LOGINSetelah menempuh perjalanan cukup jauh yang hampir sampai ke kota, akhirnya mereka sampai di kantor polisi. Saat Joko dan para wanita itu keluar dari mobil, beberapa orang polisi langsung menghampiri mereka.
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" ucap salah satu polisi dengan sopan."Saya bawa orang jahat pak," ucap Joko dengan penuh kesopanan."Orang jahat? Tuan, di mana orangnya?" tanya salah satu polisi dengan ekspresi serius.Joko pergi ke belakangJoko memasang ekspresi murung. Dia menghela nafas, lalu berkata. "Huh... pria brengsek ini sungguh gak beruntung. Wanita cantik di samping, ternyata menolak begitu saja."Sonya mengelus dada Joko dengan tangannya. "Kamu tenang saja, kalau Nona gak mau, masih ada aku kok. Aku bisa mempertimbangkannya," ucapnya dengan nada menggoda.Nadya refleks menoleh ke arah Sonya. "Sonya, kamu!" bentaknya dengan wajah emosi."Kenapa Nona? Kok bentak aku sih? Aku kan gak salah apa-apa," ucap Sonya berpura-pura sedih."Cepat kembali ke tempat duduk! Jangan ganggu Joko yang lagi nyetir, bahaya tau!" ucap Nadya dengan suara dalam."Oke... oke. Aku kembali! Jangan marah-marah dong," balas Sonya sambil mengedipkan matanya. Dia menarik tangannya, lalu duduk dengan benar. Senyuman tipis yang tampak menggoda, terus tersungging di bibir wanita itu.Setelah menegur Sonya, Nadya merasa hatinya kacau. Dia memalingkan wajahnya, lalu menggigit bibirnya untuk
Joko tampak canggung. "Itu gak pantas kan?" tanyanya. Nadya mengernyit. "Kenapa gak pantas?" "Identitas Nona sangat besar, sementara aku ini cuma pria biasa," balas Joko. "Biasa apanya? Kamu itu seorang ahli beladiri. Identitas kamu gak kalah sama sekali dari aku!" tegas Nadya sambil melemparkan tatapan tajam. Joko menghela nafas. "Huh... baiklah, kalau gitu aku gak akan sungkan lagi." Nona Sonya yang berada di dapur ~ mendengar obrolan itu. Dia pun menyahut. "Kamu juga bisa panggil aku Sonya saja! Kalau saling panggil nama, kita bisa lebih dekat," ucapnya itu dengar genit. Mendengar perkataan Sonya, Nadya ekspresi Nadya sedikit berfluktuasi dan hatinya sedikit terasa tidak enak. Namun, dia hanya diam berkata apapun. Tante Riana menatap Joko dengan tatapan penuh arti. Senyuman tipis terlukis di bibir merahnya. Di sela-sela obrolan, Joko mengirim pesan kepada para wanita langganannya dan wanita yang sudah bisa di sebut wanitanya. Dia memberi tahu mereka, tentang keberangkatann
Nona Nadya menghela nafas panjang, dia berusaha menenangkan hatinya yang bergejolak. Perlahan, senyuman cerah terlukis di bibir merahnya. "Tuan, saya percaya kepadamu! Tuan tenang saja, di perjalanan ini saya akan kasih bayaran yang memuaskan!" ucapnya. Joko menggosok-gosok tangannya dengan ekspresi wajah yang penuh senyuman. "Nona cantik, kalau boleh tahu... berapa bayarannya?" Tante Riana menusuk pinggang Joko dengan jari telunjuknya yang membuat Joko kegelian. "Hei, kamu tenang saja, Nona Nadya gak akan kasih uang yang cuma beberapa juta! Kamu gak akan rugi pokoknya!" Nona Nadya berkata. "Kalau Tuan berhasil menjaga keselamatanku selama di Kota Awan, aku akan kasih 500 juta!" Mendengar nominal itu, mata Joko berbinar terang. "Nona tenang saja, aku pasti menjamin keselamatanmu!" ucapnya dengan penuh semangat sambil menepuk-nepuk dadanya. "Huh... kamu ini yah, mendengar nominal uang langsung semangat banget!" ucap Tante Riana. Joko terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tida
Namun, wanita yang mengenakan gaun emas hanya menunjukkan perubahan tipis. Alisnya sedikit terangkat, sementara tatapannya menjadi lebih tajam seolah sedang menilai Joko. Berbeda dengan wanita berpakaian formal. Sorot matanya seketika berbinar, dan semburat merah perlahan menghiasi kedua pipinya."Nyonya, siapa pria tampan ini?" tanya wanita berpakaian formal dengan nada sedikit genit."Nona Nadya, Nona Sonya, perkenalkan ini Joko! Seorang ahli yang bisa mengalahkan puluhan orang sekaligus," ucap Tante Riana.Tatapan wanita berpakaian emas semakin lekat. Wanita berpakaian formal pun menjadi serius, semua ekspresi genitnya terhapus.Tante Riana melirik Joko. Dia menunjuk ke arah wanita berpakaian emas. "Jo, ini Nona Nadya." Dia menunjuk wanita berpakaian formal. "Dan ini Nona Sonya, asisten Nona Nadya."Joko tersadari, dia buru-buru bangkit. Kemudian, dia melemparkan senyuman dan anggukan kecil. "Nona Nadya, Nona Sonya," sapa Joko.
Dia perlahan menatap Tante Riana. "Tante, kalau boleh tahu... jadi pengawalnya itu harus sekuat apa?" Joko tak ingin gegabah. Meski dia cukup percaya diri dengan kekuatannya sekarang. "Temanku bilang, dia butuh pengawal yang kekuatannya bisa mengalahkan puluhan orang biasa. Kalau bisa, harus lebih kuat!" balas Tante Riana. Joko mengangguk-angguk. "Jangankan orang biasa, kalau aku melawan puluhan ahli di ranah pendekatan tahap awal pun ~ aku pasti mengalahkan mereka dengan mudah," gumam Joko di dalam hati. "Kalau kamu gak sanggup, lupakan saja!" ucap Tante Riana. "Aku sanggup!" tegas Joko. "Kamu serius Jo?" Tante Riana sedikit terkejut. Joko mengangguk. "Aku cukup kuat. Yah... kekuatanku sekarang ~ cukup untuk bertarung sama 100 orang," balas Joko. "Ka-kamu serius?" Tante Riana merasa ragu dengan ucapan Joko. Tadinya dia mengira Joko hanya sebatas mampu melawan beberapa orang. "Tentu saja serius! Ngapa
Keesokan harinya, Joko pergi ke kota sendirian. Karena hari ini, dia mendapatkan informasi dari sales dealer mobil jika plat nomor mobilnya sudah jadi. Tadinya sales itu menawarkan untuk mengantarkan plat itu, tapi Joko memutuskan untuk mengambilnya sendiri. Karena sekalian, dia ingin menemui Tante Riana di tokonya. Karena tadi pagi wanita itu mengirim pesan, menyuruh Joko datang ke tokonya jika ada waktu luang. Sampai di kota, Joko pergi mengambil plat nomor mobilnya terlebih dahulu di dealer. Selama proses pengambilan, sales yang kemarin terus menerus memberikan godaan kepada Joko. Namun, kecantikan sales itu belum cukup menggoyahkan Joko, jadi dia mengabaikannya. "Hmm... Tuan ini ternyata sangat sulit di rayu," gumam Sales itu dengan ekspresi sedikit cemberut. Jika sales itu datang pas Joko belum banyak mencicipi wanita cantik, pasti Joko akan langsung menerkamnya. Setelah semua proses selesai, dia pergi dari dealer ~ melajukan mobilnya menuju Mal. Tiba di sana, Joko tidak la
Di sisi lain, tampak seorang pemuda turun dari motornya, lalu ia berjalan masuk ke dalam sebuah bangunan. Di dalam bangunan tersebut, terlihat banyak pria yang sedang bermain kartu. Di antara para pria itu, ada dua pria yang pasti di kenali oleh Joko. Mereka adalah Darto dan Seno. Pemuda yan
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh







