Home / Urban / Pemuda Pemikat Gadis Desa / Bab 123 Bantai Mereka

Share

Bab 123 Bantai Mereka

Author: Tristar
last update publish date: 2026-05-23 17:49:18

Segerombolan pria yang datang turun dari motor mereka, lalu mereka berjalan menghampiri Joko dengan langkah mantap.

"Bang, ada apa ini?" tanya salah satu pria yang memimpin sambil menatap Joko.

Joko tersenyum ke arah pria itu, lalu dia menjawab. "Biasa, ada yang ngajak olah raga. Kenapa kalian ke sini?" tanya Joko.

"Hehe, tentu saja kita mau nongkrong sama Abang!" balas salah satu pria.

Pria yang pertama kali bertanya kepada Joko, menjadi serius, setelah mendalami kalimat awal Joko ucapkan.

Mat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 348 Iseng, Dapat Banyak Uang

    Bella meletakkan mangkuk itu kembali ke atas meja dengan hati-hati, seolah benda itu bisa pecah kapan saja. "Kalau kamu mau, aku bisa beli mangkuk ini darimu. Harga berapa pun, aku bayar." Joko sempat teringat rencananya memakai mangkuk itu untuk meramu pil. Tapi mendengar betapa langka dan berharganya benda itu, dia jadi berpikir ulang. Menjualnya bisa memberinya modal jauh lebih besar, dan dia masih bisa mencari bahan pengganti lain untuk memurnikan ramuan. "Boleh," jawab Joko akhirnya. "Tapi harganya harus pantas." Mata Bella berbinar. "Tentu saja. Sebentar, aku periksa dulu barang-barang lainnya. Siapa tahu ada yang menarik juga." Joko teringat barang-barang lain di dalam tasnya. Dia mengeluarkan pipa rokok dari batu hijau, kotak kayu berukir, dan bandul kalung dari logam hitam, lalu meletakkannya satu per satu di atas meja. Bella memeriksa satu per satu dengan teliti, kali ini jauh lebih hati-hati dari sebelumnya. Pipa rokok itu dia putar-putar, mengendus aromanya, la

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 347 Di Ajak Ke Toko Besar Barang Antik

    Toko Antik Cahaya Lestari berdiri megah di sudut jalan besar, jauh berbeda dari lapak-lapak kumuh di Pasar Antik Jalan Kencana. Bangunannya dua lantai, dengan etalase kaca besar yang memamerkan barang-barang antik bernilai tinggi. Verona melangkah masuk dengan percaya diri, diikuti Joko dan dua pengawalnya di belakang. Seorang wanita muncul dari balik meja kasir begitu lonceng pintu berbunyi. Wanita itu sangat cantik, tubuhnya seksi dengan lekuk yang menggoda, dan payudaranya besar seperti semangka yang terbungkus blazer ketat. "Verona! Lama gak main ke sini!" sapa wanita itu dengan nada genit sambil melangkah mendekat. "Bella," balas Verona sambil tersenyum tipis. Wanita bernama Bella itu menoleh ke arah Joko. Matanya langsung berbinar begitu melihat wajah tampan pemuda di samping Verona. "Wah, siapa ini? Pacar baru kamu, Verona?" tanyanya sambil melirik Joko dari atas sampai bawah dengan tatapan menggoda. Wajah Verona langsung berubah. "Bukan! Dia cuma kenalan baru."

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 346 Dapat Tungku, Berkenalan Sama Wanita Cantik

    Wanita itu menghela napas panjang. Amarahnya masih membara, tapi dia sadar berdebat lebih lama hanya akan membuang waktu. "Sudahlah! Percuma bicara sama pedagang gak tahu malu sepertimu!" Dia membalikkan badan, hendak melangkah pergi. Pedagang berkumis itu tersenyum puas, mengira dirinya menang. Namun sebelum wanita itu benar-benar beranjak, Joko melangkah maju dari kerumunan. "Tuan, boleh saya tanya sesuatu?" ucapnya sambil menunjuk ke sudut lapak yang tertutup kain lusuh. Pedagang berkumis itu menoleh, sedikit terkejut. "Tanya apa, Tuan?" "Barang yang di belakang itu, yang ditutup kain. Apa itu?" Pedagang itu melirik ke arah yang ditunjuk Joko, lalu tertawa kecil. "Oh, itu cuma tungku tua, Tuan. Karatan, gak ada nilainya. Mau saya kasih gratis juga gak masalah." "Boleh saya lihat?" Pedagang itu mengangkat bahu, lalu menyingkap kain lusuh itu. Sebuah tungku kecil dari logam gelap muncul dari balik tumpukan barang rongsokan. Bentuknya sederhana, permukaannya penuh ka

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 345 Pasar Barang Antik

    Pasar Antik Jalan Kencana... Joko memarkir mobilnya di ujung jalan. Begitu turun, matanya langsung terbelalak. Sepanjang jalan dipenuhi pedagang barang antik. Ada yang membuka toko besar dengan etalase kaca, ada juga yang cuma menggelar tikar di tepi jalan. Guci, patung, keris, uang kuno, lukisan tua, sampai perabot kayu berukir, semuanya dijajakan berjejer seperti pasar tradisional. Suara tawar-menawar terdengar di mana-mana. "Tuan, mampir, Tuan! Ini guci dinasti kuno, asli!" "Keris pusaka, Tuan! Ada isinya!" Joko hanya tersenyum sambil terus melangkah. Dia tahu, di tempat seperti ini, barang palsu jauh lebih banyak daripada yang asli. Beberapa pedagang meliriknya dengan mata berbinar. Penampilan Joko yang rapi dan wajahnya yang tampan membuat mereka mengira dia anak orang kaya yang gampang ditipu. "Sini, Tuan! Ini pusaka peninggalan kerajaan, cuma tinggal satu!" "Jangan percaya sama dia, Tuan! Punya saya yang asli!" Joko melambaikan tangan sambil terus berjalan. Dia berhen

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 344 Jatah Rinda

    Di dalam kamar Rinda... Lampu tidur menyala temaram. Rinda baru saja selesai mandi. Rambutnya masih setengah basah, tubuhnya hanya berbalut handuk putih. Mendengar pintu terbuka, dia menoleh kaget. "Kak Jo?!" Joko menutup pintu di belakangnya, lalu bersandar dengan senyum nakal. "Tadi siang kamu bilang nanti malam, kan?" Wajah Rinda langsung memerah. "A-aku bilang kita lihat nanti saja..." "Nah, sekarang sudah nanti," balas Joko sambil melangkah mendekat. Rinda mundur selangkah sampai punggungnya menyentuh dinding. Jantungnya berdebar tak karuan. Dia ingin membalas, tapi kata-katanya tertahan di tenggorokan. Joko berhenti tepat di depannya. Tangannya terangkat, menyelipkan helai rambut basah ke belakang telinga Rinda. "Kalau kamu belum siap, bilang saja. Aku gak akan maksa," ucapnya pelan. Rinda terdiam. Sepanjang hidupnya di dunia model, tak pernah ada pria yang menanyakan itu padanya. Mereka semua hanya menganggapnya barang yang bisa dibeli. Matanya memanas. Dia m

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 343 Baru Sehari Nambah Dua Wanita

    Vila Bintang... Suara mesin Ferrari yang menderu terdengar sampai ke dalam vila, disusul dua mobil lain yang berhenti di belakangnya. Bila dan Rinda turun dari mobil masing-masing, lalu memandang bangunan vila yang begitu megah dengan mata terbuka lebar. "Ini... vila kakak?" tanya Rinda tak percaya. "Iya. Ayo masuk!" Joko mengangkat dua koper sekaligus dengan satu tangan, seolah koper itu tak ada beratnya. Bila mendekat, lalu berbisik, "Kak Jo, di dalam ada siapa saja?" Joko tersenyum. "Kan aku sudah bilang, aku tinggal sama beberapa wanitaku." "Beberapa?" "Delapan," jawab Joko pelan. Rinda langsung menoleh. "De-delapan?!" Bila menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. Begitu pintu terbuka, suasana ruang tengah yang tadinya ramai langsung hening. Sinta, Lana, Ayu, dan Mona sedang duduk di sofa sambil menonton televis

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 7 Ada Yang Cemburu

    Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 6 Bantu Puaskan Aku, Bang!

    Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 5 Godaan Dan Tawaran

    Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 4 Bu Tika Lebih Berani

    Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status