LOGINMereka semua berkumpul di belakang vila ~ di samping kolam berenang. Beberapa botol minuman berjajar di hadapan mereka. Joko mulai mengajarkan mereka semua bermain saham. Pelajaran yang dia berikan ~ tidak lain cara menganalisa pasar saham, dan juga memberi tahu saham yang berpotensi memiliki kenaikan yang tinggi. Selain itu, Joko juga memberi tahu beberapa saham yang stabil dan memiliki risiko anjlok yang sangat sedikit. Dia menyarankan, kalau teman-temannya ingin menabung ~ mereka bisa memasukkan uang mereka ke saham stabil itu. Selain uang mereka tetap utuh ~ mereka akan dapat dividen setiap tahun. "Kalau aku punya 1 miliar, aku beli saham yang stabil. Dapat dividen 10%, berarti aku dapat 100 juta setahun," ucap Rian dengan mata berbinar. "Kalau dapat segitu, sudah gak perlu kerja lagi di pabrik," ucap Bang Ari. "Iya benar banget! Pokoknya aku harus berusaha dapat 1 miliar dulu!" sahut Dori. "Aku ingatkan! Jangan terburu-buru dapat keuntungan besar, jangan serakah! Banyak ora
Sumi dan Rara, terus menempel kepada Joko. Ke mana Joko melangkah, mereka berdua terus mengikutinya. Joko pun tak merasa keberatan ~ sebaliknya dia merasa sangat senang. "Jo, ayo beli itu!" ajak Sumi sambil menunjuk ke pedagang kue."Ayo. Kayaknya enak tuh," Joko setuju.Mereka melangkah pergi. Karena di sana sudah banyak pembeli, jadi mereka harus mengantre. Namun, tanpa di duga para pembeli itu malah menyuruh penjual untuk mendahulukan Joko."Pak, Tuan ini dulu saja!" ucap seorang pria kepada pedagang."Eh, kenapa Tuan? Kan ada datang lebih dulu," balas pedagang itu."Gak apa-apa, Tuan ini dulu saja," balas pria itu buru-buru.Joko menebak, pasti pria itu melihat kejadian sebelumnya di pantai. Karena merasa takut menyinggungnya ~ jadi dia memilih mendahulukannya."Tuan, anda gak perlu seperti ini. Saya gak keberatan mengantre kok," ucap Joko."Gak apa-apa Tuan, silakan anda duluan saja," ucap pria itu.Bahkan ada beberapa pembeli di sana yang menyatakan hal sama seperti pria sebelu
Tak lama kemudian, Tuan Muda Giri menghampiri Joko. "Tuan Joko, sebagai permintaan maaf saya... bagaimana kalau saya traktir anda dan semua teman anda minum-minum di Beach Club." Joko tetap diam tidak menanggapi ucapan Tuan Muda Giri. Dia ingin melihat, apa Tuan Muda Giri akan kesal jika dia memperlakukannya seperti itu.Namun ternyata Tuan Muda Giri tidak terlihat kesal. Senyuman tetap terlukis di wajahnya, hanya saja ekspresi wajahnya itu terlihat canggung."Saya tidak ada niat apapun. Dan aku bisa menjamin ~ gak ada orang yang berani mengganggu di Club nanti!" lanjut Tuan Muda Giri.Joko menatap semua teman-temannya. "Kalian mau pergi gak? Kalau mau, ayo pergi! Kalau nggak ~ gak usah!" ucapnya dengan santai.Semua teman-teman Joko saling melirik satu sama lain. Sesaat kemudian, Bang Ari berkata."Kita gak terbiasa ke tempat seperti itu. Jadi gak mau pergi! Kita mau jalan-jalan saja di wisata malam."Joko mengangguk paham."Kalau para Tuan gak mau ke Club ~ saya akan ganti sama yan
Mata Joko berbinar terang. Senyuman jahat terlukis di bibirnya. "Ternyata kau! Tuan Muda pemilik tambang giok!" ucap Joko.Ternyata pria itu adalah pria yang sama yang menjebak Nadya dan Sonya dulu. "Tu-tuan... a-aku..." Tuan Muda Giri tak bisa menahan lutut pada akhirnya dia pun ambruk berlutut.Mata semua orang hampir melompat keluar saat melihat kejadian itu. Bahkan, pengawal yang ada di belakang Tuan Muda Giri pun bereaksi sama."Hmm... kau masih suka berulah yah. Bagus... sangat bagus! Karena kau masih belum bertaubat... hari ini... aku gak akan bertindak ringan lagi," ucap Joko.Tuan Muda Giri semakin pucat. "Tuan... Tuan... anda jangan salah paham. Aku... aku cuma di undang sama dia!" tunjuknya kepada Tuan Muda Fendi. "Aku gak akan ikut campur! Tolong jangan bawa aku ke masalah ini!" Tuan Muda Fendi jelas panik. "Tuan Muda Giri, ke-kenapa anda?" sebelum perkataannya selesai, Tuan Muda Giri memotong."Diam kau sialan!" teriaknya sambil menunjuk Tuan Muda Fendi. "Kau berani sek
"Bocah, keberanian kau boleh juga," ucap pria bertubuh kekar dengan ekspresi main-main sambil melangkah mendekati Joko. "Aku yang harusnya berkata seperti itu," balas Joko dengan santai. Sebelum pria bertubuh kekar itu berkata kembali, tubuh Joko dalam sekejap sampai satu meter di depannya. Pukulan keras di layangkan Joko yang langsung menghantam dada pria itu. Benturan teredam terdengar, suara teriakan menyakitkan menyusul di sertai dengan tubuh pria itu terlempar ke belakang dan menabrak beberapa orang di belakangnya. Kejadian itu terjadi terlalu cepat, bahkan semua orang di sana telat bereaksi. Tubuh mereka semua membeku, bahkan mata mereka sampai hampir keluar saat melihat kejadian tersebut. "Ba-bagaimana mungkin? A-apa... yang... terjadi barusan?" ucap Tuan Muda Fendi dengan nada terbata-bata."Terlalu lemah!" ucap Joko dengan nada meremehkan.Dia kembali menerjang bawahan Tuan Muda Fendi. Satu persatu bawahan Tuan Muda Fendi si jatuhkan oleh Joko. Hanya butuh satu pukulan a
Keributan itu menjadi perhatian para pengunjung. Bahkan, sudah banyak pengunjung yang mendekat untuk menonton. "Bocah itu pasti habis! Berani sekali dia menentang Tuan Muda Fendi. Di Kota ini, Tuan Muda Fendi sangat terkenal dengan kekejamannya, bocah itu sudah pasti menderita!" ucap salah satu pengunjung. "Benar! Kalau aku... pasti sudah menyerahkan dua wanita itu. Dari pada harus mentang Tuan Muda Fendi," sahut pengujung lainnya. Ternyata, banyak pengujung di sana yang mengenal Tuan Muda Fendi. Dari perkataan para pengunjung itu, membuat semua teman-teman Joko lebih khawatir. "Bagus... sangat bagus! Kau mau menentangku, aku ingin lihat... apa kau mampu menanggungnya," ucap Tuan Muda Fendi dengan ekspresi kejam. Dia mengeluarkan ponselnya, lalu menelepon sebuah nomor. Rian menghampiri Joko. "Jo... Jo... mending kita pergi saja! Jangan sampai masalah ini semakin besar!" ucapnya. "Iya Jo. Dia seperti memang sangat berkuasa!" ucap Dori. "Jo, ayo pergi saja! Kita pulang
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal







