แชร์

Bab 149 Pulang, Jemput Lagi

ผู้เขียน: Tristar
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-03 18:56:09

Bu Ayu, tentu saja menyadari kalau dadanya itu menempel erat di punggung Joko. Namun, dia tampak tidak peduli sama sekali.

"Bang, kamu ke kota mau apa? Mau berangkat kerja, kah?" tanya Bu Ayu dengan nada santai.

"Aku cuma ada urusan saja di sana," balas Joko.

"Kirain mau berangkat kerja," ucap Bu Ayu. "Kalau boleh tau, Abang kerja apa? Pasti kerjaan Abang sangat bagus, kelihatan dari motor Abang."

"Hehe, aku cuma tukang ojek, Bu," balas Joko dengan nada riang.

"Masa sih? Abang bohong bange
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 357 Ciuman Panas Nadya

    Joko menatap wajah Nadya dari dekat. Pipi wanita itu masih merona, bibir merahnya sedikit terbuka. "Nadya," bisiknya. "Aku mau ciuman." Nadya tersentak. Wajahnya seketika memerah padam. "A-apa sih! Tiba-tiba minta yang aneh-aneh!" "Tadi kan sudah hampir," balas Joko sambil menyeringai. "Gara-gara si brengsek itu, jadi batal." Nadya menunduk, menggigit bibirnya. Dia tidak menjawab, tapi juga tidak memalingkan wajah. Joko menyentuh dagunya, mengangkat wajah Nadya perlahan. Mata mereka bertemu. "Kalau kamu gak mau, bilang saja," ucapnya pelan. Nadya terdiam beberapa detik. Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, dia berbisik, "Siapa bilang aku gak mau..." Joko tak menunggu lagi. Dia langsung melumat bibir Nadya dengan penuh gairah. Nadya sempat terkejut oleh keberanian ciuman itu. Tangannya refleks mendorong dada Joko, tapi hanya sesaat.

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 356 Langkah Besar Joko

    Nadya masih bersandar di bahu Joko. Untuk beberapa saat, keduanya diam, menikmati keheningan ruangan setelah keributan tadi. "Nadya," ucap Joko memecah keheningan. "Aku mau bikin perusahaan." Nadya mengangkat kepalanya, menatap Joko dengan alis terangkat. "Perusahaan? Serius?" "Serius," jawab Joko. "Masa aku cuma main saham terus. Aku mau punya usaha sendiri." Nadya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Tatapannya berubah serius, seperti seorang direktur yang sedang menilai proposal bisnis. "Itu ide bagus," ucapnya. "Tapi saranku, kamu kumpulkan modal yang banyak dulu. Biar begitu berdiri, kamu bisa langsung bikin perusahaan besar, bukan mulai dari kecil. Lagian, kamu jago banget nyari uang. Main saham untung, beli batu giok untung, beli barang antik juga untung." Joko terkekeh. "Uangku sekarang sudah lebih dari enam triliun. Apa itu belum cukup?" Nadya nyaris tersedak ludahnya sendiri. Dia menatap Joko dengan mata membelalak. "E-enam triliun?" "Kurang lebih," jawa

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 355 Tamparan Untuk Tuan Muda Rico

    Tuan Muda Rico menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam api cemburu yang membakar dadanya. Dalam sekejap, wajahnya kembali memasang senyum ramah, seolah tak terjadi apa-apa. "Maaf, Nona Nadya. Saya terlalu bersemangat ingin bertemu Anda," ucapnya sambil merapikan jasnya. "Saya dengar kalung Mutiara Kaisar milik Permata Biru sedang jadi pembicaraan di mana-mana. Selamat, ya." "Terima kasih," balas Nadya datar. "Kebetulan sudah jam makan siang," lanjut Tuan Muda Rico, senyumnya semakin lebar. "Saya sudah memesan tempat di restoran terbaik di Ibu Kota. Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Sekalian merayakan keberhasilan Anda." Nadya belum sempat menjawab, Joko sudah lebih dulu bersuara. "Ternyata kau Tuan Muda Rico." Tuan Muda Rico menoleh. Senyumnya menghilang seketika. Dia menatap Joko dari atas sampai bawah dengan tatapan tajam, penuh penghinaan. "Siapa kau?" ucapn

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 354 Kedatangan Tuan Muda Rico

    Joko melangkah masuk ke lobi gedung Permata Biru. Lantainya marmer putih mengilap, langit-langitnya tinggi dengan lampu kristal yang menggantung megah. Di sudut ruangan, sebuah layar besar menampilkan foto kalung Mutiara Kaisar yang berkilauan. Seorang resepsionis wanita berseragam rapi langsung berdiri begitu melihatnya. "Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" sapanya sopan. "Siang. Aku mau ketemu Nadya. Katanya dia sudah menunggu," jawab Joko. Resepsionis itu sedikit terkejut mendengar Joko menyebut nama atasannya tanpa embel-embel apa pun. Namun dia tetap tersenyum ramah. "Boleh saya tahu nama Tuan?" "Joko." "Mohon tunggu sebentar, Tuan." Resepsionis itu mengangkat gagang telepon, berbicara singkat, lalu mengangguk beberapa kali. Begitu menutup telepon, sikapnya berubah jauh lebih hormat. "Maaf sudah membuat Tuan menunggu. Bu Direktur sudah menunggu Tuan di ruangannya. Mari, saya an

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 353 Ternyata Memang Milik Nadya

    "Dipamerkan?" Joko menegakkan punggungnya. "Kapan?" "Kemarin," jawab Nadya dengan nada riang. "Terus gimana hasilnya? Banyak yang suka?" "Lebih dari sekadar suka, Joko!" Suara Nadya terdengar sangat bersemangat. "Berkat kalung Mutiara Kaisar, popularitas perusahaanku naik pesat. Mutiara seperti itu jarang sekali ada. Perusahaan yang bisa mendapatkannya, tentu langsung jadi sorotan." Joko tersenyum mendengarnya. "Syukurlah." "Sudah banyak yang menawar, lho. Ada kolektor, ada juga dari keluarga-keluarga besar," lanjut Nadya. "Tapi aku gak akan menjualnya dulu. Aku masih butuh popularitasnya buat mengangkat nama perusahaan." "Keputusan yang bagus," balas Joko. Hening sejenak di seberang telepon. Lalu suara Nadya terdengar sedikit lebih pelan. "Ngomong-ngomong... kalau kamu lagi santai, main saja ke kantorku." Joko menyeringai. Dia menyandarkan

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 352 Main Di Luar Sama Sinta

    Sinta menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Untuk beberapa saat dia diam, lalu tersenyum tipis. "Aku gak nyangka hidupmu bakal sampai di titik ini, Joko," ucapnya pelan. "Aku masih ingat waktu kamu pertama kali mangkal ngojek di dekat warungku," lanjut Sinta sambil terkekeh. "Bajumu lusuh, motormu jelek banget. Kadang mogok di tengah jalan, terus kamu dorong sambil ngedumel." Joko ikut tertawa. Ingatannya melayang ke masa-masa itu. Panas terik di pangkalan ojek, menunggu penumpang yang tak kunjung datang, makan seadanya di warung Sinta. "Iya, ya. Dulu khawatir banget gak dapat uang," gumamnya. Sekarang, semuanya berubah total. Uang ratusan miliar di rekening, vila megah di Ibu Kota, Ferrari dan Rolls Royce di garasi. Jauh sekali dari pemuda kampung yang dulu duduk di atas motor butut menunggu penumpang. "Kadang aku juga ngerasa ini kayak mimpi," ucap Joko jujur. Sinta melingkarkan

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 2 Memiliki Hasrat Besar

    Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 1 Pangkalan Baru

    "Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 7 Ada Yang Cemburu

    Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa

  • Pemuda Pemikat Gadis Desa   Bab 6 Bantu Puaskan Aku, Bang!

    Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status