MasukPukul dua belas lewat, tiga mobil memasuki gerbang Vila Bintang. Lampu teras masih menyala. Begitu juga lampu ruang makan. Joko turun dengan langkah pelan, satu tangan menekan rusuk kirinya. Kausnya robek di beberapa bagian, debu marmer masih menempel di rambutnya. Di belakangnya, Darto mengulurkan tangan untuk membantu Nyonya Desi turun. Wanita itu menepisnya, lalu berjalan sendiri meski langkahnya sedikit pincang. Pintu depan terbuka sebelum mereka sampai di teras. Sonya berdiri di ambang pintu. Rambutnya tergerai, matanya sembap, lehernya masih merah. Dia menatap Joko dari ujung kepala sampai kaki, lalu berjalan cepat dan berhenti tepat di depannya. "Kamu pulang," ucapnya. Suaranya bergetar. "Aku sudah janji." Joko tersenyum, meski sudut bibirnya masih berdarah. "Ngomong-ngomong, ancamanmu masih berlaku? Soal gigit-menggigit itu?" Sonya menatapnya beberapa detik. Lalu dia mena
Tuan Besar Jery tertawa. Tawa serak yang menggema di aula gelap itu. "Bocah sombong." Dia melesat. Joko tidak mundur. Kali ini dia maju, menyongsong serangan itu dengan Langkah Bayangan. Tubuhnya menghilang tepat sebelum tinju merah itu menghantam, lalu muncul di belakang punggung Tuan Besar Jery. Jarum pertama melesat dari jemarinya. Titik di belakang jantung. Tapi Tuan Besar Jery lebih cepat dari dugaannya. Pria tua itu memutar tubuhnya, dan jarum perak itu hanya menggores bahunya sebelum jatuh berdenting di lantai marmer. Lalu tinjunya menghantam perut Joko. Joko terlempar, menghantam meja panjang di tengah aula. Tubuh Rico terguncang di atas kain putih itu. Tuan Besar Jery membeku sejenak, menatap jasad cucunya. Wajahnya berubah. Kemarahan yang tadi sudah membara kini meledak tak terkendali. "Jangan sentuh dia!" Dia
Kediaman Keluarga Jery berdiri di ujung jalan sepi di sisi selatan Ibu Kota. Malam itu, semua lampunya menyala. Tapi tak ada suara musik, tak ada suara tawa. Hanya sunyi yang berat, seperti rumah yang sedang berduka. Pukul sepuluh malam, tiga mobil berhenti di depan gerbangnya. Joko turun dari mobil terdepan. Zirah Bintang sudah melekat di balik kaus hitamnya, nyaris tak terasa. Di saku celananya, sembilan jarum perak terbungkus kain. Nyonya Desi turun di sampingnya, bahu kirinya masih berbalut perban di balik pakaian bela diri hitam. Di belakang mereka, empat ahli dari Keluarga Lintang dan Permata berdiri tegap. Lalu Darto, Seno, dan sembilan pria kampung yang wajahnya masih menyimpan lebam dari pertarungan siang tadi. Darto menatap gerbang besi tinggi itu, lalu menoleh ke arah Joko. "Bos, kita dobrak?" "Gak perlu," jawab Joko pelan. Gerbang itu terbuka sendiri, berderit pelan.
Pukul tiga sore, Vila Bintang sunyi. Di ruang tengah, Sonya duduk di sofa dengan selimut tipis di bahunya. Lehernya masih merah bekas cekikan. Nadya duduk di sampingnya, menggenggam tangannya tanpa melepaskannya sedikit pun. "Nona," ucap Sonya pelan, mencoba tersenyum. "Tanganku sudah gak gemetar lagi. Nona boleh lepas." "Diam," balas Nadya ketus. Tapi matanya merah. "Aku yang gemetar." Sonya tertawa kecil, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Nadya. Rinda duduk di karpet di depan mereka, memeluk lututnya. Wajahnya pucat, matanya sembap. "Harusnya aku," ucapnya lirih. "Dia datang buat aku. Kalau Kak Sonya gak memukulnya dengan vas itu..." "Kalau aku gak memukulnya, dia bawa kamu," potong Sonya. "Dan kamu gak bisa menggigit sekuat aku." Rinda menatapnya, lalu tangisnya pecah lagi. Bila yang duduk di sampingnya langsung merangkulnya. Di
Gang di belakang Butik Aurelia sempit dan lembap. Tempat sampah besar berjajar di sepanjang dinding, bau sisa makanan bercampur air comberan menyengat hidung. Di ujung gang, sebuah sedan hitam menunggu dengan mesin menyala. Sopirnya mengetuk-ngetukkan jari di kemudi dengan gelisah. Pintu tangga darurat terbuka dengan keras. Rico keluar sambil menyeret Sonya. Lengan kirinya masih melingkar erat di leher wanita itu, pistol di tangan kanannya menempel di pelipis Sonya. Darah dari pelipis Rico sendiri sudah mengering, meninggalkan garis merah gelap di pipinya. "Jalan," desisnya. Sonya menyeret kakinya, sengaja memperlambat langkah. Sepatu hak tingginya sudah terlepas satu. "Kamu tahu apa yang bakal Joko lakukan ke kamu?" ucapnya dengan suara serak karena cekikan di lehernya. Rico tertawa. "Gak ada. Kakek bilang, orang di atas melarang siapa pun menyentuh Joko. Jadi aku gak akan menye
Butik Aurelia berdiri di ujung Jalan Kenari, kawasan belanja paling mewah di pusat Ibu Kota. Bangunannya tiga lantai, dindingnya kaca dari lantai dasar sampai atap, dengan papan nama emas yang berkilau di bawah matahari siang. Pukul sebelas, lantai dua butik itu sudah diubah menjadi studio foto. Lampu-lampu sorot berdiri di setiap sudut. Fotografer, penata rias, dan beberapa staf Butik Aurelia sibuk berlalu-lalang. Rinda berdiri di depan latar putih dengan gaun sutra biru tua. Kamera berkilat berkali-kali. "Dagunya sedikit naik, Nona Rinda. Ya, begitu. Sempurna!" Rinda tersenyum ke arah lensa. Tapi matanya sesekali melirik ke arah pintu tangga. Di dekat pintu itu, Nyonya Desi berdiri bersandar di dinding dengan tangan terlipat, mengenakan setelan hitam sederhana. Wajahnya datar, tapi matanya terus bergerak, menyapu setiap orang yang masuk dan keluar. Sonya duduk di kursi di samping penata rias,
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in






