah lama menjadi kebiasaan, bukan sekadar sikap. Dari luar, pria itu terlihat seperti seorang kenalan baik yang datang dengan niat mulia. Di sekitarnya, murid-murid muda di pelataran bergerak mundur sedikit tanpa mereka sadari, memberi ruang yang tidak diminta. Tapi bukan aura Rex yang membuat seluruh pelataran tercekam diam. Semua orang bisa merasakan sumber yang sesungguhnya. Melainkan sosok dua langkah di belakangnya. Tuan Chester berdiri diam seperti patung yang dilupakan. Pria berambut merah itu tidak melakukan apa-apa. Matanya menatap lurus ke depan tanpa fokus, napasnya tidak terdengar, ekspresinya tidak berubah. Namun tekanan yang memancar darinya nya
"Rex Sallow menginginkan Selvia dan ingin menjadikannya selir. Selvia menolak dengan tegas.""Lalu keluarga Rex menekan sekte kita dari berbagai arah sekaligus sampai kami hampir tidak bisa bernapas.""Karena Selvia tidak mau sekte kita ikut terseret, dia memilih masuk ke alam rahasia untuk berlatih dan mendapatkan gelar Bidadari Suci.""Karena menurut tradisi sekte kita, Bidadari Suci tidak boleh menikah sebelum mencapai puncak Ranah Dao Integration!""Dan sekarang alam rahasia itu bermutasi mendadak, Selvia terjebak di dalam, dan satu-satunya yang bisa masuk menyelamatkannya ternyata adalah Rex Sallow?" Vera Stone menatap Silas dengan tatapan yang sudah melewati batas amarah biasa. Di matanya sekarang hanya ada kesimpulan. "Kebetulan yang sangat sempurna, bukan?"Suaranya tidak gemetar. Tangannya masih mengepal di sisinya.Silas Lux tidak mengernyit. Dia hanya tersenyum tipis ke arah Vera Stone dengan ekspresi seseora
"Kau ingin pergi ke Sekte Cloud Nether?"Eren Carster menatap Ryan yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Alisnya terangkat sedikit.Ryan mengangguk. "Dulu, selain Xavier Dragvine dan aku, Senior Jessica juga membawa seorang temanku dan mengirimnya ke Sekte Cloud Nether untuk berkultivasi.""Belakangan ini aku merasakan sesuatu yang tidak beres dari liontin yang dia berikan padaku. Aku perlu menemuinya."Eren Carster mempertimbangkan sebentar, lalu mengangguk. "Baiklah. Tapi jangan terlalu lama. Segera kembali setelah urusanmu selesai."Ryan membungkuk hormat dan meninggalkan aula utama.Eren Carster mengikuti suara langkah kaki itu sampai hilang, lalu membuka kembali buku di tangannya dengan santai. Tanpa mengangkat kepala, dia berbicara ke arah sudut ruangan yang tidak seharusnya ada bayangan di sana."Jaga dia dengan baik. Tapi jangan bertindak kecuali benar-benar terpaksa.""Baik, Ketua Sekte." Sebua
Di kejauhan, semua orang yang menonton tercengang! Awan Tribulasi! Awan Tribulasi yang tidak terlihat selama ribuan tahun benar-benar sedang dilahap oleh kedua hewan peliharaan Ryan! Ryan benar-benar menantang surga! "Naga! Ryan ternyata punya naga darah!" seorang Master Alkimia menatap Ryan dan
Walter Leon mengerutkan kening, wajahnya menunjukkan kekecewaan. Dia menggelengkan kepala tak berdaya saat mendengar penolakan itu. Kesempatan emas untuk mengikat Arthur Pendragon dengan keluarganya ternyata terlewatkan begitu saja.Jamie Leon, meski dalam hatinya tidak terlalu berharap terjadi s
Stuart Fenex mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Aku akan mengantarmu pergi sekarang dengan penyiksaan yang panjang!"Akan tetapi, sebelum Stuart Fenex bisa menyelesaikan ancaman mematikannya, sebuah suara tenang namun dingin datang dari kejauhan, menggetarkan seluruh arena."Apakah kamu yakin ing
Dia tahu betul bahwa kematian Tyler Campbell pasti akan membuat Keluarga Campbell waspada dan mencari pelakunya. Jika mereka menemukan tempat ini dan terjadi konfrontasi, itu akan sangat merepotkan!"Baiklah!" Ryan setuju tanpa ragu. Sebuah bola api kecil namun panas meledak dari ujung jarinya da







