تسجيل الدخولJoko melemparkan tatapannya ke tukang ojek lainnya. "Aku rasa, banyak dari kalian ~ yang punya niat jelek sama kayak Abang ini," ucap Joko.
Para tukang ojek itu, buru-buru menggelengkan kepalanya. Jelas, mereka takut kalau Joko menyalahkan mereka juga. "Selama ini, aku hanya diam, walau kalian menatapku seperti menatap sampah yang menjijikkan. Bukannya aku gak berani menegur! Tapi Aku gak mau ribut sama kalian gara-gara masalah kayak gitu," ucap Joko dengan naDi kamar kos sebelah, terlihat seorang wanita cantik, berambut pirang, dan bertubuh hot yang di balut dengan pakaian kerja ~ sedang berbaring di tempat tidur.Satu tangan wanita itu tampak sibuk meremas buah semangkanya sendiri. Sementara itu, tangan yang lainnya bergerak-gerak di dalam celana ~ di area apemnya."Sial... aku kira sudah usai! Kenapa mereka lanjut lagi. Kalau gini terus aku bisa gila," gerutu wanita berambut pirang itu.Suara menggairahkan Joko dan Dea ternyata terdengar sampai ke kamar tersebut. Walaupun tidak keras, namun itu cukup jelas di dengar dari sana.Meski merasa tersiksa oleh suara-suara itu, wanita berambut pirang itu di buat penasaran oleh sosok pria yang sedang bercinta dengan Dea tersebut."Pria itu... kok kuat banget! Dea juga bilang... sangat besar, sangat mentok, emang sebesar apa ~ sepanjang apa batang pria itu," itu lah yang terus di pikirkan wanita berambut pirang itu.Wanita itu terus saja mendengarkan suara-suara menggairahkan Dea dan Joko. Dia ta
Joko bangkit ~ menegakkan tubuhnya. Kemudian, dia meletakkan ujung batangnya di lubang apem basah gadis itu. "Kamu udah siap?" tanya Joko. Dea mengangguk. "Silakan masukin kak! Pelan-pelan... punya kakak sangat besar, pasti bakalan agak sakit," balas Dea. Joko perlahan mendorong pinggangnya ke depan. Terlihat, batang besarnya itu, perlahan masuk ke dalam apem Dea. "Ahhh..." Dea mendesah indah, dengan tubuh yang sedikit menegang, saat sensasi tusukan benda besar itu di rasakan oleh apemnya. "Be-besar... banget, kak!" ucap Dea dengan nada berat. Ekspresinya mengernyit erat, seperti sedang menahan beban yang berat. "Punya kamu masih sangat sempit!" balas Joko sambil terus menusukkan batang besarnya itu. Joko lebih memberikan banyak tenaga ke dalam dorongannya. "Arghh... agak sakit, kak!" pekik Dea. "Tahan sebentar!" ucap Joko. Setelah batangnya masuk setengahnya, Joko menghentak keras. Seketika, batang itu masuk sampai mentok di dalam apem gadis itu. BLESS "Ahhh...." desaha
Tanpa mengeringkan tubuh terlebih dahulu, Joko langsung saja membaringkan tubuh Dea, lalu menekan tubuh wanita itu di bawahnya. "Kak... cium aku!" pinta Dea sambil melingkarkan tangannya di leher Joko. Joko menyeringai tipis, lalu dia melumat ganas bibir wanita itu. Mendapatkan ciuman ganas itu, Dea langsung menanggapinya ~ tak kalah ganas. Tangan Joko hinggap di buah semangka gadis itu, lalu meremasnya dengan keras. Sampai wanita itu, mengeluarkan suara desahan, walau yang keluar hanya suara desahan tertahan, karena bibirnya yang tersegel oleh bibir Joko. "Mmm... Mmm..." Setelah puas berciuman, bibir Joko turun ke leher putih mulus wanita itu, lalu kecupan dan jilatan dia daratkan di sana. "Ahhh.... ahh... Kak," Dea mendesah indah, dengan ekspresi yang tampak sangat menikmati. Kecupan dan jilatan Joko terus turun ke bawah, akhirnya berhenti di buah semangka gadis itu. "Ahhh... kak, isap putingku!" pinta Dea. Joko tidak langsung mengisapnya, dia menjilati permukaan buah seman
Setelah pintu kamar di kunci, Dea meletakkan tas nya, lali dengan cepat dia melepaskan pakaian sekolahnya. Saat pakaian bagian atas terlepas, tubuh berlekuk indah itu masuk ke pandangan Joko. Bagian yang paling menarik perhatian, tentu saja bagian buah semangka wanita itu yang masih tertutup oleh Bra hitam. Terlihat, buah semangka itu sangat penuh di dalam Bra. Walau ukuran milik Dea tak sebesar Tania, tapi ukurannya hampir sama seperti milik Mia. Melihat Joko yang terpana menatapnya, Dea dengan sengaja menampilkan pose menggoda. "Jangan natap aku terus dong! Kakak juga cepetan buka pakaian!" ucap Dea dengan nada menggoda. Tanpa basa basi, Joko melepaskan pakaiannya. Melihat tubuh kokok Joko yang berotot, membuat Dea merasa sangat terpesona. Dia mendekati Joko, lalu meletakkan jari tangannya di dada pria itu. "Tubuh kakak... sangat bagus!" ucap Dea dengan nada memuji. Setelah itu, dia menggigit bibirnya. Karena dia merasakan, hasrat di dalam tubuhnya semakin bergejolak.
Joko kembali ke warung Sinta, sementara Darto dan bawahannya pergi ke rumah sakit. Tadinya... Joko ingin ikut bersama mereka, tapi mereka tidak memperbolehkannya. Setibanya di warung, Sinta langsung menghampiri Joko dengan ekspresi yang penuh kekhawatiran. "Jo, kamu gak apa-apa, kan?" tanya Sinta sambil terus memandangi sekujur tubuh Joko. "Aku baik-baik saja! Cuma baju aku kotor," balas Joko sambil membolak balik tubuhnya. "Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja," Sinta tampak lega setelah memastikan pria itu dalam kondisi baik, tak ada sedikitpun lecet. "Terus... para sampah itu gimana sekarang? Kamu pasti berantem hebat kan? Sama mereka," tanya Sinta dengan penuh rasa penasaran. Joko duduk di kursi, lalu dia mulai menceritakan kejadian tadi. Dia tak mengurangi dan melebih-lebih kan sedikitpun cerita. Sinta sangat terpana saat mendengar cerita itu. Dia memercayai 100% cerita Joko, karena selama ini Joko tak pernah membohonginya. Tak ada untungnya juga Joko membohonginya tentang
Joko menepuk-nepuk tangannya, seperti sedang membersihkannya dari debu. Saat matanya melihat ke arah pakaiannya yang kini sudah kotor karena debu dan keringat, dia tanpa sadar menghela nafas."Huh... pakaian baru ku, udah kotor lagi!" ucap Joko.Meski begitu, Joko tak memiliki jejak luka karena senjata tajam. Bahkan, lebam pun tidak ada.Joko menatap Darto dan yang lainnya. "Kalian, gak apa-apa?" tanya Joko.Mereka semua menggelengkan kepalanya."Gak apa-apa, Bang! Aman... aman! Cuma luka kecil saja," balas Darto."Pulang dari sini, kalian ke rumah sakit! Bawa mereka yang lukanya agak parah, buat di obati!" perintah Joko. "Masalah biaya, aku yang bayar nanti!""Gak... gak perlu Bang! Kita juga punya uang kok! Mengobati luka kecil gini sama sekali gak mahal," balas Seno.Karena Joko tahu mereka tak akan menerima, akhirnya dia hanya menganggukkan kepalanya.Joko berbalik, lalu melangkah menghampiri Bima s







