Share

Pembantu Berbahaya
Pembantu Berbahaya
Author: Hossana222

Prolog

Author: Hossana222
last update publish date: 2026-03-24 18:13:09

Hujan yang mengguyur kota sore itu bukan sekadar rintik, tetapi tembakan peluru air yang membabi buta terhadap kaca depan mobilnya.

Alya menyetir dalam mode bertahan hidup. Pandangannya tertuju pada jalanan licin yang dipadati kendaraan, sementara pikirannya sibuk mengutuki meeting yang molor dan tagihan yang harus dibayar besok.

Dia benar-benar ingin gila! Apalagi dia adalah anak broken home. Ayahnya sudah meninggal, ibunya menikah lagi dan sudah tidak peduli. Sekarang Alya hidup dari harta peninggalan ayah. Apartemen kecil, mobil tua, dan sedikit tabungan untuk bertahan.

Tapi ya sudahlah. Setidaknya, dia masih memiliki tempat berteduh tanpa harus menyewa.

Namun entah sejak kapan ia melamun, meratapi hidup, karena saat sadar ia sudah menabrak mobil didepannya dengan sangat keras.

Brakkk!

Suara itu bukan sekadar bunyi. Itu adalah sensasi yang brutal. Rangka mobilnya yang tua berderak seperti biskuit kering ditimpa batu.

Kantung udara menyembur keluar, menampar mukanya dengan debu putih dan bau bahan kimia yang menyengat. Kepalanya tersentak ke belakang, lalu ke depan, didampingi bunyi klakson yang macet, meraung-raung dalam kesakitan.

Dia terduduk, diselimuti diam yang mendadak. Hujan adalah satu-satunya suara yang berani bersuara, mengetuk atap mobil yang rusak itu seperti dering bel kematian.

Kemudian, pintu di depannya terbuka.

Seorang wanita tua berdiri di balik tirai hujan, terlindungi oleh payung yang dipegang oleh sopir pribadinya yang berbadan tegap.

Dia tidak terlihat marah. Dia terlihat... terpana. Matanya setajam elang, menyapu tubuh mobil Alya yang ringkih, lalu berhenti pada wajah Alya yang pucat dan basah.

Wanita itu mengenakan jas berwarna coklat yang sudah pasti harganya setara dengan gaji Alya setahun. Seuntai mutiara alami melingkari lehernya yang ramping, memantulkan cahaya suram sore itu dengan cara yang sinis.

"Anak muda..." ucapnya. Suaranya jernih, menembus deru hujan dan raungan klakson. Sebuah suara yang dingin dan terlatih, seperti pisau bedah. "Kamu baru saja menghancurkan sebuah Rolls-Royce Phantom."

Jantung Alya seketika jatuh ke dasar kolam ketakutan. Rolls-Royce. Itu bukan mobil, itu adalah istana beroda. Itu adalah mimpi buruk yang harganya mungkin melebihi nyawa dan masa depannya.

"Bu, Saya benar-benar..." kata Alya gagap, tangannya gemetar memegang stir. Air mata campur air hujan mulai mengalir di pipinya. Ini adalah akhir. Dia akan dijebloskan ke penjara. Hidupnya berakhir di sini, di sebuah persimpangan yang basah, karena sebuah lamunan bodoh.

Tapi wanita tua itu, yang kemudian Alya ketahui bernama Ratri, mengangkat tangan. Sebuah gesture kecil yang penuh kuasa, membungkam semua permintaan maaf yang belum terucap.

"Diam!" perintahnya. Matanya, yang tadi terpana, kini menyala dengan sebuah penilaian yang membuat Alya merinding.

"Kecelakaan sudah terjadi. Air mata tidak akan meluruskan bemper ini." katanya, langkahnya mendekat, sepatu haknya yang elegan menginjak genangan air tanpa ragu. Dia membungkuk sedikit, menatap langsung ke mata Alya yang berkaca-kaca.

"Tapi nasib adalah permainan yang lucu. Kerusakan ini bisa menjadi kutukan, atau..." dia berhenti, senyum tipis dan tanpa emosi mengembang di bibirnya yang merah. "Sebuah pintu. Aku punya sebuah proposal. Lakukan sesuatu untukku, dan kita akan melupakan semua kerusakan ini. Bahkan, aku akan memberimu imbalan yang sangat besar."

"Beruntunglah kamu sangat mirip dengannya, wajahmu itu menyelamatkanmu!"

Dia berdiri tegak kembali, meninggalkan Alya yang terengah-engah, terkunci di dalam mobil yang hancur, dengan sebuah tawaran yang lebih menakutkan daripada ancaman.

"Pikirkan baik-baik, Nak." bisik Ratri sebelum berbalik. "Pilihanmu sederhana. Bekerja untukku, atau aku akan memastikan kamu tidak pernah bisa menghirup udara bebas. Karena kamu akan menghabiskan sisa hidupmu di dalam sel. Ini kartu namaku, besok temui aku di hotel Rosetta. Jam 10 pagi!"

Pintu mobilnya yang mewah tertutup, meninggalkan Alya sendirian dengan gemerincing hujan.

"Nasib sial apalagi ini!" Alya tersedu-sedu. "Papa kenapa tanpa kamu, hidupku sesulit ini?"

*****

Dengan napas yang masih memburu, Ratri menginjakkan kakinya di marmer lobi rumahnya yang megah. Dinginnya lantai tak sebanding dengan dingin yang menggelayuti hatinya.

Dan kemudian, pandangannya tertuju pada pemandangan yang membuat darahnya mendidih.

Di ruang keluarga, Axton, putra satu-satunya, berlutut di atas karpet Persia termahal, dengan patuh memijat kaki Nadira yang terlungkup di sofa.

Ekspresi hamba yang tunduk itu tak bisa disembunyikan lagi. Dia adalah badut di istananya sendiri, diperbudak oleh seorang wanita yang tahu persis di mana letak kelemahannya.

Pikiran Ratri melayang ke masa lalu, ke Chloe. Gadis kecil berambut lurus dan mata sebening embun itu. Anak dari sahabat terbaiknya.

Cahaya yang merebut hati Axton yang pendiam. Kematiannya yang tragis, menyelamatkan Axton dari terjangan mobil, telah merenggut lebih dari sekadar nyawa. Itu merenggut kewarasan putranya.

Axton pun tenggelam, menjadi antisosial, hanyut dalam kesedihan yang tak berujung. Hingga akhirnya, Nadira datang. Wanita yang kebetulan memiliki kemiripan sekilas dengan Chloe. Itulah kail yang berhasil menangkap Axton.

Tapi yang tumbuh bukanlah cinta, melainkan sebuah Attachment Disorder yang parah. Kebutuhan untuk terikat, yang mengubahnya menjadi budak bagi siapapun yang bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan Chloe.

Dan Nadira, dengan kelicikannya, memanfaatkan itu sepenuhnya.

Ratri menghela napas. Tapi sore ini, segalanya terasa berbeda. Ada secercah harapan. Alya. Gadis yang mobilnya ia tabrak itu.

Wajahnya... bukan sekadar mirip. Itu hampir menyamai Chloe. Sebuah kemiripan yang menakjubkan, seolah-olah Chloe lahir kembali dalam tubuh seorang gadis biasa.

Meski terpaut usia 10 tahun dan jauh berbeda latar belakangnya, ada cahaya kejujuran di matanya serta akhlak yang jauh lebih baik dari Nadira.

"Eh, Mama udah pulang!" sapa Nadira tiba-tiba, memutuskan lamunannya. Suara itu bagai kuku yang mengores papan tulis.

Ratri mengabaikannya. Langkahnya terus melaju.

"Mama masih nggak suka sama aku? Sayang, Mamamu tuh!" keluh Nadira dengan suara manja yang dipaksakan, memprovokasi Axton.

Axton langsung menatap ibunya. "Mama, kamu punya mulut untuk bicara, kan?"

Ratri berhenti, menatap anaknya dengan pedih. "Besok aku akan panggil Maid baru untuk jaga cucuku, Kai. Maid lama boleh di-cut off."

"Tapi..." protes Nadira, duduk tegak.

"Tidak ada tapi!" bentak Ratri, suaranya menggelegar di ruangan luas itu. Amarah yang lama tertahan mulai mendidih.

"Mama, jangan bentak istriku!" Axton berdiri, wajahnya berkerut, dia telah dibutakan oleh Nadira.

"Kamu mau melawan ibumu?" teriak Ratri, rasa frustrasinya meluap. "Sudah cukup, Mama diam! Mama selama ini mengkhawatirkan mentalmu, tapi kamu semena-mena!"

"Mama berani bicara seperti itu?" sergah Nadira, bangkit dengan senyum kemenangan. Dia melangkah mendekat, matanya menyipit. "Mau provokasi hubungan kami? Sayang..." ujarnya pada Axton dengan suara merayu. "Aku mau Mama-mu bersujud padaku. Sekarang."

"Kamu wanita gila!" desis Ratri, jijik.

"Suruh dia melakukannya!" desak Nadira pada Axton. "Atau aku pergi dan tidak pulang semalaman. Biar saja aku ketemu orang jahat dan..." ancamannya menggantung.

Wajah Axton pucat. Ketakutan akan ditinggalkan lagi, kecemasannya yang parah, langsung mengambil alih. Dia menatap ibunya dengan mata memohon, tapi juga memerintah.

"Mama..." katanya, suaranya tegang namun penuh desakan, "Bersujudlah."

"Kamu..." Ratri tercekat, hancur. Air mata kebencian dan kepedihan menggenang di matanya.

"Pengawal!" panggil Axton pada dua orang pengawal yang berdiri kaku di pintu. "Bantu Mama meminta maaf pada istriku!"

Dua pengawal itu mendekat dengan ragu. Ratri menatap mereka, lalu menatap Nadira. Di wajah menantunya itu, terpancar senyum kepuasan yang jumawa, sebuah kemenangan mutlak.

Tapi di balik rasa hina yang membara, hati Ratri berbisik. "Tunggu saja, Nadira. Tunggu besok. Ketika Alya datang, senyummu yang keji itu akan pudar. Takhtamu akan runtuh. Dan aku akan menyaksikan kehancuranmu!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembantu Berbahaya   23 Ancaman

    Koridor rumah sakit yang biasanya tenang kini terasa menekan. Axton mondar-mandir di depan ruang perawatan, wajahnya pucat dan tegang. Ratri duduk di kursi tunggu, bahunya bergetar menahan isak tangis. Alya berdiri di sampingnya, berusaha menenangkan Ratri, tetapi pikirannya sendiri dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan atas ulah Nadira.Pintu akhirnya terbuka setelah lama menunggu. Seorang wanita paruh baya, raut wajahnya tenang namun memancarkan keprihatinan profesional, keluar dari ruangan. Itu adalah psikolog anak yang menanganinya.Axton segera menghampiri, matanya memohon jawaban. "Bagaimana, Dok? Anak saya kenapa? Kenapa dia tidak mau bicara?"Dokter itu menarik napas, gesturnya formal namun lembut. "Tuan Axton, kami sudah melakukan pemeriksaan awal pada Kai. Secara fisik, dia baik-baik saja."Semua orang sempat bernapas lega, tetapi dokter itu melanjutkan dengan nada serius."Anak Anda mengalami Mutisme Selektif. Sepertinya dia mengalami tekanan dan trauma emosional yang signif

  • Pembantu Berbahaya   22 Ketakutan Kai

    Di dalam kamar rawat VIP Nadira yang sunyi, aroma antiseptik bercampur samar dengan wangi bunga mahal. Nadira, yang masih terbaring lemah pasca keguguran, justru dipenuhi amarah yang membara setelah Axton pergi mengejar Alya.Nadira menarik Kai yang duduk di tepian ranjang, wajahnya memerah karena emosi yang tertahan."Kamu lihat sendiri betapa jahatnya orang yang kamu panggil kakak itu!" Nadira menekan, mencoba memaksakan narasinya. "Dia mendorong Mama sampai adik kamu mati!"Kai, yang duduk di ranjang, menggeleng kuat. Matanya berkaca-kaca karena ketakutan. "Aku melihat Mama marahi Kakak lalu jatuh sendiri!" Ia membantah dengan polos, mengingat kejadian itu dengan kejujuran seorang anak."Kamu ini kenapa selalu membela Alya? Dasar anak sialan! Kamu salah lihat, dia dorong Mama! Kamu ini anak siapa, kenapa membelanya?" Nadira berteriak pelan, takut perawat mendengar, namun suaranya tetap penuh intimidasi."Kenapa Mama selalu marah-marah?" Kai menangis, suaranya pilu."Dasar cengeng!

  • Pembantu Berbahaya   21 Obsesi Yang Gelap

    Alya menggendong Kai yang memeluk lehernya erat. Langkahnya terasa berat menyusuri koridor rumah sakit yang berbau antiseptik. Saat melihat Axton dan Ratri berdiri tegang di depan pintu IGD, jantungnya berdetak kencang.Apakah mereka sudah termakan akting Nadira? Tepat saat dia akan mendekat, sebuah suara familiar memanggil namanya dari belakang."Alya!"Suara itu membuatnya spontan berbalik. Di sana, di tengah keramaian rumah sakit, berdiri seorang pria tinggi berjas dokter putih, dengan senyum hangat."Raynaldo?" Alya mengerutkan kening, mencoba mencocokkan wajah itu dengan memori di kepalanya. Raynaldo adalah teman kuliahnya dulu, mahasiswa kedokteran, dan pernah satu komunitas di unit kegiatan mahasiswa pecinta alam."Betul! Wah, lama sekali tidak bertemu!" Raynaldo mendekat, senyumnya lebar dan tulus. Matanya kemudian beralih ke Kai di gendongan Alya. "Ini... anakmu? Kamu sudah menikah?""Belum." jawab Alya cepat, merasakan hawa dingin yang tiba-tiba datang dari ujung koridor. "I

  • Pembantu Berbahaya   20 Drama Nadira

    "Kamu harus keguguran!" Alex langsung mengusulkan hal itu tanpa berpikir panjang. "Tapi aku takut!" Nadira mengigit bibir bawahnya dengan gelisah. "Kamu mau kehilangan segalanya? Uang? Kekuasaan?" Alex memprovokasinnya, tanpa peduli jika yang akan dia bunuh adalah darah dagingnya sendiri. "Gugurkan anak itu dan kambing hitamkan Alya. Kamu tau maksudku kan?"Sinar matahari menyelinap melalui jendela kaca, menerangi partikel debu yang menari di udara.Nadira berdiri di puncak tangga marmer yang curam, tangan menggenggam gagang pintu, matanya mengikuti gerak-gerik Alya yang sedang membersihkan vas antik di lantai bawah.Semalam, setelah pertemuan dengan Alex, dia tidak bisa tidur. Dia merancang setiap detil rencananya agar tidak gagal. Alex benar, anak dalam kandungannya harus mati! Nadira tidak mau kehilangan segala kemewahan ini.Tangga ini sempurna, cukup curam untuk menciptakan kecelakaan dramatis, tapi tidak terlalu mematikan. Dia akan menderita, tapi tidak mati. Itu yang penting

  • Pembantu Berbahaya   19 Pelajaran Baru

    Kamar mewah yang biasanya menjadi arena drama Nadira kini berubah menjadi ruang interogasi yang sunyi. Dokter baru saja pergi setelah mengonfirmasi kehamilannya yang mencapai dua bulan.Axton berdiri di tepi jendela, punggungnya menghadap Nadira, tapi ketegangan di pundaknya terlihat jelas."Kamu jujur saja." suara Axton pecah, dingin dan tanpa emosi. "Itu anak siapa?"Nadira menarik napas. "Axton, ini anak kita...""Jangan bohong!" Axton berbalik mendadak, matanya menyala seperti api yang membeku. "Kamu tau betul, berbulan-bulan terakhir kamu sama sekali tidak mau aku sentuh. Setiap kali aku mendekat, kamu berteriak marah, banyak alasan, atau pura-pura sakit.""Kamu lupa! Kita ini suami istri! Pasti... ""Aku tidak mungkin lupa!" bentaknya, suara menggema di ruangan. "Karena setiap penolakanmu, setiap wajah jijikmu, tertusuk di sini!" Tangannya menunjuk ke dadanya. "Jadi katakan. Anak siapa? Alex? Itu alasan kenapa kamu menyimpan tindiknya?"Nadira mulai panik. Air matanya yang biasa

  • Pembantu Berbahaya   18 Kecurigaan

    18 KecurigaanHujan turun deras, mencipratkan rindu dan rasa bersalah ke setiap sudut hati Axton. Dari balik jendela, dia memandangi hal yang menyayat sekaligus menghangatkan jiwanya.Alya dan Kai tertawa riang di tengah hujan. Keduanya mengenakan jas hujan warna-warni, berlari-larian mengekap genangan air, persis seperti khayalan Chloe dulu. Kai yang biasanya cenderung pendiam, kini bersorak girang, wajahnya bersinar dengan kebahagiaan polos yang jarang Axton lihat.Ini persis seperti impian Chloe kala itu. Impian yang Chloe katakan beberapa hari sebelum kematiannya."Nanti kalau kita nikah, terus punya anak..." Chloe menyandarkan dagunya di buku tulis, matanya berbinar memandang Axton. "Aku mau ajak dia lakuin banyak hal! Termasuk main di tengah hujan. Kita pakai jas hujan dan lari-larian! Kayak yang sering kita lakuin!"Axton yang saat itu masih remaja menatapnya dengan penuh kekaguman. "Kita bahkan masih SMP, Chloe.""Jadi kamu nggak pernah mikirin masa depan bareng aku?" Chloe me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status