LOGINSumi mengibaskan lengannya sampai lengan Dita terlepas. Dia menatap Dita dengan marah. "Kamu... kamu juga malah mendorong ku. Kamu sama Yeni ternyata sama saja yah..." "Bukan begitu, aku cuma gak mau melihatmu menyia-nyiakan kesempatan ini! Kapan lagi coba bisa dapat keuntungan besar!" ucap Dita."Dita... aku gak nyangka kamu cuma orang yang gila harta. Jangan-jangan alasan kamu ingin mendaki Joko... karena kamu mengincar keuntungan darinya," ucap Sumi.Dita terdiam dengan kepala sedikit tertunduk. Perkataan Sumi memang bena, dan niatnya sekarang ingin Sumi menjalin hubungan dengan Tuan Muda Fendi pun karena dia ingin mencari ruang agar bisa mendapatkan keuntungan dari Tuan Muda Fendi.Pria berambut pirang menatap Dita dan Yeni. "Kalian berdua juga lumayan. Kalau kalian mau, aku akan kasih kalian kesempatan untuk menemaniku!" "Jangan serakah! Aku mau mereka!" ucap pria bertubuh agak besar.Mata Yeni dan Dita seketika berbinar terang, mereka berdua saling menatap satu sama lain."Ya
Di tempat teman-teman Joko berada... Mereka semua sedang berkumpul dan mengobrol. Wajah mereka semua tampak sangat serius. "Apa dia pulang ke vila?" "Kalau dia pulang ke vila, pasti dia kasih tahu kita dulu!" Mereka sedang membahas Joko. Mereka semua mencari Joko dan karena tidak menemukannya, mereka menjadi sedikit cemas. "Kita tunggu saja sebentar lagi. Mungkin dia lagi ke toilet. Kalau sampai matahari tenggelam dia gak ada, kita cari ke vila," ucap Rian. Semua orang mengangguk. Mereka semua pergi ke tempat duduk yang tadi di duduki Joko. Mereka gak pergi ke tempat lain, karena takutnya nanti Joko sulit mencari mereka. Apalagi, kalau matahari sudah tenggelam. Saat mereka sedang bersantai, ada tiga pria muda tampan yang datang menghampiri Sumi. "Nona, saya Fendi. Tuan Muda dari Keluarga Resi. Apa saya boleh tahu nama Nona?" Pria muda yang memiliki wajah yang cukup tampan, menyapa Sumi dengan sopan. Namun, dari ekspresi wajahnya ~ jelas kalau pria itu merupakan pria nakal
Joko tersadar dari lamunan. "Sudah lah. Nanti saja aku tanyakan. Nanggung kalau nanya sekarang," gumamnya di dalam hati.Joko meraih semangka wanita itu, lalu meremasnya dengan keras. Sementara pinggang mulai di gerakkan maju mundur. Nyonya Desi menutup matanya, seakan-akan dia ingin fokus menikmati sensasi gempuran Joko."Ahhh... ahh..." desahan nikmat keluar dari keduanya.Gempuran Joko semakin lama semakin keras, yang membuat suara benturan kulit tercipta sangat jelas. Menyatu dengan suara desahan, suara-suara itu menjadi melodi indah yang sangat membangkitkan gairah."Ahh... ahh, enak banget ahh... ternyata seperti ini rasanya di tusuk batang besar," ucap Nyonya Desi sambil memasang ekspresi yang sangat nakal."Punyamu juga enak banget. Gak kalah enak dari wanita muda," balas Joko."Lebih keras lagi sedikit!" pinta Nyonya Desi.Joko langsung melakukan apa yang ingin wanita itu. Setelah itu, dia menyerang leher wanita itu dengan bibirnya ~ mendaratkan kecupan dan jilatan di sana.
Nyonya Desi mengacungkan jadinya telunjuknya. "Satu juta. Kasih aku satu juta, aku akan layani kamu sampai kamu puas!" Tanpa ragu Joko langsung mengangguk setuju. Uang segitu, baginya sekarang ~ bukan lah sesuatu yang perlu di perhitungan. Mata Nyonya Desi berbinar terang. Dia melingkarkan tangannya di leher Joko, lalu berkata dengan genit. "Apa aku perlu mandi dulu? Aku keringatan banget nih." Joko meraih dada wanita itu, lalu meremasnya dengan keras. "Ahhh..." Desahan manja keluar dari mulut Nyonya Desi dengan tubuh yang sedikit menegang. "Gak perlu mandi. Aku gak punya banyak waktu!" ucap Joko. Dia tidak bisa berlama-lama, kalau tidak ~ teman-temannya pasti mencarinya. "Baiklah. Maaf kalau tubuhku bau keringat!" ucap Nyonya Desi sambil bergerak cepat melepaskan pakaiannya. Setelah pakaian terlepas, tubuh yang sangat menggoda Joko itu, terpampang sepenuhnya. Buah semangka besar mengantung di sanggah Bra renda hitam. Meski ukurannya besar, tapi terlihat masih sangat bulat
Joko sedikit terkejut dengan ajakan wanita itu. "Ngajak ke dalam? Jangan-jangan apa yang aku pikirkan benar?" batinnya."Aku kebetulan sudah mau tutup. Kalau mau ngobrol ~ aku tutup sekarang warungnya," ucap wanita itu kembali.Joko menatap wajah terus turun ke dada besar wanita itu, lalu kembali menatap wajahnya. "Terima dulu saja deh."Joko bangkit berdiri. "Kalau gitu, aku gak sungkan yah," ucapnya.Wanita itu buru-buru bangkit, lalu membuka pintu warung. Joko melirik kanan dan ke kiri, setelah memastikan tidak ada yang melihat ~ dia masuk ke dalam warung."Tuan Muda hati-hati banget. Santai saja, walau ada yang lihat ~ mereka gak akan peduli kok," ucap wanita itu dengan nada genit sambil menutup kembali pintu warung.Joko terkekeh dengan wajah sedikit kaku."Duduk dulu. Aku mau tutup warung dulu!" ucap wanita itu sambil menunjuk ke kursi yang tadi di dudukinya. "Mau di bantu?" Joko menawarkan."Gak perlu, ini gampang kok," balas wanita itu sambil menarik ke samping pintu lipat.S
Saat tubuh kedua wanita basah, penampilan mereka terlihat lebih menggairahkan. hal itu membuat mereka berdua jadi tontonan para pengunjung pria. Namun karena kehadiran Joko, yang memiliki wajah tampan dan tubuh kekar, tak ada satupun pria yang berani mendekati kedua wanita itu. Setelah cukup puas bermain air, mereka bertiga pergi berjemur. Ketiganya duduk setengah berbaring di kursi pantai dengan posisi Joko di tengah. "Jo, pasti banyak pria yang iri sama kamu!" ucap Sumi sambil mengelus dada Joko. "Itu sudah pasti! Dua wanita cantik bertubuh hot terus menjepit ku... yah jelas mereka iri lah," balas Joko sambil merangkul pundak kedua wanita itu. Sumi dan Rara terkikik pelan. Tak lama kemudian, beberapa teman Joko termasuk Rian, Bang Ari, dan Kak Rani, datang menghampiri. "Enak banget yah bos kita!" goda Rian. Joko melepaskan rangkulannya di pundak kedua wanita itu. Namun kedua wanita itu sama sekali tak menarik jarak dengan Joko. "Hehe, kalian mau berjemur juga?" ta
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia







