LOGINNadya menatap Joko. "Aku harus lihat dulu isi dalam batu mu ini! Kalau sudah di lihat semua aku akan kasih harga yang pas!""Kalau gitu, sini aku kupas semua kulitnya," ucap Joko dengan penuh semangat."Tuan, biarkan saya saja! Mengupas semuanya butuh keahlian, kalau salah sedikit saja pasti akan banyak giok yang terbuang," ucap pria tua itu."Baiklah. Makasih yah!" balas Joko."Tuan, tapi aku boleh tidak setelah aku kupas, aku mau foto ketiga batu giok itu," ucap pria tua itu dengan ekspresi malu-malu."Oh boleh saja, silakan saja!" balas Joko dengan santai."Saya gak akan gratisan. Soalnya nya fotonya nanti buat di jadikan promosi tambangku. Sebagai imbalannya, Tuan boleh ambil batu mentah manapun yang tuan mau!" ucap pria tua itu dengan penuh semangat.Joko melirik semua batu mentah. Meski ada beberapa yang terlihat oleh matanya mengeluarkan energi, tapi tidak ada satu pun yang mengeluarkan energi sepekat batu miliknya."Gak perlu! Kalau mau foto silakan saja. Aku sudah puas banget
Mata gerinda mulai mengenai kulit batu itu, suara gesekan yang keras tercipta. Lapisan sedikit lapisan mulai terpotong. Namun, tidak terlihat ada tanda-tanda batu giok. "Jagoanku, sudah pasti itu cuma batu biasa," ucap Sonya dengan nada menggoda. "Mungkin kurang dalam!" ucap Joko, lalu dia memotongnya lebih dalam lagi. Nadya dan Sonya menggeleng-gelengkan kepala mereka, begitu pula dengan pria tua itu. Pada saat lapisan yang lebih dalam berhasil di belah, warna ungu yang sangat jelas terlihat. Sontak, mata Nadya, Sonya, dan pria tua itu membelalak lebar. "Hei, di dalamnya ternyata warna ungu," ucap Joko dengan polosnya. Nadya dengan cepat merebut batu itu dari Joko. Dia menatap batu itu dari jarak yang sangat dekat. "Giok... ternyata ada giok nya!" teriak Nadya. Joko bangkit, ekspresinya tampak bingung. "Giok, emangnya batu ungu itu giok?" tanyanya sambil menggaruk tengkuk lehernya. "I-ini benar-benar giok! Giok ungu jenis es! Giok langka! Sangat transparan, gak ada sedikit p
Tak lama kemudian, mereka sampai di gudang yang cukup besar. Di dalamnya, terlihat banyak sekali bongkahan batu dengan berbagai ukuran. "Tuan, silakan pilih saja!" ucap pria tua itu. Joko melirik Nadya. "Pilihlah!" Nadya mengangguk. Kemudian, dia dan Sonya mulai memilih batu. "Semoga saja mereka gak mengosongkan gudangku. Kalau tidak, aku benar-benar akan rugi!" ucap pria tua itu sambil terus melap keringat di dahinya. Joko menatap banyak bongkahan batu itu. Saat dia menatap lebih lekat ~ dia melihat ada beberapa batu yang memancarkan energi. Ada energi yang berwarna hijau, ada yang berwarna ungu, bahkan ada yang warna warni. Namun, energi yang terpancar itu berbeda-beda, ada yang tebal ada yang juga yang tipis. Karena penasaran, Joko mengambil bongkahan yang memancarkan warna hijau paling tebal, warna ungu paling tebal, dan juga bongkahan yang memancarkan energi tiga warna. "Tuan Muda, ini cuma bahan kualitas rendah. Di dalamnya pasti gak ada giok," ucap pria tua itu menging
"Kau... kau mau apa? Jangan macam-macam! Aku ini Tuan Muda dari keluarga...." sebelum Tuan Muda Sandi menyelesaikan perkataannya, Joko menyelanya. "Apa kau pikir aku takut? Aku bahkan berani membunuh sekarang juga!" Tatapan Joko menajam seperti harimau buas yang akan menerkam musuhnya. Wajah Tuan Muda Sandi semakin ketakutan. "Kau... kau mau apa?" "Kalau kau mau selamat, berikan berikan batu mentah yang sudah kau siapkan buat Nadya!" perintah Joko sambil menyodorkan tangannya memberi isyarat meminta. "I-itu... aku... aku gak punya!" balas Tuan Muda Sandi. Joko mengerutkan keningnya. "Kau.. jangan-jangan sedari awal sudah berniat menjebak Nadya," ucap Joko dengan suara dingin. "Bajingan, kau benar-benar sangat gak tahu malu!" teriak Nadya dengan ekspresi marah. "Pokoknya aku gak mau tahu. Kau harus memberikan giok mentah, kalau nggak... hehe... akan ku habisi kau!" ancam Joko. "Kau.. gak bisa... gak bisa bunuh aku! Kalau nggak, keluargaku pasti melaporkanmu ke polisi!" teriak
Joko menyeringai tipis. Dia tiba-tiba bergerak ~ menendang dada Tuan Muda Sandi. BUGHH!Suara benturan teredam terdengar, di sertai tubuh Tuan Muda Andi yang terlempar ke belakang.BRAKKK!Punggung Tuan Muda Andi menghantam kemari dengan keras sampai kemari itu roboh ke belakang. Tindakan Joko itu sangat cepat, bahkan empat pengawal di sana telat menyadarinya."Dasar sampah! Berani sekali kau mengincar wanita cantik di depanku!" ucap Joko dengan nada sinis."Uhuk... uhuk..." Tuan Muda Andi terbatuk hebat. Darah segar mengalir di mulutnya. Wajahnya tampak sangat ganas."Kau... kau!" teriaknya sambil menunjuk Joko."Bajingan, berani sekali kau!" teriak salah satu dari empat pengawal itu.Aura kuat meledak dari empat pengawal itu. Bahkan Joko pun merasa terancam saat merasakan aura itu."Hmmm... pasti merepotkan!" ucapnya dengan suara pelan. "Kalian mundur dulu!" ucap Joko kepada Nadya dan Sonya.
Keesokan paginya, Joko yang pertama terbangun. Dia mengecup kening Sonya, lalu melepaskan tangannya dari pinggang Sonya dan Nadya. Setelah itu, dia turun dari mobil, karena kebelet pengen kencing. Saat kembali ke mobil, terlihat Nadya sudah terbangun dari tidurnya. "Selamat pagi cantik," ucap Joko dengan penuh senyuman. "Pagi," balas Nadya dengan ekspresi datar. Mendengar keributan, Sonya pun terbangun. Dia menggeliat dengan posisi tangan di atas. Posenya itu tampak sangat menggoda, bahkan Joko langsung terpancing hasratnya saat melihat pemadaman itu. "Kalian laper gak?" tanya Joko. Kedua wanita itu mengangguk. "Ada mie instan di bagasi. Ada kompor kecil portabel juga. Kamu bisa masakin buat kita gak?" ujar Sonya dengan nada manja. "Tentu saja bisa! Mana mungkin aku membiarkan dua wanita cantikku kelaparan," ucap Joko dengan nada riang. Mendengar kata "Dua Wanita Cantikku" Nadya la
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal







