MasukPukul tujuh malam, Joko melangkah masuk ke ruang tengah Vila Bintang. Semua kepala langsung menoleh. Para wanita duduk berkumpul di sofa dan karpet, seperti sudah menunggu sejak lama. Nyonya Desi berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat di dada. "Macet tiga jam," ucap Nyonya Desi datar. "Jalanan Ibu Kota memang kejam." Joko menggaruk tengkuknya. "Namanya juga kota besar, Nyonya." Lana bangkit lebih dulu. Matanya langsung menyapu perban di pipi dan lengan Joko. Wajahnya berubah. "Sayang... ini apa lagi?" "Cuma tergores," jawab Joko sambil tersenyum tipis. "Tergores?" Ayu ikut berdiri, lalu meraih lengan Joko dengan hati-hati. Dia memeriksa perban itu seperti sedang memeriksa barang pecah belah. "Nyonya Desi bilang kamu bertarung sama pembunuh. Dua orang." Joko melirik Nyonya Desi. Wanita itu hanya mengangkat bahu. "Mereka berhak tahu," ucap Nyo
Ciuman Verona tidak ragu sedikit pun. Dia mendorong Joko mundur sampai punggungnya menyentuh dinding kaca. Lidah mereka saling melilit, napasnya memburu, jemarinya mencengkeram kaus Joko seolah takut pria itu kabur. Joko terkekeh di sela ciuman. "Nona Muda Keluarga Lintang ternyata gak sabaran." "Diam." Verona menggigit bibir bawahnya pelan. "Aku sudah menunggu terlalu lama." "Pelan-pelan. Aku masih terluka." "Kamu bertarung melawan pembunuh dengan luka begitu. Ini gak seberapa," gerutu Verona dengan ekspresi sedikit cemberut. Joko tertawa, lalu membalik posisi mereka. Kini Verona yang bersandar di dinding kaca, dengan seluruh Ibu Kota terbentang di belakangnya. Dia membuka kancing blus sutra putih itu satu per satu. Verona tidak menunduk malu. Dia menatap mata Joko lurus, dagunya sedikit terangkat, seperti sedang menantang dalam rapat dewan direksi. Blus itu jatuh
Verona berdiri di samping mobil hitamnya di depan gerbang. Begitu melihat Joko keluar, dia langsung melangkah cepat menghampirinya. Matanya menyapu perban di lengan dan pipi Joko. Wajahnya mengeras. "Kakek bilang kamu cuma 'sedikit tergores'," ucapnya ketus. "Ini yang namanya sedikit?" "Lukanya sudah mulai menutup." "Belum dua minggu lalu kamu hampir mati di jalan layang. Sekarang ini." Verona menatapnya tajam. "Kenapa gak ada yang memberi tahu aku?" "Aku gak mau kamu khawatir." "Terlambat!" bentak Verona. Joko tersenyum tipis. "Kamu ke sini cuma mau memarahiku?" "Aku ke sini mau mengantarmu pulang," jawab Verona. "Kakek bilang kamu mau kembali ke vila hari ini. Jadi aku yang antar." "Pengawalmu?" tanya Joko. "Aku suruh pulang duluan." === Joko kembali ke dalam untuk berpamitan. Tuan Tua Wan
"Delapan bulan lalu, Ruan Feng datang ke kantorku," ucap Tuan Haris. "Dia menawarkan untuk membeli konsesi Lembah Sunyi. Aku menolak. Dia datang lagi dua kali dengan harga yang semakin tinggi. Aku tetap menolak." "Sama seperti yang dia tawarkan tiga hari lalu," ucap Tuan Tua Wangsa. "Yang ketiga kalinya berbeda." Tuan Haris menatap tangannya yang kurus di pangkuan. "Ruan Feng gak datang sendiri. Dia membawa seorang pria. Usianya mungkin lima puluhan. Rapi, sopan, bicaranya halus sekali. Dia gak memperkenalkan namanya." "Apa yang dia katakan?" tanya Joko. "Dia gak menyebut harga. Dia cuma bertanya satu hal." Tuan Haris mengangkat wajahnya. "Dia bertanya, sampai lapisan keberapa Keluarga Permata sudah menggali di Lembah Sunyi." Ruangan itu langsung sunyi. Tuan Tua Wangsa mencengkeram tongkatnya. "Aturan itu cuma diketahui keluarga inti. Gak pernah ditulis di dokumen tambang mana pun."
"Nadya, Tante bisa jelaskan..." "Jangan di sini, Tante." Suara Nadya pelan, tapi dingin. Dia meletakkan kedua cangkir cokelat di meja kecil di lorong, lalu menatap tantenya. "Tante kembali ke kamar. Besok pagi kita bicara." Tante Ratih membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia melirik Joko sekilas, lalu berjalan cepat melewati Nadya tanpa berani menatap wajahnya. Begitu langkah Tante Ratih menghilang di tikungan lorong, Nadya menoleh ke arah Joko. "Kamu. Masuk." === Nadya menutup pintu kamar tamu di belakangnya, lalu berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Joko duduk di tepi ranjang. Dia tidak mencoba membela diri. "Sejak kapan?" tanya Nadya. "Malam pertama setelah aku mulai mengobati Ayahmu." "Siapa yang mulai?" Joko terdiam sejenak. "Itu gak penting. Aku bisa menolak, tapi aku gak men
Tepat tengah malam, pintu kamar tamu terbuka pelan. Tante Ratih masuk dengan gaun tidur satin berwarna biru tua dan kardigan tipis. Rambutnya tergerai. Dia menutup pintu, lalu menyandarkan punggungnya di sana. "Kamu gak tidur," ucapnya. "Ada yang bilang mau berterima kasih," balas Joko dari tepi ranjang. "Mana bisa aku tidur." "Kamu sudah hapus pesanku?" "Sudah." "Bagus." Tante Ratih menghela napas. "Tadi sore aku menangis di depan semua orang waktu Kak Haris menyebut namaku. Untung semua orang juga menangis." "Aku lihat." "Kamu memperhatikanku?" "Aku selalu lihat Tante," jawab Joko santai. "Itu kalimat yang berbahaya, Joko." "Kenapa?" "Karena aku bisa percaya." Tante Ratih melirik ke arah langit-langit. "Lampu kamar Nadya masih menyala waktu aku lewat tadi." "Tengah malam begini? Sebentar l
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu







