เข้าสู่ระบบAbel duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya. Dua sales sebelumnya menghampirinya, mereka duduk di sebelah Abel. "Traktiran dong, kamu dapat banyak komisi," ucap sales berkacamata sambil menyenggol punggung Abel. "Tenang saja, pasti aku traktir!" balas Abel. "Hehe, gitu dong!" ucap sales berambut pendek. Keduanya menatap Abel dari atas sampai bawah dengan tatapan seksama. "Kamu kelihatan agak lelah. Tuan Muda tadi, jago banget yah?" tanya wanita berkacamata. "Bukan cuma jago, dia kuat banget!" balas Abel. Mata kedua wanita itu sedikit membesar. "Benarkah? Dia pakai obat kuat yah?" Tanya wanita berambut pendek. Abel menggelengkan kepalanya. "Dia murni kuat. Bukan cuma kuat, dia bisa berkali-kali keluar! Kalau dia gak kasihan sama aku, dia pasti membuatku sampai gak bisa jalan," balasnya. Kedua wanita itu tersentak. Mereka tak menyangka, ada pria yang mampu seperti itu. Abel tersenyum lebar. "Baru kali ini aku sepuas ini. Bahkan, aku jadi penasaran, ingin meras
Tak lama kemudian, wanita itu kembali. Dia meletakkan satu bungkus pengaman, lalu dia duduk di pangkuan Joko dengan posisi kaki di lebarkan. "Aku bantu lepas yah," ucapnya sambil tangannya bergerak cepat melepaskan kancing kemeja Joko. Setelah kemeja Joko terlepas, wanita itu memandang tubuh kekar Joko dengan tatapan panas. "Tuan, kamu sangat sempurna. Bukan cuma tampan, tubuhmu juga sangat bagus," ucap sambil mengelus otot dada Joko. Joko menyeringai, dia menarik tubuh wanita itu semakin dekat dengan tubuhnya, lalu satu tangannya meraih semangka besar wanita itu dan meremasnya. "Ahhh..." Desahan nakal keluar dari mulut wanita itu. Wajahnya tampak menikmati, dan tubuhnya menggeliat seksi. Sambil menikmati remasan Joko di semangkanya, wanita itu melepaskan kancing kemejanya dengan cepat. Setelah semua kancing terlepas, dia melepaskan kemeja, lalu melemparkannya ke samping.
Joko sebagai pria yang suka kecantikan, tentu akan memilih yang paling cantik. Dia menatap ketiga wanita itu, lalu menunjuk wanita berambut pirang. "Kamu saja!" ucapnya. Wanita berambut pirang itu tampak sangat gembira. "Mari Tuan, saya antar!" ucapnya sambil memberi isyarat mengundang. Dua wanita lainnya menghentakkan kaki dengan wajah cemberut. Joko mengikuti wanita berambut pirang itu. Tak lupa, matanya itu terus mencuri-curi pandang ke tubuh aduhai wanita itu. Namun, Joko teringat akan pesan dari Kak Rita dan Ayu. Ekspresi wajahnya tampak menjadi sedikit tertekan. "Tuan Joko, di dealer ini semua merek mobil mewah ada. Kalau boleh tahu, Tuan Joko suka mereka apa?" tanya sales wanita itu. Joko yang sudah sering melihat mobil mewah di internet, tidak tampak kebingungan sama sekali. "Aku suka merek Ferrari," ucapnya. "Kalau gitu, saya antar
Dana sebesar 1,2 triliun, sedari tadi sudah masuk ke rekening Joko. Melihat uang sebanyak itu, Joko mulai berpikir akan menggunakannya buat apa. Akhirnya, dia membuka pasar saham, ingin melihat-lihat apa ada saham yang menjanjikan. Jika ada, dia berniat menginvestasikan sebagian uang yang baru saja dia dapatkan. "Saham Perusahaan SHO, walau masih naik ~ tapi gak terlalu banyak!" ucapnya sambil melihat statistik saham perusahaan tersebut. Kemudian, Joko berpindah ke saham Perusahaan Permata Biru. Melihat akhir-akhir ini saham tersebut terus naik, mata Joko berbinar. "Dari 100 miliar yang aku investasikan, sudah jadi 160 miliar. Ternyata perusahaan ini pesat juga berkembangnya. Hmmm, apa aku tanam lagi di perusahaan ini yah?" Karena merasa ragu, Joko tidak langsung memutuskan. Dia mencari tahu dulu kabar tentang perusahaan tersebut beberapa hari ini. "Ternyata, perusahaan ini baru mengeluarkan banyak produk perhiasan yang bagus. Kalau
Nadya menatap Joko, dia menyodorkan tangannya. "Mana mutiaranya!" Joko merogoh tas kecilnya. "Hei, kamu lebih gak sabaran dari aku yah," ucap Joko sambil meletakkan mutiara di telapak tangan Nadya. Nadya mendengus, lalu dia menatap mutiara itu dengan tatapan berbinar. "Benar... ini benar-benar mutiara kaisar!" ucapnya. Sonya menatap mutiara di tangan Nadya, lalu menatap Joko. "Kamu mendadak jadi pemuda yang punya uang lebih dari satu triliun!" ucapnya. Joko terkekeh. "Ini baru awal! Di masa depan, aku pasti dapat ratusan bahkan ribuan triliun!" ucapnya dengan penuh percaya diri. "Iya... iya, aku percaya sama kamu!" ucap Sonya. Nadya menatap Joko. "Uangnya mau pakai cek, atau transfer?" tanyanya. "Transfer saja!" balas Joko. "Baiklah." Dia mengeluarkan ponselnya, lalu menelepon seseorang. Dia menyuruh orang di telepon untuk mentransfer uang ke rekening Joko setelah itu telepon pun di tutup.
Keesokan paginya... Joko sibuk memasukkan barang-barang ke mobilnya dan ke mobil Lana. Mereka ibu kota menggunakan dua mobil, karena satu mobil gak akan cukup. Sesaat kemudian, akhirnya semua barang selesai di masukan. "Kalau lelah, nanti gantian sama yang bisa menyetir," ucap Joko kepada Lana. Lana mengangguk. "Kamu di depan saja! Jangan kebut-kebutan santai saja!" ucap Joko. "Baiklah." Mereka semua masuk ke mobil. Mobil Lana melaju lebih dulu, disusul mobil Joko yang mengikuti dari belakang. Perjalanan ke Ibu Kota lebih jauh hampir tiga kali lipat dari perjalanan ke Kota Awan. Sehingga, mereka yang berangkat pagi-pagi, baru sampai di sana malam hari. Joko dan semua wanita yang baru pertama kali ke Ibu Kota, tampak sangat takjub saat melihat gedung-gedung tinggi, dan suasana ramainya jalanan. Meski ini sudah malam, mobil dan motor yang berlalu lalang di sana masih sangat padat. "Inikah Ibu Kota?" ujar Sinta yang duduk di samping Joko. "Ini lah Ibu Kota. Bag
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu







