LOGINSumi teringat sesuatu. "Kok aku sampai lupa sih. Pas di pantai, teman satu kampung Joko pernah bilang kalau preman di desa sudah jadi bawahan Joko. Kok aku gak kepikiran, kalau preman itu Bang Darto sama bawahannya." Keberanian semua keluarganya Sumi sudah musnah. Mereka sudah tak berani membuka mulut, setelah mendengar ucapan Bang Darto. "Nona Sumi, kamu yakin ingin memutuskan hubungan keluarga? Sama memutuskan pertunangan? Kalau yakin, biar aku saja yang mengurusnya!" ucap Bang Darto sambil menatap Sumi. "Kalau pertunangan, aku yakin. Tapi, kalau memutuskan ikatan keluarga, jika bisa di damaikan ~ gak perlu sampai putus hubungan. Tapi, untuk ke depannya, apapun yang aku punya, apapun yang akan kulakukan, mereka gak ada hak ikut campur!" tegas Sumi. Bang Darto menatap salah satu warga. "Ambil kertas sama pulpen! Masalah seperti ini harus tertulis jelas!" Warga itu buru-buru pergi. "Orang tua,
Para warga itu saling menatap sambil berbisik-bisik. Kemudian, mereka menatap Joko dan keluarga Sumi. "Tuan ini gak salah, Tuan Jang, kamu dan keluargamu memang terlalu kasar sama Sumi. Itu anakmu, kalau kamu rela mengorbankan kebahagiaannya demi egomu, kamu sungguh orang tua yang kejam!" ucap seorang pria paruh baya. "Jangan ikut campur kau! Keluargaku, aku sendiri yang menentukan!" teriak ayah Sumi. Semua warga di sana melemparkan tatapan jijik ke arah semua anggota keluarga Sumi. "Dasar gak tahu malu, kalau aku jadi Sumi, sudah mending putus hubungan saja! Pria yang sama dia tampan dan kaya, ngapain lagi mempertimbangkan keluarga busuknya itu," ucap seorang wanita dewasa. "Di bandingkan sama tunangannya itu, pria tampan itu jelas sangat jauh di atasnya. Bahkan mengelap sepatunya pun tunangan yang di banggakan Tuan Jang itu gak pantas!" Mendengar bisikan para warga, ayah Sumi dan yang lainnya merasa lebih marah. "Berisik kalian! Mending kalian enyah saja sana!" teriak
Di sore hari...Joko tak punya kegiatan lain, akhirnya dia memutuskan pergi ke rumah Sumi. Sebelum pergi, Joko meminta alamat kepada Sumi, dan menyuruh wanita itu bersiap.Di kampung tempat tinggal Sumi sangat ramai sore hari. Banyak warga yang berkumpul di depan rumah, dan ada juga yang berjalan-jalan santai menikmati suasana sore.Saat mobil Joko masuk ke kampung, semua arah pandang warga langsung tertuju ke arah mobil Joko."Di kampung kita ada yang beli mobil baru?" tanya seorang pria paruh baya ke pria di sampingnya."Gak denger juga tuh, gak ada kayaknya. Kalau gak salah ingat, mobil itu harganya lebih dari setengah miliar. Uang sebanyak itu, mana mungkin ada yang punya di kampung kita."Mobil Joko berhenti di depan rumah yang tampak biasa saja, tidak besar ataupun kecil. Melihat itu, para warga berbondong-bondong menghampiri.Saat Joko turun dari mobil, dengan ketampanan dan penampilannya itu para warga menjadi he
"Sebentar Jo, beri aku waktu buat memproses. Ini sungguh terlalu luar biasa," ucap Ayu sambil memijat kepalanya. "Jo, kamu seorang ahli beladiri. Kamu bisa tunjukkan gak keahlianmu yang di luar nalar!" ucap Lana. Joko mengangkat tangannya. Kemudian, dia mengeluarkan energi spiritualnya. Cahaya putih emas meledak, menyelimuti tangan Joko. Detik berikutnya, cahaya itu mengembun membentuk kepala naga yang tampak agak nyata. Mata keempat wanita itu membelalak saat melihat kejadian yang menurut mereka sangat ajaib. "Cahaya itu disebut energi spiritual. Wujud kepala naga tadi adalah teknik tinju yang aku pelajari. Kalau aku menghantamkan tinjuku ini kepada orang biasa, hanya sekali pukul saja pasti bisa melubangi tubuh orang biasa," ucap Joko. Para wanita semakin terkejut dan merasa agak ngeri sampai tubuh mereka sedikit menggigil. Joko menyebarkan energinya, cahaya itu pun lenyap dari tangannya.
Joko meninggalkan rumah Rara setelah matahari menggantung cukup tinggi. Dia melanjutkan mobilnya pulang ke rumah Lana.Setibanya di sana di sambut oleh Lana, Sinta, Ayu, dan Mona. Keempat wanita itu semuanya ada di rumah."Sayang, akhirnya kamu pulang," ucap mereka semua hampir bersamaan.Joko memeluk satu persatu wanita itu. Setelah itu, mereka masuk ke dalam rumah."Aku punya kabar bagus lho. Kalian mau dengar gak?" tanya Joko dengan riang sambil duduk di sofa ruang tamu."Kabar apa?" tanya keempat buru-buru.Joko menceritakan bahwa dia menemukan mutiara kaisar. Dia juga memberi tahu kalau mutiara itu mau di beli Kakek Nadya seharga 1,2 triliun.Mendengar itu, semua wanita sangat terkejut sampai otak mereka sangat sulit memproses. "Jo, kamu gak lagi berkhayal kan? 1,2 triliun lho... itu banyak banget!" ucap Ayu."Iya Jo, walau mutiara gak murah, tapi gak semahal itu kan?" sahut Mona."Hei, m
Tangan Joko bergerak semakin berani. Kedua tangannya hinggap di semangka besar Tante Lestari lalu meremasnya dengan lembut. "Mmm...." Tante Lestari menggigit bibirnya, berusaha menahan desahannya. "Kamu ini yah... jangan ganggu Tante, kan Tante lagi masak," keluhnya."Bentar aja Tan, gak akan lama kok," bisik Joko sambil meremas pantat gagah Tante Lestari, lalu menyingkap daster bagian bawahnya ke atas."Jo, jangan nekat deh, ini bahaya banget tahu," Tante Lestari berusaha memberontak."Aman kok, asal jangan berisik!" Joko menurunkan kain renda tipis yang menghalangi celah lembah Tante Lestari. "Jo, kamu ini benar-benar yah, jangan Jo! Kalau kamu mau lagi... nanti saja kalau gak Rara," bujuk Tante Lestari. "Aku maunya sekarang! Punyaku kalau pagi-pagi gini sangat bersemangat," balas Joko sambil mengeluarkan miliknya yang sudah keras. "Kamu mending minta sama Rara saja kalau gitu. Mumpung dia lagi di kamar!"
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh







