تسجيل الدخولSumi dan Rara, terus menempel kepada Joko. Ke mana Joko melangkah, mereka berdua terus mengikutinya. Joko pun tak merasa keberatan ~ sebaliknya dia merasa sangat senang. "Jo, ayo beli itu!" ajak Sumi sambil menunjuk ke pedagang kue."Ayo. Kayaknya enak tuh," Joko setuju.Mereka melangkah pergi. Karena di sana sudah banyak pembeli, jadi mereka harus mengantre. Namun, tanpa di duga para pembeli itu malah menyuruh penjual untuk mendahulukan Joko."Pak, Tuan ini dulu saja!" ucap seorang pria kepada pedagang."Eh, kenapa Tuan? Kan ada datang lebih dulu," balas pedagang itu."Gak apa-apa, Tuan ini dulu saja," balas pria itu buru-buru.Joko menebak, pasti pria itu melihat kejadian sebelumnya di pantai. Karena merasa takut menyinggungnya ~ jadi dia memilih mendahulukannya."Tuan, anda gak perlu seperti ini. Saya gak keberatan mengantre kok," ucap Joko."Gak apa-apa Tuan, silakan anda duluan saja," ucap pria itu.Bahkan ada beberapa pembeli di sana yang menyatakan hal sama seperti pria sebelu
Tak lama kemudian, Tuan Muda Giri menghampiri Joko. "Tuan Joko, sebagai permintaan maaf saya... bagaimana kalau saya traktir anda dan semua teman anda minum-minum di Beach Club." Joko tetap diam tidak menanggapi ucapan Tuan Muda Giri. Dia ingin melihat, apa Tuan Muda Giri akan kesal jika dia memperlakukannya seperti itu.Namun ternyata Tuan Muda Giri tidak terlihat kesal. Senyuman tetap terlukis di wajahnya, hanya saja ekspresi wajahnya itu terlihat canggung."Saya tidak ada niat apapun. Dan aku bisa menjamin ~ gak ada orang yang berani mengganggu di Club nanti!" lanjut Tuan Muda Giri.Joko menatap semua teman-temannya. "Kalian mau pergi gak? Kalau mau, ayo pergi! Kalau nggak ~ gak usah!" ucapnya dengan santai.Semua teman-teman Joko saling melirik satu sama lain. Sesaat kemudian, Bang Ari berkata."Kita gak terbiasa ke tempat seperti itu. Jadi gak mau pergi! Kita mau jalan-jalan saja di wisata malam."Joko mengangguk paham."Kalau para Tuan gak mau ke Club ~ saya akan ganti sama yan
Mata Joko berbinar terang. Senyuman jahat terlukis di bibirnya. "Ternyata kau! Tuan Muda pemilik tambang giok!" ucap Joko.Ternyata pria itu adalah pria yang sama yang menjebak Nadya dan Sonya dulu. "Tu-tuan... a-aku..." Tuan Muda Giri tak bisa menahan lutut pada akhirnya dia pun ambruk berlutut.Mata semua orang hampir melompat keluar saat melihat kejadian itu. Bahkan, pengawal yang ada di belakang Tuan Muda Giri pun bereaksi sama."Hmm... kau masih suka berulah yah. Bagus... sangat bagus! Karena kau masih belum bertaubat... hari ini... aku gak akan bertindak ringan lagi," ucap Joko.Tuan Muda Giri semakin pucat. "Tuan... Tuan... anda jangan salah paham. Aku... aku cuma di undang sama dia!" tunjuknya kepada Tuan Muda Fendi. "Aku gak akan ikut campur! Tolong jangan bawa aku ke masalah ini!" Tuan Muda Fendi jelas panik. "Tuan Muda Giri, ke-kenapa anda?" sebelum perkataannya selesai, Tuan Muda Giri memotong."Diam kau sialan!" teriaknya sambil menunjuk Tuan Muda Fendi. "Kau berani sek
"Bocah, keberanian kau boleh juga," ucap pria bertubuh kekar dengan ekspresi main-main sambil melangkah mendekati Joko. "Aku yang harusnya berkata seperti itu," balas Joko dengan santai. Sebelum pria bertubuh kekar itu berkata kembali, tubuh Joko dalam sekejap sampai satu meter di depannya. Pukulan keras di layangkan Joko yang langsung menghantam dada pria itu. Benturan teredam terdengar, suara teriakan menyakitkan menyusul di sertai dengan tubuh pria itu terlempar ke belakang dan menabrak beberapa orang di belakangnya. Kejadian itu terjadi terlalu cepat, bahkan semua orang di sana telat bereaksi. Tubuh mereka semua membeku, bahkan mata mereka sampai hampir keluar saat melihat kejadian tersebut. "Ba-bagaimana mungkin? A-apa... yang... terjadi barusan?" ucap Tuan Muda Fendi dengan nada terbata-bata."Terlalu lemah!" ucap Joko dengan nada meremehkan.Dia kembali menerjang bawahan Tuan Muda Fendi. Satu persatu bawahan Tuan Muda Fendi si jatuhkan oleh Joko. Hanya butuh satu pukulan a
Keributan itu menjadi perhatian para pengunjung. Bahkan, sudah banyak pengunjung yang mendekat untuk menonton. "Bocah itu pasti habis! Berani sekali dia menentang Tuan Muda Fendi. Di Kota ini, Tuan Muda Fendi sangat terkenal dengan kekejamannya, bocah itu sudah pasti menderita!" ucap salah satu pengunjung. "Benar! Kalau aku... pasti sudah menyerahkan dua wanita itu. Dari pada harus mentang Tuan Muda Fendi," sahut pengujung lainnya. Ternyata, banyak pengujung di sana yang mengenal Tuan Muda Fendi. Dari perkataan para pengunjung itu, membuat semua teman-teman Joko lebih khawatir. "Bagus... sangat bagus! Kau mau menentangku, aku ingin lihat... apa kau mampu menanggungnya," ucap Tuan Muda Fendi dengan ekspresi kejam. Dia mengeluarkan ponselnya, lalu menelepon sebuah nomor. Rian menghampiri Joko. "Jo... Jo... mending kita pergi saja! Jangan sampai masalah ini semakin besar!" ucapnya. "Iya Jo. Dia seperti memang sangat berkuasa!" ucap Dori. "Jo, ayo pergi saja! Kita pulang
Sumi mengibaskan lengannya sampai lengan Dita terlepas. Dia menatap Dita dengan marah. "Kamu... kamu juga malah mendorong ku. Kamu sama Yeni ternyata sama saja yah..." "Bukan begitu, aku cuma gak mau melihatmu menyia-nyiakan kesempatan ini! Kapan lagi coba bisa dapat keuntungan besar!" ucap Dita."Dita... aku gak nyangka kamu cuma orang yang gila harta. Jangan-jangan alasan kamu ingin mendaki Joko... karena kamu mengincar keuntungan darinya," ucap Sumi.Dita terdiam dengan kepala sedikit tertunduk. Perkataan Sumi memang bena, dan niatnya sekarang ingin Sumi menjalin hubungan dengan Tuan Muda Fendi pun karena dia ingin mencari ruang agar bisa mendapatkan keuntungan dari Tuan Muda Fendi.Pria berambut pirang menatap Dita dan Yeni. "Kalian berdua juga lumayan. Kalau kalian mau, aku akan kasih kalian kesempatan untuk menemaniku!" "Jangan serakah! Aku mau mereka!" ucap pria bertubuh agak besar.Mata Yeni dan Dita seketika berbinar terang, mereka berdua saling menatap satu sama lain."Ya
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia







